OPINI   
Jum'at, 26 Agustus 2005 

Keberagaman dan Etika Global    

Ruslani, Alumnus IAIN Sunan Kalijaga, program pascasarjana
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.  

CARDINAL Arinze (1998) pernah memberikan pernyataan sekaligus 
pertanyaan berkenaan dengan konflik dan dialog antaragama: ''Betapa 
menyedihkan ketika para anggota dari keluarga yang sama tidak lagi 
berbicara, saling memalingkan muka, menghindari pertemuan. Betapa 
menyedihkan ketika umat dari agama-agama yang berbeda, tidak lagi 
memberi salam, bahkan yang lebih buruk, saling membunuh. Namun,
betapa indah hidup dalam kedamaian dengan semua orang, bertemu 
bersama, berbincang tentang kegembiraan dan kesedihan, ketakutan-
ketakutan dan harapan-harapan. Bagaimana mungkin kita tidak bisa 
melihat dalam dialog di kalangan umat beriman, sebuah tanda akan 
harapan bagi masa kini dan masa depan?''

Ungkapan ini, setidaknya mengingatkan kembali kita akan pentingnya 
menghargai perbedaan dan pluralitas. Kesadaran ini pada berbagai
level yang berbeda memunculkan persoalan-persoalan baru dalam
refleksi akademis-ilmiah tentang agama, kebudayaan, dan masyarakat. 
Tingkat pertama konsen dengan sebuah sikap personal, sebuah posisi 
yang diambil seseorang vis-a-vis pluralitas ini. Pada tingkat pertama 
ini, persoalan-persoalan yang sering muncul adalah hubungan seseorang 
dengan agama dan budaya lain.

Dalam konteks ini, yang penting untuk dipertimbangkan adalah upaya 
mencari cara yang tepat untuk mendamaikan klaim-klaim kebenaran 
sehingga bisa memunculkan sikap inklusif dan dialogis, bukan 
eksklusivisme dan fanatisme. Pada tingkat ini juga penting
menumbuhkan kesadaran tentang pluralitas agama sebagai isyarat bahwa
masing-masing agama memiliki kekhasan yang tidak bisa direduksi dan 
tak terbandingkan.

Karena itu, yang terpenting adalah menemukan skema yang bisa 
diterapkan untuk merespons pluralitas agama dan menemukan cara untuk 
memaknai kesadaran akan pluralitas agama agar bisa didamaikan dengan 
bentuk-bentuk historis dan aktual yang berbeda.

Tingkat kedua, konsen dengan koeksistensi agama-agama yang berbeda, 
dan meningkatnya perhatian pada komunikasi antaragama. Pada level
ini, persoalan yang sering dibicarakan adalah tujuan, prasyarat dan 
modalitas-modalitas yang digunakan untuk melakukan komunikasi 
antarumat beragama, harapan-harapan dari komunikasi antarumat 
beragama, dan konsekuensi-konsekuensi dari komunikasi ini terhadap 
pemahaman agama masing-masing.

Pada level ketiga, muncullah beberapa meta-persoalan tentang 
pluralitas agama. Pada level ini, perhatian pada umumnya dicurahkan 
untuk menjawab persoalan kekhasan dan batas-batas dari dua konsep 
elementer yang berlaku dalam refleksi tentang pluralitas agama dan 
pertemuan antaragama: 'agama' dan 'komunikasi'. Dari sini kemudian 
dirumuskan berbagai upaya untuk melaksanakan konsep-konsep itu pada 
tataran praksis dalam hubungan antaragama. Perhatian akan bahasa 
bersama dan wacana bersama juga dibutuhkan pada level ini untuk 
mewujudkan pertemuan antaragama yang sejuk dan jauh dari 
kesalahpahaman.

Komunikasi yang intens juga mengandaikan upaya pembaruan dan telaah-
ulang atas pemahaman agama masing-masing yang selama ini terbelenggu 
pada batas-batas sempit pengetahuan kita. Dalam upaya-upaya ini, 
diperlukan juga refleksi-ulang tentang kedudukan umat beragama lain, 
perempuan, dan dialog antaragama yang tidak dibatasi oleh lembaga 
keagamaan yang cenderung formalistis dan sempit.

Untuk menumbuhkan wacana keagamaan yang kritis, konstruktif, dan 
dialogis, kita harus bergerak melampaui agama sebagai sebuah lembaga. 
Karena ketika agama mengalami proses pelembagaan yang berlebihan,
yang terjadi adalah pembungkaman atas kekayaan dan keragaman tafsir 
kitab suci. Di luar tafsir resmi yang diakui lembaga berwenang, 
tafsir-tafsir lain tidak diakui kebenarannya. Kitab suci yang semula 
terbuka terhadap pelbagai macam tafsir, dibungkam suaranya menjadi 
hanya 'berbunyi satu tafsir' (monophonic exegesis). Masyarakat agama-
agama yang berada di luar wilayah tafsir 'resmi' tersebut akan dicap
sebagai sesat dan menyebarkan bidah dalam agama.

Fenomena pelembagaan ini terjadi pada semua agama di dunia, dan itu 
merupakan hal wajar selama tidak digunakan untuk kepentingan kelompok 
tertentu dalam melanggengkan kekuasaannya. Ulil Abshar-Abdalla pernah 
mengatakan, ''Jika selama ini kita menyaksikan adanya perang, atau 
setidaknya konflik panas antaragama, maka, sebenarnya, yang bekerja
di situ, untuk sebagian besar, adalah kepentingan lembaga agama yang 
mempertahankan interesnya masing-masing, bukan nurani umat manusia 
yang acap kali lebih mampu membaca kebenaran sebagai sesuatu yang 
beyond the religion as institution.''

***

Dalam konteks ini, agaknya tidak berlebihan jika Hans Kung (1993) 
mengusulkan konsep 'etika global' sebagai sarana komunikasi dan
dialog antaragama. Yang dimaksud etika global oleh Hans Kung bukanlah 
sebuah agama padu yang tunggal melampaui seluruh agama yang eksis,
dan tentunya bukan dominasi satu agama di atas semua agama yang lain.
Yang dimaksud dengan etika global adalah konsensus tentang
nilai-nilai pengikat, standar-standar mutlak dan sikap-sikap personal 
karena tanpa konsensus mendasar semacam ini, setiap komunitas cepat 
atau lambat akan terancam oleh kekacauan dan kediktatoran.

Dengan adanya konsensus ini, diharapkan akan muncul kesadaran bahwa 
kita semua memiliki tanggung jawab untuk tatanan global yang lebih 
baik, bahwa keterlibatan demi hak-hak asasi manusia, kebebasan, 
keadilan, perdamaian, dan pemeliharaan bumi adalah masuk akal dan 
penting; bahwa tradisi-tradisi agama dan budaya kita yang berbeda 
tidak harus mencegah keterlibatan kita bersama dalam menentang segala 
bentuk ketakmanusiawian dan bekerja untuk kemanusiaan yang lebih 
besar. Bahwa kita sebagai manusia beragama mendasarkan hidup kita
pada realitas mutlak dan menarik kekuatan spiritual dan berharap 
dengan kepercayaan, doa atau meditasi, dengan kata atau kebisuan yang 
memiliki tanggung jawab khusus bagi kesejahteraan seluruh umat 
manusia.

Saat ini, umat manusia tidak hanya membutuhkan program-program dan 
tindakan-tindakan politik yang riil, tetapi juga sebuah visi tentang 
kehidupan bersama yang damai dari berbagai masyarakat, kelompok etnis 
dan etis, serta agama-agama; kita membutuhkan harapan-harapan, tujuan-
tujuan, cita-cita, dan standar-standar baru untuk hidup bersama.

Dengan landasan etika global yang kita sepakati bersama, renungan
atas berbagai persoalan manusia diharapkan bisa menemukan jalan
keluar baru. Kita menyadari, dunia kita tengah mengalami krisis 
fundamental: krisis dalam ekonomi global, ekologi global, dan politik 
global, dan agama-agama. Ketiadaan visi agung, jalinan pelbagai 
persoalan yang tak terpecahkan, kelumpuhan politik, kepemimpinan 
politik yang setengah-setengah dengan sedikit wawasan atau pandangan 
ke depan, dan yang lebih memprihatinkan adalah menipisnya rasa 
kemanusiaan dan kesediaan untuk berbagi demi kesejahteraan bersama.

Karena itu, sudah saatnya kita menjadi orang-orang yang committed 
dengan diri kita sendiri demi kehidupan bersama yang lebih adil dan 
manusiawi. Sudah saatnya kita meneguhkan bahwa ada sebuah konsensus
di antara agama-agama yang bisa menjadi basis bagi etika global
sebuah konsensus fundamental yang berkenaan dengan nilai-nilai 
kemanusiaan serta keadilan dan sikap-sikap moral fundamental bahwa 
kita semua adalah saudara.***

http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005082523023138




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke