Tidak bisa dianggap remeh, hal-hal seperti ini. Yang bear saja, kalau penduduk NTT, sama sekali tidak kebagian minyak di celah Timor, padahal NTT menguasai Timor Barat yang sama luasnya dgn TT.
--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.suarapembaruan.com/News/2005/09/14/index.html > > SUARA PEMBARUAN DAILY > > Penemuan Minyak di Timor Gap, Awal Malapetaka di NTT > Oleh Peter A Rohi > > SEJUMLAH 300 nelayan Nusa Tenggara Timur (NTT) masih > dalam penjara di Australia sebagai pelanggar > perairan. Tak ada pembelaan. Bahkan Juru bicara > Departemen Luar Negeri, Yuri Thamrin kepada wartawan > mengatakan: "Pulau Pasir atau Ashmore Reef dalam > catatan kita sejak zaman Belanda pun adalah milik > Inggris, tidak pernah menjadi milik kita." > > Juru bicara itu masih menambahkan kata-kata yang > sungguh menghina dan melecehkan nelayan Pulau Rote. > Diduga kuat ada sejumlah cukong yang memperalat para > nelayan, membiayai mereka untuk berburu hiu hingga > ke selatan Laut Timor (Kompas, 28/5). > > Ironisnya, pejabat Deplu itu lebih berpikir > imperialistik dengan melegitimasi sifat ekspansionif > kolonialisme mengklaim sebuah wilayah dengan > mengabaikan hak ulayat warga lokal. Ia "menjual" > Pulau Pasir tempat perkampungan nelayan para leluhur > (nelayan) sejak dulu menjadi milik Inggris, pada hal > Inggris sendiri tidak mempunyai undang-undang > kepemilikan atas Pulau-pulau Pasir, sebagaimana UU > yang sama untuk Pulau Christmas yang posisinya juga > di selatan Indonesia. > > Kalau dibiarkan begitu saja, klaim atas pulau-pulau > terluar RI akan terus terjadi. Apa jadinya dengan > ratusan pulau serupa di NTT, seperti Pulau Dana, > Raijua, Kalara, Keira yang cuma dikenal dalam hak > ulayat, apabila suatu saat diklaim bangsa asing > hanya karena pernah singgah di sana? > > Perkampungan nelayan itu baru terusik ketika mereka > diusir dari sana pada bulan Oktober 1974 oleh > patroli Australia, yang tiba-tiba mengklaim gugusan > pulau-pulau karang di selatan Pulau Rote, NTT itu. > > Peristiwa itu dirancang secara sistematis berkaitan > dengan keinginan menguasai sumber-sumber mineral > yang ditemukan di Timor Gap yang terletak di antara > Timor Barat (RI) dan Timor Portugis yang masih > menjadi koloni Portugal di sebelah utara, serta > Australia di sebelah selatan. > > > Sumur Minyak > > Berawal pada Februari 1974, ditemukan sumur minyak > di Celah Timor yang kemudian sahamnya dibagi dua > perusahaan, yaitu International Oil Exploration NL > dan Woodside Burmah. Dua bulan setelah itu terjadi > Revolusi Bunga di Lisabon, membawa Jenderal Spinola > memegang pucuk pimpinan di Portugal dan memberikan > kesempatan koloni-koloninya, termasuk Timor Leste > untuk menentukan nasib sendiri melalui referendum. > > Pada September 1974, PM Australia Gough Whitlam dan > Presiden RI Soeharto bertemu di Wonosobo dan > menghasilkan saling dukung. Whitlam mendukung invasi > RI atas Timor Timur, sedang Indonesia mendukung > klaim Australia atas Pulau Christmas. Tetapi > Australia yang sudah tahu akan adanya kekayaan > mineral di Timor Gap tidak saja mengklaim Pulau > Christmas tetapi juga Pulau-pulau Pasir dan Cartier > Island yang paling utara agar dapat menguasai > sepenuhnya sumber minyak di Celah Timor. > > Berita tentang pengusiran nelayan dari Pulau Pasir > disertai perusakan atas semua bangunan-bangunan > nelayan tahun 1974 itu tenggelam oleh berita > pengungsi Timor Portugal yang melintas batas, > ditambah mabuk kemenangan atas invasi militer ke > Timor Timur. > > > Hak Ulayat > > Inggris secara politis mulai bersinggungan dengan > NTT ketika pelayar dan penemu Australia, James Cook, > pada bulan September 1770 kehabisan perbekalan dan > kelaparan, ia ditolong oleh Raja Sabu, Ama Doko Lomi > Djara (Prof James J Fox: At The Union of Sun and > Moon). Raja Lomi adalah keturunan ke-8 Raja Kore > Rohi, yang berkuasa ketika datangnya bangsa Portugis > pada 1521 di Timor. (Yakob Y Detaq: Memperkenalkan > Kebudayaan Suku Bangsa Sawu). > > James Cook mencapai Sydney dan membuat koloni > Inggris di situ. Cook tidak mencatat nama Pulau > Pasir. Baru pada tahun 1811, pelayar Inggris Ashmore > singgah mengisi air di Pulau Pasir. Ia mencatat > Pulau Pasir dengan namanya sendiri, Ashmore Reef, > tanpa peduli dengan ramainya nelayan pulau Rote yang > mencari dan mengumpulkan sirip hiu dan teripang di > situ. > > Ketika itu sirip hiu dan teripang sudah menjadi > komoditas perdagangan ekspor di Kupang (I Gde > Parimartha: Perdagangan dan Politik di Nusa Tenggara > (1815 - 1915). Parimartha juga mengutip perdagangan > sirip hiu dan teripang dari tulisan DWCB van Lynden > dalam bukunya Bijdrage tot de kennis van Solor, > Allor, Rotti, Savu en omligende Eilanden", NTNI, 2 > tahun 1851. > > Karena itu, tak heran apabila nelayan Pulau Rote > seperti Sadli Chudari Ardani dan teman-temannya yang > baru bebas dari penjara Australia tetap yakin akan > hak ulayat kepemilikan atas gugusan pulau-pulau > Pasir. > > Tiga buah sumur di Pulau-pulau Pasir dan pohon-pohon > kelapa di sana adalah peninggalan Nakhoda Ama Rohi, > pelaut yang berasal dari Pulau Sabu yang hidup di > sana, jauh sebelum kedatangan Ash- more. > > Sebagaimana tradisi, orang Sabu mampu merunut > leluhurnya sampai enam puluh keturunan di atasnya > karena menjadi penting dalam ritual agama lokal > terutama pada upacara-upacara kematian. Dengan > begitu, mudah untuk menghitung jarak waktu antara > kedatangan Ashmore dan kedatangan Nakhoda Ama Rohi. > > > > Nelayan Rote menghitung ketika datang Ashmore, Pulau > Pasir sudah dikelola sampai tingkat samu (keturunan > ke lima dari Nakhoda Ama Rohi, yaitu berurut-turut: > ana, upu, sorok, sak, samu atau anak, cucu, buyut, > dst). Kalau disepakati satu generasi 25 tahun, > berarti kedatangan Ashmore sekitar 125 tahun setelah > Nakhoda Ama Rohi memperoleh hak ulayat atas pulau > itu. > > Perhitungan ini menjadi penting karena hak adat > masyarakat Rote mengakui akan kepemilikan suatu > tempat menjadi sah kepada siapa yang pertama kali > memberi tanda kehidupan di sana. Mungkin sebelum > Nakhoda Ama Rohi sudah ada nelayan pribumi yang > menginjak kakinya di situ, tetapi penggalian sumur > dan penanaman pohon kelapa oleh Nakhoda Ama Rohi > menjadikannya sebagai pemilik sah akan Pulau Pasir > menurut undang-undang adat. > > Bandingkan dengan James Cook yang mengklaim Sydney, > tanpa peduli akan keberadaan orang-orang Aborigin. > Yuri Thamrin mengadopsi pemikiran imperialis Inggris > dalam kasus Pulau Pasir, dan sama sekali tak > menghormati hak ulayat masyarakat Pulau Rote. > > Bagi nelayan Pulau Rote yang setiap tahun berjuang > dengan gelombang dan badai yang sering berhadapan > dengan siksaan dan aniaya, dihina dan dihukum > Pemerintah Australia, sangatlah menyakitkan menerima > tuduhan Yuri Thamrin seakan mereka melaut karena > dibayar cukong. Pada hal, bagi nelayan, justru di > lautlah kehidupan mereka. > > > Perjanjian Batas Laut > > Apa yang diucapkan Yuri Thamrin membuktikan bahwa ia > sama sekali tidak mencermati prolog dan epilog > Perjanjian Batas Laut antara Indonesia dan > Australia. Masuknya Pulau-pulau Pasir, Cartier > Island, Hibernia, Browse, Seringapatam, Champigny, > terumbu karang Scott, menjadi milik Australia > bukanlah karena sejak dulu dicatat sebagai milik > Inggris. > > Australia yang sudah merdeka sejak 1901, baru tahun > 1971 (70 tahun kemudian) membuat kesepakatan batas > landas kontinen yang meliputi Cape York dan Arnhem > Land. Tahun 1972 pada kesepakatan kedua, tercapai > atas wilayah utara Arnhem Land dan wilayah RI di > sebelah utaranya. Belum ditarik garis ke arah timur, > karena terdapat Timor Portugis sebagai wilayah > asing. > > Keadaan menjadi lain, ketika penemuan sumur minyak > di bagian Timor Gap. Australia segera menyiasati > Pulau Christmas yang sebelumnya di bawah Singapura > menurut undang-undang Inggris. Walau tidak ada UU > Inggris serupa bagi pengawasan Pulau Pasir dan > Cartier Island, tetapi Australia juga pada saat yang > sama memasukkan pulau-pulau itu ke dalam wilayahnya. > > > Sebagai pengakuan akan hak tradisional nelayan NTT, > Australia dan RI pada 1974 mengeluarkan Memorandum > of Understanding yang isinya tetap membolehkan > mereka mencari nafkah sampai batas Bonaparte Island, > di mana mereka boleh menangkap ikan kecuali penyu. > > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

