** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/26/opini/2076933.htm


  
Demokrasi (Bukan) untuk Orang Miskin! 

Oleh: IMAM CAHYONO 



"Sudah 26 tahun tinggal di sini, jualan nasi pecel, tetapi ya begini terus. 
Ndak berubah. Makin hari, tambah susah!" tutur Yu Minah, janda paruh baya dari 
Klaten yang setiap hari berkeliling menjajakan dagangannya di bilangan Warung 
Buncit, Jakarta Selatan.

Sungguh, 26 tahun adalah waktu yang panjang. Pemilihan umum (pemilu) bisa 
digelar lima periode. Rezim penguasa datang dan pergi, presiden silih berganti, 
juga bongkar pasang para menteri, tetapi tidak menghasilkan perubahan 
signifikan bagi kehidupan rakyat.

Nasib rakyat bawah tak berbeda, yang miskin tetap miskin, bahkan kian sengsara. 
Tentu, Yu Minah tidak sendiri. Ribuan, bahkan jutaan Yu Minah lain tampaknya 
harus pasrah menerima takdir menjadi miskin dan sebagai orang miskin.

Pendek kata, demokrasi kita tak kunjung membawa manfaat pembangunan ekonomi dan 
kesejahteraan. Mengapa?

Antinomi

Selama ini praktik demokrasi kita terjebak dalam antinomi. Antinomi muncul, 
berangkat dari proses penalaran, yakni dua kesimpulan yang bertentangan namun 
mempunyai dasar pijakan yang sama kokoh.

Antinomi menunjukkan oposisi dua kesimpulan, masing-masing berangkat dari 
premis-premis yang tampaknya masuk akal dan keluar dari langkah penyimpulan 
yang salah. Antinomi bukan akibat kekeliruan subyektif individu, tetapi 
disebabkan sifat dialektis proses kognisi, khususnya karena kontradiksi bentuk 
dan isi (Bagus, 1996: 53-54).

Antinomi amat kental dalam praktik demokrasi kita yang terjebak dalam prosedur 
dengan melupakan substansi. Kita sibuk dengan bentuk demokrasi sehingga lupa 
dengan isi. Mekanisme penting, tetapi esensi tidak boleh diabaikan. Kita 
memaknai demokrasi sebatas representasi hak-hak politik sehingga demokrasi 
dijauhkan dari hak-hak dasar manusia lain, yakni hak-hak ekonomi dan hak-hak 
sosial. Maka yang terjadi kemudian adalah ketimpangan dan antagonisme.

Bukan hal aneh jika anggota legislatif yang mendapat mandat memperjuangkan 
rakyat justru menelikung untuk kepentingan pribadi. Partai politik semata 
berburu kekuasaan sambil melupakan konstituen. Pilkada bukan menjadi mekanisme 
untuk membentuk kontrak politik dan integrasi sosial, tetapi menjadi ajang 
kerusuhan. Demokrasi menjadi ajang money politics. Demokrasi kita tak pernah 
lepas dari konflik dan anarki. Demokrasi sekadar menjadi lips service, pentas 
mengobral janji tanpa realisasi.

Kita terseret arus praktik demokrasi liberal sehingga melalaikan prinsip 
demokrasi sosial. Kebebasan individu diagung-agungkan, sementara hak-hak sosial 
dan kepentingan publik dipinggirkan. Kita melupakan demokrasi sebagai kreasi 
aksi kolektif, reproduksi kebudayaan, dan transformasi sosial.

Demokrasi yang seharusnya menjadi saluran arus bawah menjadi monopoli elite 
(elite-dominated democracy). Demokrasi kita menjadi amat rapuh dan-menyitir 
Terry Lynn Karl (1990)-menjadi beku (frozen democracy) saat didominasi elite 
yang tidak ingin menjalankan reformasi subtantif yang menguntungkan sebagian 
besar masyarakat miskin.

Liberasi politik-ekonomi

Demokrasi kita menjadi mandul, lemah, dan jauh dari harapan rakyat karena 
tercabut dari akar dan fondasinya. Kita mengagungkan demokrasi sambil 
melalaikan prinsip yang lain. Padahal, perwujudan demokrasi politik melalui 
representasi hak-hak politik tidak cukup. Pembebasan politik tidak seketika 
membawa pembebasan ekonomi dan tanpa pembebasan ekonomi mustahil terjadi 
pembebasan politik. Political liberation did not bring economic liberation and 
without economic liberation, there can be no political liberation (Robert JC 
Young, 2001: 5). Prinsip-prinsip dasar demokrasi saling terkait, yakni 
kebebasan (liberty), persamaan (equality), keadilan hukum (equity), dan 
keadilan (justice).

Dengan mengagungkan kebebasan hak-hak politik, demokrasi kita gagal menjadi 
artikulasi perjuangan hak-hak sosial dan ekonomi. Dengan melalaikan karakter 
demokrasi yang berbasis sosial ekonomi, yang terjadi bukan proses demokrasi 
sejati (the true democracy), tetapi bentuk baru subordinasi, opresi, dan 
dominasi. Demokrasi seharusnya menjadi artikulasi berbagai bentuk perlawanan 
atas penindasan, juga sebagai perjuangan melawan berbagai bentuk ketimpangan 
(Laclau and Mouffe, 1995: 154).

Karakter demokrasi berbasis ekonomi dapat diwujudkan dengan pemenuhan hak-hak 
ekonomi melalui redistribusi keadilan ekonomi hingga membawa manfaat 
pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Berdasarkan karakter sosialnya, 
demokrasi merupakan perekat solidaritas sosial guna membuat kontrak sosial, 
menjaga integrasi sosial dari konflik, dan mewujudkan perdamaian.

Maka, demokrasi harus dikembalikan pada akarnya yang berbasis aspek politik, 
sosial, dan ekonomi. Perayaan kebebasan hak-hak politik mutlak harus diikuti 
pemenuhan hak-hak sosial ekonomi. Tanpa pembebasan ekonomi, demokrasi menjadi 
barang mewah bagi rakyat miskin.

Demokrasi kita seharusnya memihak kepentingan rakyat, terutama kaum miskin. 
Amat ironis jika demokrasi di negeri ini mengabaikan aspirasi rakyatnya yang 
sebagian besar adalah kaum yang benar-benar miskin.

Imam Cahyono Wakil Ketua Al Maun Institute, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now.
http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke