07.09.2005

Rupiah Anjlok

Nilai tukar rupiah melemah drastis beberapa minggu
yang lalu sempat menuju angka 12.000 per satu dolar
AS.

Awal pekan-pekan lalu keadaannya cukup mencemaskan.
Rupiah dibuka melemah, semakin parah, menembus level
10.800 per dolar AS dalam kurun waktu kurang dari tiga
minggu. Para pedagang valuta asing percaya, depresiasi
rupiah masih akan terus berlanjut, seiring melangitnya
harga minyak dunia. Anjloknya rupiah membuat kondisi
makro ekonomi terus tertekan. Pemerintah nombok karena
Anggaran Negara-APBN membengkak, sementara industri
terkapar karena harga bahan ikut naik. 

Menteri Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan
pemerintah masih mengkaji dua hal utama sebagai dasar
kenaikan harga BBM. Salah satunya adalah dikarenakan
harga minyak mentah dunia yang terus naik. Jadi
besaran kenaikan belum bisa dipastikan. Namun yang
pasti persentase kenaikannya akan berjenjang.

Aburizal Bakrie: "Yang berikutnya, kita bicarakan
mengenai kenaikan BBM. Presiden mengatakan kenaikan
BBM itu tidak dilaksanakan pertama, bahwa kompensasi
kenaikan BBm telah dilaksanakan sesuai dengan jadwal."

Untuk meredam lonjakan rupiah, Presiden Yudhoyono juga
mengajak masyarakat untuk tidak ikut-ikutan memborong
dolar AS.

Yudhoyono: "Sejak minggu yang lalu yang diborong
adalah dolar. Kalau memborong dolar Amerika untuk
tujuan yang benar, saya bisa mengerti. Tapi kalau
memborong dolar Amerika untuk ikut-ikutan, apalagi ada
satu rencana yang tidak sedap, mestinya tidak boleh
terjadi. Pertamina membeli dolar banyak karena memang
untuk membeli bahan bakar minyak dari luar. Besarnya
pengeluaran Pertamina, otomatis dolar menjadi mahal,
rupiah menjadi lebih rendah."

Bank sentral sebetulnya tidak kalah taktis. Gubernur
Bank Indonesia, Burhanudin Abdullah berjanji akan
terus memonitor nilai tukar dan bersiap mengintervensi
pasar.

Burhanudin: "Tabiat dari harga adalah naik dan turun.
Kitalah yang harus menyesuaikan, bersiap-siap menjaga
volatilitas itu jangan sampai karena naik dan turun
itu membuat kita tak bisa berbuat apa-apa. Saya kira
itu yang penting bagi pembuat kebijakan."

Ada kalangan pengamat, ekonom dan anggota parlemen
yang berpendapat, pemerintah gagal menanggulangi
depresiasi rupiah. Kuatir terulangnya kolaps seperti
terjadi pada tahun 1997, mereka mendesak pemerintah
melakukan serangkaian kebijakan sebelum dampak rupiah
terlanjur menancap di masyarakat. Usulannya
macam-macam, mulai dari mengubah kebijakan repatriasi
dolar, memperketat pengawasan transakasi valas, hingga
yang belakangan wacananya semakin menguat: reshuffle
kabinet.

Sebagian kalangan menilai, melemahnya nilai tukar
rupiah terhadap dolar Amerika lantaran masih bebasnya
orang membeli dolar tanpa adanya batasan. Sistem
devisa bebas yang diterapkan pemerintah-lah yang
memicu keruntuhan rupiah. Pengamat pasar uang Farial
Anwar mengatakan, pemerintah sebaiknya merevisi lagi
undang-undang tentang devisa bebas.

Farial Anwar: "Kalau Anda ingin membeli dolar, ingin
menjual dolar di pasar Jakarta, Anda boleh beli
berapapun untuk kepentingan apa saja. Tanpa perlu
menjelaskan underline transaction-nya. Misalnya, kalau
Anda bilang untuk pembelian import, tak perlu Anda
menunjukkan L/C-nya. Kalau Anda ingin membeli untuk
kepentingan membayar utang valuta asing, tak perlu
menunjukkan loan agreement-nya. Jadi, ini yang tidak
terkendali, tidak terkontrol."

Di Senayan, Komisi XI DPR mendesak Bank Indonesia
untuk memperketat pengawasan transaksi dolar Amerika
di pasar valuta asing. Menurut Ketua Komisi XI DPR
Paskah Suzetta, Bank Indonesia selama ini baru
melakukan pembatasan, belum mempraktikkan pengawasan
ketat. Padahal sebagai pemegang otoritas moneter,
seharusnya BI mengendalikan semua transaksi valas di
perbankan. Menurut Paskah, rencana BI menaikkan suku
bunga bank tidak akan efektif untuk mengatasi situasi
ini. Tingkat suku bunga yang tinggi, justru
dikhawatirkan akan membuat dunia usaha makin terpuruk.

Aviliani, Direktur Institut Pengembangan Ekonomi dan
Keuangan (INDEF), menuturkan setidaknya tiga posisi
menteri harus dialihkan. Yakni, Menteri Koordinator
bidang Perekonomian Aburizal Bakrie, Menteri Keuangan
Jusuf Anwar dan Menteri Koperasi, Usaha Kecil dan
Menengah Suryadharma Ali. Menurut Aviliani, ketiga
menteri tersebut dinilai tidak bisa menterjemahkan
visi dan misi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Aviliani: "Terlalu banyak kepentingan yang masuk dalam
menentukan menteri di kabinet. Sehingga sulit untuk
menyatukan, karena dalam partai pun visinya beda-beda.
Jadi sebaiknya tim ekonomi ini harus melihat apakah
mampu atau tidak. Kalau tidak, yah sebaiknya diganti.
Kasih kesempatan tiga bulan untuk melakukan program
kerja yang konkrit."

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Persatuan
Pembangunan, Sofyan Usman dengan tegas menyatakan
sepakat dilakukannya perombakan menteri-menteri
ekonomi jika memang dianggap sudah tidak mampu lagi.

Sofyan Usman: "Ada yang mengatakan, apakah dengan
pergantian tim ekonomi ini akan menyelesaikan masalah?
Ini kan baru satu tahun, karena masalah ekonomi tidak
bisa diselesaikan dengan waktu singkat. Tapi perbaikan
itu kan perlu."

Apa reaksi pemerintah? Wakil presiden Jusuf Kalla yang
ditanya soal ini mengatakan pemerintah belum berencana
melakukan evaluasi kinerja kabinet dalam waktu dekat.
Anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian, Chatib Basri
menilai reshuffle merupakan hal yang sah-sah saja
dilakukan presiden. Menurutnya, setiap saat posisi
menteri bisa saja diganti sesuai kebutuhan.

Chatib Basri: "Sah-sah saja kalau orang meributkan
atau mengusulkan reshuffle. Tapi itu hak prerogatif
Presiden."

Meski demikian Chatib menilai, persoalan ekonomi tidak
bisa sekedar diselesaikan dengan mengganti menteri di
bidang ekonomi. Sebagai seorang ekonom, Chatib Basri
berpendapat, masih ada sejumlah langkah yang bisa
ditempuh untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.
Pertama membuat kebijakan moneter yang lebih ketat dan
kedua menaikkan harga BBM untuk menurunkan subsidi.
Sebab sebagian besar BBM yang dipasok Pertamina
berasal dari luar negeri dan dibeli dengan mata uang
dolar Amerika. Walaupun demikian sudah ada jangkar
yang cukup kuat dari adanya swap dengan Jepang dan
China senilai US $ 7 Milyar, meskipun pemerintah
diharapkan lebih serius menjaga rupiah dan kian
nyaringnya suara pasar yang menghendaki penyegaran
kabinet. Seandainya terjadi perombakan kabinet
diharapkan tim tsb jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
Sebab untuk apa mengganti kabinet jika hasilnya sama
saja atau lebih buruk. Disinilah letak kejelian
Presiden didalam menilai sosok seseorang, karena
taruhannya ekonomi bangsa.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke