Seingat saya, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan: "... tidak ada hari baik atau hari buruk..."
Tolong dikoreksi kalau ingatan saya ini keliru... --- [EMAIL PROTECTED] wrote: > tapi... apakah mati di hari minggu itu hari buruk? > lalu kenapa ada yang namanya "waktu" diciptakan? > .... > > On 9/6/05, Nugroho Dewanto > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Nurcholish, Hari Baik untuk Mati > > > > Apa yang akan terjadi dengan Indonesia > andai saja tak ada > > Nurholish Madjid? > > Wallahu a'lam. Itu pertanyaan > untung-untungan. Mungkin juga kita > > akan menjadi seperti di beberapa negara Timur > Tengah, yang pertentangannya > > di antara golongan politik Islam dan sekuler > demikian tajam. Di Indonesia, > > saya pikir, Nurcholish sudah menjadi pembuat jalan > lebar di tengah, meski > > hal itu bisa tak disengaja. Memang, bukan maksud > Ketua Umum Himpunan > > Mahasiswa Islam (HMI) ituwaktu itu, ketika ia > memulai kampanye pembaruan > > pemikiran keagamaannya di awal 1970untuk > "menetralkan" kalangan penguasa > > dari kemungkinan menjadi ekstrem terhadap kalangan > Islam seperti di > > sebagian negara-negara Arab itu. > > Kalangan Islam itu khususnya para bekas Masjumi, > dulu. Mereka, seperti > > dikatakan Nurcholish, tidak tanggap untuk dengan > segera mendukung > > pemerintahan Orde Baru. "Yang kami harapkan dulu > (di tahun 1966) pimpinan > > bekas Masjumi itu tidak lagi bicara soal > rehabilitasi Masjumi (kepada > > orang-orang Soeharto), tapi membentuk saja partai > baru dan segera > > menyatakan sikap mendukung 100% kepemimpinan Pak > Harto," katanya kepada > > Tempo di bulan Agustus 1971. > > Tentu, ekstremitas teoretis bisa terjadi bila > pihak Islam tetap keukeuh > > pada pendirian mereka, sementara para pemain > politik di luar Islam terus > > saja memelihara citra "bahaya negara Islam" > sepeninggal Masjumi. Tak perlu > > dipertimbangkan benar apakah kesadaran seperti itu > berada di kalangan para > > mantan tokoh Masjumi, yang dikenal sebagai para > demokrat sejati, ataukah di > > seberangnya. Tetapi bila, dalam ajakannya kepada > desakralisasi dan > > sekularisasi, Nurcholish menginginkan pembersihan > agama dari semua yang > > tidak sakral dan bukan sejatinya bagian dari > agama, seperti partai atau > > lembaga, yang dimaksudkannya adalah Masjumi. > > Pihak yang "ditembak" paham benar akan serangan > ituyang datang dari > > eksponen yang, sangat menyedihkan, sebenarnya > menjadi tumpuan harapan > > mereka dan untuk kualitasnya dia dijuluki Natsir > Muda. Faktor psikologis > > seperti itu, jangan diingkari, bisa lebih atau tak > kurang penting sebagai > > batu pemisah silaturahim (antara Nurcholish dan > keluarga Masjumi) daripada > > masalah isi kampanye si pemimpin muda. Itu memang > momen-momen yang sangat > > menekan, dan banyak meminta pengorbanan perasaan, > masa-masa awal 1970-an itu. > > Baik saya tuliskan bahwa Mas Sudjoko Prasodjo, > almarhum, senior Nurcholish > > di HMI dan ayahanda sosiolog Imam Prasodjo, > menceritakan kepada saya bahwa > > dekat sebelum masa-masa yang genting itu, > kegelisahan luar biasa yang > > melanda Nurcholish sampai-sampai membawanya > melakukan ziarah ke beberapa > > makam. Seorang kawan, saya lupa, menambahkan bahwa > kegelisahan yang kurang > > lebih sama dulu membuat Muhammad Abduh, reformis > besar Mesir, sebentar > > menjadi ateis. Mas Djoko kemudian menasihati > Nurcholish untuk ke luar > > negeri, belajar sosiologi. Sementara itu, KH > Saifuddin Zuhri, almarhum, > > dari NU, menuturkan kepada saya bahwa di masa itu > Nurcholish sering datang > > dan "mengadu", sementara Saifuddin menyaraninya > untuk memperhalus sikap > > kepada "orang-orang tua". Itulah transformasi itu. > > Memang, bukan maksud Nurcholish waktu itu untuk > "menyelamatkan umat" dari > > kemungkinan ekstremisasi di kalangan penguasa yang > menjadi sekuler, yang > > bisa saja kita bayangkan terjadi, umpama bila > kalangan muslimin semakin > > keras dalam zealot. Sebagian dari negeri-negeri > Timur Tengah kurang lebih > > punya situasi begitu, dan kita juga bukan tidak > pernah, lho, menghadapi > > keadaan yang hampir sama. > > Saya pikir, Nurcholish, dengan kampanyenya, sudah > menjadi bagian yang > > penting sekali (ingatlah organisasi HMI yang > besar, dengan pengaruhnya > > sampai saat-saat peralihan itu) dari pembangunan > gelombang besar masyarakat > > moderat yang baru, yang bisa turut menyingkirkan > kemungkinan bangkitnya > > situasi runcing saling berhadapan. Dan itu memang > sebagiannya bisa > > dianggap, begitulah kalau Anda mau, buah dari > usaha "sekularisasi", > > meskipun agak dilebih-lebihkan. > > Lagi pula, tentang sekularisasi ini ada > yang bisa dituturkan > > sebagai riwayat. Waktu saya menggarap tulisan > pertama di Tempo tentang > > Nurcholish, 56 hari setelah majalah ini terbit > pertama kali (1 Mei 1971), > > saya sudah melihatnya sebagai kata kunci dalam > dakwah tokoh muda yang sudah > > beberapa tahun sebelumnya saya kenal di Yogya ini. > Tapi pengertiannya > > tidaklah selalu jelas. Benar bahwa Nurcholish > mengemukakan tetapnya > > pertalian negara dan agama, tetapi (hanya) secara > individual, di dalam > > pribadi. Agamalah yang membentuk pribadi itu. > > Itulah sebabnya, baik Abdul Qadir Djailani, > sekarang anggota DPR, maupun > > Ahmad Azhar Basyir (almarhum) dari Muhammadiyah, > tegas-tegas menolak. Lebih > > keras lagi penolakan dari Prof. Rasjidi. Tetapi, > pada kesempatan lain, > > Nurcholish juga mengatakan, "Dengan sekularisasi > tidaklah dimaksudkan > > penerapan sekularisme dan merobah (mengubahRed.) > kaum muslimin menjadi kaum > > sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan > nilai-nilai yang sudah > > semestinya bersifat duniawi." Sialnya, Nurcholish > bilang lagi bahwa > > beberapa segi yang dikemukakannya tak lain > alat-alat shock therapy. Itulah > > sebabnya Ismail Hasan Metareum (almarhum), > terakhir politikus PPP, mencoba > > menerka bahwa Nurcholish sendiri sebenarnya "tidak > sepenuhnya menyetujui > > beberapa istilah yang dikemukakannya itu." > > Bahkan, menanggapi serangan keras Prof. Rasjidi, > tokoh kita ini dengan enak > > membandingkan pemakaian 'sekularisasi' itu, yang > bukan penerapan > > sekularisme, dengan pemakaian 'sosialisasi' yang > tidak usah ada hubungannya > > dengan sosialisme. Itulah barangkali sebabnya Usep > Fathuddien menyatakan, > > pemakaian istilah 'sekularisasi' sebenarnya > "kurang tepat". > > Tetapi itu sebelum Nurcholish bertolak ke Amerika > Serikat. Sepulang dari > > studinya di University of Chicago, orang tak > pernah mendengarnya menyebut > > sekularisasi atau sekularisme secara publik. Ia > seperti memasuki babak > > baru: pendidikan. Ia mendirikan Yayasan Wakaf > Paramadina, yang menyediakan > > kelas-kelas kursus agama, sebelum nantinya > Universitas Paramadina. > > Nurcholish seorang pencinta tradisi keilmuan Islam > sejati, dan > > kursus-kursusnya itu tempat orang awam mengenaldan > menikmatipengetahuan > > yang luas, khasnya dari disiplin-disiplin > tradisional fikih, tasawuf, > > kalam, dan filsafat, walaupun serba sedikit. Dari > Nurcholish memang banyak > > yang bisa diambil di luar bab "sekularisasi". Saya > teringat KH Amidhan > > (dulu namanya ditulis Amidhan Pahuluan), sekarang > di Majelis Ulama > > Indonesia (MUI), yang di tahun 1973 juga berada > dalam grup diskusi bersama > > Nurcholish (seperti juga saya sendiri) dan > tertarik pada penekanan ide > > kemanusiaan dalam pembicaraan. "Agar > pemikir-pemikir Islam lebih menekuni > > masalah-masalah insani ini," katanya, "sebab > universalitas agama justru > > karena membicarakan manusia sebagai sentrum" > Jarang rasanya, harus > > dikatakan, orang yang bangga pada agamanya seperti > Nurcholishia memandang > > Islam sebagai sumber peradaban, kelembutan, dan > keindahan, yang bahkan tak > > harus hanya menyentuh para muslimin, tapi juga > seluruh === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

