http://www.indomedia.com/bpost/092005/19/opini/opini3.htm

Wasiat Guru Sekumpul, 
Renungan Untuk Bangsaku

DARI hari ke hari, bangsa Indonesia terpuruk dan terus terpuruk. Bencana yang 
seakan silih berganti, susul-menyusul dengan mewabahnya berbagai penyakit 
mematikan, seakan tak bosan menghampiri bangsa ini. Sementara perubahan yang 
diharapkan terjadi di berbagai bidang kehidupann, bukannya membawa ke arah 
perbaikan, sebaliknya makin memperburuk kondisi bangsa, menyulitkan dan 
menambah penderitaan rakyat, terutama mereka yang berada di strata bawah.

Apa sekarang yang tidak sulit didapat rakyat? Jika dulu hanya minyak tanah yang 
harus antre, kini solar yang sebagian besar untuk industri dan membantu 
menggerakkan roda perekonomian, disusul premium (bensin) yang dibutuhkan secara 
langsung oleh lebih 50 persen masyarakat _bahkan hampir 100 persen masyarakat 
Indonesia secara tidak langsung bergantung pada bensin_ juga semakin langka dan 
sulit didapat.

Jika minyak tanah yang sulit, silakan bilang itu hanya untuk masyarakat 
menengah bawah. Tapi jika kemudian kelangkaan BBM itu juga terjadi pada 
kalangan industri dan kemudian masyarakat menengah ke atas, apakah ini artinya 
sebuah indikasi bangsa ini menuju pada pemerataan kemiskinan? Bukan pemerataan 
kesejahteraan?

Bila ini dibiarkan berlarut-larut dan tak teratasi juga oleh pemerintah, yang 
selalu mengusung isu perubahan, bukan masyarakat miskin yang bisa diangkat dari 
garis kemiskinan. Sebaliknya, kemapanan yang telah dimiliki sebagian rakyat 
Indonesia akan terseret ke garis kemiskinan. Jangan heran, angka kemiskinan 
yang harusnya ditekan, kini malah membengkak.

Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini? Mengutip bait lagu Ebit G Ade: 
"Mungkin Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga 
dengan dosa-dosa," ini bisa jadi renungan bagi kita semua. Mungkin bencana yang 
datang bertubi-tubi ini sebenarnya teguran dari Yang Maha Kuasa.

Runut saja tingkah polah elit bangsa kita selama ini. Bangsa ini memang banyak 
tingkah dan bergelimang dosa, tak ada lagi rasa malu terhadap kesalahan yang 
dibuat. Sikap, tindakan, keputusan, maupun kebijakan yang diambil lebih 
mendasarkan pada ego pribadi, kepentingan sendiri, kelompok dan golongan. 
Masing-masing merasa benar sendiri dan orang lain adalah salah.

Perpecahan kini menjadi hal biasa pada bangsa ini. Berbalut kepentingan 
politik, seakan-akan telah mengaburkan kebenaran hakiki. Dengan mengatasnamakan 
politik pula, tak ada lawan maupun kawan yang abadi, yang ada hanyalah 
kepentingan abadi. Tak heran, elit sering melupakan rakyat, dan lebih 
memikirkan mana lawan yang bisa dijadikan kawan dan mana kawan yang harus 
dijadikan lawan demi mencapai tujuan.

Di tengah keterpurukan bangsa ini dan tingkah elit itu, tak ada salahnya kita 
khususnya warga Kalsel merenungkan 13 wasiat yang ditinggalkan ulama besar KH 
Muhammad Zaini Abdul Ghoni atau yang akrab disapa Guru Sekumpul, yakni: 
Menghormati ulama; Baik sangka terhadap muslimin; Murah diri; Murah harta; 
Manis muka; Jangan menyakiti orang; Memaafkan kesalahan orang; Jangan 
bermusuh-musuhan; Jangan toma (tamak, Red); Berpegang kepada Allah pada qabul 
segala hajat; Yakin keselamatan itu ada pada benar (kebenaran, Red); Jangan 
merasa baik daripada orang lain; Tiap-tiap orang iri dengki atau adu-asah (adu 
domba, Red) jangan dilayani serahkan saja pada Allahtaala.

Wasiat yang ditulis Guru Sekumpul sekitar 13 tahun lalu, tepatnya 11 Jumadil 
Akhir 1413 Hijriah, sangat dalam maknanya. Meski ditulis dalam bahasa yang 
sangat sederhana. Marilah kita bertanya dalam diri kita masing-masing: 
"Sudahkah semua itu kita jalankan dalam kehidupan sehari-hari?"

Hari ini, sebagian umat Islam melaksanakan puasa pertengahan (nisfu) Sya'ban. 
Bagi mereka yang mengerjakannya, makna yang terkandung dalam nisfu Sya'ban ini 
diyakini sebagai momen untuk menyucikan diri dengan memperbanyak ibadah dan 
meminta ampunan kepada Allah SWT.

Kemudian, sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan, bulan penuh 
ampunan, suatu momen yang tepat bagi seluruh anak negeri ini untuk melakukan 
perenungan tentang makna menahan diri dari berbagai nafsu. Tak hanya syahwat, 
tapi lebih dari itu yaitu nafsu yang terkadang berselimut di balik kebaikan 
dalam bentuk kepura-puraan.

Dengan kita, semua anak negeri ini, merenungkan kembali wasiat yang disampaikan 
Guru Sekumpul, juga makna nisfu Sya'ban dan pemasungan nafsu pada bulan suci 
Ramadhan, semoga bangsa ini menemukan secercah harapan perubahan untuk menuju 
Indonesia yang benar-benar lebih baik, beretika, bermoral dan berbudaya (malu).


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke