http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1512


      Mengurai Kejahatan Terorganisasi
      Oleh Priyo Atmojo 
      By adminpadek 
            Rabu, 14-September-2005, 02:04:33    
     
     
            Terbongkarnya skandal penyelundupan minyak mentah (light crude) di 
SBM (single buoy mooring) atau ponton di Perairan Lawe-Lawe, Balikpapan, 
baru-baru ini semakin menegaskan bahwa ada permasalahan akut pada pengelolaan 
sistem di semua level birokrasi di negara ini. 
     
     


      Betapa tidak, untuk kasus Lawe-Lawe tersebut, penyelundupan yang 
dilakukan pegawai Pertamina itu sudah berlangsung setahun sejak 2004. 
Pertanyaannya, bagaimana sistem pengawasan yang dilakukan Pertamina terhadap 
aset-aset yang dimiliki selama ini, sehingga begitu mudah terjadi 
penyelundupan? 

      Penyelundupan tersebut dilakukan sangat rapi dan melibatkan sindikat atau 
jaringan terselubung pebisnis minyak ilegal. Hal itu sangat mungkin terjadi 
karena sistem birokrasi yang terbangun di negeri ini amat tertutup dari 
bentuk-bentuk pengawasan. Sehingga, elite-elite yang menjalankan sistem 
tersebut bebas beraktivitas. Bahkan, itu di luar kewenangan yang dimiliki, 
tanpa ada kontrol dari masyarakat. 

      Hal tersebut juga diperparah oleh tumbuh suburnya mental penjual di 
kalangan pejabat kita. Bagi pejabat dengan karakter seperti itu, antara aset 
negara dan aset pribadi tidak lagi diberi batas yang jelas, baik dari sisi 
kepemilikan maupun pengelolaannya. Mereka mengelola aset negara dengan 
serampangan tanpa lagi menghiraukan kondisi negara yang sedang kolaps seperti 
saat ini. 

      Jadi, tidak mengherankan, kekayaan negara sering diberitakan raib tanpa 
ada akuntabilitas yang jelas. Tentu, yang menanggung beban terberat malapraktik 
birokrasi tersebut adalah rakyat yang awam seluk-beluk pengelolaan negara. 

      Penyelundupan minyak mentah di Lawe-Lawe itu semakin memperdalam luka 
yang diderita rakyat akibat kebijakan naiknya harga BBM baru-baru ini. 
Penyelundupan itu terbongkar saat masih belum terurainya benang kusut 
penyaluran dana kompensasi kenaikan harga BBM bagi masyarakat yang berhak. 

      Karena itu, pemerintah tidak selayaknya lagi terus beretorika menanggapi 
penilaian masyarakat tentang kegagalan menangani masalah peningkatan 
kesejahteraan rakyat. Pemerintah harus segera melakukan langkah konkret guna 
menghindari kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan warganya. 

      White Collar Crime 

      Kejahatan kerah putih adalah sebutan kejahatan yang dilakukan pejabat 
yang memiliki kewenangan tinggi. Pada kasus penyelundupan minyak di Lawe-Lawe, 
kasus itu tergolong kejahatan tingkat tinggi. Sebab, hal tersebut dilakukan 
sangat rapi oleh oknum yang memanfaatkan lemahnya kontrol birokrasi dengan 
melibatkan pemilik modal dari luar negeri yang bersedia menawar dengan harga 
tinggi. 

      Kemudian, terjadilah perselingkuhan antara birokrasi dan pemodal yang 
ujungnya adalah pengerukan keuntungan oleh segelintir orang yang terlibat. 

      Model kejahatan seperti itu sangat sulit diberantas karena terjadi di 
dalam sistem dan memanfaatkan birokrasi sebagai sebuah mekanisme pertahanan 
atas ancaman dari luar. 

      Karena itu, pemerintah beserta aparat yang berwenang harus berani -tidak 
sekadar political will, tetapi juga langkah politik nyata- memberantas jaringan 
kerja sama haram tersebut. Meski, harus menelanjangi borok-borok birokrasi yang 
selama ini justru menghambat pemerintah dalam membuat kebijakan yang memihak 
kepentingan rakyat. 

      Menurut saya, yang harus segera dilakukan adalah mengurai birokrasi di 
Pertamina secara menyeluruh guna menemukan pelakunya. 

      Tidak hanya pejabat di level bawah, tetapi juga sampai pada level atas 
yang mengetahui skandal tersebut dan membiarkan atau bahkan ikut menikmati 
hasil kerja sindikat kejahatan terorganisasi itu. 

      Apabila pemerintah berhasil membongkar borok tersebut, otomatis hal itu 
akan memberikan efek jera (deterrent effect) dan preseden positif bagi 
pengelolaan birokrasi yang lebih baik. 

      Keberanian pemerintah membongkar kasus tersebut akan memberikan sinyal 
positif untuk menjadikan birokrasi pemerintah lebih terbuka terhadap pengawasan 
publik. 

      Hal itu merupakan syarat mutlak bagi sehatnya suatu pemerintahan. 
Sehatnya suatu pemerintahan tidak hanya diukur dari kuat dan solidnya kerja 
sistem birokrasi, tetapi juga bagaimana sebuah sistem itu mampu memberikan 
ruang akan munculnya feedback dari pihak di luar sistem sebagai respons atas 
kebijakan yang telah diambil dan diimplementasikan. 

      * Priyo Atmojo, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP, Universitas 
Jember 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke