http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/14/opini/2015090.htm
Inefisiensi, Biang Mahalnya Pendidikan Oleh: DARMANINGTYAS Inefisiensi dalam penyelenggaraan pendidikan merupakan sumber mahalnya biaya pendidikan nasional. Tetapi, hal ini tidak pernah dilihat sebagai masalah. Pemerintah maupun penyelenggara sekolah swasta hanya melihat besaran biaya pendidikan dari sumbangan pembinaan pendidikan atau SPP saja. Padahal, bagi masyarakat SPP hanya bagian kecil pembiayaan pendidikan. Sesuai besaran beasiswa yang diberikan pemerintah, maka besarnya SPP untuk SD hanya Rp 10.000, SMP Rp 25.000, dan SMTA Rp 50.000 per anak/bulan. Tetapi, biaya riil yang harus dikeluarkan masyarakat bisa lima kali lipat dari SPP. Inefisiensi itu ditunjukkan melalui banyaknya jenis dan besaran pungutan di luar SPP, tetapi sebetulnya jika ditiadakan tidak akan mengurangi kadar mutu pendidikan nasional, misalnya khusus untuk kelas I mencakup uang pendaftaran (beli formulir), uang pangkal, uang seragam, dan pengeluaran untuk MOS (masa orientasi siswa). Pengeluaran lain Sedangkan pengeluaran di luar SPP untuk semua kelas mencakup daftar ulang, uang seragam, tabungan, buku paket, buku penunjang, LKS (Lembar Kerja Siswa), fotokopi, alat peraga, iuran peringatan hari keagamaan, camping, uang les/tambahan pelajaran, pendalaman materi, ekstrakurikuler, ulangan umum bersama (UUB), try out, uang study tour, uang jajan, pensil berwarna, buku gambar besar, transportasi pergi dan pulang sekolah, dan banyak lagi. Besaran pengeluaran itu lebih besar dibandingkan uang SPP. Contoh, SPP untuk SD Rp 10.000/bulan atau Rp 120.000/tahun. Untuk membeli buku satu semester bisa Rp 180.000-Rp 200.000, setahun mencapai Rp 400.000 atau tiga kali lipat SPP. Untuk study tour, baik SD/MI, SMP/MTs, maupun SMTA (SMA/SMK/MA) bisa jauh lebih besar daripada SPP untuk satu tahun. Padahal, bila keduanya dihapuskan sama sekali tidak mengurangi mutu pendidikan, sebaliknya bisa membuat suasana pendidikan lebih bergairah. Dalam hal study tour, sekolah berdalih anak sudah memiliki tabungan, tinggal membayar kekurangannya. Padahal, bagi murid kelas VI SD dan kelas III SMP/MTs, setelah lulus perlu biaya besar untuk melanjutkan ke SMP dan SMTA, sedangkan murid SMTA setelah lulus perlu biaya besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mencari kerja. Mestinya, tabungan lebih baik dijadikan modal untuk mencari sekolah baru atau kerja. Konsep tabungan murid sendiri sudah saatnya dihilangkan, karena selain merupakan salah satu bentuk inefisiensi, juga tidak tepat. Sekolah adalah tempat belajar, bukan institusi perbankan atau keuangan. Lagi pula, anak-anak belum berpenghasilan sendiri. Jadi, tidak ada yang bisa ditabungkan di sekolah. Menabung uang yang diminta dari orangtua sama saja memberatkan orangtua, terutama yang memiliki anak bersekolah lebih dari satu orang. Dalam banyak kasus, tabungan murid sering ditilep guru. Selain memalukan, juga merugikan masyarakat. Dari banyak kasus, study tour tidak memberi manfaat positif bagi murid, sebaliknya menumbuhkan mentalitas santai, suka foya-foya, dan rekreatif. Bahkan kasus di SMK Yapemda, Sleman (2003), malah membawa bencana kematian. Ironisnya, banyak kepala sekolah dan guru tidak pernah belajar dari kasus itu. Daftar ulang Pungutan lain yang sering dikeluhkan orangtua adalah biaya daftar ulang. Selain besar jumlahnya, konsep daftar ulang sendiri tidak jelas. Surat Pembaca (Kompas, 2/8) yang ditulis orangtua murid di Cianjur, Jawa Barat, besarnya mencapai Rp 625.000- bahkan di sekolah lain ada yang Rp 2.500.000-menunjukkan, daftar ulang itu terjadi di hampir semua sekolah. Di Kota Yogyakarta misalnya, seorang pengemudi becak mengeluhkan (14/7) besarnya biaya daftar ulang anaknya di SMPN 16 sebesar Rp 265.000; sedangkan biaya daftar ulang anaknya yang di SMKN jurusan Pariwisata mencapai Rp 365.000. Yang membuat pengemudi becak itu pusing karena dalam surat edaran disebutkan, bila sampai Sabtu (16/7) tidak bayar daftar ulang, anaknya dianggap mengundurkan diri. Sungguh, ini suatu teror mental yang kejam. Beban orangtua selalu menumpuk pada bulan pertama tahun ajaran baru, karena baik untuk kelas I maupun kelas di atasnya menuntut pelunasan semua pembayaran. Selain daftar ulang, beban yang harus dikeluarkan orangtua pada bulan pertama tahun ajaran baru juga mencakup pembelian seragam, buku paket, buku tulis, tas, sepatu, dan SPP dua bulan (Juli-Agustus). Sudah menjadi kebiasaan sekolah, SPP Agustus harus dilunasi saat mulai masuk bulan Juli. Kepala sekolah dan guru seakan tidak pernah memiliki anak sehingga tidak bisa berempati pada beban orangtua murid yang menumpuk pada awal bulan pertama itu. Penumpukan beban pada bulan pertama tahun ajaran baru itulah yang membuat orangtua enggan menyekolahkan anaknya. Mereka sebetulnya masih punya utang tutup tahun ajaran bagi anaknya yang baru lulus SD/SMP. Banyak kasus, orangtua masih berutang ke sekolah saat anaknya dinyatakan lulus SD/SMP/SMTA dan semua utang harus dilunasi sebelum meninggalkan sekolah. Bila tidak dilunasi, ijazahnya akan ditahan. Akibatnya, orangtua banting tulang untuk melunasinya. Mereka belum sempat bernapas lega, tiba-tiba langsung dibebani biaya besar untuk masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sulit bagi orangtua miskin karena bila mereka tidak menyekolahkan anaknya akan dipersalahkan oleh anak, lingkungan sekitar, dan pemerintah; tetapi bila menyekolahkan, beban mereka amat berat. Beban berat itu bukan untuk murni pembiayaan pendidikan bermutu, tetapi untuk sesuatu yang tidak jelas relevansinya. Jika segala bentuk pengeluaran yang inefisien itu dipotong, mungkin semangat orangtua untuk menyekolahkan anaknya tetap tinggi. Masalahnya, siapa yang bisa memotong? Atas nama otonomi daerah, Menteri Pendidikan Nasional pun tidak bisa lagi intervensi ke sekolah. Darmaningtyas Aktivis Center for the Betterment of Education; Pengurus Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK) Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

