http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005090223433413

INTERNASIONAL   
Sabtu, 03 September 2005    
 
Israel Dekati Negara Islam untuk Rintis Hubungan Diplomatik    

YERUSALEM (AFP): Israel menilai mundurnya mereka dari Jalur Gaza 
merupakan saat yang tepat untuk membangun hubungan diplomatik dengan 
negara-negara Arab dan Islam. Namun, kalangan Islam menyambut dingin 
seruan itu.

"Saya telah katakan kepada perwakilan-perwakilan negara-negara Arab dan 
Islam bahwa mundurnya kami dari Gaza akan menjadi saat yang tepat bagi 
pembentukan hubungan diplomatik," kata Menlu Israel Silvan Shalom 
mengomentari pertemuannya dengan Menlu Pakistan Khurshid Kasuri di 
Istanbul, Turki, Kamis (1/9).

"Kami harap akan segera ada kunjungan delegasi dari kementerian saya ke 
Pakistan, yang akan segera diikuti normalisasi hubungan kedua negara," 
lanjutnya.

Pertemuan Shalom dengan Kasuri menandai kontak tingkat tinggi pertama 
antara kedua negara. Saat ini Israel hanya memiliki hubungan diplomatik 
dengan tiga negara Arab, yakni Mesir, Yordania, dan Mauritania, serta 
segelintir negara muslim termasuk Turki.

Seakan mengamini pernyataan Shalom, Menlu Pakistan itu mengaitkan 
pertemuan tersebut dengan penarikan mundur para pemukim dan tentara 
Yahudi dari Jalur Gaza, yang baru rampung 10 hari lalu.

"Pakistan sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan di Israel dan 
Jalur Gaza," kata Kasuri. "Oleh karena itu, Pakistan memutuskan untuk 
berhubungan dengan Israel."

Namun, keputusan Pakistan tersebut memicu 'kekhawatiran' dari Palestina. 
"Sungguh tidak bagus memberi hadiah kepada Israel sebelum mereka 
benar-benar melaksanakan proses perdamaian. Bukan hanya di Gaza, 
melainkan juga di Tepi Barat dan Yerusalem," kata Wakil Perdana Menteri 
Palestina Nabil Shaath kepada para wartawan, Kamis (1/9). Sampai saat 
ini, Israel masih menduduki Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

"Kami khawatir dengan hal ini, karena ini bukan waktu yang tepat untuk 
memulai hubungan dengan Israel," katanya.

"Waktu yang tepat untuk membina hubungan dengan Israel adalah setelah 
mereka mundur dari semua wilayah yang dicaplok pada 1967 dan 
menyelesaikan isu pengungsi," lanjutnya.

Presiden Pakistan Pervez Musharraf mengimbau agar pertemuan itu jangan 
ditanggapi dengan keliru. Dia menegaskan sikap Pakistan bahwa hubungan 
diplomatik baru akan dipertimbangkan bila negara Palestina telah 
berdiri. "Kami tidak akan mengakui Israel sampai rakyat Palestina 
memperoleh negeri mereka atau ada tanda-tanda kesepakatan menuju ke arah 
itu," katanya kepada para wartawan di Pakistan.

Di Pakistan sendiri, pertemuan dengan Israel itu mendapat reaksi keras 
dari rakyat negeri tersebut. Partai-partai agama Pakistan, kemarin, 
menyiapkan demo besar-besaran di seluruh negeri itu untuk memprotes 
keputusan tersebut. Mereka menuduh pemerintah telah menjadi antek Amerika.

Muttahida Majlis-e-Amal (MMA), atau Front Gerakan Bersatu, mengatakan 
protes itu digelar di seluruh negeri itu usai salat Jumat.

"Kami menggelar protes di seluruh negeri dan menjadikan Jumat sebagai 
hari berkabung," kata Syed Munawwar Hasan, Sekretaris Jenderal Partai 
Jamaat-i-Islami, partai utama di negeri itu.

Di Kuala Lumpur, pemerintah Malaysia menegaskan tidak punya rencana 
menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. "Masih terlalu dini bagi 
Malaysia membicarakan pembentukan hubungan diplomatik (dengan Israel)," 
kata Menlu Malaysia Syed Hamid Albar saat ditanyakan sikapnya mengenai 
pertemuan Pakistan-Israel tersebut.

Syed Hamid mengatakan Malaysia, yang kini memimpin Organisasi Konferensi 
Islam (OKI), tetap mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk 
mendirikan negara sendiri.

Sementara itu, Wakil PM Israel Ehud Olmert mengatakan Israel telah 
menghentikan proyek kontroversial pembangunan 3.500 unit rumah baru di 
dekat permukiman terbesar di Tepi Barat Maale Adumim. Bila diteruskan, 
proyek ini bisa menyatukan permukiman itu dengan Yerusalem timur dan 
merupakan pelanggaran terhadap peta jalan damai.

Sedangkan bagi Indonesia, Israel harus memberikan hak-hak dasar 
Palestina dan menjalankan sepenuhnya resolusi Dewan Keamanan PBB sebelum 
berusaha menjalin hubungan dengan negara-negara Islam.

"Bagi Indonesia yang kunci adalah pemberian hak mendasar bangsa 
Palestina dan kita ikuti perkembangannya. Kita ingin melihat terlebih 
dahulu penghormatan hak mendasar bangsa Palestina dalam menentukan 
nasibnya dengan Yerusalem sebagai ibu kota," jelas Marty Natalegawa 
ketika dihubungi Media, tadi malam.

Dia menekankan masih terlalu dini bagi Israel untuk membicarakan hal 
itu, karena pernyataan tersebut tidak menjawab permasalahan inti. "Hak 
Palestina dan kecenderungan Israel mengabaikannya adalah yang terutama." 
(HD/I-3)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke