http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/09/persona/2109854.htm

Kompas Minggu, 09 Oktober 2005     
ASAL USUL

MILITAN

Ariel Heryanto

Militansi tidak sama dengan militerisme. Tapi banyak persamaan dan 
kaitannya. Seperti juga premanisme, keduanya berkembang-biak di berbagai 
wilayah perang. Juga di negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin yang 
pernah dikuasai oleh pemerintahan militer.

Mengatasnamakan agama sebagian militan menyerang pusat keramaian publik 
sekuler yang dianggap musuh atau maksiat walau tak ada perang. Di tempat 
lain militansi mendorong ribuan orang untuk menyerang rekan sebangsa 
setanah air gara-gara perbedaan agama.

Seperti pasukan tempur dalam perang, kaum militan dilatih, disenjatai, 
dan dihormati untuk menghancurkan musuh tanpa pertimbangan moral 
universal, penalaran secara kritis, atau solidaritas kemanusiaan global. 
Semua nilai yang disucikan Pancasila itu dianggap beban kecengengan yang 
harus dibersihkan dalam batin militan selama mereka dilatih.

Militanisme tidak baru dalam sejarah bangsa kita. Dan jelas bukan 
monopoli prajurit atau kaum beragama. Bulan lalu Jakarta terusik 
pendukung kesebelasan sepak bola dari daerah yang dibilang bonek (bondo 
nekat, istilah Jawa artinya bermodal nekat atau asal nekat). Kaum bonek 
berwatak militan dalam membela tim kesayangannya. Gara-gara mereka 
sekuler, miskin, dan dari kelas bawah, mereka tidak digubris kaum 
militan parlente.

Tapi ada kaum militan lain yang lebih dahsyat dalam sejarah Indonesia, 
bukan berasal dari militer maupun kelompok agama: yakni kaum komunis. 
Setengah abad lalu, komunis merupakan musuh bersama militer dan militan 
agama di Indonesia. Ironisnya, musuh bersama ini juga rekan 
sebangsa-setanah air, bahkan rekan seperjuangan kemerdekaan pada dekade 
sebelumnya.

Soal itu sudah banyak diketahui khalayak. Yang jarang mereka ketahui: di 
masa jayanya, Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis 
terbesar di dunia di luar Republik Rakyat China dan Uni Soviet. Waktu 
itu lebih dari separuh umat manusia hidup di bawah pemerintahan negara 
yang resminya berasaskan komunisme atau sosialisme. Selama abad ke-20 
tidak ada isme lain yang sehebat itu. Aneh kalau ada mahasiswa masa kini 
yang belajar tentang sejarah masyarakat abad ke-20 tetapi tidak diberi 
kuliah tentang Marxisme atau Komunisme. Mereka sama malangnya dengan 
mahasiswa yang belajar Indonesia tanpa diajar tentang militerisme dan 
militanisme.

Seperti kelompok militer dan agama, kalangan komunis punya pendukung 
militan, selain yang sudah dicerahkan (atau "tercemar" tergantung 
menurut siapa) watak intelektual, nasionalis, atau humanis.

Sejak rontoknya Orde Baru, terjadi kekerasan swasta terhadap orang, 
tempat, dan lambang-lambang yang berkait dengan kejayaan Amerika 
Serikat, liberalisme dan kapitalisme dunia. Ada kelab malam, pusat judi, 
bar atau karaoke yang diobrak-abrik. Bahkan dibom. Ada hotel 
di-sweeping, ada sekolah atau media massa diancam atas nama agama juga.

Agar orang tidak keburu mencurigai agama yang dibela kaum militan ini, 
ada baiknya kita ingat bahwa tindakan seperti itu sudah dikerjakan 
militan komunis Indonesia di tahun 1960-an. Seperti yang terjadi 
belakangan, setengah abad lalu Kedutaan Besar Amerika juga diserbu 
demonstrasi dan bendera Amerika Serikat mereka bakar di jalan.

Pada dekade 1960-an militan agama bersekutu dengan militer dan Amerika 
Serikat untuk membantai komunisme. Ironisnya, setengah abad kemudian 
kaum militan agama meneruskan militanisme komunis dalam menghujat 
imperialisme Amerika dan kapitalisme dunia. Caranya pun tidak jauh 
berbeda. Andaikan komunis tidak dibantai, barangkali hari ini pun mereka 
sering demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Inggris, 
atau Australia. Juga menyerang klub malam, perjudian atau pornografi.

Bagi sebagian pendukungnya, komunisme juga semacam agama. Perjuangan 
mereka disucikan. Seperti militan agama resmi, mereka tidak toleran pada 
kelompok yang tidak sealiran, walau seagama. Karena itu sesama militan 
sering bentrok.

Jadi radikalisme belakangan ini mungkin tidak perlu dikaji semata-mata 
sebagai kebangkitan agama tertentu. Mungkin lebih tepat ini dipahami 
sebagai kebangkitan kembali militanisme, premanisme, bonekisme yang 
sudah berabad-abad usianya di Nusantara. Cuma slogan dan bajunya berganti.

Hari-hari ini militanisme itu berbaju agama. Bulan lalu bajunya pakai 
logo tim sepak bola. Beberapa dekade lalu berbaju loreng. Setengah abad 
lalu bajunya komunis dan antiagama. Hakikat mereka tidak banyak beda. 
Gara-gara beda baju, sesama militan siap berbaku-bunuh.

Jangan-jangan itulah sebagian (untung hanya sebagian) dari watak dan 
jatidiri bangsa kita. Resminya Pancasila punya lima pokok yang serba 
bagus dan mulia. Tapi dalam kenyataan hidup sehari-hari militanisme dan 
bonek menjadi sila pertama, kedua atau ketiga.

Korupsi ada di semua negara. Yang menakjubkan banyak orang asing: 
korupsi di Indonesia sejak Orde Baru adalah skalanya, blak-blakannya, 
nekadnya. Ikut pemilu dan masuk parlemen jelas butuh kenekatan tertentu, 
di samping modal koneksi. Misalnya nekat memalsukan ijazah. Sesudah 
masuk parlemen, perlu nekat ikut studi-banding ke pusat-pusat 
konsumerisme dunia, biar rakyat memaki-maki. Apalagi dalam soal kenaikan 
gaji.

Naik pesawat terbang butuh kenekatan tertentu. Bukan saja banyak 
kecelakaan pesawat. Paling sedikit satu warga negara terbaik kita yang 
dibunuh secara terencana rapi ketika diberi hidangan di dalam 
penerbangan. Mungkin dia bukan satu-satunya korban.

Naik taksi di Jakarta, khususnya bagi perempuan, membutuhkan kenekatan 
ala bonek. Tanpa keberanian gila, sulit bagi seorang pejalan kaki untuk 
menyeberang jalan di kota-kota besar Indonesia walau menggunakan jalur 
penyeberangan bergaris zebra. Perlu nekat untuk sembahyang bagi sebagian 
minoritas di Jakarta. Perlu nekat bagi yang lain untuk cari nafkah. 
Perlu nekat untuk cari kerja dan sekolah.

Untung Indonesia juga punya watak-watak lain yang patut dibanggakan dan 
layak diharapkan melawan gejala itu. Melawan semua itu juga dibutuhkan 
keberanian. Ini berbeda dari militansi dan asal nekat.



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke