http://www.sinarharapan.co.id/berita/0509/14/opi01.html
Kekuasaan dalam Islam Oleh M Hasibullah Satrawi Pada hari meninggalnya Nabi Muhammad SAW, bahkan beliau belum lagi dikebumikan, kubu Muhajirin (sahabat Nabi dari Mekkah) dan kubu Anshar (sahabat Nabi dari Madinah) bertarung berebut kekuasaan. Secara senioritas, Muhajirin mengklaim berhak mendapatkan kuasa. Secara solidaritas, Anshar mengklaim hal yang sama. Begitu juga dengan keluarga Nabi (Ali bin Abi Thalib) dengan menggunakan klaim kekerabatan. Masing-masing merasa berhak. Tapi hak atas apa? Dalam bentuk apa? Semuanya abstrak dan kabur. Yang ada hanyalah: klaim kuasa, otoritas, solidaritas dan kekerabatan. Setelah menjadi khalifah, Abu Bakar memberikan jawaban menyilaukan bagi hal-hal yang abstrak di atas: kekuasan dalam Islam adalah "hak" orang-orang Muhajirin. Masa kekuasaan tidak ditentukan kecuali oleh ajal. Orang Islam sejati adalah yang bersumpah setia kepada Abu Bakar. Sebaliknya, kalangan oposisi adalah orang-orang murtad. Saya menyebut jawaban di atas menyilaukan, karena umat Islam tak bisa mempertanyakan lebih dalam jawaban-jawaban di atas, walaupun sekadar mengapa dan bagaimana. Sejarah Islam menjadi kisah yang tenang tanpa gejolak. Kekuasaan digambarkan mengalir dengan begitu damai, dimulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Seakan tak ada konflik sedikit pun. Memang, kekuasaan adalah kunci sejarah. Dan sejarah adalah cerita kekuasaan. Kekuasaan selalu menentukan apa dan siapa. Bahkan bagaimana. Bila sedikit melepaskan diri dari kungkungan sejarah, kita akan menemukan pertarungan politik yang sengit. Umat Islam generasi pertama menggunakan segala cara untuk meraih kekuasaan, bahkan meski tidak sejalan dengan spirit Alquran. Kalangan Muhajirin menjadikan senioritasnya untuk mematahkan landasan sahabat Anshar. Sebaliknya, kalangan Anshar mengungkit-ungkit bahwa Islam berkembang setelah berjuang dan diperjuangkan di Madinah. Abu Bakar dan Umar Dalam sejarah Islam, Ali bin Abi Thalib (keluarga Nabi) tak menerima kekhalifahan Abu Bakar. Ali bin Abi Thalib baru bersumpah setia kepada Abu Bakar setelah Fatimah (isterinya yang sekaligus putri Nabi) meninggal dunia. Dalam pandangannya, dalam Islam kekuasaan adalah hak keluarga Nabi. Keluarga Nabilah yang tetap setia bersama Nabi di saat sahabat yang lain berebut kekuasaan. Abu Bakar dan Umar pernah mendatangi rumah Fatimah, seraya mengancam akan membakar rumah berserta isinya. Hanya sumpah setia Fatimah beserta keluarganya yang bisa menyelamatkan mereka dari ancaman Abu Bakar dan Umar. Bila sejarah Islam dibaca dari buku lain, kita akan menemukan Abu Bakar dan Umar, dua sahabat besar yang dianggap penegak Sunnah Nabi, melarang para sahabat meriwayatkan Sunnah. Bahkan dua tokoh ini sering mengingkari Sunnah dan Alquran. Abu Bakarlah yang memutuskan untuk menumpas mereka yang tak mau memberi zakat kepadanya. Padahal Hadis sudah menjelaskan, darah orang yang mengucapkan syahadat diharamkan. Umar memutuskan tidak memberikan zakat kepada mereka yang baru masuk Islam. Padahal, Alquran dengan jelas menetapkan hal itu. Bila sejarah Islam dikaji dengan cara lain, kita akan menemukan jalan buntu sahabat Anshar. Kemana kubu Anshar dalam sejarah Islam? Apa yang terjadi dengan mereka, hingga cerita perjuangan mereka tak tertulis dalam sejarah Islam berikutnya. Padahal bersama merekalah Islam berkembang pesat. Kelompok inilah yang kali pertama mempunyai kesadaran politik. Kalangan Muhajirin kesulitan mematahkan argumen-argumen sahabat Anshar. Hingga secara bergantian mereka (Muhajirin dan Anshar) mengatakan, kami (pantas) menjadi penguasa. Dan kalian (pantas) menjadi menteri. Banyak Jendela Tak berlebihan bila kita menanyakan nasib kelompok ini dalam sejarah Islam. Pertama, mereka sama sekali tidak "mencicipi" kekuasaan dalam Islam, padahal kekuatan politik mereka sangat kuat. Kedua, kelompok ini terhapus total dari lembaran sejarah Islam berikutnya, bhkan hingga sekarang. Bila sejarah Islam dibaca secara mendalam, kita akan menemukan sosok Sa'ad bin Ubadah. Tokoh Anshar ini hampir dinobatkan sebagai penguasa pasca Nabi oleh sahabat Anshar. Namun karena kedatangan Abu Bakar, Umar, dan sahabat Muhajirin lainnya, tokoh ini harus menerima kekalahan politik. Akhirnya, Sa'ad bin Ubadah keluar dari Madinah dan tak mengakui kekhalifahan Abu Bakar-bahkan Umar- hingga akhir hayatnya. Bila sejarah Islam dibaca secara seksama, kita akan menemukan sosok Abu Bakar yang meninggal terbunuh, Umar yang tertikam, Utsman yang berlimpahkan harta, Ali bin Abi Thalib sang politisi, Mu'awiyah sang pemburu kekuasaan dan Zaid bin Mu'amiyah sang pemabuk. Kisah menyedihkan ini terus berlanjut hingga sistem khalifah diruntuhkan di Turki tahun 1923 M. Keilmuan Islam secara umum dibangun di atas pilar kekuasaan, dan sarat dengan kepentingan. Termasuk juga ilmu Hadis. Satu kelompok mempunyai Hadisnya sendiri. Kelompok lainnya pun demikian. Bisa dipahami bila umat Islam selalu ribut dengan urusan rumah tangganya sendiri. Kenapa? Karena keilmuan dalam Islam baru dirumuskan dan ditulis pertengahan abad ke-3 H, kendati kejadian bersejarah telah terjadi jauh sebelumnya, yakni di masa hidupnya Nabi. Adalah wajar (walau tak harus diterima) bila penulisan ini sesuai dengan kepentingan yang ada pada abad ke-3 H. Hanya dengan melalui banyak jendela, ajaran Islam bisa dipahami secara lebih utuh dan sempurna. Penulis adalah alumni Al-Azhar Kairo Mesir/Peneliti di P3M Jakarta. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

