http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=15
Senin, 12 September 2005 September Ceria Oleh : Adiwarman A Karim Entah mengapa bulan Agustus menjadi pilihan banyak negara Asia untuk memproklamasikan kemerdekaannya. Bila alasannya karena Jepang menyerah pada Sekutu pada bulan Agustus, kurang tepat karena banyak negara-negara Asia tersebut yang memproklamasikan kemerdekaannya tidak pada tahun 1945 seperti Indonesia. Jadilah bulan Agustus national days dari banyak bangsa Asia atau Asia's national months. Entah mengapa pula bulan September mencatat kejadian-kejadian penting seperti G30S PKI, Black September, 9/11 runtuhnya Twin Tower. Bila karena beberapa kejadian suram di bulan September, kemudian dianggap bulan September adalah bulan suram, tentu kita keliru. September kali ini adalah September ceria. Umat Islam baru saja merayakan Isra Mi'raj, suatu peristiwa penting bagi umat Islam karena menjadi tonggak munculnya kewajiban shalat lima waktu. Bagi bangsa Indonesia, penyelesaian damai di Aceh memantapkan kehidupan berbangsa. Bagi perbankan syariah Indonesia, bulan ini juga penuh ceria dengan banyaknya bank syariah Indonesia yang mendapat penghargaan atas kinerja mereka di antara perbankan syariah seluruh dunia. Bagi ekonomi Indonesia, bulan ini juga ditandai dengan indikator makro ekonomi yang baik. Bila ada hal yang mengernyitkan dahi para ekonom dan kegelisahan sebagian masyarakat, maka ia tidak lain tidak bukan adalah merosotnya nilai rupiah. Bahwa kita terlambat mengantisipasi serangkaian kenaikan bunga The Fed mulai dari tingkat serendah 1 persen sampai dengan level saat ini, merupakan satu hal. Bahwa kita terlambat mengantisipasi dampak penurunan nilai yuan-dolar AS terhadap rupiah, adalah hal berikutnya. Bahwa harga minyak naik melewati 60 dolar AS per barel dan posisi Indonesia sebagai net importer, juga merupakan hal berikutnya. Ketiga hal ini bagi para ekonom tentu dipahami turut memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Namun, merosotnya rupiah terhadap dolar AS sampai di atas Rp 10 ribu, apalagi di atas Rp 11 ribu, dalam hitungan hari, jelas tidak dapat diterangkan oleh model ekonomi makro yang dikenal. Beberapa simulasi dengan asumsi dan skenario yang dicoba, tetap tidak dapat memperoleh angka serendah itu karena memang indikator fundamental ekonomi Indonesia tidak buruk. Letih mencoba dengan model makro ekonomi yang book-smart, mari sekarang kita lihat dengan nalar jalanan yang street-smart. Mari kita pahami psikologis pasar. Ketika kita terlambat menaikkan bunga rupiah untuk mengantisipasi serangkaian kenaikan bunga The Fed, sebenarnya kita mengirim sinyal ke pasar bahwa ekonomi kita demikian kuat dalam artian selisih bunga riil dolar AS dan bunga riil rupiah masih dalam keadaan seimbang (interest parity). Ketika yuan didevaluasi terhadap dolar AS dan kita tetap tenang, pasar juga mendapat sinyal bahwa ekonomi kita begitu kuatnya dalam artian nilai tukar rupiah tidak dalam keadaan over-valued atau under-valued. Ketika harga minyak melewati 60 dolar AS per barel dan kita lebih terfokus perhatiannya pada APBN, pasar juga mendapat sinyal bahwa rupiah akan aman-aman saja dalam artian dampaknya akan terbatas pada APBN. Namun, ketika satu-dua transaksi pembelian dolar AS dalam jumlah besar pada saat volume transaksi di pasar kecil, nilai rupiah merosot meskipun tidak besar. Inilah yang bagi pasar dianggap sebagai sinyal yang membingungkan. Pasar yang tadinya menganggap ekonomi dan rupiah dalam keadaan kuat, sekarang terperanjat dengan sinyal kedua. Ternyata rupiah tidak sekuat yang mereka duga. Keterperanjatan inilah yang membuat pasar merasa sinyal yang diberikan tidak sepenuhnya dapat mereka percayai. Pasar mulai berpikir dengan logika dan asumsinya sendiri, yang dalam keadaan terperanjat, tentu logika dan asumsinya tidak rasional secara ekonomi. Pasar mulai berusaha melindungi dirinya dengan memegang mata uang dunia seperti dolar AS dan euro. Pemerintah dan BI tidak perlu berkecil hati menganggap pasar tidak lagi percaya pada mereka, bahkan lebih jauh lagi seakan mereka tidaklah kredibel. Sama sekali tidak. Keterperanjatan pasar muncul akibat adanya sinyal yang membingungkan, disangka kuat ternyata tidak sekuat yang disangka. Ibarat seorang istri yang percaya suaminya seorang yang alim dan beriman kuat sehingga istrinya yakin penuh melepas sang suami bertugas di luar negeri. Ternyata iman sang suami tidak sekuat yang disangka, meskipun tetap shalat namun mulai membeli majalah porno dan menonton film porno. Sang istri terperanjat karena ada dua sinyal yang membingungkan. Dalam keadaan seperti itu seringkali sang istri tidak melihat kebaikan apa pun pada sang suami, yang ada adalah kesalahannya besar. Begitu pula dengan rupiah. Jelas ekonomi Indonesia tidak buruk, jelas pula rupiah secara teoretis tidak selemah ini. Namun, inilah harga yang harus dibayar ketika pasar menerima dua sinyal yang membingungkan, semacam pelampiasan kekesalan terhadap rusaknya kepercayaan yang telah diberikan. Penanganan rusaknya kepercayaan ini, bukan dengan cara memanjakan istri membelikannya oleh-oleh mahal. Bukan pula dengan memojokkan istri bahwa ia pun pernah mengkhianati kepercayaan. Membunuh nyamuk jangan pakai meriam. Secara teroretis, memang BI harus menaikkan bunga rupiah untuk tetap menjaga interest parity. Rupiah pun harus ditampilkan apa adanya, tidak over-valued atau under-valued. Tapi, menaikkan bunga secara signifikan dalam hitungan hari akan mengirim sinyal keliru pula, seakan-akan kemerosotan tidak riil rupiah ini akan melebar ke hal-hal lain seperti krisis perbankan bahkan krisis ekonomi. Yang harus dilakukan saat ini bukan saja mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk meredam gejolak rupiah, padahal pada saat yang sama pasar masih sibuk menggosipkan penyebab merosotnya rupiah dan berandai-andai keadaan yang lebih buruk lagi. Yang harus dilakukan saat ini adalah menghilangkan sinyal yang membingungkan, menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa hal itu terjadi, termasuk bila harus mengakui keterlambatan mengantisipasi perubahan ekonomi dunia yang dianggap pasar memberikan sinyal yang misleading. Inilah saatnya BI menjelaskan kepada publik perhitungan interest parity dan nilai wajar rupiah secara apa adanya. Menjelaskan perhitungan dampak dari kebijakan yang diambil. Jangan dibiarkan pasar menafsirkan sendiri kebijakan yang diambil karena akan menimbulkan ekspektasi yang berlebihan atau malah tidak membentuk ekspektasi positif. Biarlah pasar memahami cara berpikir regulator. Biarlah sang istri memahami cara berpikir suaminya. Jadikanlah bulan ini September ceria ketika sang suami bermesraan kembali dengan istrinya. Allahumma bariklana fi rajab wa sya'ban, wa balighna ramadhan. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

