http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2005/10/9/opini.html

Semut pun Melawan
Iblis yang penuh semangat dan beraneka segi akan terus menggoda atau 
setidak-tidaknya mengganggu manusia, sehingga akan menciptakan kegelisahan 
dalam hidup manusia. Tanpa godaan serta bujukan iblis-iblis itu, perkembangan 
spiritual yang sebenarnya tidak akan tercapai.

("Tragedi Setan", Peter J. Awn)

-----------------

BOM kembali diledakkan di Jimbaran dan Kuta, 1 Oktober lalu. Padahal ingatan 
traumatik orang Bali, khususnya para korban yang terluka dan anggota keluarga 
korban yang tewas akibat perbuatan serupa 12 Oktober 2002 di Legian Kuta, masih 
melekat dan belum tersembuhkan. Bila pada peristiwa tiga tahun lalu itu 
kebanyakan korbannya orang asing, maka dalam pemboman kedua korbannya mayoritas 
warga negara Indonesia.

Satu hal yang membuat Rubag heran, pada tanggal yang sama ketika teror bom 
terjadi 1 Oktober malam, konon siang harinya peringatan Hari Kesaktian 
Pancasila dilaksanakan di Jakarta, dipimpin langsung Presiden RI, Susilo 
Bambang Yudhoyono. Ini membuktikan bahwa selain komunisme yang sudah almarhum, 
masih ada juga paham-paham lain yang berusaha terus merongrong prinsip dasar 
bangsa Indonesia yang bernama Pancasila itu.

Dua prinsip "Ketuhanan yang Maha Esa" dan "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" 
dari Weltanschauung yang dianggap keputusan final bangsa dan negara Indonesia 
digoyang ketahanannya, sehingga ketiga sila lain yang menyiratkan persatuan, 
demokrasi dan keadilan sosial ikut bergetar. Padahal, dalam proses amandemen 
yang berlangsung empat kali terhadap konstitusi, Pembukaan UUD 1945 yang 
dinafasi Pancasila, ternyata tidak diutak-utik sama sekali. Preambul itu 
dianggap "kontrak politik" yang melekatkan seluruh bangsa Indonesia yang 
heterogen dalam banyak hal ini.

***

''BALI is small but beautiful and very important! Jangan lantaran dia kecil, 
dianggap tidak berarti, lalu diinjak-injak terus," ujar Putu Lambot dengan 
bahasa "Indonenglish" dengan nada keras.

"Maksudmu?" tanya Rubag pura-pura bloon.

"Coba renungkan!  Apa yang tidak dilakukan Bali dan masyarakatnya untuk 
menunjang keutuhan NKRI ini? Bahkan, jauh sebelum merdeka, Bali telah melakukan 
tiga kali puputan, setelah kemerdekaan lagi sekali di Margarana.  Malah untuk 
membersihkan pulau ini dari komunisme, orang Bali rela 'melenyapkan' 
orang-orang sesukunya yang dicap PKI. Pariwisata Bali juga menyumbangkan banyak 
devisa sejak Orde Baru demi program pembangunan, meski jumlah itu berkurang 
paska Bom Legian, 12 Oktober 2002. Ironisnya, kok seperti orang yang terbangun 
dari tidur lelap, ada pejabat yang mengatakan bahwa tidak ada pendapatan yang 
masuk dari pariwisata Bali untuk pemerintah pusat. Aneh!" papar Lambot.

Orang Bali, tutur Lambot, berkarakter seperti semut. Mereka suka damai karena 
ajaran "tat twam asi" dari Hindu yang menganjurkan agar mereka hidup penuh 
toleransi -- memperlakukan setiap orang seperti menyayang diri sendiri.  Karena 
itu, kedatangan masyarakat luar ke Bali, terutama yang bersikap sopan dan tahu 
etika, disambut dengan penuh keramahtamahan. Sayang, tambah Lambot, tak semua 
orang yang diperlakukan baik, benar-benar datang ke Bali dengan niat baik serta 
berbuat seperti apa yang mereka ucapkan pada saat kedatangannya.

Di situlah nasib orang Bali akan menjadi sama dengan semut, yang terjebak oleh 
kata-kata dan janji manis, sehingga mati dalam kubangan gula seperti yang 
sering terlihat dalam toples. Seperti kata pepatah, ada gula ada semut, semut 
mati karena gula!" ulas Lambot, mengaitkan musibah teror bom yang dialami 
masyarakat Bali saat ini.

Berbeda dengan Belanda, menurut Lambot, yang datang ke Bali menjelang akhir 
abad ke-19 dan awal abad ke-20 dengan sikap arogan dan terang-terangan ingin 
menjajah, yang menyebabkan tiga kali perang puputan. Dalam ketiga puputan itu 
pun orang Bali bersikap seperti semut, yang kendati tahu diri lebih lemah, 
namun tetap melawan hingga titik darah penghabisan.  Makanya, ketiga puputan 
yang menyebabkan ribuan laskar Bali gugur secara ksatria, mencirikan bahwa 
orang Bali mengawali pemeo yang sering ditulis para pejuang di tembok-tembok 
saat revolusi kemerdekaan, "Kami cinta damai, tapi lebih cinta kemerdekaan!"

"Begitu pula sikap Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai sangat tegas dan jelas 
mendukung NKRI menjelang Puputan Margarana, 20 November 1946! Kalau saja beliau 
lebih cinta roti dan keju daripada kemerdekaan yang hanya menyediakan nasi 
cacah dan sela, tentu Ngurah Rai menerima bujukan overste NICA, Termeulen yang 
menawarkan kedudukan tinggi dalam negara boneka yang dibentuknya," komentar De 
O, kakak Lambot yang ikut nimbrung dalam pembicaraan.

"Bila para teroris memahami sejarah Bali, bukan hanya mendengar bisikan iblis, 
tentu mereka akan berpikir seratus kali sebelum ngebom Kuta dan Jimbaran. Dulu 
saja, banyak orang Bali mengorbankan nyawa demi kemerdekaan dan tegaknya NKRI, 
mengapa pengorbanan itu dibalas dengan bom?" tanya Rubag.

"Jelas, mereka sengaja mengabaikan sejarah karena otak mereka dipenuhi doktrin 
Jaringan Iblis yang berupaya keras menimbulkan kegelisahan dan rasa takut di 
kalangan manusia normal. Mereka tidak sadar bahwa kalau rasa takut dan gelisah 
mencapai klimaks, terjadi antiklimaks yang menghapus batas takut dan berani. 
Sebab, mereka sudah bosan untuk takut terus dan tempat untuk sembunyi pun 
langka. Sejarah keempat puputan di Bali juga merupakan wujud antiklimaks 
tersebut," tambah De O.

Ngurah Rai dengan 96 anggota pasukan Ciung Wanara-nya, tutur De O, memutuskan 
melawan pasukan NICA dengan persenjataan sangat minimal. Ajakan berunding oleh 
petinggi NICA ditolak Ngurah Rai. Bagi Ngurah Rai, lanjut De O, soal 
perundingan merupakan urusan pemerintah pusat di Jakarta, sedangkan kalau 
Belanda tetap bersikukuh untuk bercokol di Bali, seluruh rakyat siap menjadikan 
Bali sebagai belanga pertumpahan darah. Sebenarnya, semua pejuang ingin ikut 
menghadapi keangkaramurkaan penjajah Belanda itu, namun Ngurah Rai sadar akan 
kekuatan musuh dan yakin diri beserta pasukannya akan gugur, maka dipesan agar 
ada pejuang yang hidup untuk melanjutkan perjuangan demi cita-cita kemerdekaan.

"Luar biasa! Enam dasa warsa lalu, saat kebanyakan orang belum bisa membaca dan 
menulis, sudah ada orang seperti Ngurah Rai yang memiliki nasionalisme yang 
tebal dan siap berkorban demi tegaknya NKRI. Mengapa kesatuan dan persatuan itu 
dikoyak-koyak orang dengan bom? Mudah-mudahan semangat puputan bangkit di 
kalangan orang Bali, sehingga perang terhadap terorisme, khususnya yang 
bertujuan menenggelamkan Bali, bisa dimenangkan. Benar, Bali ini kecil, tapi 
tidak bisa diinjak-injak terus menerus, karena semut pun akan melawan sebelum 
mati," komentar Rubag.

* aridus


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke