** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
GALAMEDIA
26/09/2005 


Tim Ekonomi SBY-JK Tidak Mengabdi kepada Kepentingan Rakyat (2)

Oleh: TIM INDONESIA BANGKIT



MENAIKKAN harga bahan bakar minyak (BBM) dengan sangat tinggi sebelum 
menyiapkan skema dana kompensasi.

Pencabutan subsidi BBM yang sangat besar pada 1 Maret 2005, telah membebani 
masyarakat. Pengalihan beban subsidi kepada rakyat tanpa menyiapkan skema 
kompensasi merupakan pilihan kebijakan yang tidak adil bagi rakyat kecil. Tidak 
hanya dampak langsungnya, tetapi yang lebih membebani justru dampak tidak 
langsung kenaikan harga BBM terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Di sisi 
lain, skema dana kompensasi BBM yang belum siap dan bahkan masih memerlukan 
pembahasan yang panjang dengan DPR semakin menunjukkan bahwa pengambilan 
kebijakan oleh tim ekonomi sangat tidak memedulikan kepentingan rakyat kecil.


Tidak berusaha meredam dampak inflasi akibat kenaikan harga BBM.

Keputusan kenaikan harga BBM tanpa menyiapkan langkah untuk mengantisipasi 
kenaikan harga kebutuhan pokok menunjukkan bahwa tim ekonomi tidak memedulikan 
beban rakyat. Setelah menaikkan harga BBM, seperti dilakukan 
pemerintah-pemerintah sebelumnya, tim ekonomi semestinya segera mencari 
instrumen kebijakan dan melakukan persuasi langsung kepada kelompok produsen 
kebutuhan pokok untuk mengantisipasi kenaikan harga. Tapi, ternyata mereka 
sibuk melakukan analisis dan bahkan mencoba mengelabui masyarakat dengan 
mengatakan bahwa dampak kenaikan harga BBM terhadap harga kebutuhan pokok 
sangat kecil.


Tidak mampu dan tidak mau mencari alternatif penerimaan untuk mengurangi beban 
anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN).

Tim ekonomi pemerintah selama ini telah terbukti tidak mampu mencari alternatif 
kebijakan untuk mengurangi beban APBN. Akibatnya, tim ekonomi seringkali 
mengambil jalan pintas dengan mencabut berbagai jenis subsidi, seperti subsidi 
BBM, subsidi pupuk, dll., yang akhirnya sangat membebani rakyat. Sedangkan 
subsidi bunga obligasi rekap yang dinikmati oleh segelintir konglomerat dan 
bankir nakal sama sekali tidak pernah dibahas.

Semestinya, pemerintah juga memiliki alternatif untuk mengurangi beban APBN 
dengan melakukan negosiasi cicilan bunga dan pokok utang luar negeri. Namun, 
alternatif tersebut justru diabaikan oleh tim ekonomi. Meneg PPN/Ka. Bappenas 
bahkan secara tegas menolak alternatif tersebut dengan mengatakan, "Kreditor 
akan tertawa jika Indonesia meminta restrukturisasi utang".

Alternatif lain yang masih dapat dilakukan sangat banyak seperti meningkatkan 
penerimaan pajak, mengefisienkan Pertamina, dll. Namun sayangnya, tim ekonomi 
seperti menutup mata terhadap semua alternatif tersebut dan lebih memilih 
mengambil jalan pintas seperti menaikkan harga pupuk dan BBM yang sangat 
membebani rakyat.

Tim ekonomi justru terus menambah utang baru yang saat ini telah mencapai lebih 
dari 3 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut membuktikan tim ekonomi 
tidak memiliki keinginan untuk mengurangi beban rakyat.


Tidak memiliki itikad untuk menegosiasikan moratorium utang bencana yang 
menimpa Aceh akhir tahun 2004 yang telah menyita perhatian seluruh dunia. 
Rakyat Indonesia dan masyarakat dunia menyatakan empati yang sangat besar 
terhadap bencana tersebut, di antaranya dengan mengirimkan bantuan uang, 
obat-obatan, dan tenaga sukarelawan ke Aceh. Sejumlah negara bahkan 
berinisiatif memberikan moratorium utang dan juga pemotongan utang (debt 
relief) kepada pemerintah Indonesia agar anggaran dapat digunakan untuk 
merehabilitasi Aceh.

Namun, niat baik negara kreditor itu tidak ditanggapi tim ekonomi dengan 
menyiapkan amunisi dan strategi. Tim ekonomi malah sibuk menyebarkan isu-isu 
negatif tentang bahaya moratorium. Padahal, isu-isu tersebut sama sekali tidak 
berdasarkan fakta dan lebih merupakan kebohongan publik. Isu yang disebarkan 
bahwa peringkat utang Indoneseia akan turun dengan adanya moratorium, dibantah 
sendiri oleh S&P's dan Moody's. Isu bahwa moratorium akan mengakibatkan 
Indonesia kembali terjerat dengan program IMF, dibantah langsung oleh Direktur 
IMF. Demikian juga dengan isu bahwa Jepang tidak akan mengakomodasi moratorium, 
dibantah langsung oleh PM Junichiro Koizumi.

Meskipun pemerintah Indonesia akhirnya hadir dalam forum negosiasi Paris Club, 
namun delegasi Indonesia datang dengan tangan kosong dan tidak disertai dengan 
perkiraan kerusakan (damage assessment) dari bencana Aceh. Tidak heran jika 
delegasi Indonesia kembali dengan hasil yang sangat minim dan keputusan 
moratorium akhirnya terpaksa ditunda. Padahal, empati dari masyarakat 
internasional pada saat itu dapat dijadikan momentum untuk memperoleh 
moratorium dan pemotongan utang yang sangat besar. Jika pemerintah mampu 
memanfaatkan momentum tersebut, persoalan anggaran akan sangat terbantu dan 
pemerintah tidak harus terburu-buru menaikkan harga BBM yang sangat tinggi dan 
membebani rakyat.


Menurunkan tarif impor bus dari China.

Keputusan menurunkan tarif impor bus dari China dari 40% menjadi hanya 5%, 
jelas menunjukkan visi tim ekonomi yang tidak berpihak terhadap kepentingan 
nasional dan industri dalam negeri. Kebijakan tersebut berpotensi mematikan 
perkembangan sejumlah industri karoseri dalam negeri yang baru mencapai tahap 
awal pertumbuhan.


Menghapus Pajak PPnBm minuman ringan Kebijakan menghapus PPnBM produk minuman 
ringan (soft drink) merupakan salah satu bukti pengabdian tim ekonomi terhadap 
kepentingan kelompok bisnis tertentu. Permintaan kelompok bisnis minuman ringan 
pada awal masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) 
untuk membebaskan PPnBM dari produk minuman ringan, diterima dengan mudah oleh 
tim ekonomi tanpa upaya untuk melakukan perhitungan yang benar tentang 
konsekuensi penurunan pajak. Tim ekonomi bahkan aktif mencari berbagai 
justifikasi untuk mendukung permintaan tersebut, seperti menggunakan studi LPEM 
dan sebagainya.

Padahal, minuman ringan merupakan kebutuhan sekunder dan hanya dikonsumsi oleh 
kelompok menengah ke atas. Elastisitas permintaan terhadap produk tersebut pun 
sangat rendah. Artinya, dengan menghapus PPnBM minuman ringan, pemerintah sama 
halnya dengan melakukan transfer penerimaan negara kepada kelompok bisnis 
minuman ringan. Pendapatan kelompok bisnis minuman ringan justru meningkat, 
sedangkan pemerintah harus menderita kerugian berupa penurunan penerimaan pajak.

Kebijakan tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan persoalan anggaran 
yang sedang dikeluhkan pemerintah SBY-JK. Ironisnya lagi, dalam penelitian yang 
dilakukan Dirjen Bea Cukai pada pemerintahan sebelumnya, direkomendasikan agar 
produk minuman ringan dikenakan cukai seperti yang dilakukan di 60 negara 
lainnya. Namun, tim ekonomi pemerintah SBY-JK justru mengambil langkah 
sebaliknya dan membebaskan PPnBM minuman ringan. Hal tersebut menunjukkan visi 
tim ekonomi yang lebih mementingkan kelompok bisnis tertentu, sedangkan rakyat 
seringkali dipaksa menanggung beban anggaran seperti kenaikan harga BBM, 
kenaikan harga pupuk, dan sebagainya. Tamat

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke