http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/9/14/o1.htm

Kenakalan Mempermainkan Rakyat



DUA pangkalan minyak tanah di Gianyar yang ''nakal'' izinnya dicabut. Begitulah 
berita yang dapat kita baca di Bali Post, Senin (12/9) lalu. Kepala Dinas 
Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi (Perindagkop) Gianyar Drs. I Gede 
Widarma Suharta menjatuhkan sanksi tegas ini gara-gara pangkalan tersebut 
terindikasi menyelewengkan pendistribusian minyak tanah ke luar wilayah yang 
telah ditentukan. 

Ini merupakan salah satu bentuk ''kenakalan'' di dunia perminyakan yang 
menggelincirkan oknum-oknum yang hendak menangguk keuntungan dengan cara tidak 
sah. Minyak tanah -- salah satu dari BBM -- yang umumnya bersentuhan dengan 
kehidupan masyarakat bawah, amat sering mengalami kelangkaan. Padahal, harganya 
terbilang tidak murah untuk dijangkau kaum bawah. Itu akibat ada yang suka 
bermain-main dengan minyak tanah.

Di ibu kota malah licinnya minyak telah menggelincirkan oknum-oknum nakal 
berskala besar. Bahkan, melibatkan para petinggi anggota TNI dan pejabat di 
Pertamina. Sebagaimana diungkapkan oleh Kapolri Jenderal Sutanto beberapa waktu 
lalu tentang adanya indikasi keterlibatan anggota TNI dan Polri dalam kasus 
penyelundupan 6.000 ton atau sekitar 6 juta liter bahan bakar minyak senilai Rp 
52 milyar.

Penyelundupan bahan bakar minyak dalam skala besar diperkirakan merugikan 
negara setiap tahunnya sekitar Rp 8,8 trilyun. 

Rakyat pun semakin tak berdaya. Antrean panjang dengan sederet jerigen untuk 
mendapatkan minyak tanah, belakangan bukan pemandangan baru lagi. Ini justru 
terjadi di masa ketika bangsa kita melangkah memasuki kehidupan global.

Ke depan, beberapa hari raya umat beragama akan datang. Hampir dapat dipastikan 
masyarakat akan menghadapi permainan-permainan pedagang kebutuhan hari raya, 
mulai dari barang konsumsi sampai keperluan upacara. Ini sudah rutin terjadi. 
Ditambah lagi dengan kelangkaan minyak tanah dan harganya yang mudah 
dipermainkan pengecer, akan lengkaplah ketidakberdayaan rakyat.

Diperlukan kesadaran pemimpin yang benar-benar memihak pada kehidupan rakyat 
untuk menanggulangi keadaan ini. Para pemimpin harus lebih sering terjun 
langsung ke lapangan untuk menyaksikan kondisi masyarakat secara nyata. Di sisi 
lain sebagai bentuk komitmen untuk menegakkan hukum dan ketegasan dalam 
menghukum oknum-oknum nakal yang suka mempermainkan kehidupan masyarakat. 
Licinnya minyak tidak boleh membuat mereka bisa berkelit licin dari jerat hukum.

Langkah tegas terhadap para oknum nakal juga harus sungguh-sungguh dilakukan. 
Sanksi yang tegas mulai dari pemecatan, mengganti rugi secara material, hukuman 
kurungan, pencabutan izin penyaluran dan usaha, dan seterusnya sesuai dengan 
undang-undang yang berlaku tak bisa ditawar-tawar lagi. Ini merupakan 
kesempatan untuk membuat jera mereka yang coba-coba memperparah kesengsaraan 
rakyat. 

Gebrakan jajaran kepolisian untuk memberantas para pelaku kejahatan dalam 
berbagai bentuknya, mulai kelas teri sampai yang paling kakap, harus dijadikan 
tonggak bagi para pemegang kewenangan. Pertama untuk membersihkan diri dan 
lingkungannya, selebihnya untuk memberi amunisi dalam menegakkan aturan dan 
sanksi hukum secara tegas.

Kita tidak ingin masalah minyak -- khususnya yang paling banyak dicari 
masyarakat bawah -- menjadi ajang permainan oknum-oknum nakal untuk menari dan 
menikmati keuntungan di atas derita sesamanya. Karenanya harus dibangun sikap 
kritis, waspada dan antisipatif terhadap permainan penyelundup BBM yang tak 
diduga-duga.

Pengawasan secara kultural bisa dilakukan oleh masyarakat luas melalui berbagai 
komponen masyarakat. Di sisi lain perlunya menggugah kesadaran akan bangsa dan 
rakyat yang tengah menderita saat ini. Dengan demikian, maka mereka yang 
berniat berbuat jahat berpikir berulang kali ketika tergoda untuk mengkhianati 
nasib rakyat kecil yang selalu tertindas dan tidak berdaya. Maka selayaknya 
kita membangun bersama sense of belonging demi kerakyatan, kebangsaan dan 
kemanusiaan.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke