http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/14/opini/2040925.htm
Pendidikan Alternatif dan Perubahan Sosial Oleh: ANITA LIE Pendidikan anak bangsa tidak terjadi di ruang hampa, tetapi dalam realita perubahan sosial yang amat dahsyat. Pendidikan di sekolah merupakan salah satu subsistem dari seluruh sistem pendidikan yang terdiri dari sentra keluarga, masyarakat, media, dan sekolah. Masyarakat modern (atau pascamodern) ditandai dengan renggangnya hubungan antarmanusia karena keterasingan masing-masing. Tanggung jawab pendidikan generasi muda telah ditumpukan dengan berat sebelah kepada lembaga-lembaga pendidikan formal terutama sekolah. Sentra pertama, keluarga, merupakan cermin masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat membawa dampak dan perubahan dalam struktur, bentuk maupun nilai-nilai keluarga. Konsep keluarga inti dengan satu bapak yang bekerja mencari nafkah, satu ibu yang mengayomi dengan penuh kasih sayang di rumah, dan anak-anak yang bahagia dan mendapat cukup perhatian, sudah sulit dipertahankan dalam era pascamodern. Keluarga dan sekolah Keluarga pascamodern diwarnai keadaan kedua orangtua sama-sama mencari nafkah, angka perceraian meroket, keluarga dengan hanya satu orangtua dan keluarga yang mempekerjakan anak-anak mereka. Globalisasi telah membawa berbagai kemajuan sekaligus penyakit sosial. Kemiskinan struktural yang menimpa kaum marginal telah merampok masa kanak-kanak dari sebagian anak dan memaksa mereka menjadi pekerja untuk menghidupi keluarganya. Dulu orangtua dianggap sosok yang bijaksana dan cukup tahu mengenai cara-cara mengasuh dan mendidik anak. Sejalan dengan peran ibu dalam keluarga, anak dianggap polos dan membutuhkan pengarahan serta perlindungan orangtua. Sebaliknya dalam pandangan pascamodern, anak-anak dianggap kompeten: siap dan mampu menghadapi kegetiran hidup. Pandangan baru ini muncul bukan karena anak sudah kompeten, tetapi karena orangtua dan masyarakat pascamodern membutuhkan anak yang kompeten: anak yang mampu menerima kenyataan perceraian orangtua, yang tidak terguncang melihat kesadisan pembunuhan baik di televisi maupun dalam kehidupan nyata, yang mampu mencari nafkah di jalan untuk disetorkan kepada orangtua atau kepala kelompok mereka, serta yang mampu menghadapi berbagai kekacauan dalam masyarakat. Pandangan anak kompeten ini ditayangkan media dalam film-film, seperti Home Alone, di mana seorang bocah bisa mengalahkan bandit-bandit kejam sendirian dan Daun di atas Bantal yang menyuguhkan gambaran tekanan yang dialami tiga bocah yatim piatu untuk bisa bertahan hidup tanpa pengarahan dan perlindungan orangtua sebagai panutan. Sementara itu, lingkungan masyarakat dianggap bukan tempat bagi generasi muda untuk belajar bagaimana bertingkah laku karena banyak kenyataan yang merupakan hal yang harus diubah. Banyak kebobrokan dalam masyarakat menjadi kontraproduktif dalam proses pendidikan anak. Belum adanya kesadaran tentang pentingnya lingkungan yang sehat, rendahnya kepatuhan kepada hukum yang berlaku, anarkisme, serta praktik negosiasi antara penguasa dan penegak hukum dengan pelanggar hukum menunjukkan betapa masyarakat belum menjadi tempat pendidikan yang sehat bagi anak. Hal ini diperparah rekaman berbagai kerusakan di masyarakat baik berupa fakta, opini atas fakta, simbolisasi, anekdot maupun distorsinya dalam media yang telah menjadi bahan pembelajaran tak resmi bagi anak. Tumpuan harapan Dalam konteks sosial ini, sekolah dijadikan tumpuan harapan untuk mendidik generasi muda. Sekolah menanggung beban kurang seimbang dalam proses pendidikan anak-anak muda. Sebagian beban ini adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Sekolah menerima lemparan tanggung jawab ini dengan berbagai alasan, mulai dari alasan moral dan sosial, penugasan dari yang berkuasa (negara), sampai alasan finansial (uang SPP dan lain-lain dari orangtua untuk membayar pelaksanaan tanggung jawab ini). Padahal, dalam kenyataannya, sekolah (formal) tidak lagi mampu