http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=188913

Selasa, 13 Sept 2005,

Mengurai Kejahatan Terorganisasi
Oleh Priyo Atmojo *


Terbongkarnya skandal penyelundupan minyak mentah (light crude) di SBM (single 
buoy mooring) atau ponton di Perairan Lawe-Lawe, Balikpapan, baru-baru ini 
(Jawa Pos, 09/09/05) semakin menegaskan bahwa ada permasalahan akut pada 
pengelolaan sistem di semua level birokrasi di negara ini. 

Betapa tidak, untuk kasus Lawe-Lawe tersebut, penyelundupan yang dilakukan 
pegawai Pertamina itu sudah berlangsung setahun sejak 2004. Pertanyaannya, 
bagaimana sistem pengawasan yang dilakukan Pertamina terhadap aset-aset yang 
dimiliki selama ini, sehingga begitu mudah terjadi penyelundupan?

Penyelundupan tersebut dilakukan sangat rapi dan melibatkan sindikat atau 
jaringan terselubung pebisnis minyak ilegal. Hal itu sangat mungkin terjadi 
karena sistem birokrasi yang terbangun di negeri ini amat tertutup dari 
bentuk-bentuk pengawasan. Sehingga, elite-elite yang menjalankan sistem 
tersebut bebas beraktivitas. Bahkan, itu di luar kewenangan yang dimiliki, 
tanpa ada kontrol dari masyarakat. 

Hal tersebut juga diperparah oleh tumbuh suburnya mental penjual di kalangan 
pejabat kita. Bagi pejabat dengan karakter seperti itu, antara aset negara dan 
aset pribadi tidak lagi diberi batas yang jelas, baik dari sisi kepemilikan 
maupun pengelolaannya. Mereka mengelola aset negara dengan serampangan tanpa 
lagi menghiraukan kondisi negara yang sedang kolaps seperti saat ini. 

Jadi, tidak mengherankan, kekayaan negara sering diberitakan raib tanpa ada 
akuntabilitas yang jelas. Tentu, yang menanggung beban terberat malapraktik 
birokrasi tersebut adalah rakyat yang awam seluk-beluk pengelolaan negara.

Penyelundupan minyak mentah di Lawe-Lawe itu semakin memperdalam luka yang 
diderita rakyat akibat kebijakan naiknya harga BBM baru-baru ini. Penyelundupan 
itu terbongkar saat masih belum terurainya benang kusut penyaluran dana 
kompensasi kenaikan harga BBM bagi masyarakat yang berhak.

Karena itu, pemerintah tidak selayaknya lagi terus beretorika menanggapi 
penilaian masyarakat tentang kegagalan menangani masalah peningkatan 
kesejahteraan rakyat. Pemerintah harus segera melakukan langkah konkret guna 
menghindari kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan warganya.

White Collar Crime
Kejahatan kerah putih adalah sebutan kejahatan yang dilakukan pejabat yang 
memiliki kewenangan tinggi. Pada kasus penyelundupan minyak di Lawe-Lawe, kasus 
itu tergolong kejahatan tingkat tinggi. Sebab, hal tersebut dilakukan sangat 
rapi oleh oknum yang memanfaatkan lemahnya kontrol birokrasi dengan melibatkan 
pemilik modal dari luar negeri yang bersedia menawar dengan harga tinggi. 

Kemudian, terjadilah perselingkuhan antara birokrasi dan pemodal yang ujungnya 
adalah pengerukan keuntungan oleh segelintir orang yang terlibat.

Model kejahatan seperti itu sangat sulit diberantas karena terjadi di dalam 
sistem dan memanfaatkan birokrasi sebagai sebuah mekanisme pertahanan atas 
ancaman dari luar. 

Karena itu, pemerintah beserta aparat yang berwenang harus berani -tidak 
sekadar political will, tetapi juga langkah politik nyata- memberantas jaringan 
kerja sama haram tersebut. Meski, harus menelanjangi borok-borok birokrasi yang 
selama ini justru menghambat pemerintah dalam membuat kebijakan yang memihak 
kepentingan rakyat.

Menurut saya, yang harus segera dilakukan adalah mengurai birokrasi di 
Pertamina secara menyeluruh guna menemukan pelakunya. 

Tidak hanya pejabat di level bawah, tetapi juga sampai pada level atas yang 
mengetahui skandal tersebut dan membiarkan atau bahkan ikut menikmati hasil 
kerja sindikat kejahatan terorganisasi itu. 

Apabila pemerintah berhasil membongkar borok tersebut, otomatis hal itu akan 
memberikan efek jera (deterrent effect) dan preseden positif bagi pengelolaan 
birokrasi yang lebih baik.

Keberanian pemerintah membongkar kasus tersebut akan memberikan sinyal positif 
untuk menjadikan birokrasi pemerintah lebih terbuka terhadap pengawasan publik. 

Hal itu merupakan syarat mutlak bagi sehatnya suatu pemerintahan. Sehatnya 
suatu pemerintahan tidak hanya diukur dari kuat dan solidnya kerja sistem 
birokrasi, tetapi juga bagaimana sebuah sistem itu mampu memberikan ruang akan 
munculnya feedback dari pihak di luar sistem sebagai respons atas kebijakan 
yang telah diambil dan diimplementasikan. 

* Priyo Atmojo, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP, Universitas Jember; 
peneliti di Departemen Politik dan Perubahan Sosial The Mastrip Circle, Jember


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke