http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=121158



 Kenaikan Gaji Elite dan Nasib Rakyat
Oleh Marwanto 


Selasa, 13 September 2005
Kenaikan gaji pejabat negara untuk kondisi saat ini memang tidak tepat. Namun, 
pernyataan bahwa "usulan kenaikan anggaran DPR guna mendukung optimalisasi 
fungsi dewan perlu dipahami", seperti pernah diungkapkan di media massa, 
baru-baru ini, semakin memperjelas bahwa memang ada niatan yang begitu besar 
dari anggota dewan untuk menaikkan pendapatannya. 

Meski itu dengan berbagai dalih, tetap saja akal sehat kita merasa risih 
melihat fakta adanya kebijakan kenaikan gaji pejabat negara di tengah krisis. 
Hal ini juga mengingatkan kita pada kata-kata Fredrich Wilhelm Nietzsche, 
duaratus tahun lampau. Filsuf aliran eksistensialisme itu pernah berteriak 
lantang, "Demokrasi adalah pemerintahan kaum dagang semata!" 
Mungkin banyak orang terkesiap mendengar ungkapan yang bernada meledek 
tersebut. Namun ucapan Nietzsche yang dikutip oleh Prof Fuad Hassan dalam buku 
Berkenalan dengan Eksistensialisme (Pustaka Jaya, 1993: 43) itu ternyata bukan 
omong kosong belaka. Paling tidak, ada dua alasan mengapa kita "harus menerima" 
ledekan dari Nietzsche di atas. 
Pertama, akhir-akhir ini proses politik tak bisa lepas dari logika bisnis 
(dagang). Bahkan terdapat kecenderungan kian hari logika daganglah yang menjadi 
muara proses politik di Tanah Air. Dampak dari kecenderungan ini di antaranya 
adalah perilaku korupsi yang merajalela, nasib rakyat (konstituen) yang 
terbengkelai, dan para politikus tak lagi peka terhadap kondisi bangsa

Kedua, semakin berhamburannya kaum dagang yang merambah ke panggung politik. Di 
pusat maupun di daerah, nama-nama saudagar yang terjun ke politik maupun 
politikus yang kemudian menekuni dunia bisnis (dagang) begitu banyak kita 
jumpai. Setting penghidupan mereka yang mengharuskan menggunakan nalar (logika) 
dagang jelas akan sangat mewarnai pemikiran dan aktivitas politik 
masing-masing. 

Dua alasan itulah yang menyebabkan demokrasi yang berkembang dari proses 
politik di Tanah Air menjadi khas nalar kaum dagang. Pendek kata, ketika 
seorang menetapkan pilihannya terjun ke dunia politik, salah satu motifnya 
adalah ia ingin mengembalikan modal yang digunakan dalam berkiprah di politik. 

Maka fenomena para anggota dewan yang minta pendapatannya (take home pay) 
dinaikkan (untuk ketua menjadi Rp 82,1 juta, wakil ketua Rp 67,7 juta, dan 
anggota sekitar Rp 51,8 juta), dengan tanpa memedulikan bahwa di negara kita 
masih banyak balita yang bergizi buruk, krisis energi kian menjadi-jadi, dan 
perekonomian nasional terancam bangkrut akibat nilai tukar rupiah terus 
melemah, adalah wujud nyata dari nalar dagang mereka. 

Mengapa mereka minta imbalan (gaji) yang begitu besar? Jelas bukan semata 
karena kenaikan biaya hidup. Sebab, biaya hidup itu sesuatu yang debatable. 
Tapi, lebih karena biaya politik di negeri kita yang amat mahal. Mahalnya biaya 
politik di Tanah Air salah satunya disebabkan oleh faktor money politics 
(politik uang) yang gagal disikapi dengan tegas dan melembaga oleh semua elemen 
bangsa. Dua kali pemilu digelar di alam reformasi dan ratusan pilkada 
dilaksanakan di seluruh penjuru Tanah Air, namun politik uang selalu menjadi 
isu utama. Maka, tak mengherankan jika uang seakan menjadi dimensi tunggal yang 
menentukan proses politik di Tanah Air. Salahkan kondisi demikian? 

Dunia politik adalah dunia realitas. Realitas yang terus bergerak, mengikuti 
perubahan yang terjadi pada umat manusia. Dan, perubahan itu kini menyeret 
manusia menjadi makhluk yang punya ketergantungan pada materi (uang) semata. 
Persis yang diramalkan Karl Marx dalam Das Kapital (terbit pertama tahun 1867): 
bahwa kapitalisme akan menjadi fenomena sentral kehidupan modern. 

Bagi Marx, kapitalisme dapat dicermati dari bekerjanya uang, modal, dan 
komoditas. Uang dan modal adalah penggerak ke arah mana komoditas mesti 
bergerak. Tapi dalam perjalanan waktu, karena wujudnya yang fleksibel, uang 
menjadi faktor utama yang menentukan arah kerja kapitalisme. Alhasil, 
membicarakan kapitalisme adalah membicarakan uang. 
Terlebih menurut analisis Herbert Marcuse (dalam bukunya One Dimensional Man) 
dalam masyarakat kapitalis, mau tak mau, orang menjadi berpikiran sempit alias 
memandang gejala dari satu dimensi saja. Pada praktik politik contohnya, money 
politics tidak saja telah menyita aktivitas pelaku politik tapi juga pemerhati 
dan masyarakat luas. Dalam hal ini, seakan uang menjadi dimensi tunggal dalam 
menentukan proses politik. Lobi, yang dulu dimaknai "penggunaan retorika dan 
persuasi untuk memengaruhi keputusan politik", sekarang tak jauh dari praktik 
dagang sapi yang berorientasi tunggal: keuntungan materi (uang atau jabatan). 

Dalam setting kehidupan sosial seperti itu, di manakah letak fatsun dan 
moralitas politik? Akankah ia hanya kita dibiarkan tertulis indah di sela-sela 
halaman buku atau sekadar malang-melintang dalam kancah wacana kaum cerdik 
cendekia? 
Tentu tak bisa demikian. Ketika ada statemen "politik berhak mengurusi 
realitas", maka sah pula jika ada statemen "moralitas berhak mewarnai 
realitas". Sebetulnya, mewarnai realitas (politik) dengan moralitas ini tugas 
dari semua orang, terutama para politikus. Namun ketika moralitas para 
politikus lebih digerakkan oleh kalkulasi untung rugi secara materiil, maka tak 
bisa dielakkan lagi para cerdik cendekia (intelektual)-lah yang seharusnya 
terus memberi warna moralitas pada realitas politik kita. 

Tapi, bukankah itu sudah dilakukan oleh kaum intelektual kita sejak ada 
reformasi 1998? Benar, sejak reformasi bergulir di negeri ini, banyak sudah 
kaum cerdik cendekia terjun ke panggung politik. Mantan aktivis yang turut 
melengserkan kekuasaan Orde Baru pun kini sudah ada yang jadi anggota dewan. 
Namun jumlah mereka tak banyak, jadi tak kuasa mengubah sistem. Bahkan di 
antara mereka tak sedikit yang berhenti sebagai kaum intelektual. Mereka 
melepas "baju" intelektualnya dan berganti dengan "baju" kaum politikus yang 
bernalar dagang. 

Semestinya, ketika para intelektual terjun ke politik ia tetap seorang 
intelektual, yang (seperti kata almarhum Kuntowijoyo), bagaikan ikan asin: 
hidup di laut tapi tubuhnya tak asin. Kesadaran untuk "kembali menjadi 
intelektual" dari para politikus (di DPR) yang mantan aktivis kampus itu semoga 
mampu mewarnai moralitas politik kita dari mainstream nalar dagang yang kini 
mendarah daging dalam kehidupan politik di Indonesia. Semoga. 

*** 
Penulis peneliti pada Institute for Culture and Humanity Studies (Ichus), 
Yogyakarta. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke