** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=191341
Jumat, 30 Sept 2005,



Ketika Kiai Kehilangan Daya Humor
Oleh Jabir Alfaruqi *

Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kubu Alwi Shihab-Saifullah Yusuf, 1-2 
Oktober, merupakan serentetan ontran-ontran dan pertanda bahwa geger di 
republik partai para kiai itu masih berlanjut.

Berbicara tentang PKB hakikatnya berbicara tentang para kiai. Sebab, partai 
tersebut lahir, dibesarkan, dan dikomandoi para kiai. Saat partai itu dilanda 
konflik berkepanjangan seperti sekarang, juga kiai yang menjadi sorotan publik.

Salah satu keunikan dan daya tarik para kiai di mata orang luar komunitas itu 
adalah daya humornya yang cukup tinggi. Baik humor politik, sosial, maupun 
budaya. Jangan terburu salah sangka. Humor di sini bukan berarti tukang guyon 
atau ngelawak layaknya tukang lawak. Karena bukan pelawak, tingkah lakunya juga 
tidak mengesankan lucu atau suka membikin-bikin tentang sesuatu, sehingga 
pendengarnya terpingkal-pingkal.

Daya humor dipahami dalam konteks bahwa kiai selalu memiliki keunikan dalam 
mencari solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah pelik yang dihadapi umat 
manusia. Masalah-masalah besar yang muncul bisa diselesaikan dan dijelaskan 
dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna, serta simpel.

Penyelesaian masalah pun disampaikan dengan penuh kelakar, sederhana, atau 
bersahaja, jauh dari sifat-sifat formal, penuh kekeluargaan, dan menyejukkan. 
Pembicaraannya tidak hanya mencari kambing hitam siapa yang salah dan benar, 
siapa yang kalah dan menang, melainkan dikemas dalam bingkai kemaslahatan 
bersama.

Daya humor tersebut menjadikan orang di luar komunitas kiai menjadi enjoy dan 
senang bergumul setiap ada kesempatan. Gus Dur adalah figur yang paling 
produktif memoles daya humor di samping beberapa kiai lainnya.

Bahkan, Jaya Suprana (bos Jamu Jago) terpaksa setiap hari harus sowan ke tempat 
Gus Dur karena ingin mendengarkan humor-humor kelas tinggi yang diciptakannya. 
"Begitu saja kok repot" merupakan salah satu hak patennya saat menjadi orang 
nomor satu di negeri ini. 


Hilangnya Daya Humor

Daya humor yang begitu membantu menghidupkan suasana dalam setiap mendialogkan 
berbagai permasalahan pelik itu akhir-akhir ini mulai sirna atau hilang di 
kalangan para kiai. Gus Dur sebagai agen besar daya humor kini terkesan 
emosional dan kurang sabar.

Secara umum, para kiai kini terlihat cenderung latah, kering, dan kurang arif. 
Hilangnya daya humor tersebut disebabkan banyak hal.

Pertama, mayoritas kiai telanjur terlibat di panggung politik praktis. Asumsi 
awalnya, para kiai terlibat di dunia politik praktis untuk memberikan warna 
Islami dalam perumusan kebijakan pemerintah.

Namun, kenyataannya, kultur politik sulit diubah oleh para kiai, sebaliknya 
kultur para kiai diubah oleh politik praktis. Karena itu, yang sering muncul 
adalah urusan politik, bukan urusan agama atau lainnya. Ketika para kiai sudah 
masuk dalam pusaran konflik itu, lalu siapa yang bisa mengingatkan?

Kedua, dominasi politisi muda di PKB. Dalam berpolitik, mereka menggunakan 
pendekatan human inters. Para politisi muda yang ingin mencapai karir politik 
yang baik di kalangan PKB akan sulit meraihnya bila tidak bisa memperalat kiai. 

Dalam dunia politik ada makhluk yang bernama kue. Yang bisa memberikan gumpalan 
kue lebih besar akan bisa mendapatkan dukungan dan legitimasi.

Ketiga, terjebak pada kepentingan sesaat. Para kiai terlibat dalam dunia 
politik sebenarnya untuk melahirkan konsep-konsep politik religius yang 
memiliki jangkauan ke depan bagi kepentingan umat.

Cita-cita tersebut ternyata tidak bisa diwujudkan karena banyak yang tergoda 
untuk memenuhi hajat hidup sesaat. Cita-cita besar politik yang tentu 
membutuhkan kesabaran dan pengorbanan yang lebih besar menjadi proyek yang 
sia-sia.

Keempat, kurang mampu mengendalikan syahwat politik. Ketika era reformasi 
datang yang merupakan pertanda demokratisasi politik dibuka lebar-lebar, 
terlihat banyak kiai yang tidak mampu beristikamah pada maqam-nya (penuntun 
umat), tetapi mulai merambah dunia baru yang penuh rekayasa, manipulasi, dan 
kebohongan publik. Para kiai mulai lupa diri dan lupa pada tugas asasinya. Para 
kiai terkesan ribut berebut kursi jabatan.


Perang Urat Saraf

Hilangnya daya humor di kalangan para kiai ternyata menimbulkan banyak masalah 
dalam proses politik, kehidupan keagamaan, dan sosial sehari-hari.

Dampak-dampak tersebut, antara lain, pertama, seni mengelola konflik rendah dan 
cenderung destruktif. Komunikasi yang dibangun bersifat kaku dan kering dari 
makna religius. Ide-ide, wawasan, dan solusi-solusi yang muncul selalu jauh 
dari sikap tasamuh, tawasut, dan ta'dil.

Kedua, sikap rendah hati, mau mendengarkan pihak lain, dan saling menasihati 
serta saling memahami semakin luntur. Dari dua kubu yang berseberangan, mulai 
jarang kita dengar ucapan bahwa benar itu dari Allah dan salah dari saya yang 
menjadi ciri khas para kiai. Sebaliknya, yang sering kita dengar adalah yang 
benar itu kubu saya dan yang lain salah.

Ketiga, dalam menyelesaikan masalah dan mencari solusi, selalu digunakan 
pendekatan legal formal, didukung atau tidak didukung, suka atau tidak suka 
bukan lagi dijiwai ukhuwah, baik Islamiah, watoniah, maupun basyariah. Tradisi 
penuh canda dan tawa serta kelakar dan saling menyindir kian langka. 

Pernyataan-pernyataan, komentar, atau pendapat yang muncul layaknya perang urat 
saraf antardua kubu secara telanjang di depan publik.

Keempat, perilaku para kiai menjadi lelucon dan guyonan. Para kiai yang dulu 
suka membikin humor untuk menyindir dan mengkritik suasana yang terjadi di 
masyarakat yang tidak pas dengan harapan kini berbalik. 

Semua itu terjadi karena hilangnya daya humor para kiai ketika menghadapi 
masalah-masalah duniawi. Jika demikian adanya, mengapa kiai tidak kembali lagi 
ke format semula yang penuh daya humor, sederhana, penuh kekeluargaan, 
menyejukkan, dan mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok 
ketika format baru yang ditampilkan justru merugikan kepentingan yang lebih 
besar. Mengapa hanya masalah duniawi yang bisa merusak korps kiai yang begitu 
mulia dan agung?


* Jabir Alfaruqi, wakil ketua PW GP Ansor Jawa Tengah





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke