semoga semua pengurus dan pengelola RSPI mati terkutuk dech.......
trúlÿsøúl <[EMAIL PROTECTED]> wrote:(begitu banyak kepedihan di tanah airku..,
harus berapa banyak lagikah??)
Jenazah Ilyas Hanya Dibungkus Plastik
Meninggalnya pasien suspect flu burung, Ilyas Karim (1 tahun 8 bulan),
meninggalkan duka yang menyayat bagi pasangan Abdul Rosyid (37 tahun) dan Siti
Maemunah (35 tahun). Begitu putra keduanya itu meninggal Rabu (5/10) pukul
21.05 WIB, pasangan tersebut langsung ditagih uang Rp 1,4 juta. Jumlah tersebut
adalah jumlah yang sangat besar bagi mereka.
Biaya sebesar itu ditagih pihak Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti
Saroso untuk perawatan jenazah Ilyas dan pembelian peti. Setelah meminjam ke
tetangga, Abdul Rosyid yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek sepeda itu
berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 450 ribu. Uang itu lantas dibayarkan ke
RSPI.
Karena biaya yang diserahkan keluarga pasien tak sesuai permintaan, maka
pengurusan jenazah Ilyas pun tidak tuntas. Setelah dimandikan dan dikafani,
jenazah bayi mungil itu lalu dibungkus plastik. Tak ada peti mati yang
disediakan untuknya. Perlakuan ini jelas berbeda dengan pasien suspect flu
burung lainnya yang selalu keluar dari rumah sakit dengan berbungkus peti yang
dilem tutupnya.
''Saya cuma orang miskin, tapi mereka tetap tega meminta uang. Padahal, setahu
saya, karena anak saya diduga terkena flu burung, pengobatan dan pengurusan
jenazah di sini gratis,'' ujar Abdul Rosyid. Hanya dengan dibungkus plastik
putih, jenazah Ilyas kemudian disemayamkan di rumah kakek almarhum di Jl Metros
Kebon Baru No 21, RT 14/10, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara.
Kesedihan yang mendalam terlihat jelas dari raut muka kedua orang tua almarhum.
''Istri saya tidak bisa diwawancara, ia agak terganggu jiwanya karena menangisi
meninggalnya anak kami,'' ungkap Abdul Rosyid. Kamis (6/10), jenazah tersebut
dimakamkan. Hingga sekitar pukul 10.13 WIB, hanya tampak enam orang anggota
keluarga yang menshalati jenazah almarhum. Banyak tetangga yang khawatir
tertular, karena almarhum adalah pasien suspect flu burung. Lima menit usai
dishalati, kakek almarhum langsung menggendong jenazah dengan kedua tangannya.
Jenazah kemudian dibawa ke mobil ambulans untuk diantar ke pemakaman umum Budhi
Jaya, Semper, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah duka. Saat
pemakaman berlangsung, tak tampak satupun petugas dari Sudin Kesehatan Masyarat
(Kesmas) Pemkot Jakarta Utara atau Dinkes Pemprov DKI Jakarta.
Meski tidak diperbolehkan, pihak keluarga kemudian membuka plastik yang
membungkus jenazah dan membuka kain kafan pada bagian muka jenazah. ''Buka dan
buang saja kantong plastiknya. Terus, buka kafan yang menutupi mukanya untuk
dihadapkan ke kiblat,'' teriak Abdul Rosyid kepada dua warga yang memindahkan
jenazah ke dalam pusara.
Plastik warna putih yang membungkus jenazah pun dibuang ke luar pusara, sekitar
dua meter jauhnya. Tampak wajah memucat bayi mungil berusia 20 bulan tersebut.
Jenazah lalu dimiringkan menghadap kiblat dan ditutup lima papan berukuran 20 x
30 centimeter. Sekitar pukul 11.15 WIB, keluarga almarhum dan rombongan pulang.
Abdul Rosyid mengaku mengetahui bahwa putranya meninggal dunia itu dari seorang
perawat ICU yang menemuinya. Pada pukul 22.30 WIB, petugas kamar jenazah,
Sunjaya, mendatanginya dan memintanya untuk datang ke kantor kamar jenazah.
''Ketika di kantornya, saya kaget sekali dia meminta saya membayar Rp 1,4 juta
untuk mengurusi jenazah anak saya. Kata dia ini sudah ketetapan RSPI,''
katanya.
Sunjaya, kata Rosyid, menjelaskan uang itu akan dipergunakan untuk membayar
biaya memandikan, mengafani, dan membungkus dengan plastik sebesar Rp 500 ribu,
dan biaya peti jenazah sebesar Rp 900 ribu. Ia telah menjelaskan kepada Sunjaya
sambil menangis bahwa ia adalah keluarga miskin, tapi petugas tersebut tetap
memintanya membayar.
Ditemui secara terpisah, Sunjaya mengakui telah meminta keluarga almarhum
membayar uang sejumlah Rp 1,4 juta untuk biaya pengurusan dan peti jenazah. Hal
itu, kata dia, karena pihak RSPI hanya menggratiskan biaya perawatan dan
pengobatan pasien suspect flu burung.
Namun ternyata sebagian perawatan Ilyas tidak gratis. RSPI sempat meminta
keluarga pasien membayar biaya pengobatan pada hari pertama dan kedua perawatan
bayi mereka. Hal ini karena pihak RSPI menilai bayi tersebut sebagai pasien
biasa. Padahal, bayi tersebut dirujuk oleh Puskesmas Jonggol, Bogor, pada Sabtu
(2/10) karena diduga terinfeksi flu burung.
Ketika diterima pihak RSPI, bayi ini ditempatkan di ruang perawatan Melati
sebagai pasien biasa. Bayi ini baru dipindahkan ke ruang isolasi Cempaka pada
Ahad (3/10) karena diduga terkena flu burung. Beberapa jam kemudian, karena
kondisinya memburuk, bayi ini terpaksa dipindahkan ke ruang ICU hingga
meninggal dunia pada Rabu, (5/10). Selain itu, ketika dirawat di ICU, RSPI juga
menanyakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Karena tidak punya, Rosyid
akhirnya mengurus surat tersebut di RT setempat agar mendapatkan perawatan
gratis.
Selama ini, almarhum dan ibunya tinggal di Desa Babakan Raden, Kp Tegal
Benteng, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Sedangkan ayah almarhum tinggal di
Semper beserta kakek almarhum karena bekerja sebagai tukang ojek sepeda di
Semper. Berdasar data yang diperoleh Republika, total biaya pengobatan yang
dibayar keluarga pasien adalah Rp 455.900.
Kepala Bidang Informasi dan Surveillance Tim KLB Flu Burung RSPI, dr Ilham
Patu, menyatakan belum dapat berkomentar. Namun, ia membenarkan pihak RSPI
bertangung jawab untuk membebaskan biaya perawatan dan pengobatan bagi seluruh
pasien suspect flu burung. ''Jika pasien itu meninggal, maka kami menggratiskan
hingga layanan memandikan, mengafani, dan membungkus jenazah dengan plastik
khusus. Sedangkan, petinya harus dibayar keluarga pasien,'' ungkapnya.
Ilham berjanji akan menyelidiki permintaan bea pengurusan jenazah tersebut. Ia
juga menyatakan akan mengembalikan sejumlah uang yang telah dibayarkan keluarga
pasien dalam masa perawatan dalam waktu dekat.
---------------------------------
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn Indonesian
language course
---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS
Visit your group "ppiindia" on the web.
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
---------------------------------
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/