MEDIA INDONESIA Selasa, 13 September 2005
Skenario Pergantian Panglima TNI Aris Santoso, pengamat TNI, tinggal di Jakarta SETELAH sempat reda, isu pergantian Panglima TNI kembali mengemuka. Hal itu disebabkan sejumlah pihak yang kompeten, seperti kalangan DPR (Komisi I), Menhan, termasuk Panglima TNI sendiri, baru-baru ini telah membuka wacana tentang perlunya pergantian Panglima TNI. Bisa jadi proses pergantian Panglima TNI memang tengah berlangsung hari-hari ini. Peringatan Hari TNI sudah dekat, mungkinkah pada saat itu kita sudah bisa melihat sosok Panglima TNI yang baru. Pergantian Panglima TNI selalu menarik perhatian mengingat kapasitas politik TNI yang demikian besar. Djoko dan Djoko Sesuai dengan UU TNI, yang mensyaratkan bahwa Panglima TNI bisa dipilih dari pati yang pernah menjabat kepala staf angkatan. Dengan ketentuan itu kita bisa mendapat gambaran, calon dimaksud adalah tiga kastaf yang kini masih menjabat, serta mantan KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu. Dari empat pati (bintang empat) tersebut, tentu tidak semuanya memiliki peluang yang sama dalam menggapai posisi Panglima TNI. Kemungkinan besar akan mengerucut pada dua nama, yaitu KSAU Marsekal TNI Djoko Sujanto dan KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso. Setidaknya ada dua skenario dalam proses pemilihan Panglima TNI baru nanti. Kedua skenario tersebut sangat berkaitan dengan rencana strategis (jangka panjang), yaitu bagaimana kira-kira konfigurasi politik menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2009. Jadi, dua skenario itu muncul berdasarkan perkiraan peta politik menjelang dan saat pilpres nanti. Peta politik yang dimaksudkan di sini adalah tentang kemungkinan majunya kembali SBY sebagai capres untuk periode kedua. Kepastian majunya kembali SBY sebagai capres nanti, memunculkan skenario pertama, yaitu bakal diangkatnya KSAD Jenderal Djoko Santoso sebagai Panglima TNI. Dalam pilpres nanti, tentu SBY sangat memerlukan dukungan penuh dari TNI, sebagai strategi memperkuat posisi tawarnya, mengingat partai pendukungnya (Partai Demokrat), terlihat kurang meyakinkan. Partai tersebut jelas tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya kendaraan bagi SBY. Dukungan penuh TNI akan diperoleh SBY, bila panglimanya adalah Jenderal Djoko Santoso. Bagaimana dengan skenario kedua? Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan skenario pertama, bahwa Panglima TNI menjelang 2009 adalah Jenderal Djoko Santoso. Cuma kali ini promosinya sedikit ditunda, artinya pos Panglima TNI akan 'diputar' dahulu pada Kepala Staf yang lain, sembari mematangkan Jenderal Djoko Santoso. Karena dibanding kandidat Panglima TNI yang lain, baik dari segi usia maupun kelulusan di Akademi TNI (d/h Akabri), Jenderal Djoko Santoso adalah yang paling 'junior' Jika benar asumsi ini, maka yang menjadi Panglima TNI baru, sebagai pengganti Jenderal E Sutarto, adalah KSAU Marsekal Djoko Sujanto. Ada manfaat penting yang bisa diambil SBY bila ia memercayakan Panglima TNI pada Marsekal Djoko Sujanto. Selain ada jeda untuk memberi kesempatan kepada Jenderal Djoko Santoso untuk konsolidasi, agar benar-benar siap pada saatnya nanti. Pemilihan Marsekal Djoko Sujanto juga akan memberi arti tersendiri, karena SBY telah memenuhi asas rotasi dalam Jabatan Panglima TNI, yang secara implisit diamanatkan dalam UU TNI. Selain itu, pemilihan Marsekal Djoko Sujanto memberi efek upaya menghindari 'kompetisi' pelik di TNI-AD, mengingat ada dua kandidat dari matra darat. Bagi kalangan internal AD, pemilihan Marsekal Djoko Sujanto, bisa dibaca sebagai win-win solution bagi Jenderal Djoko Santoso dan Jenderal Ryamizard. Setidaknya ada dua alasan mengapa mantan KSAD Jenderal Ryamizard peluangnya tipis sebagai Panglima TNI. Pertama, perwira tinggi berbintang empat itu sudah lama berada sebagai pati nonjob, tradisi selama ini untuk pos Panglima TNI diambil dari perwira dalam status jabatan tertentu. Kedua, kebijakannya yang dinilai terlalu keras dalam penyelesaian konflik Aceh tempo hari, menjadi tidak cocok dengan kondisi saat ini, utamanya pascaperjanjian damai di Helsinki. Agenda panglima baru Sejumlah agenda telah menanti bagi Panglima TNI baru nanti. Salah satunya adalah soal implementasi nota kesepakatan damai TNI dan GAM. Bukan hanya soal bagaimana detail kesepakatan itu bisa berjalan lancar di lapangan, juga perlu diingat, nota kesepakatan itu juga berdampak pada orientasi TNI di masa depan. Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini, pascakesepakatan damai antara RI dan GAM, telah memunculkan wacana tentang kemungkinan munculnya sistem federalistik, sebuah fenomena yang sebelumnya tidak terbayangkan, khususnya bagi TNI. Realitas baru yang tidak sesuai jargon 'NKRI harga mati'. Tugas berat bagi Panglima TNI berikutnya, bagaimana harus bersikap dalam mengawal 'gerak sejarah' berupa bayang-bayang federalistik tersebut. Bagaimanapun TNI adalah simbol pemersatu. Seperti pengalaman di Aceh misalnya, bisa saja Aceh memiliki hak mengelola sumber daya alamnya sendiri, termasuk mengatur suku bunga bank sendiri. Tapi rasanya sulit diterima bila Aceh memiliki otoritas mengelola kekuatan militernya sendiri. Oleh karena itu, untuk urusan militer, tetap dalam satu komando, yaitu Mabes TNI di Cilangkap. Jadi seluruh aspek matra darat di Aceh, tetap dalam komando Kodam Iskandar Muda, yang sudah eksis selama ini. TNI bisa dianggap sebagai 'benteng terakhir' eksistensi konsep NKRI. Terkecuali (dan itu kecil kemungkinannya) bila komando militer di Aceh bersifat otonom, artinya tidak menginduk ke Mabes TNI. Bila ini yang terjadi, baru boleh dikatakan bahwa 'pertahanan' NKRI memang telah tumbang. Agenda berikutnya, bisa disebut lebih teknis. Salah satunya soal kemungkinan, semakin berkurangnya penggelaran operasi skala besar. Bila di masa lalu, operasi skala besar (tingkat brigade ke atas) bisa dilakukan di Timtim dan Aceh, kini palagan bagi operasi kontra gerilya seperti itu sudah semakin berkurang. Kiranya aspek teknis semacam ini, bisa memperoleh perhatian dari Panglima TNI baru kelak. Kira-kira strategi tempur macam apa yang aktual dengan situasi sekarang dan masa nanti, setelah usainya periode kontra gerilya. Salah satu cara yang bisa dipilih adalah mengintensifkan dan mengembangkan metode PJD (pertempuran jarak dekat), sebagai antisipasi ancaman teror di kawasan urban. Mengingat kecenderungan ancaman telah bergeser dari gunung dan hutan, ke kawasan perkotaan, khususnya kota besar, dan memiliki posisi strategis seperti Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Berkaitan dengan berkurangnya palagan tempur, cepat atau lambat, tentu akan berdampak pada kualifikasi perwira muda TNI, khususnya pada aspek naluri tempur mereka. Salah satu tujuan penyerbuan ke Timtim dulu, menurut Jenderal Benny Murdani, memang sebagai wahana agar tentara kita memiliki pengalaman tempur. Kini perlu dicarikan kurikulum atau metode, agar para anggota TNI tetap memiliki kemampuan tempur, tanpa harus mengalami operasi tempur yang sebenarnya. *** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