menanggung beban sosial ini. Kekurangsadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan merupakan fenomena pedang bermata dua. Seperti pada APBN dan APBD, anggaran rumah tangga untuk pendidikan (formal) dalam kebanyakan keluarga di Indonesia masih rendah. Fenomena ini bisa jadi merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap signifikansi proses pendidikan dalam sistem sekolah formal guna mengubah kualitas hidup. Proses di sekolah dianggap ritual formalitas yang berkisar dari menjemukan hingga menyiksa anak, namun perlu dilakukan agar mendapat pengakuan resmi pemerintah berupa ijazah agar bisa masuk jenjang berikutnya. Sekolah hanya dianggap sebagai lembaga pemberi ijazah. Di tingkat perguruan tinggi, terungkapnya kasus pembelian gelar dan ijazah sebagai jalan pintas yang melibatkan beberapa pejabat dan anggota dewan merupakan pucuk gunung es dari ketidakpercayaan terhadap proses pemelajaran dalam sistem formal. Bagi keluarga miskin, harga yang harus mereka bayar untuk membeli ijazah ini terlalu mahal sehingga putus sekolah merupakan konsekuensi logis. Sedangkan bagi keluarga mampu secara finansial, biaya minimal untuk mengikuti formalitas perolehan ijazah direlakan asal tidak terlalu menggerogoti anggaran rumah tangga. Rendahnya kepedulian Di beberapa sekolah swasta yang tidak menetapkan uang sumbangan masuk yang sama bagi tiap siswa, proses tawar-menawar-seperti di pasar tradisional-antara orangtua/wali dengan panitia penerimaan siswa baru, merupakan ritual rutin yang mengawali proses pendidikan anak di sekolah. Ketidakrelaan orangtua membayar biaya pendidikan sebesar yang seharusnya mereka tanggung, menunjukkan rendahnya kepedulian mereka terhadap pentingnya pendidikan bagi anaknya sendiri. Biaya lebih besar dianggarkan untuk pendidikan nonformal (les pelajaran, musik, seni, sanggar, dan sebagainya). Yang menggembirakan, sejumlah lembaga swadaya masyarakat memprakarsai sekolah-sekolah alternatif guna menampung anak-anak miskin yang tidak bisa diakomodasi sekolah-sekolah formal. Ada sanggar anak, sekolah anak rakyat, komunitas pinggir kali, dan sebagainya. Di kalangan kelas menengah, muncul gerakan homeschooling sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada sekolah formal. Meski masih bersifat sporadis dan belum cukup banyak dibanding kompleksitas berbagai persoalan di masyarakat, upaya-upaya alternatif ini merupakan bagian dinamika proses negosiasi dimensi formal dan nonformal pendidikan. Ketika sekolah-sekolah formal (negeri dan swasta) terjebak dalam hegemoni negara dan tidak berdaya untuk mengakhiri gejala dehumanisasi dalam pendidikan dan saat lembaga-lembaga pelatihan nonformal (kursus dan lembaga bimbingan belajar) ikut terjebak industrialisasi dan komodifikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan, beberapa lembaga swadaya masyarakat memprakarsai sekolah-sekolah alternatif yang diharapkan bisa menembus kebekuan dan status quo dalam sistem pendidikan nasional. Sejarah panjang intervensi negara dalam sistem pendidikan warganya ikut mengikis kepedulian dan kemampuan masyarakat. Kasus anak SD bunuh diri karena tidak bisa bayar SPP hanya menyengat sebagian warga sampai dengan rasa belas kasihan belaka, namun tidak cukup serius untuk membangkitkan kesadaran dan gerakan dari masyarakat secara signifikan guna memperbaiki dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas hidupnya. Seperti kata Habermas, "before a society can effectively intervene in its own course, it must first develop a subsystem that specializes in producing collectively binding decisions." Berbagai kegiatan pendidikan alternatif sedang melakukan suatu perjalanan panjang yang diharapkan akan bisa mengajak masyarakat untuk memberdayakan dan mengatur diri demi kebaikan di masa datang. Anita Lie Anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi; Dosen FKIP Unika Widya Mandala, Surabaya [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery. http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

