http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=119235


     
         Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
                  Sofjan Wanandi
                  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) 


                  Rabu, 24 Agustus 2005
                  Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah nasib kalangan 
industri dan dunia usaha. Setelah harus menerima tambahan beban akibat kenaikan 
bahan bakar minyak (BBM), kini kalangan industri dan dunia usaha lain harus 
menanggung bias negatif atas fakta lonjakan kenaikan nilai dolar AS yang sangat 
fluktuatif. 

                  Kenaikan harga BBM dan tarif listrik, ketidakpastian sektor 
perpajakan, bea dan cukai, serta peraturan investasi yang selama ini membebani 
dan membuat banyak industri berguguran ternyata bukan akhir masalah. Masalah 
semakin kompleks menyusul ketidakpastian kurs dolar AS terhadap rupiah. Gejala 
ini hampir sama dengan situasi sebelum krisis moneter tahun 1998 manakala 
rupiah sempat melemah tajam hingga Rp 18.000 per dolar AS. 

                  Kepastian kurs dolar AS sangat penting karena terkait dengan 
nilai tukar yang bisa dihitung. Ini mengingat dunia industri membutuhkan 
kepastian perhitungan tentang biaya operasional dan penjualan produk. Apalagi 
industri yang barang modal dan bahan bakunya didatangkan melalui impor, tentu 
mereka membutuhkan banyak dolar AS. 

                  Di saat fluktuasi dolar AS semakin bergejolak, kalangan 
industri jadi susah menghitung biaya dan penjualan. Memang, industri yang 
terkait dengan ekspor diuntungkan oleh depresiasi rupiah - karena mereka 
mendapat rupiah lebih banyak. Namun perlu diingat, sebagian produk ekspor itu 
menggunakan bahan baku impor. Belanja barang modal impor dunia industri praktis 
semakin tinggi. 

                  Di luar masalah gonjang-ganjing harga minyak mentah dunia 
yang terus membubung tinggi dan faktor eksternal lain, kepercayaan masyarakat 
terhadap pemerintah semakin menurun. Pengumuman RAPBN 2006, yang ternyata jauh 
dari fakta dan harapan, menunjukkan kebijakan ekonomi pemerintah tidak jelas. 

                  Tak ayal, RAPBN 2006 direspon negatif. Biasnya, kurs dolar 
menembus angka kritis - di atas Rp 10.000. Pemerintah tidak dipercaya lagi 
karena dinilai tidak memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Faktanya, 
pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) - selaku otoritas moneter - tidak mampu 
menahan laju dolar AS. 

                  Satu hal penting perlu diperhatikan, yakni mengupayakan agar 
dunia usaha tidak terombang-ambing lagi. Dus, pemerintah dan BI harus berupaya 
maksimal menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar tak terus 
merangkak menjadi Rp 11.000. 

                  Yang harus dipahami, tidak gampang pemerintah dan BI 
melakukan intervensi menjaga kestabilan rupiah atas dolar AS. Ini karena 
cadangan devisa sudah mulai tergerus akibat masih tingginya impor, khususnya 
minyak. Karena itu, pemerintah dan BI tak selaiknya bersikap tenang-tenang 
merasa masih mampu mengendalikan gejolak dolar AS. Yang terpenting, tindakan 
nyata menjaga kurs rupiah agar tetap stabil perlu dilakukan supaya dunia usaha 
tidak panik. Bagi dunia usaha, kepastian kurs sangat diperlukan agar 
hitung-hitungan rencana bisnis mereka akurat.***  
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke