http://www.indomedia.com/poskup/2005/09/17/edisi17/1709flo1.htm


Penderita rabies di Manggarai 746 orang

Ruteng, PK

Penderita rabies (penyakit anjing gila) di Kabupaten Manggarai, hingga 
pertengahan September 2005 mencapai 746 orang. Dari jumlah ini orang di 
antaranya meninggal dunia. Kasus rabies terbanyak terjadi di Kecamatan Langke 
Rembong dengan penderita 372 orang.

Demikian Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan NTT, dr. Stefanus Bria Seran, dan Plh 
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai, Adolfus Gabur S.Ip, kepada wartawan di 
Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Kamis (15/9). Bria Seran mengatakan, 
rabies sudah menyerang hampir di seluruh kecamatan di Manggarai, namun tidak 
semua orang di kecamatan terkena rabies.

Di Kecamatan Ruteng, misalnya, jumlah penderira rabies mencapai 121 orang, 
Cibal 53 kasus, Reo 37 kasus, Borong 34 kasus, Satarmese 28 kasus, Pocoranaka 
25 kasus, Lambaleda 24 kasus, Kota Komba 22 kasus, Wae Ri'i 15 kasus, Elar 12 
kasus dan Kecamatan Sambe Rampas tiga kasus. Para penderita rabies menjalani 
perawatan intensif di berbagai fasilitas kesehatan di kabupaten, kecamatan dan 
desa/kelurahan.

"Sebagian korban sudah berangsur-angsur sembuh setelah diberi vaksin anti 
rabies (VAR) tapi masih banyak yang menjalani perawatan medis di rumah maupun 
puskesmas," ujar Bria Seran diamini Adolfus Gabur.

Korban rabies yang menjalani perawatan intensif di RSUD Ruteng, tercatat lima 
orang, namun empat penderita di antaranya telah meninggal dunia, yakni Daniel 
(9), Armelinda Ingur (7), Anwar (8), dan Sofia Durti (14).

"Ada lagi dua orang di Kecamatan Ruteng yang meninggal dunia akibat digigit 
anjing gila. Mereka tidak sempat dibawa ke rumah sakit setelah diserang anjing. 
Dengan demikian, jumlah korban yang tewas akibat gigitan anjing gila enam 
orang," jelas Bria Seran.

Saat ini, tambahnya, seorang penderita rabies asal Desa Ndehes-Watualo, 
Kecamatan Wae Ri'i, Yohanes Wale (21), sedang menjalani perawatan intensif di 
RSUD Ruteng sejak, Minggu (11/9) setelah digigit anjing sejak sebulan lalu. 
Penderita rabies ini menunjukkan gejala-gejala sesak napas, sulit menelan, 
sakit tenggorokan, takut air, takut cahaya, takut angin, gelisah dan air liur 
terus meleleh.

"Upaya yang ditempuh Dinas Kesehatan berupa pemberian VAR namun stok yang ada 
(50 dosis) sudah habis terpakai sejak Juli lalu, dan akan didatangkan dari 
pusat produksi VAR di Bandung," jelasnya. (ant)


--------------------------------------------------------------------------------

Menkes bantu VAR

DINAS Kesehatan Kabupaten Manggarai mendapat bantuan vaksin anti rabies (VAR) 
dari menteri kesehatan (Menkes) untuk menanggulangi kasus gigitan anjing gila 
di daerah itu yang telah memakan banyak korban.

"Kita sudah minta VAR ke Jakarta dan menkes menyanggupi mengirimnya," ujar 
Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan NTT, dr. Stefanus Bria Seran, kepada Pos Kupang 
di Ruteng, Rabu (14/9). Dia dimintai komentarnya usai mengunjungi pasien 
rabies, Yohanes Wale, yang saat ini dirawat intensif di RSU Ruteng.

Bria Seran menjelaskan, berdasarkan data penyebaran kasus gigitan anjing rabies 
di wilayah NTT, Kabupaten Manggarai sebagai kawasan gigitan yang terbesar. 
Karena itu, lanjutnya, perlu diantisipasi secara baik untuk mengendalikan 
penyebaran penyakit yang berbahaya tersebut.

Menkes, diakui Bria Seran, sudah menyiapkan VAR untuk disalurkan ke Manggarai. 
"Saya sudah berkoordinasi dengan menkes dan pihaknya sudah mengalokasikan VAR. 
Pak Adolf Gabur dari Dinkes Manggarai yang mengambil bantuan itu di Jakarta. 
Dia sudah ada di Jakarta," katanya.

Bria Seran mengakui kendati anjing sebagai salah satu hewan penular rabies 
sudah divaksinasi, virus rabies dipastikan tetap berada dalam tubuhnya. Karena 
itu, lanjutnya, langkah pengendalian yang tepat adalah mengeliminasi total 
hewan penular rabies (HPR). "Saya minta supaya anjing dieliminasi total. Itu 
cara yang terbaik. Eliminasi tidak bisa ditawar-tawar lagi," katanya.

Diberitakan sebelumnya, selama beberapa bulan terahkir, terjadi lima kasus 
gigitan anjing rabies di Manggarai. Para korbannya adalah Daniel (9), Armelinda 
Ingur (7), Anwar (8), Sofia Durti dan Yohanes Wale. Empat korban di antaranya 
meninggal dunia, sementara Yohanes Wale saat ini sedang dirawat intensif di RSU 
Ruteng. (lyn)


--------------------------------------------------------------------------------

Penderita skabies di Robo belum sembuh

Ruteng, PK

Ratusan warga Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, yang 
sejak awal tahun 2005 hingga kini menderita skabies (kudis) atau sejenis 
penyakit kulit yang merambah seluruh tubuh, hingga kini belum sembuh meski 
upaya medis sudah dilakukan.

"Sampai sekarang ratusan warga Robo masih menderita penyakit gatal-gatal itu. 
Upaya medis sudah ditempuh, namun belum sembuh," kata Kepala Dinas (Kadis) 
Kesehatan NTT, dr. Stefanus Bria Seran, didampingi Plh. Kadis Kesehatan 
Manggarai, Adolfus Gabur, S.Ip, di Ruteng, Kamis (15/9).

Dia mengatakan, penyakit skabies disebabkan kuman tungau (kuman yang tidak 
dapat dilihat dengan mata, namun tumbuh subur di genangan air dan kotoran) 
menyerang 226 anak di Desa Ranaka.

"Anak-anak itu diduga terkena kuman tungau saat bermain dan lupa atau enggan 
membersihkan diri sebelum tidur sehingga kuman mudah merambah ke tubuh yang 
mengakibatkan gatal-gatal," katanya.

Menyikapi hal itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat 
guna meningkatkan program sosialisasi lingkungan sehat agar masyarakat 
membentengi diri dari ancaman kuman atau virus penyebab gangguan kesehatan 
keluarga.

Sosialisasi berorientasi peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya 
lingkungan bersih dan tingkah laku bernuansa kebersihan terutama pada 
anak-anak. "Program jangka panjang berupa peningkatan sosialisasi. Namun pada 
akhirnya berpulang pada lingkungan keluarga bagaimana merawat anak agar 
terhindar dari kuman," katanya.

Tentang upaya nyata yang dilakukan terhadap masyarakat di wilayah itu, Dokter 
Stef mengatakan, pihaknya sudah pemberikan salep dan obat-obatan lainnya yang 
bertujuan membunuh kuman tungau yang bercokol di tubuh penderita.

"Desa lainnya mungkin ada tapi tidak mencuat atau hanya bersifat kasuistik. 
Penyakit itu memang menular sehingga langkah antisipasi sejak dini patut 
ditempuh," katanya. Pada intinya, tambah Dokter Stef, kebersihan diri dan 
lingkungan keluarga yang terpelihara maka akan terhindar dari penyakit kulit 
seperti skabies. (ant)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke