sungguh ngeri membaca berita di bawah. berapa banyak lagi orang-orang seperti 
imam samudra yang pernah mencicip "pendidikan perang" di moro dan afghan?

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=5707

Minggu, 09 Okt 2005,


Bawa Bom dari Moro 
Pengakuan Warga Banten yang Dilatih di Mindanao


BANTEN - Sembilan warga Banten yang kini terus dipantau polisi terkait dengan 
bom Bali II betul-betul pernah dilatih di Mindanao, Filipina Selatan. Hadidi 
alias Abu Zahro, salah seorang di antara mereka, berterus terang pernah 
mengikuti latihan di Kamp Abu Bakar yang di dalamnya ada Kamp Hudaibiya. 

Kemarin, wartawan koran ini berhasil menemui Hadidi di rumahnya di Desa 
Pengarengan, Kedung Banteng Bojonegara, Serang. Rumah itu sangat sederhana. 
Temboknya tak diplester. Sehari-hari Hadidi menjadi kuli angkut batu di 
pegunungan kapur di desanya. 

Dia mengaku mengikuti pelatihan di Mindanao bersama delapan warga Banten 
lainnya. Mereka adalah Burhanudin alias Hapudin (Serang); Suganda alias Nasir 
(Menes, Pandeglang); Benny alias Abu Fani (Pandeglang); Saptono alias Abu Akmal 
(Sajira); dan Sumaryo(Lebak). 

Juga, Iwan Rois alias Abdul Fatah (Leburan, Pandeglang); Ofan alias Aditya 
Diniyah (Pandeglang); dan Rosikin alias Abu Abdullah alias Ihin (Petir, 
Serang). Di antara nama-nama itu, hanya Iwan Rois yang sudah ditangkap polisi 
karena terlibat peledakan bom di Kedubes Australia pada 9 September 2004.

Nama-nama tersebut telah ditulis Jawa Pos kemarin dan telah dicatat kepolisian. 
Kini mereka diawasi ketat. "Kami berangkat ke Filipina akhir 1999. Tapi, saat 
itu saya nggak mengerti. Saya seperti masuk dalam skenario Pak Djaja," 
ungkapnya. 

Yang dimaksudkan Pak Djaja itu adalah salah seorang pimpinan Pamswakarsa pada 
1998-an di Jakarta. Hadidi sempat bergabung dalam Pamswakarsa tersebut saat 
krisis moneter 1997. Ketika itu keadaan ekonomi keluarganya morat-marit. 

Djaja pula yang kemudian memperkenalkan Hadidi dengan Imam Samudra, terpidana 
bom Bali I. Namanya pun terseret pada setiap peristiwa peledakan bom. Hingga 
kini, Djaja masih dikejar polisi.

Hadidi merasa masuk dalam skenario karena awalnya dia hendak diberangkatkan 
untuk berjihad di Ambon. "Ternyata, dari Tanjung Priok, kami dibawa ke Bitung, 
Sulawesi Selatan, lalu diselundupkan ke Filipina Selatan," lanjutnya. 

Pengakuannya itu sekaligus mengklarifikasi keterangan yang disampaikan saudara 
sepupunya, Syaifullah, yang juga kepala Desa Pengarengan, Kedung Banteng, 
kemarin. Syaifullah mengatakan, Hadidi tidak pernah ke Filipina. Dia hanya ke 
Ambon. 

Hadidi berangkat bersama delapan warga Banten lainnya. Sementara itu, Djaja 
yang mengajak mereka justru tidak ikut. Rombongan bisa sampai di kamp Abu Bakar 
atas bantuan seorang pemandu kelahiran Sulawesi. 

Lelaki yang semasa mudanya aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) itu akhirnya 
berlatih sekitar satu bulan di Filipina. Dia mendapatkan serangkaian pelatihan 
bela diri tangan kosong dan memakai senjata serbu. "Tapi, tak ada pelatihan 
perakitan bom. Saya juga tak punya latar belakang merakit bom. Saya tidak bisa 
buat bom," tegasnya sambil menerangkan masa lalunya.

Kalau awalnya hendak berjihad di Ambon, lalu kenapa mau dibawa ke Filipina? 
"Saya telanjur meninggalkan keluarga. Saya sudah ikut mereka dan Pak Djaja 
banyak menolong saya," jawabnya. 

Kamp yang dipergunakan untuk latihan tersebut milik MILF (Moro Islamic 
Liberation Front). Ada beberapa nama lain yang sempat belajar di sana. Di 
antaranya, Yudi Lukito Kurniawan alias Ismail yang sempat ditahan polisi 
gara-gara menyimpan senjata api di Surabaya pada 2003 lalu. 

Di kamp Abu Bakar itu, ada sekitar 17 orang Indonesia yang lain dan kebanyakan 
dari Poso, Sulawesi. Dengan demikian, jumlah total 26 orang. Hadidi hanya 
mengenal beberapa instruktur. Antara lain, Abu Bakar, Benji, dan Toriq. 

Pelatihan itu dilakukan selama 25 hari. "Selama di sana, saya juga belum pernah 
berperang melawan tentara Filipina kecuali bantu-bantu patroli bersama 
gerilyawan Moro," ungkapnya.

Hadidi cs kemudian minta pulang ke Indonesia Februari 2000. Mereka dipulangkan 
dengan Kapal Perintis Daya Sakti, Februari 2000. Memang sejak 1999, dibuka 
jalur pelayaran Bitung, Sulawesi Utara, ke General Santos City di Filipina 
Selatan.

Dalam perjalanan, kapal yang mereka tumpangi sempat meledak. Ternyata, ledakan 
itu berasal dari bom yang mereka bawa. Bom dan senjata lain, seperti pistol, 
tersebut rupanya diselundupkan rekan Hadidi. Dia sendiri tak mengetahui 
penyelundupan senjata itu. 

Kapal tersebut akhirnya dirazia polisi saat bersandar di Sangihe-Talaud. Hadidi 
ikut diproses dengan tuduhan kepemilikan senjata dan penggunaannya. Yang juga 
sempat diproses adalah Burhanuddin dan Laode Agus Salim alias Mubarak asal 
Sulawesi Selatan. Beberapa rekannya yang lain lolos. 

Hadidi cs juga dituduh masuk ke Filipina tanpa dokumen resmi. Akhirnya, bapak 
enam orang anak itu divonis 8,5 bulan penjara di Lapas Tahuna, Sulawesi Utara. 
Setelah bebas pada November 2000, dia diterbangkan ke Jakarta.

Di Bandara Soekarno Hatta, dia dijemput Djaja. Merasa kapok berhubungan dengan 
Djaja, Hadidi pun menghindar. Dia ingin bergaul kembali dengan masyarakat 
secara wajar. Namun, tak lama kemudian, pada awal 2001, mereka rujuk. Hadidi 
merasa tak kuasa menahan bujukan Djaja supaya bergabung kembali dengan dirinya. 

Dia pun diajak Djaja ke Ciceri, Serang, bersama dengan Iwan, Suganda, dan dua 
orang lainnya yang Hadidi sudah lupa namanya. Dari Ciceri, mereka kemudian 
menuju RM Sari Kuring, Cilegon. Di situlah, untuk kali pertama, Hadidi 
diperkenalkan Djaja dengan Imam Samudra. Seingat Hadidi, saat itu, Imam banyak 
berbicara soal kerusuhan Sampit dan Ambon. 

Dari rumah makan, mereka diajak ke sebuah warnet di Cilegon. Imam mengajari 
cara menggunakan internet dan berhubungan dengan email. Imam memang dikenal 
jago urusan internet. "Setelah itu, saya tidak pernah bertemu dengan Imam 
Samudra. Tuduhan bahwa saya pernah satu angkatan di Filipina dan dititipi uang 
Rp 15 juta oleh Imam dalam bom Bali I juga tidak benar," bebernya. Setelah itu, 
Hadidi tak pernah mengikuti pertemuan selanjutnya. "Saya takut," akunya.

Karena mempunyai sejarah masa lalu dengan Imam dan pengalaman di Moro itulah, 
Hadidi selalu didatangi polisi setiap ada bom meledak. Dia mengaku trauma dan 
jantungnya berdebar keras saat bom meledak. "Selama ini, saya juga tak pernah 
dengar apa itu Jamaah Islamiyah," katanya.

Selama diperiksa polisi, akunya, dia selalu diperlakukan dengan baik. Dia tak 
pernah dipukuli. Terkait dengan bom Bali II, dia pun sempat diperiksa polisi. 
Pemeriksaan dilakukan di rumah Syaifullah pada Jumat malam. 

Selain ditanya aktivitasnya, dia disodori foto tiga wajah pengebom bunuh diri. 
Hadidi mengaku tidak kenal mereka. Bahkan, dia tidak mengetahui peristiwa 1 
Oktober itu.

Untuk menguatkan bahwa dirinya tidak terlibat bom Bali II, Hadidi kemarin 
membacakan surat pernyataan di depan wartawan. Intinya, aksi itu dilakukan 
orang yang biadab. Dia mengutuk peristiwa itu. "Ini tindakan hawa nafsu yang 
kejam yang tidak mengenal perikemanusiaan dan kasih sayang sesama manusia. 
Tidak ada agama yang mengajarkan kekejian begini," ujarnya dengan tangis 
tertahan. Dia juga menyatakan perang terhadap aksi semacam itu.

Lalu, apakah eks didikan Moro tidak mungkin terlibat aksi semacam itu? "Saya 
mengenal orang-orang seperti Burhan, Maryo, Suganda, dan Ihin. Mereka 
orang-orang yang lembut. Rasanya, tidak mungkin mereka melakukannya, tapi saya 
ya nggak tahu selebihnya. Saya tidak berhubungan dengan mereka," jawabnya. (naz)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS 
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn Indonesian 
language course 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------




                
---------------------------------
 Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a difference. Find and fund world-changing projects at GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/j2WM0C/PbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke