http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=187011

Selasa, 30 Agt 2005
Mengenang Pembaruan-Islam Cak Nur

Oleh Ismatillah A. Nu’ad *
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Nurcholish Madjid (Cak Nur) kemarin 
berpulang ke rahmatullah. Bapak pembaruan pemikiran Islam itu meninggal 
dunia pada usia 66 tahun.

Mengenang sosok almarhum tidak bisa dipisahkan dari munculnya gerakan 
pembaruan pemikiran Islam pada 35 tahun silam. Mengenang gerakan itu 
kurang pas jika tak menyebut nama besar Cak Nur. Mengabaikan Cak Nur 
sama seperti garam tanpa asin.

Dia dinisbatkan sebagai gerbong pembaruan karena pada awal dekade 70-an 
menggelontorkan gagasan rasionalisasi-agama sebagai jargon dari gerakan 
pembaruan-Islam. Pada acara halalbihalal organisasi muda Islam, Cak Nur 
memberikan ceramah berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan 
Masalah Integrasi Umat di Jalan menteng Raya No 58, Jakarta Pusat. 
Gagasan yang ditebarkan cukup menggetarkan karena tak lazim. Dia bicara 
soal rasionalisasi, sekulerisasi, desakralisasi, modernisasi-Islam, dll.

Menurut Cak Nur, sekulerisasi berarti rasionalisasi-agama, dalam arti 
mengartikulasi pesan-pesan moral agama pada tataran realitas kehidupan. 
Sementara itu, modernisasi tidaklah identik dengan westernisasi, tetapi 
merupakan spirit yang hendaknya memacu umat Islam untuk berbuat seperti 
dalam kemajuan-pencerahan yang terjadi di Barat (Tarekat Nurcholisy: 2001).

Gagasan-gagasan itu kemudian mendapatkan kritik dan serangan 
bertubi-tubi dari kelompok skripturalis-tekstualis muslim, di antaranya 
dari kelompok Dewan Dakwah. H M. Rasjidi merupakan salah satu 
pentolannya. Rasjidi adalah seorang sarjana muslim dari Universitas di 
Prancis dan penerjemah buku-buku bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.

Sebaliknya, kritik bertubi-tubi tak membuat surut Cak Nur. Gagasannya di 
awal 1970-an, misalnya, dipertegas lagi setelah Cak Nur merampungkan 
studi di Universitas Chicago awal dekade 80-an.

Pada saat itu, Cak Nur banyak menawarkan pendekatan baru yang dianggap 
"tak lazim" dalam ajaran Islam, yaitu kesemuanya lahir dari tafsir dan 
konsekuensi terhadap gagasan rasionalisasi-agama. Sebuah gagasan R. 
William Liddle (1995) yang mereduksi dari Robert N. Bellah, seorang 
sosiolog-agama kenamaan dari Amerika. Gagasan itu, menurut Liddle, 
dielaborasi Cak Nur dalam makalah kerjanya ketika berada di perjalanan 
dari Chicago.
***
Setelah pulang dari Chicago, lantas banyak kalangan 
skripturalis-tekstualis muslim yang merasa tak salah menduga bahwa Cak 
Nur memang agen orientalis. Sebab, kampus Chicago di dunia Islam 
terkenal sebagai sarang para orientalis kenamaan, seperti Wilfred 
Cantwell-Smith, Marshal G. S. Hodgson. Selain itu, di sana juga ada 
pemikir muslim yang menjadi gerbong modernisasi dan pembaruan-Islam 
karena mendekati agama dengan jalan rasional, seperti Fazlur Rahman.

Cak Nur, sebagai salah satu mantan murid Rahman, seperti juga Amien Rais 
dan Syafii Maarif, secara otomatis mengikuti gaya pemikiran Rahman yang 
rasional. Tampaknya dari Rahman itulah, bukan dari Bellah seperti 
pendapat Liddle, Cak Nur mendapat inspirasi awal mengenai gagasan 
rasionalisasi agama.

Gayung pun bersambut. Cak Nur rupanya tak hanya dikritik. Namun, banyak 
pula sambutan hangat yang datang dari kalangan-kalangan yang sepaham 
dengannya. Kalangan yang sepaham itu, pada substansinya, adalah 
orang-orang yang tidak mau lagi memahami Islam secara mainstream dan 
selama itu dianggap otoritatif.

Pendekatan terhadap Islam nonmainstream yang dianggap tak otoritatif 
itu, ternyata, lebih menyegarkan dan relevan dengan gejolak 
pemikiran-pemikiran liar di kalangan aktivis muda Islam khususnya. 
Keliaran pemikiran terjadi akibat persinggungan tradisi dan khasanah 
pemikiran modern dari Barat.

Pengikut Cak Nur yang setia dan paling awal datang dari kalangan 
aktivis-muslim, katakanlah seperti Djohan Effendi, M. Dawam Rahardjo, 
Utomo Dananjaya, Adi Sasono, Eki Syachrudin dan orang-orang yang pernah 
bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) atas latar pemikiran yang 
sejalan dengan Cak Nur.

Mereka dikatakan seperti itu karena tak sedikit juga di HMI yang tak 
sejalan dengan gagasan-gagasan pembaruan Cak Nur. Oleh Greg Barton 
(1999) kemudian dipilah orang-orang yang masuk kelompok neomodernis dan 
orang-orang yang dikategorikan substansialis. Namun, keduanya sama-sama 
memperjuangkan gerakan pembaruan-Islam di Indonesia.

Kelompok neomodernis dinisbatkan karena telah memperbarui kalangan 
modernis-muslim yang menggelontorkan gagasan modernisasi-Islam. Tokohnya 
adalah Fazlur Rahman. Kelompok neomodernis, menurut Barton, terbentuk 
karena mereka tak hanya punya akses dalam khasanah tradisi intelektual 
Barat-modern. Namun, juga punya akses yang cukup luas dari khasanah 
tradisi klasik-pesantren.

Kelompok substansialis, menurut Barton, punya akses besar terhadap 
khasanah intelektual Barat-modern, tapi kurang mendapatkan akses 
khasanah intelektual klasik-Islam. Kelompok neomodernis diwakili oleh 
orang seperti Cak Nur sendiri, kemudian Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 
Yang mewakili kelompok substansialis adalah M. Dawam Rahardjo, Adi 
Sasono, dll.
***
Dalam perjalanannya, gerakan pembaruan-Islam Cak Nur dianggap bukan 
suatu barang baru. Sebab, lama sebelum Cak Nur memelopori gerakan 
pembaruan, Muhammadiyah sebagai salah satu ormas Islam terbesar juga 
mengklaim sebagai gerakan pembaru.

Kategori umum mengenai gerakan pembaruan lantas juga merujuk pada 
gerakan salafi-Wahabi di Arab yang kemudian membentuk Kerajaan Saudi 
pengklaim penjaga dua kota suci Makkah-Madinah. Jika dirujuk masa 
awalnya, gerakan pembaruan dipelopori Rifaat Tahtawi, Jamaluddin 
Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasdyid Ridha di Mesir.

Menurut Thoha Hamim, ciri umum gerakan pembaruan, antara lain, kembali 
kepada ajaran Quran, sunnah, dan tradisi salaf, menolak praktik-praktik 
taklid (ittiba’), berpikir rasional yang menafsir sumber-sumber ajaran 
Islam secara aktual, dan yang paling menonjol tentu saja memerangi bidah 
dan khurafat. (Thoha Hamim, Moenawar Chalil’s Reformist Thought, 2000)

Memang, geneologi gerakan pembaruan beserta ciri umumnya itu turut serta 
menginspirasi gerakan pembaruan Cak Nur. Namun, untuk menggeneralisasi 
kesamaan secara menyeluruh juga tak dapat dibenarkan. Jadi di sini, 
model pembaruan di Mesir berbeda dengan pembaruan ala Wahabi di Arab 
Saudi, begitu pula pembaruan ala Wahabi berbeda dengan Muhammadiyah di 
Indonesia. Akhirnya, gerakan pembaruan Muhammadiyah berbeda pula dengan 
pembaruan Cak Nur.

Meski semua gerakan pembaruan itu mengklaim pewaris generasi salafi, 
salafi di Arab Saudi berbeda dengan salafi Muhammadiyah. Jika salafi di 
Arab Saudi berarti Wahabisme fanatik, radikal, dan tak toleran serta tak 
akomodatif dengan mazhab di luar mazhab Wahabi itu sendiri, salafi 
Muhammadiyah justru sebaliknya. Yakni, bersifat moderat, tradisional, 
dan akomodatif-demokratis.

Bahkan, organisasi terbesar lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU) 
"saudara kandung Muhammadiyah" tak hanya akomodatif, tapi juga oportunis 
dalam soal komparasi mazhab fikih.

Berbeda jauh dengan itu, salafi pembaruan Cak Nur bahkan melampaui 
salafisme Muhammadiyah maupun NU sekalipun. Salafi pembaruan Cak Nur 
lazimnya bersinggungan dengan modernitas Barat yang didapat dari hasil 
persinggungan dengan dunia akademis-nontradisional.

Karena pembaruan Cak Nur lahir dari kampus, maka konsekuensinya, dalam 
jumlah masif, banyak "Cak Nur muda" di masa sekarang yang mengikuti 
jejak langkahnya. Dalam pelbagai warna, pembaruan Cak Nur ditafsirkan 
oleh mereka sehingga lahir pula tafsir yang lebih mengerucut terhadap 
pembaruan Cak Nur, entah mereka yang kemudian menamakan kelompok 
postradisionalisme-Islam (Postra), Islam-liberal (Islib) maupun 
Islam-progresif.

Yang jelas, pembaruan Cak Nur dikatakan cukup berhasil karena tak hanya 
memperkenalkan model rasionalitas berpikir dalam mendekati agama, tapi 
juga berhasil mengelaborasi, mendemonstrasi, dan mengaktualisasikannya 
dalam realitas kekinian. Karena itu, tak hanya pengkritiknya, 
pengikutnya pun terus ada dan tetap eksis sampai kapan pun.***

* Ismatillah A. Nu’ad, bekerja di Center for Moderate Moslem (CMM) di 
Jakarta



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke