http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/03/opini/2015098.htm

 
Negara "Juggernaut" Indonesia 

Oleh: TOTO SUPARTO

Minyak tanah langka, rupiah terus melemah, listrik padam tiba-tiba, kabut asap 
ngelayap ke negara tetangga, flu burung membikin sengsara, nyawa anak balita 
terancam demam berdarah, koruptor terus bertambah, remaja dirongrong narkoba, 
kekerasan mewarnai pilkada, kemiskinan bermunculan di mana-mana, adalah 
sebagian peristiwa yang memprihatinkan bangsa.

Peristiwa-peristiwa itu sudah cukup untuk menempatkan negara ini dalam metafor 
"Juggernaut". Metafor ini dikenalkan oleh Anthony Giddens (1990) untuk 
melukiskan situasi dunia. "Juggernaut" adalah truk besar yang meluncur tanpa 
kendali. Lewat metafor itu Giddens ingin mengatakan tidak ada manusia satu pun 
yang bisa lolos dari situasi mengerikan. Hidup diwarnai serba ketidakpastian 
yang datang terus-menerus. Orang-orang hanya pasrah sembari (mungkin) berdoa 
mohon keselamatan.

Indonesia boleh jadi masuk dalam ciri manufactures uncertainty (Giddens, 
1994:4). Sebuah ungkapan yang menekankan pada sebuah masa serba diliputi 
ketidakpastian. Namun, ketidakpastian itu bukan semata-mata ditimbulkan oleh 
alam, tetapi oleh manusia, di antaranya berkat teknologi yang justru menjadi 
"bumerang" bagi diri sendiri. Di negara tercinta ini banyak orang berdoa mohon 
keselamatan lantaran ketidakpastian di depan mata. Hari ini minyak tanah 
langka, jangan-jangan besok malah air bersih yang susah didapat. Hari ini 
listrik padam mendadak, jangan-jangan besok padam lebih lama.

Hari ini flu burung menyerang, jangan-jangan besok giliran flu tulang 
mengganas. Kita hidup di negara yang penuh ketidakpastian.

Tugas pemimpin

Rakyat berharap kepastian karena dengan cara inilah hidup menjadi lebih ideal. 
Rakyat berusaha, tetapi faktor eksternal kerap membuat buntu. Dalam taraf ini, 
biasanya rakyat menyandarkan kepada para pemimpinnya.

Akhirnya rakyat berasumsi tugas pemimpin adalah memberikan kepastian hidup 
tersebut. Dalam memilih pemimpin, rakyat akan mempertimbangkan komitmen calon 
pemimpin dalam memberikan "jaminan kepastian" hidup. Janji lisan dan tertulis 
menjadi pegangan rakyat saat memilih pemimpinnya. Manakala menemukan calon 
pemimpin yang mendekati standar itu, serta-merta dipilihnya dengan harapan 
kelak hidup akan lebih pasti. Namun, harapan tak selalu terwujud. Pemimpin 
pilihannya belum juga memberikan kepastian hidup. Bisa jadi pemimpin pilihannya 
itu berbuat atau bersikap; pertama, menjual janji palsu demi menarik suara 
rakyat. Kebohongan bukan hal mustahil dalam berpolitik.

Kedua, baru ketahuan bahwa pemimpin pilihannya bukan tergolong pemimpin 
altruis. Kalau saja pemimpin di negeri ini bersikap altruis, setidaknya mereka 
akan tahu seluk beluk orang lain, terutama rakyat yang dipimpinnya. Mereka akan 
tahu persis kekhawatiran rakyatnya menghadapi ketidakpastian hidup.

Kalau ditimbang-timbang, seseorang tidak mungkin menjadi altruis sejati. 
Pemikir Ayn Rand melihat etika altruisme sebagai gagasan yang sama sekali 
destruktif dan mengantarkan pada suatu penyangkalan nilai individu. Sebab 
altruisme, kata Rand, mengajarkan hidupmu merupakan sesuatu yang hanya dapat 
dikorbankan. Kepedulian utama bukanlah menghayati hidupnya, melainkan bagaimana 
mengorbankan hidupnya itu (Rachels, 2003). Mana ada pemimpin yang total 
mengorbankan hidupnya demi kemajuan rakyat?

Sebaliknya menjadi egois sejati juga berdampak buruk bagi kebanyakan orang. 
Sebab egoisme akan membiarkan setiap orang memandang hidupnya sendiri sebagai 
nilai tertinggi. Mereka berpandangan, memedulikan orang lain merupakan gangguan 
yang ofensif terhadap urusan pribadi orang lain.

Jadi, pemimpin sah saja egois dengan mementingkan kelanggengan kekuasaannya, 
tetapi idealnya diimbangi dengan sikap altruis agar kepentingan rakyat juga 
memperoleh perhatian sebagaimana mestinya.

Ketiga, baru ketahuan pula bahwa pemimpin pilihannya lebih suka "berpikir" 
sendiri. Mereka cenderung mengabaikan suara publik. Meminjam istilah Jurgen 
Habermas, pemimpin macam itu mengingkari demokrasi deliberatif, yakni satu 
kondisi di mana legitimitas hukum tercapai karena terbangun dari 
diskursus-diskursus dalam masyarakat sipil.

Model demokrasi deliberatif memungkinkan draf kebijakan publik diuji terlebih 
dahulu lewat apa yang diistilahkan Habermas sebagai diskursus publik.

Demokrasi deliberatif menghormati peran serta warga negara dalam proses 
pembentukan opini agar suatu kebijakan pemerintah mendekati harapan 
orang-orangyang diperintah.

Dari perspektif itu, ketidakpastian bisa dikurangi (setidaknya menjadi "hampir 
pasti") jika ada itikad baik dari pemimpin. "Juggernaut" tidak meluncur maut 
bila ada yang mengendalikan. Justru hakikat pemimpin sejati memang berjuang 
demi rakyat yang telah memilihnya. Makna akuntabilitas tetap menjadi perhatian 
pemimpin. Ia dipilih rakyat, maka sewajarnya mengembalikan kepada rakyat.

Persoalannya kini, itikad itu hanya terbaca pada saat-saat tertentu saja, 
seumpama menjelang pemilu atau pilkada. Setelah itu itikad baik yang 
digembor-gemborkan hilang tak berbekas. Entah ke mana.

Toto Suparto Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata 
Dharma Yogyakarta




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke