mas satrio, saya menikmati cerpen mas, paling tidak sebelum sadar bahwa di bawahnya disertakan berita yang menjadi 'inspirasi' penulisan cerpen ini. dan terus terang, kenikmatan membaca menjadi gugur.
saya tidak tahu apakah waktu dikirim ke kompas, mas satrio juga menyertakan attachment seperti posting seperti ini. sebab kesan saya, seluruh bangunan imajinasi yang dicoba (dikesankan) tentang seorang muhammad yunus yang mengalami amnesia setelah mengalami tabrakan, menjadi buyar kembali dengan adanya berita itu. dengan menyertakan berita yang menjadi sumber inspirasi cerpen, keleluasaan pembaca untuk mengembangkan imajinasinya jadi terkungkung dan diarahkan pada satu pengertian tunggal yang diharapkan oleh pengarang. aspek denotatif seperti ini, hemat saya, bukan karakter sebuah cerpen yang baik. seharusnya pembaca dibiarkan menafsirkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, tentang sebuah dunia rekaan yang dikonstruksikan pengarang, meskipun sang pengarang menuliskannya berdasarkan sebuah kisah faktual. itu saja 2 kepeng dari saya. salam, akmal n. basral --- In [email protected], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Cerpen ini pernah saya kirim ke Kompas. Tapi > dikembalikan... Tapi mudah-mudahan ada gunanya dibaca > buat Anda sekalian. Ada latar belakang kehidupan > aktivis, media massa/jurnalisme-nya, serta keterpautan > dua dunia, dst.... > > Satrio > ============================================ > > > IMPIAN KEABADIAN > Oleh Satrio Arismunandar > > Pertama kali kubuka mata, yang tampak adalah sebuah > kamar tidur yang > mewah. Aku terbaring di atas ranjang berukuran besar. > Seprainya tebal, > terbuat dari bahan kualitas terbaik, berwarna biru > muda. Selimutnya > lembut, berbulu halus, dan harum. Di samping ranjang, > ada bufet kecil dengan > vas bunga di atasnya. Mawar merah segar yang ada di > vas itu memberi > suasana menyegarkan. > Dinding ruangan ini terkesan kokoh dan anggun, > dilapisi kertas tembok > mengkilap. Selain sebuah cermin besar, ada sejumlah > lukisan tergantung > di dinding. Salah satu lukisan menggambarkan seorang > laki-laki dan > perempuan, duduk bersanding mesra. Mereka tersenyum, > seperti pasangan > suami-istri yang berbahagia. Yang laki-laki terlihat > gagah dan tampan, di > usianya yang kutaksir sekitar awal 40-an. Sedangkan > yang perempuan > berambut panjang terurai, sangat jelita, berumur > kira-kira sepuluh tahun lebih > muda dari pasangannya. Selain itu, ada tiga foto > terpisah, yang > menunjukkan tiga gadis kecil dengan usia yang > berbeda-beda. Mungkin ini tiga > putri dari pasangan tersebut. > Tubuhku terasa nyaman dan enteng, seperti baru bangun > dari tidur lelap > yang panjang. Baru kuperhatikan kemudian, ternyata aku > memakai piyama > dari bahan katun halus. Aku pun bangkit dari > pembaringan, dan duduk > bersila di ranjang. Ada perasaan aneh yang tak > kupahami. Aku tak tahu > sedang berada di mana, dan bagaimana bisa sampai di > ruangan ini. Yang lebih > membingungkan lagi, aku bahkan tak ingat siapa diriku > ini. Apakah aku > sedang bermimpi? > Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan masuk, membawa > segelas teh > hangat dengan tatakan. Wajahnya persis perempuan di > lukisan tersebut. > Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika melihatku sudah > bangun. "Ah, selamat > pagi, Mas Yunus! Sudah bangun rupanya. Ini kubawakan > teh aroma melati > kesenanganmu," ujarnya, seraya meletakkan segelas teh > itu di meja kecil > di samping tempat tidur. > "Mas Yunus? Kamu bicara denganku?" Aku masih tertegun > menatapnya. > "Ya, tentu saja. Dengan siapa lagi?" sahutnya, sambil > duduk di sisi > tempat tidur. Tanpa canggung, ia memegang tanganku, > lalu meraba dan > mengusap dahiku. Seolah memeriksa, apakah aku > menderita demam. > "Yunus? Namaku Yunus?" > "Tentu saja. Lengkapnya, Muhammad Yunus." > "Aku aku tak ingat siapa diriku," ucapku, > terbata-bata. Nama itu terasa > asing di telingaku. Seperti nama dari sebuah dunia > lain yang jauh. > Perempuan itu tersenyum, menenangkan. "Mas Yunus tak > usah bingung. > Dokter sudah memberitahu, sejak kecelakaan itu, Mas > Yunus mengalami shock, > sehingga menderita amnesia atau lupa ingatan untuk > sementara. Namun, > kata dokter, berangsur-angsur ingatan itu akan pulih > seperti sediakala. > Jadi, Mas tenang saja. Yang penting, Mas harus menjaga > kesehatan dan > banyak beristirahat." > "Kecelakaan? Kecelakaan apa?" > "Sedan yang Mas tumpangi ditabrak bus, di kawasan > perbukitan, dan masuk > ke jurang. Pak Nabil Basalamah, sopir kantor yang > menyetir mobil Mas, > meninggal. Mas Yunus sendiri beruntung, hanya > menderita luka ringan. > Tapi Mas mengalami shock, yang berdampak pada > kehilangan ingatan untuk > sementara." > "Begitukah? Mengapa aku tidak dirawat di rumah sakit?" > "Mas sempat dirawat di sana. Waktu itu mungkin Mas > belum sadar betul. > Kata dokter, untuk memulihkan ingatan dan mempercepat > penyembuhan, > suasana rumah di tengah keluarga justru lebih baik. > Itulah sebabnya Mas > dipindahkan ke sini." > Sebagian hal mulai jelas bagiku, tetapi banyak > pertanyaan lain belum > terjawab. "Maaf, tapi aku tak mengenalmu. Siapakah > kamu?" tanyaku. > "Aku Dian, Mas. Dian Kencana Dewi, istrimu. Kita sudah > menikah selama > tujuh tahun, dan punya tiga orang putri," sahut > perempuan berkulit > kuning langsat itu. Aura wajahnya seperti bersinar. Ia > memiliki sejenis > kecantikan alami yang membuatku terpana. > "Betulkah?" Kutatap mata Dian yang bening hitam itu. > Tampaknya dia > jujur. Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan > kenyataan-kenyataan baru > ini. Kenyataan yang asing dan tak pernah kukenal. Aku > bahkan belum > sepenuhnya yakin, semua ini memang nyata. > Kebimbanganku rupanya bisa > dirasakan oleh Dian. > "Tidak percaya? Mari kutunjukkan!" Dian dengan sabar > menarik tanganku. > Kami berjalan ke depan cermin besar yang menempel di > tembok. "Nah, coba > perhatikan." > Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahku sendiri di > cermin. Wajah > seorang laki-laki yang gagah, tampan, namun sedikit > kurang rapi, karena > bulu-bulu kumis tipis dan janggut yang belum dicukur. > Baru kemudian > kusadari, wajahku persis sama dengan wajah laki-laki > yang bersanding dengan > Dian dalam lukisan besar di dinding. Ketika kami > berdiri berdampingan > di depan cermin, aku dapat membandingkan, ternyata > wajah kami berdua di > cermin ini tampak seperti kembaran wajah pasangan > suami-istri dalam > lukisan. > Entah mengapa, aku merasa lega. Di tengah belantara > ketidakjelasan yang > membingungkan ini, ternyata aku tidak sendirian. > Istriku atau bukan, > Dian adalah seorang lain yang menjadi bagian dari > diriku, yang berbagi > perasaan denganku, dan memahami situasiku. "Kamu kamu > cantik!" Terlepas > begitu saja ucapan itu dari mulutku, sambil menatap > bayangan Dian di > cermin. > Dian tersenyum. Wajahnya agak memerah, senang. > "Sebelum kejadian ini, > Mas Yunus jarang sekali memujiku. Lucu. Ketika > kehilangan ingatan, Mas > justru memujiku. Senangnya, kalau Mas Yunus bisa terus > begitu." > Dian menarik lenganku, untuk kembali ke tempat tidur. > Saat itulah pintu > kamar terbuka. Tiga gadis kecil menghambur masuk ke > ruangan. "Papa! > Papa!" seru mereka padaku. Yang terkecil dan paling > lucu, berumur sekitar > lima tahun, memeluk kakiku. Rambutnya dipotong pendek > model poni. > Kakaknya, yang berusia sekitar tujuh tahun, memegang > tanganku. Yang > terbesar, berusia sekitar sembilan tahun, berdiri di > belakangnya. > "Inikah anak-anak kita?" tanyaku pada Dian. > "Ya. Yang terkecil dan imut ini Mutia. Dia baru masuk > Taman > Kanak-Kanak. Kakaknya, Asty Rastiya, sudah kelas I > Sekolah Dasar. Yang sulung, > Annisa, sudah kelas III. Sebelum ini Mas Yunus terlalu > sibuk bekerja, > sehingga jarang punya waktu untuk anak-anak. Tak > heran, mereka sangat > kangen padamu." > "Sibuk bekerja? Apa pekerjaanku?" > Dian tertawa. "Pekerjaan Mas Yunus? Mas Yunus adalah > pemilik grup > perusahaan PT. Media Kita Bersama, yang membawahi satu > stasiun televisi, > sepuluh stasiun radio komersial, satu pasar swalayan, > dan sebuah bank > swasta. Sebenarnya beberapa hari terakhir ini, banyak > staf, bawahan dan > relasi bisnismu yang mau menjenguk. Tapi kularang > dulu, karena Mas Yunus > butuh istirahat." > Pemilik dari sekian banyak perusahaan! Hebat! Tak > pernah kubayangkan > bahwa aku begitu kaya raya. Kalau semua ucapan Dian > itu benar, berarti > aku ini bukan orang sembarangan. Ya, Tuhan. Kejutan > apa lagi yang belum > kuketahui? > "Papa! Temani Mutia ke kebun binatang dong!" rengek > Mutia, membuyarkan > anganku. > "Iya. Papa dulu juga janji mau menemani Asty berenang. > Tapi nggak > pernah sempat," timpal Asty, yang berambut pendek dan > bertubuh agak kurusan. > "Papa sih sibuk sama urusan kantor terus!" tambah > Annisa. Sebagai anak > sulung, Annisa yang mengenakan celana jeans biru ini, > memang tampak > paling dewasa. > "Sebentar, anak-anak! Papa masih kurang sehat dan > harus banyak > istirahat. Nanti kalau sudah sembuh betul, pasti Papa > akan menemani kalian ke > manapun kalian mau. Betul `kan, Papa?" tukas Dian. > "Iya. Betul," sahutku begitu saja. > "Nah, kalian dengar sendiri janji Papa. Sekarang main > di luar dulu, ya? > Soalnya Papa harus istirahat," bujuk Dian. > "Yaaaaah, Papa!" Mutia tampak agak kecewa. Mulutnya > memberengut, lucu. > "Papa nggak bohong, `kan? Kalau sudah sembuh, Papa > akan pergi berenang > bersama kami?" ucap Asty. > "Tentu. `Kan Papa sudah janji!" jawabku, sekenanya. > Anak-anak ini > mengharapkan aku menjadi ayah yang baik. Mereka tak > paham, bahkan untuk > sekadar menjadi "ayah" mereka saja, aku sedang > berusaha menyesuaikan diri. > Apalagi menjadi "ayah yang baik!" Namun, meski agak > kikuk, aku tak tega > mengecewakan mereka. > "Daaag, Papa! Kami tinggal dulu, ya?" ujar Annisa > sambil mencium > pipiku. Ia diikuti oleh Asty dan Mutia. Tiga gadis > kecil itu lalu pergi > meninggalkan kamar. Kamar pun kembali sepi. Hanya aku > dengan Dian, yang > duduk di sisi ranjang. > "Mereka anak-anak yang baik," ujarku. > "Memang. Mereka memberi warna, kesegaran dan keceriaan > pada perkawinan > kita." > "Dian, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu hal > yang agak bersifat > pribadi. Bolehkah?" > "Tentu saja boleh. Tanyailah aku apa saja, sesuka Mas > Yunus." > Kutatap wajahnya lekat-lekat. "Maafkan, Dian. Aku > terus terang belum > terbiasa dengan semua ini, juga tentang hubungan kita. > Bisakah kau > ceritakan, kapan dan bagaimana dulu kita pertama kali > bertemu?" > Dian tertawa. "Oh, kita berkenalan di acara outbound, > yang diadakan > oleh perusahaan untuk para karyawan baru. Aku waktu > itu karyawan yang baru > lulus pelatihan. Ketika berjalan meniti tambang di > tempat ketinggian, > dalam latihan outbound itu, aku terjatuh dan cedera. > Mas Yunus, sebagai > pimpinan perusahaan waktu itu, menjengukku di rumah > sakit. Kita menjadi > akrab sejak peristiwa tersebut. Setahun kemudian, kita > pun menikah." > "Tolong katakan padaku, Dian. Selama tujuh tahun > perkawinan kita, > apakah kau merasa bahagia? Suami seperti apakah aku > selama tujuh tahun itu? > Apakah aku ini suami yang baik? Suami yang bertanggung > jawab?" > Tangan Dian meraba pipiku. Matanya balas menatapku > dengan pandangan > sejuk. "Mas Yunus, seandainya waktu bisa diputar > kembali ke masa lampau, > aku bersedia jatuh dan cedera lagi dalam latihan > outbound, agar aku bisa > bertemu dan menikah denganmu. Aku bersyukur pada Tuhan > yang telah > mempertemukan kita. Ya, aku sangat bahagia hidup > bersamamu. Umur perkawinan > kita adalah tujuh tahun terindah dalam hidupku." > "Tapi, Mas Yunus yang kau cintai adalah diriku yang > dulu. Yunus yang > penuh ingatan dan kenangan denganmu," tukasku. > "Sedangkan diriku yang > sekarang adalah manusia tanpa ingatan, tanpa kenangan > masa lalu, dan > karena itu juga tanpa ikatan emosi. Bagaimana kau bisa > mencintai manusia > tanpa masa lalu, seperti aku sekarang ini?" > "Bagiku, Mas Yunus yang sekarang tetap sama dengan Mas > Yunus yang dulu. > Tak ada yang berubah dalam perasaanku." > "Kita berandai-andai sekarang. Seandainya ya, > seandainya ingatanku tak > pernah kembali pulih seperti dulu, apa yang akan kau > lakukan? Apakah > kau akan tetap menganggapku sebagai suamimu? Suami > yang sama dengan yang > kau kenal selama tujuh tahun terakhir ini? Padahal, > saat ini pun aku > baru saja belajar untuk mengenalmu!" > "Apapun yang dialami Mas Yunus, aku tetap mencintaimu. > Kalau pun > sekarang Mas Yunus tidak mengenal Dian, atau --lebih > tepatkehilangan > kenangan tentang Dian, kita berdua bisa belajar dari > awal lagi, untuk saling > mencintai. Bukankah itu sesuatu yang menakjubkan? Kita > memulai kehidupan > baru, betul-betul baru, dan membangkitkan rasa cinta > yang baru, sesudah > tujuh tahun menikah?" > "Apakah itu mungkin?" > "Mengapa tidak?" > "Dian, aku hidup tanpa ingatan dan tanpa kenangan > tentang masa lalu. > Inilah yang membedakan kita. Terlepas dari > baik-buruknya masa lalu itu, > bagaimana orang bisa hidup tanpa masa lalu? Bukankah > kita bisa memahami > dan memaknai hari ini, karena kita telah mengalami > hari-hari kemarin? > Bukankah kita dapat merancang hari esok, karena kita > telah menjalani > hari ini?" > "Ya. Masa lalu memang membantu kita memaknai hari > ini," Dian menggengam > jemariku. "Namun, masa lalu juga bisa menjadi beban > atau rantai, yang > membelenggu kita. Betapa banyak orang yang menderita, > karena jiwanya > tertambat di masa lalu. Namun, perputaran roda nasib > telah membebaskan Mas > Yunus dari masa lalu. Meski usia Mas Yunus sudah 43 > tahun, engkau saat > ini adalah seperti bayi yang terlahir kembali. Hari > ini dan hari esok > adalah milik Mas Yunus. Lepaskan, ikhlaskan masa lalu > itu, Mas. Buang > jauh-jauh beban dan belenggu itu. Hari ini, kita > memiliki kesempatan > untuk merasa bahagia. Rengkuhlah itu! Jangan > sia-siakan itu." > Kata-kata Dian membuatku termenung. Ya, mengapa jiwaku > selalu tertambat > pada "masa lalu?" Aku tak ingat, apa yang telah > kualami di hari-hari > kemarin. Namun, dengan sabar menjalani hari ini, dan > menyongsong matahari > esok pagi, bukankah sebenarnya aku telah membentuk > masa lalu juga? > Meskipun baru satu hari. > Biarlah waktu berjalan. Perlahan-lahan, sehari demi > sehari, aku > akhirnya juga akan memiliki "masa lalu yang baru." > Tentu, itu tak sama dengan > masa lalu yang pernah kumiliki dan kini sudah > kulupakan. Tetapi itu > tetaplah masa lalu. Aku akan punya "masa lalu yang > baru." Dan aku akan > membentuknya bersama keluargaku. Bersama Dian, dan > anak-anakku Mutia, > Asty, dan Annisa. > Seperti mentari pagi yang menyibak kegelapan malam, > aku merasa > memperoleh pencerahan. Pikiranku kini terasa jernih > dan tenang. Dadaku lega dan > lapang. Aku telah mengambil keputusan. Kupegang erat > jemari Dian. > "Panggillah anak-anak sekarang, Dian! Aku akan > menemani mereka ke kebun > binatang, berenang atau kemana pun mereka mau! Mereka > layak berbahagia," > ujarku. > "Apa maksudmu, Mas? Bukankah kau masih lelah? Tidakkah > kau ingin > beristirahat dulu?" > "Tidak. Aku saat ini justru merasa sehat > sesehat-sehatnya. Aku telah > memutuskan untuk menciptakan masa lalu yang baru, > dengan menjalani > sepenuhnya hari ini dan hari-hari esok. Aku ingin > menyia-nyiakan satu hari > pun. Sebaliknya, aku akan mengisinya dengan melakukan > semua hal yang bisa > membahagiakanmu, Dian. Juga membahagiakan Mutia, Asty > dan Annisa. Kita > akan menjalaninya bersama-sama!" > Senyum Dian mengembang. Aku dapat merasakan > kebahagiaannya, sebagai > seorang istri yang suaminya telah "kembali." Ia > membuka pintu kamar, dan > memanggil anak-anak masuk. Kudengar sorakan gembira > Mutia, Asty dan > Annisa, ketika Dian memberitahu bahwa kami sekeluarga > akan pergi > bertamasya. Mereka pun menghambur dalam pelukanku. > "Papa! Papa! Ayo kita > berangkat sekarang! Ayo, Mama!" > Aku merasakan seolah-olah ruangan itu dipenuhi cahaya. > Cahaya lembut > yang damai. Cahaya di atas cahaya. Cahaya bening > dengan nuansa warna yang > tak pernah kulihat, dan tak pernah terbayangkan, > sekalipun di dalam > mimpi. Yang kurasakan sekarang hanyalah kedamaian. > Damai. Oh, kebahagiaan > yang sempurna > > *** > Kondisi Muhammad Yunus Kritis > > JAKARTA, KOMPAS - Kondisi Muhammad Yunus, Ketua > Serikat Karyawan PT. > Industri Nusantara, yang mengalami koma dan tak > sadarkan diri sejak dua > hari lalu, semakin kritis. Hal itu diungkapkan Dokter > Agus Riyadi, yang > merawat Yunus sejak masuk ke ruang ICU RS. Cipto > Mangunkusumo, dalam > temu pers di kantornya, kemarin. > Menurut Agus, Yunus bisa bertahan hidup berkat > dukungan alat-alat > kedokteran, yang memberikan oksigen dan nafas buatan. > Namun, jika alat-alat > itu dicabut, Yunus diperkirakan tak akan bisa > bertahan. "Itu dari segi > perhitungan medis. Namun, bagaimanapun juga, > hidup-mati di tangan > Allah. Kita tak boleh berhenti berusaha dan berdoa. > Semoga ada keajaiban," > sambungnya. > Namun, sumber-sumber di kalangan kedokteran > menyatakan, melihat > kondisinya tampaknya nyawa Yunus sulit diselamatkan. > Hal ini karena luka di > kepalanya, yang menyebabkan ia tak sadarkan diri, > sudah terlanjur parah. > Meski demikian, pihak RSCM terus mengupayakan berbagai > cara, untuk > memulihkan kondisi Yunus. > Kasus Yunus menjadi isu nasional, setelah terjadi > bentrokan berdarah > antara aparat keamanan dengan sekitar 8.000 karyawan > PTIN, yang berunjuk > rasa menolak PHK besar-besaran, yang ditetapkan secara > sepihak oleh > Direktur Utama PTIN, Mufthi Akbar. Unjuk rasa itu yang > damai itu berakhir > dengan bentrokan, diduga karena ulah preman atau > provokator yang > menyusup dalam demo karyawan. > Mereka melempari aparat dengan batu dan merusak aset > perusahaan. Aparat > pun melepaskan tembakan secara membabi-buta. > Akibatnya, 65 karyawan > luka-luka, 10 di antaranya cukup parah. Nabil > Basalamah, salah satu > pengurus Serikat Karyawan tewas tertembak. Sedangkan, > kepala Yunus luka parah > kena pukul popor senapan, dan ia langsung rubuh tak > sadarkan diri, > hingga saat ini. > Berbagai organisasi nonpemerinmtah, serikat pekerja, > dan LBH mengecam > cara pemerintah menangani masalah ini, yang dianggap > terlalu represif. > Menanggapi kritik itu, Kapolda Inspektur Jenderal > Polisi Gatot Triyanto > mengatakan, pihaknya akan mengusut tuntas kasus > bentrokan itu, dan akan > menghukum anak buahnya, jika terbukti bersalah. > Selama dua hari ini, berbondong-bondong, rekan kerja > di PTIN dan para > aktivis serikat pekerja menengok Yunus, yang masih > mengalami koma di > RSCM. Bahkan Menteri Tenaga Kerja, Ponco Wijaya, ikut > menjenguk ke rumah > sakit. Kepada para wartawan, Ponco berjanji akan > memperjuangkan nasib > karyawan PTIN dalam kasus ini. > Dalam temu pers, Dian Kencana Dewi, istri Yunus, > tampak masih sangat > terguncang. Matanya selalu berlinang. "Mas Yunus > membaktikan seluruh > tenaganya untuk membela nasib karyawan lain. Padahal, > hidup kami sendiri > sangat kekurangan. Namun, yang saya sedihkan bukan > soal materi. Saya > sedih, karena merasa gagal membahagiakannya. Ia sangat > ingin punya anak. > Namun, selama tujuh tahun perkawinan kami, kami belum > dikaruniai anak > seorang pun. Itulah keinginannya yang belum tercapai," > ujar Dian, yang > saat itu didampingi kakaknya, Wulan. > Budi Afriyan, sahabat Yunus yang juga aktivis serikat > karyawan, > menyatakan: "Yunus tak pernah setengah-setengah dalam > membela karyawan. > Sosoknya yang gigih memberi inspirasi pada seluruh > karyawan PTIN untuk terus > berjuang. Saya sempat menjenguknya di ruang ICU tadi > siang. Aneh, meski > kondisinya sangat kritis, wajahnya terlihat begitu > teduh dan damai. > Mulutnya bahkan seolah-olah tersenyum. Tapi, mungkin > ini hanya perasaan > saya saja." (arb) *** > > > > > > > > __________________________________ > Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 > http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

