http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/03/opini/2015063.htm
Tiga Ekologi Teror Oleh: YASRAF AMIR PILIANG Wajah teror yang menghantui dunia kehidupan global sebenarnya tidak hanya wajah-wajah teror politik ciptaan mesin-mesin terorisme global, tetapi wajah-wajah teror non-politik-baik yang bersumber dari alam, manusia, dan makhluk lain-yang telah menciptakan efek ketakutan yang tidak kalah hebatnya. Masyarakat global tidak hanya dikelilingi oleh mesin-mesin teror politik, akan tetapi oleh mesin-mesin "teror" alam (gempa, tsunami, kebakaran hutan), manusia (kriminalitas, HIV), hewan (flu burung, sapi gila, demam berdarah), tumbuhan (efek pestisida), makanan dan obat-obatan (keracunan, mistreatment), dan kapitalisme (paranoia konsumsi, panik tren), yang menghasilkan efek ketakutan yang berlipat ganda-multiplicity of terror. Multiplisitas mesin teror ini telah menciptakan multiplisitas efek ketakutan dan trauma, seakan-akan tidak ada lagi ruang kehidupan yang terbebas dari efek ketakutan itu. Efek ketakutan yang ditimbulkan oleh penularan flu burung, demam berdarah, keracunan makanan, kriminalitas, kelangkaan bahan bakar, dan bencana alam tidak kalah menakutkan dibandingkan efek ketakutan akibat aksi teror, yang menjadikan setiap orang kini di dalam situasi siaga berlapis-lapis-multiplicity of paranoia. Ekosistem tempat teror itu hidup dan berkembang biak tidak hanya ekosistem sosial-politik, tetapi berbagai ekosistem lainnya, seperti ekosistem lingkungan, ekosistem mental dan ekosistem kultural, yang di dalamnya beroperasi multiplisitas mesin teror, dengan multiplisitas efek ketakutan, horor dan trauma yang ditimbulkannya. Felix Guattari di dalam The Three Ecologies (2000) membedakan tiga "ekologi", untuk menjelaskan dunia kehidupan manusia kontemporer: 1) ekologi lingkungan (environtment ecology), yaitu kesatuan dan jaringan yang membangun lingkungan fisik dengan berbagai habitat di dalamnya, 2) ekologi mental (mental ecology), yaitu kesatuan dan jaringan abstrak mental yang membangun lingkungan psikis manusia, dan 3) ekologi sosial (social ecology), yaitu kesatuan sosial yang membangun sebuah socius dan lingkungan sosial (eco-social). Ketiga ekologi di atas tidak saja menjelaskan tiga "ekosistem" dalam dunia kehidupan, tetapi sekaligus "tiga ekologi teror', yaitu tiga sistem yang di dalamnya membiak aneka teror, rasa takut, dan paranoia, yang ketiganya tidak dapat dipisahkan dari "mesin kapitalisme global", yang menjadi prakondisi bagi berkembangnya tiga ekosistem itu di dalam masyarakat global dewasa ini-ecology of terror. Ketakacuhan fatalistik Efek memburuknya hubungan antara manusia dan alam, dengan dunia psikis (the other) dan dengan socius tidak semata disebabkan oleh kerusakan lingkungan fisik, tetapi oleh ketakacuhan fatalistik (fatalistic indifference) yang akut di dalam sistem kapitalisme global, dengan membiarkan terakumulasinya aneka kerusakan: kerusakan ozon, penggundulan hutan, pemborosan bahan bakar, kesenjangan ekonomi, degradasi moral, yang menghasilkan "tiga ekologi teror": Pertama, teror ekologis (ecological terror). Aneka "penyakit biologis" yang ditimbulkan oleh hewan dan tumbuhan-virus flu burung, sapi gila, demam berdarah-adalah akibat dari kerusakan parah ekosistem, disebabkan intervensi berlebihan teknologi di dalam proses reproduksi hewan atau tanaman (secara kimiawi), semata demi akumulasi kapital, dengan mengabaikan dampak ekosistem. Kelangkaan bahan bakar (premium, solar dan gas) merupakan "teror" yang menakutkan di masa depan, dengan terancamnya keberlanjutan aneka kebiasaan dan gaya hidup manusia di masa depan (life style). Kedua, teror politik (political terror). Aneka "penyakit sosial" menyangkut terorisme global adalah akibat logis dari kerusakan "ekosistem sosial global", yaitu dengan disikapinya berbagai bentuk ketidakadilan, kesenjangan, kecurangan, kerakusan, kemiskinan, peminggiran dan marginalisasi secara acuh-tak-acuh, yang melahirkan "terorisme" sebagai sebuah solusi. Selama ekosistem sosial global itu tidak dapat direhabilitasi dan direparasi secara lebih arif, adil, dan manusiawi, perang global terhadap terorisme global hanya menjadi sebuah perang yang sia-sia. Ketiga, teror ideologis (ideological terror). Kapitalisme global, dalam bentuknya yang sekarang, dapat dianggap sebagai sebuah bentuk teror, meskipun sangat halus (soft terrorism). Kapitalisme menciptakan aneka "ketakutan artifisial": takut ketinggalan model, takut tak trendi, takut tak bergaya hidup, takut tak langsing, dan sebagainya. Aneka "penyakit mental-moral" yang menghinggapi masyarakat ini merupakan efek dari akumulasi kerusakan parah "ekosistem mental-moral", sebagai akibat dari berbagai efek egoisme, selfishness hedonisme, pelepasan hasrat dan konsumerisme yang tanpa etika, yang berujung pada "krisis mental dan moral". Ancaman nyata Tiga ekologi teror di atas merupakan ancaman nyata terhadap keberlanjutan kehidupan manusia di masa depan. Berbagai efek ketakutan dan horor ini tidak dapat dibiarkan terus membiak tanpa kendali, yang dapat menggiring pada kehancuran total aneka ekosistem, ego-sistem dan sosio-sistem. Untuk itu diperlukan berbagai pemikiran komprehensif ke depan: Pertama, pemikiran ekologi lingkungan (ecosophy), berupa alternatif penyelesaian berbagai krisis ekosistem secara berkelanjutan, dengan mengembangkan ekosistem lingkungan baru, yang tidak lagi berlandaskan pada spirit eksploitasi tanpa batas, megalomania-kapitalistik dan pelepasan hasrat tak bertepi, tetapi pada keseimbangan, keramahan, dan berkelanjutan. Kedua, pemikiran ekologi mental (egosophy), berupa berbagai kebiasaan mental baru, yang tidak lagi dibangun di atas spirit kepuasan sesaat hedonisme, konsumerisme, dan materialisme, tetapi di atas spirit visioner yang melihat jauh ke depan, melalui mentalitas yang lebih berorientasi pada pengembangan nilai-nilai sosial, kemanusiaan, dan spiritualitas. Ketiga, pemikiran ekologi sosial (socio-sophy), berupa paradigma baru penyelesaian aneka konflik di dalam ekosistem sosial-politik, yang tidak lagi didasari oleh penggunaan kekuasaan (super power) semata-yang hanya menciptakan iklim "teror dibalas teror", tetapi oleh sikap saling pemahaman bersama tentang perlunya "merawat kehidupan", bukan melukai dan merusaknya-mutual understanding. Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving. http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

