Refleksi: Tak ada penjual jamu koyok  yang tidak memakai retorika.

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/09/08/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Tajuk Rencana I

Presiden Larut dalam Retorika?
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu mengatakan, "I don't care 
about my popularity." Pernyataan ini dilontarkan merespons kritik dan kecaman 
pedas berbagai kalangan atas kebijakan kenaikan harga BBM, Maret lalu. Padahal 
popularitas itulah yang mengantar Yudhoyono menjadi RI-1 pada Pilpres 2004 
lalu. Kalau popularitas terdegradasi karena mengangkat harkat dan martabat 
serta kesejahteraan rakyat banyak, memang tidak menjadi soal. Tapi, belakangan 
popularitas Presiden Yudhoyono mulai digugat karena kebijakannya cenderung 
hanya menjadi retorika belaka. 

Benar, Presiden Yudhoyono sangat responsif. Tapi mengingat berat dan 
kompleksitas permasalahan yang tengah dihadapi, sikap responsif dan reaktif 
saja tidak memadai. Mutlak diperlukan operasionalisasi secara nyata. Memang, 
Presiden Yudhoyono sangat cekatan dalam membuat analisis dan evaluasi yang 
tepat, tapi itu saja tidak cukup. Perlu tindakan nyata di lapangan. 

Sangat tepat pendapat Pastor Dr Piet Timang, Rektor Universitas Atma Jaya, 
Makassar yang mengatakan, kepemimpinan Presiden Yudhoyono tidak tegas dalam 
menghadapi berbagai permasalahan. "Presiden terkesan terus mengumbar janji 
dengan retorika-retorika, tetapi tidak ada aksinya" (Pembaruan, 5/9). Sedang HS 
Dillon, Direktur Eksekutif Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di 
Indonesia mengatakan, yang tengah dihadapi sekarang adalah masalah kualitas 
kepemimpinan (quality of leadership) mulai dari atas. Untuk itu harus dilakukan 
governance reform (Kompas, 6/9). 

MENJELANG satu tahun usia Kabinet Indonesia Bersatu, kualitas kepemimpinan para 
menteri ingin digugat. Melihat intensitas rapat-rapat kabinet yang tidak 
mengenal waktu, bahkan juga dilakukan di luar kota, seharusnya permasalahan 
makin berkurang. Tapi, kenyataannya makin menumpuk. Lantas, di mana salahnya? 
Analisis sudah tepat, evaluasi sudah menjawab persoalan dan instruksi telah 
jelas, namun operasionalisasinya selalu tidak menampakkan hasil. 

Ada pengalaman, sebuah lembaga beraudensi dengan Presiden. Presiden Yudhoyono 
sangat responsif dan akomodatif. Ketika disampaikan keluhan, dengan sangat 
jelas Presiden memerintahkan menteri yang mendampinginya supaya keluhan itu 
diselesaikan dalam waktu satu bulan. "Jika tidak, harap dilaporkan kepada saya, 
baik melalui telepon maupun SMS," tandasnya. Tapi kenyataannya, instruksi 
Presiden itu sampai sekarang belum menjadi kenyataan. 

Ada kemungkinan hal serupa dialami lembaga dan instansi lainnya saat melakukan 
audensi dengan Presiden Yudhoyono. Jadi, persoalannya terletak pada kualitas 
kepemimpinan itu tadi. Dengan kualitas kepemimpinan yang seadanya seperti itu, 
para pembantu akan mengatakan, "Toh, presiden tidak punya waktu mengecek apakah 
instruksinya sudah dilaksanakan apa tidak." 

KALAU diperhatikan, cara-cara pemerintahan Yudhoyono-Kalla menanggulangi 
berbagai permasalahan akhir-akhir ini boleh dibilang sudah tepat. Berbagai 
kebijakan yang diambil pun adalah hasil analisis dan evaluasi. Tapi ternyata 
tidak membuahkan hasil seperti diprogramkan. Oleh karenanya tidak terlalu salah 
kalau ada kesan pemerintahan Yudhoyono-Kalla bersifat retorika belaka. Hanya 
mampu melakukan analisis dan evaluasi, tapi tidak menyelesaikan persoalan yang 
dihadapi. 

Demikian juga dengan berbagai terobosan yang dilakukan, ternyata bukannya 
menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya makin menambah masalah. Persoalan yang 
satu belum selesai, sudah muncul persoalan lain yang makin berat dan kompleks. 
Baru saja satu janji diucapkan, muncul janji lain, demikian seterusnya sehingga 
terkesan hanya semacam retorika belaka. Hal-hal seperti ini harus segera 
diakhiri dengan aksi nyata di lapangan sesuai mandat yang diterima presiden 
dari rakyat langsung melalui Pilpres 2004 lalu. 


Last modified: 8/9/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke