** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/26/utama/2080721.htm


 

ANALISIS EKONOMI 

Impor Beras: Keterlaluan
Oleh: FAISAL BASRI
Menko Perekonomian kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial minggu lalu. 
Ia berujar, "Saya katakan, impor beras itu betul-betul untuk kepentingan petani 
dan masyarakat lainnya, bukan untuk kepentingan bisnis. Itulah yang dilakukan 
pemerintah agar harga beras tidak terlalu tinggi ketika harga BBM dinaikkan" 
(Kompas, 22 September 2005, halaman 22). Pernyataan Menko itu dan keputusan 
pemerintah untuk mengimpor beras sebanyak 250.000 ton ini patut dipertanyakan 
dan disikapi dengan saksama.

Apa benar impor beras untuk kepentingan petani? Jelas tidak. Apa pun alasannya, 
apalagi dalam keadaan stok beras dalam negeri cukup memadai, mengimpor beras 
adalah kebijakan yang tidak bisa diterima akal sehat dan mengusik rasa 
keadilan. Kalau alasannya adalah untuk menjaga stok beras yang dikuasai oleh 
Bulog yang terus akan terkuras karena harus menyalurkan raskin (beras untuk 
rakyat miskin) sebanyak 180.000 ton setiap bulan, mengapa pemerintah tak 
membeli saja beras dari petani?

Pemerintah beralasan bahwa kalau cara tersebut yang ditempuh, maka harga akan 
melonjak. Kekhawatiran ini memang logis, tetapi bisa diredam seandainya 
pemerintah melakukan pembelian gabah kering panen atau gabah kering giling, 
ataupun beras di tingkat petani secara patut dan cerdas.

Katakanlah pemerintah lebih aktif turun ke hanya 100 kabupaten yang surplus 
beras, maka pembelian rata-rata di setiap kabupaten hanya setara dengan 2.500 
ton beras.

Cara demikian diyakini tak akan membuat harga melambung.

Kalaupun, katakanlah, pemerintah membeli beras dengan harga Rp 4.000 per 
kilogram lalu menjualnya ke pasar dengan harga Rp 3.500 sesuai dengan harga 
"toleransi", maka subsidi sebesar Rp 500 akan jauh lebih bermanfaat ketimbang 
cadangan devisa kita yang sudah kian mengering dibelanjakan untuk impor beras.

Mengapa pemerintah sedemikian kikirnya, tak mau menyisihkan dana hanya sebesar 
Rp 125 miliar untuk membantu petani? Bukankah uang sebanyak itu tak ada artinya 
ketimbang subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang menyedot dana mendekati Rp 100 
triliun?

Bukankah subsidi seperti itu jauh lebih kena sasaran ketimbang pemberian uang 
Rp 100.000 sebulan untuk keluarga miskin yang notabene paling banyak berada di 
pedesaan dan hidupnya bertopang pada sektor pertanian?

Bukankah subsidi ini juga dinikmati secara riil oleh masyarakat lainnya yang 
merupakan konsumen beras karena pemerintah menjual dengan harga yang lebih 
murah?

Bukti keberpihakan

Jika memang pemerintah memiliki niat baik dan konsekuen dengan janji-janjinya 
untuk menggulirkan program revitalisasi sektor pertanian, maka kini saat yang 
tepat bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuktikan keberpihakan yang 
nyata dan itu bukan hanya sebatas retorika kepada yang lemah.

Tindakan tersebut juga merupakan realisasi dan merealisasikan komitmen kuatnya 
sebagaimana kerap disampaikan pada berbagai kesempatan dan juga dituangkannya 
di dalam disertasi doktornya yang sangat memukau itu. Bapak Presiden, bukankah 
sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang diamalkan?

Kalau masyarakat sulit menemukan alasan logis di balik rencana pemerintah untuk 
mengimpor beras, maka logis jika muncul berbagai kabar "tak sedap" yang menerpa 
rencana ini. Presedennya cukup banyak, beberapa di antaranya: Thailand telah 
ditetapkan sebagai negara asal impor, keputusan diambil oleh Wakil Presiden 
tanpa kehadiran Menteri Pertanian.

Bahkan ada kabar bahwa beras sudah dalam perjalanan ke Indonesia, rencana impor 
sebetulnya bukan hanya 250.000 ton, tetapi 800.000 ton. Data yang dikeluarkan 
berbagai instansi pemerintah tak sekadar berbeda, tetapi tidak sinkron satu 
sama lain. Preseden lain yang tak kalah mencurigakan adalah mengapa harga beras 
impor lebih mahal, mengapa tak dilakukan tender terbuka walau terbatas seperti 
pada kasus gula impor.

Ada pula alasan yang disampaikan pejabat Bulog, yang terkesan menakut-nakuti, 
bahwa nasib pemerintah sekarang ini bisa jadi sama dengan nasib dua 
pemerintahan kuat sebelumnya, terguling gara-gara kelangkaan beras di dalam 
negeri (Kompas, 24/9/2005, halaman 33.)

Ucapan di atas bernada menghasut dan sangat tak berdasar. Bukan saja pejabat 
itu, Bulog pun harus diwaspadai sebagai salah satu pihak yang paling 
bertanggung jawab atas munculnya rencana impor beras. Kita pun harus waspada 
terhadap pihak-pihak yang mungkin memanfaatkan Bulog untuk mencari keuntungan 
besar dalam sekejap.

Bukankah bukan rahasia umum lagi bahwa di masa lalu Bulog hanyalah tameng dari 
para pedagang yang sangat dekat dengan kekuasaan. Sampai-sampai "Panji Koming" 
pun ikut menyindir, "... Statusnya Wakil Adipati, tetapi ternyata fungsinya 
tetap saja tengkulak...." (Kompas, 25/9/2005, halaman 14). Agaknya tak adil 
untuk selalu berprasangka buruk kepada pemerintah.

Transparan

Bisa jadi ada beberapa alasan yang patut dipahami. Misalnya, pembelian beras di 
dalam negeri tak akan membantu atau menguntungkan petani jika sebagian besar 
stok beras di dalam negeri sudah dikuasai para pedagang. Mungkin masih ada 
alasan rasional yang lain.

Untuk itu, alangkah sangat baik seandainya proses perumusan kebijakan 
publik-seperti keputusan untuk mengimpor beras yang terakhir ini-dilakukan 
secara transparan dan disertai alasan-alasan yang rasional.

Sudah puluhan tahun sektor pertanian dijadikan tumbal industrialisasi. 
Potensinya diperah lewat kebijakan pangan murah dengan menggunakan pengendalian 
harga dan Bulog sebagai penyangganya.

Dengan harga pangan yang murah, rezim otoriter Orde Baru bisa menekan upah 
buruh sehingga menjadi salah satu daya tarik utama bagi pemodal domestik maupun 
asing menyemut di industri-industri padat karya yang pada umumnya berorientasi 
ekspor.

Industri-industri ini berdampingan dengan industri-industri substitusi impor 
yang "jago kandang" dengan topangan proteksi tinggi dan gelimangan fasilitas, 
serta beragam kemudahan lainnya.

Hanya dengan mengebiri mekanisme pasarlah semua ini terjadi. Hanya dengan 
pengendalian pasarlah para pengusaha karbitan dan pengusaha kroni bisa 
merajalela. Hanya dengan tanpa persaingan sehat saja para pengusaha jago 
kandang dengan leluasa memburu rente dan "merampok" daya beli masyarakat.

Ironisnya, justru mayoritas masyarakat itu adalah petani dan buruh. Sosok 
perekonomian yang dihasilkan dari proses yang sangat mendistorsi ini ialah 
industri yang rapuh, daya saing melorot, dan daya beli riil mayoritas penduduk 
tak terangkat. Dengan demikian, potensi kekuatan pasar domestik yang besar tak 
bisa menjadi penopang sektor industri. Secara tak langsung kita telah melakukan 
proses "bunuh diri".

Salah besar

Jadi, salah besar kalau ada yang mengatakan bahwa Orde Baru dibangun dengan 
kerangka neoliberal atau pemikiran pasar bebas sehingga (karena itu) menggiring 
perekonomian Indonesia ke jurang krisis. Namun, salah besar pula kalau lantas 
kita banting setir dengan beralih ke kutub ekstrem neoliberal ataupun pasar 
bebas.

Kita mendambakan suatu sistem pasar yang bermartabat, yang menjunjung tinggi 
sense of justice dan sense of equity. Dengan bertopang pada dua prinsip ini, 
mekanisme pasar dan demokrasi bisa berlangsung secara berdampingan serta 
berkelanjutan.

Kita sangat menyadari bahwa pasar bebas tak akan pernah berpihak kepada yang 
lemah. Karena kesadaran inilah kita justru wajib memberdayakan 
kelompok-kelompok yang lemah sehingga mereka tidak terjepit.

Petani harus diberdayakan dengan menjamin agar mereka bisa memperoleh input 
yang mencukupi dan semakin berkualitas serta dengan harga yang pantas. Di lain 
pihak mereka menikmati harga yang pantas pula atas produk-produk yang mereka 
hasilkan.

Jangan seperti sekarang, tatkala harga sedang berpihak kepada petani, yang 
sangat jarang terjadi, justru pemerintah merintangi petani untuk bisa 
menikmatinya.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke