Lha iya mas, memang natural kalau kita hidup dalam lingkungan ethnis, 
karena bahasa, tradisi, dan kadang kadang juga agama. dari tiap 
kelompok ethnis ada faktor penghubung, yang suka berkomunikasi antar 
kelompok. Ada kelompok inti yang tetap memurnikan diri. Ini 
sosiologis biasa.

Bahasa Melayu kala itu menjadi lingua franca, karena kebutuhan niaga. 
Juga bang Spanyol dan Portugal memakai bahasa Melayu sebagai bahasa 
untuk komunikasi dengan penduduk asli, maupun pendatang dipantai. 
Saya ada archive doa agama Kristen "Bapak Kami" dalam bahasa Melayu 
kala itu, dari tahun 1600 sekian!

Mengenai orang orang yang masuk militer Belanda untuk perang kesana 
kemari, sudah lumrah kala itu, karena juga dalam pasukan raja raja 
kita, terdapat anggauta pasukan dari suku lain. bahkan dalam pasukan 
VOC, juga banyak bangsa bangsa lain, terutama Jerman, Swedia, dan 
bangsa bangsa Asia.

Bapak bapak negara kita telah berupaya menyatukan bangsa ini, dengan 
membuang pagar pagar yang ada. kala itu semangat kebangsaan masih 
tinggi, ya namanya baru merdeka. Barang baru selalu menarik.

Mereka tak menyangka, bahwa ini hanya dipermukaan. Dibawah permukaan, 
didasar laut, banyak batu sandung, karang karang tajam, yang kini 
muncul kepermukaan. Sama kalau kita mengaduk air kopi. Lama lama 
terpisahlah antara air dan kopi. Pertentangan mengenai pasal "syariat 
Islam" disingkirkan begitu saja, karena waktu mendesak, hari 
pengumuman proklamasi sudah mendesak, Jepang sudah tunduk pada sekutu 
pada Agustus 1945 itu.

Belum pernah ada konsens yang tuntas mengenai keagamaan dalam 
kebangsaan. Ketika generasi perintis kemerdekaan wafat, maka generasi 
kemudian mulai bingung. Mereka tak pernah merngalami masa penjajahan. 
Mereka tak mengalami faktor "musuh dari luar" yang menyatukan bangsa. 
Mereka tak pernah mengalami "diludahi" penjajah, tak boleh duduk 
dibangku taman, tak boleh duduk dikelas satu kereta api, tak boleh ke 
restarurant untuk orang Eropa.

Musuh lalu dicari diantara saudara. Anugerah langit dirasakan barang 
biasa, dan tak dihargai.

Salam

danardono












--- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Masukan nomer dua dari eyang Danardono ini menurut saya entropinya 
tinggi
> :)  [ niru istilahnya oom imuchtarom ]
> 
> Thank You Allah, engkau memberi bangsa ini founding father yang 
toleran.
> 
> Btw, tentang aslinya terpecah pecah kok saya merasa kurang pas.  
Ya, namanya
> etnis ya punya kekhasan masing masing, semua tahu itu.  Namun lokasi
> kepulauan kita juga membeuat antar etnis punya hubungan sejak jaman 
baheula.
> Lha kalo ngak gak mungkin bahasa melayu riau bisa jadi bahasa 
pemersatu,
> bahasa penghubung, lingua franca, dan akhirnya diadopsi jadi bahasa
> Indonesia.  Etnis China, India dan Arab yang memang negara birokrat 
dan
> pedagang juga sejak dulu kontak dengan masyarakat Indonesia, dan 
belakangan
> orang Eropa, mereka terpaksa dagang direct ke Indonesia, karena 
jalan sutra
> dikuasai muslim dan pasokan rempah, sutra, gading dan banyak item
> perdagangan diputus, gak bisa masuk ke Bizantium.
> 
> Lihat aja dech, dari dulu orang yang punya hobby agang dan merantau 
seperti
> Padang dan banjar kan ada dimana mana, pelaut yang dari makassar 
juga udah
> ke mana mana, madagaskar dan aussie.  Bangsa birokrat seperti orang 
jawa,
> udah ekspansi dari pamalayu sampai ekspedisi lainnya.  etnis 
tionghua juga
> bolak balik datang ke indonesia, dari yang belajar agama budha (fa 
hien),
> dagang, sampai ekspedisi kenegeraan seperti cheng ho. Ratu shima di 
jawa
> barat dan bahasa sunda ternyata banya berasal dari serapan bahasa 
china
> (kata remy silado).  Jejak jejak peradaban india dan arab juga ada 
dimana
> mana.  Bangsa kita itu udah mengalami globalisasi dari jaman dulu, 
malah
> kita ini adalah mixed hasil proses ini.  Agama hindu, budha, 
kristen, islam,
> toh semua import dari wilayah lain.
> 
> Ya emang ada sich bangsa yang jarang gaul ke tempat lain, seperti 
orang jawa
> pedalaman denan mangan ora mangan kumpulnya, atau ambon dan nias, 
irian.
> Orang madura terpaksa jadi pengembara, karena dipaksa belanda buat 
strategi
> mengepung kota.  liat kota kota dijawa, di luar kota pasti jadi 
enclave
> madura.  juga dulu kalo ada pemberontakan di wilayah lain, kalo 
pemimpinnya
> kalah dan mau ditaklukkan, biasanya dipakai buat nyerang etnis 
lain..
> Sentot alibasyah pernah dibawa belanda ke sumatera buat menumpas
> pemberontakan paderi, kapitan jonge si anak ambon buat menumpas 
untung
> suropati, orang bali di bawa ke jakarta buat dijadikan budak, dan 
seterusnya
> dan seterusnya.
> 
> salam,
> Ari Condro
> 
> ----- Original Message -----
> From: "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 1. Sebenarnya bukan terpecah belah karena di-kapling kapling, tapi,
> memang terpisah lalu dikapling supaya gak bikin gaduh. Capek lah
> ngurusin mereka, kata wong Londo. Dari awalnya, kelompok kelompok
> kita tak saling bergaul.
> 
> 
> 2. Bung Karno dan bung Hatta mengupayakan mulai tahun 50an awal 
(sampai
> tahun 1949 ibukota kita di Jogya, jadi tamu Sri Sultan HB ke IX),
> agar seluruh unsur warga campur aduk. Gereja dibangun diwilayah yang
> juga banyak Islam, mesjid juga ditempat yang banyak Kristen, dsb.
> Hanya kuil Hindu India tetap di Pasar Baru. Kami, yang mengalami
> tahun 50an dan 60an merasakan sekali keeratan kebangsaan ini.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke