Sepertinya teriak2 percuma deh mas Irwan.
Pemerintah tidak akan mendengarkan.
Jika dengar juga, harga BBM tidak akan diturunkan...:)

--- irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Adakah penyesalan dari pihak yang pro kenaikan BBM?
> Atau orang" miskin itu harus menjadi tumbal
> selamatnya APBN dari 'defisit'?
> Semalam lihat ceramah Aa Gym, soal orang dengki..
> Jadi pengen nanya, apakah orang yang tidak mendukung
> keputusan
> pemerintah termasuk orang yang dengki?
> 
> Karena kata dia, orang yang dengki tidak pernah
> tenang hidupnya..
> selalu melihat sesuatu dengan sudut pandang negatif.
> Tapi bukankah penolakan keputusan yang tidak
> berpihak kepada publik
> (baca: lebih condong kepada pengusaha dan asing)
> merupakan salah
> satu upaya membela publik; khususnya yang lemah dan
> terabaikan?
> 
> Wallahu a'lam.. CMIIW..
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 
> -----------
> http://www.kompas.com/metro/news/0510/12/091724.htm
> 
> Makan Dua Hari sekali
> 
> Keluarga Idup (44), warga Kampung Sewan Bedeng RT
> 01/02, Kelurahan
> Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang,
> terpaksa harus makan dua
> hari sekali. Untuk mengirit minyak tanah, keluarga
> itu minum air mentah.
> 
> Kesengsaraan keluarga dengan empat anak itu semakin
> terasa setelah harga BBM
> naik. Penghasilan Idup sebagai kuli angkut pasir
> kian terpuruk, begitu pula
> istrinya Selih (32) yang bekerja sebagai buruh
> cuci.Sebelum harga BBM naik,
> keluarga itu masih bisa makan sehari sekali dan Idup
> masih bisa ngopi dua
> kali. "Sekarang sudah tak bisa lagi. Dengan uang Rp
> 3.000 sudah tidak bisa
> membeli apa-apa lagi," ujar Idup meratapi nasibnya..
> Ia pun menuding
> pemerintah buta dan tuli. Menurutnya, para penggede
> tak peduli terhadap
> kehidupan orang-orang seperti dirinya yang jumlahnya
> jutaan.
> 
> Idup dan keluarganya tinggal di Kampung Sewan Bedeng
> RT 01/02, kampung kumuh
> di bantaran Kali Cisadane, tak jauh dari pintu
> irigasi Pintu Air X. Kampung
> itu dipadati rumah gubuk yang ditempati para kuli
> angkut pasir dan buruh
> cuci. Seperti kebanyakan rumah gubuk di kampung itu,
> rumah Idup juga tak
> berjendela. Udara segar hanya bisa masuk dari
> sela-sela anyaman dinding
> gedek. Gubuk berukuran 3 m x 3 m yang disewa Rp
> 50.000 per bulan itu pun
> hanya punya satu ruangan yang difungsikan sebagai
> ruang tamu, kamar tidur,
> dan dapur sekaligus.
> 
> Pasangan Idup dan Selih memiliki empat orang anak.
> Anak pertama dan kedua,
> Gustiawan (15) dan Yuliana (13), terpaksa berhenti
> sekolah di kelas IV SD.
> Keduanya kini dititipkan kepada neneknya, lantaran
> Idup dan Selih tak
> sanggup memberi makan. Hanya dua anak yang tinggal
> bersama mereka, yakni
> anak ketiga Julendra (11) yang duduk di kelas V SD
> dan anak keempat Faisal
> (3).
> 
> "Julendra juga terancam berhenti sekolah, karena
> sejak bulan Juni sampai
> Oktober dia belum bayar SPP. Bagaimana kami bisa
> bayar uang sekolah yang
> sebulan Rp 5.000, kalau makan aja susahnya bukan
> main," kata Selih.
> 
> Ketika Warta Kota menyambangi rumah kecil berdinding
> gedek dan beratap
> anyaman daun kelapa itu, kemarin, Idup bertelanjang
> dada duduk murung
> menatap anak laki-lakinya Faisal asyik melahap nasi
> putih tanpa lauk.
> Sesekali tangan Idup menuangkan air putih ke piring
> plastik bocah itu agar
> nasinya tidak menggumpal.
> 
> Di belakang kedua orang itu, Selih duduk bersandar
> lemari kayu usang sambil
> mengurut kedua kakinya. Mata perempuan itu terus
> menatap ayunan tangan si
> bocah menyuapkan nasi ke mulutnya.
> 
> Belum habis nasi di piring Faisal, tiba-tiba
> kakaknya Julendra menyeruak
> masuk. Tanpa bicara apa-apa, si kakak merebut piring
> plastik di depan
> adiknya.. Piring itu dibawanya menjauh ke sudut
> ruangan. Setelah sejenak
> melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa ragu Julendra
> menyuap nasi yang tinggal
> setengah itu ke mulutnya.
> 
> Melihat piringnya direbut, Faisal tak bereaksi
> apa-apa. Dia bangkit dan
> menjangkau gelas di belakangnya. Ia lalu mengisi
> gelas dengan air yang
> diambil dari dalam ember plastik warna hitam. Usai
> menenggak habis isi
> gelas, bocah itu berbaring di atas kasur tipis yang
> dibentangkan di lantai
> semen. Bau tak sedap merebak dari setumpuk kain
> gombal yang dijadikan alas
> kepala si bocah.
> 
> "Iya begini deh. Saya dan bapaknya anak-anak
> mengalah nggak makan hari ini.
> Habis nasinya nggak cukup buat berempat. Biar aja
> anak-anak duluan yang
> makan. Kalau saya dan bapaknya masih kuat nggak
> makan sampai besok," ujar
> Selih disusul anggukan lemas suaminya Idup.
> 
> Kompor nganggur
> 
> Sebagai buruh cuci, Selih mengaku tak bisa berbuat
> banyak. Penghasilannya
> yang cuma Rp 30.000 setiap bulan, tak pernah cukup
> untuk sekadar hidup
> layak.. Sementara penghasilan Idup yang jadi kuli
> angkut pasir pun tak
> jelas. Sekali menurunkan pasir, ia dibayar Rp 3.000.
> Jika banyak orderan,
> Idup paling banter bawa pulang uang Rp 9.000. Tapi
> Idup lebih banyak
> menganggur.
> 
> "Sebelum BBM naik, kami sekeluarga hanya makan
> sehari sekali dengan nasi
> putih dan kerupuk. Sesekali pakai tempe juga.
> Bapaknya anak-anak juga masih
> bisa ngopi paling nggak dua kali sehari. Tapi
> sekarang, saya dan bapaknya
> anak- anak kadang baru makan dua hari sekali. Ngopi
> juga kalau ada orang
> yang ngasih. Kalau anak-anak sih kami belain makan
> sekali sehari. Nasi putih
> aja. Lauknya seketemunya. Biar nggak kering, nasinya
> dicampur air," ujar
> Selih.
> 
> Idup lalu meneruskan cerita kelam hidup keluarganya.
> Sambil menunjuk kompor
> minyak tanah usang yang tergolek di sudut ruangan,
> ia berkata, "Kompor itu
> udah lama nggak nyala. Saya nggak kuat beli minyak
> tanah karena harganya
> naik terus. Sekarang aja satu liter Rp 2. 900. Sama
> harganya dengan upah
> saya sekali nurunin pasir."
> 
> Kalau pun ada uang, lanjut Selih, ia dan suaminya
> hanya mampu membeli
> setengah liter minyak tanah yang digunakan untuk
> menanak nasi. "Saya cuma
> berani menggunakan minyak tanah untuk masak nasi.
> Agar mengirit minyak
> tanah, kami nggak pernah masak air minum. Kalau mau
> minum, ambil saja air di
> sumur pakai ember. Anak-anak saya juga biasa minum
> air mentah. Kata mereka
> lebih enak, rasanya adem. Syukurnya sih mereka nggak
> pernah sakit," kata
> Selih.
> 
> Selih dan Idup kemudian terdiam. Mata mereka
> menerawang ke langit-langit
> rumbia yang jika hujan pasti bocor di sana-sini.
> "Saya dari dulu mau pindah
> kontrakan. Tapi uangnya nggak ada. Tinggal di sini
> susah banget. Kami tidur
> berempat berdesak-desakan di atas satu kasur. Kadang
> kepala saya mentok ke
> kompor. Kalau nggak kaki saya harus dilipat
> semalaman. Belum lagi kalau
> hujan, atap pasti bocor. Tidur terpaksa harus
> gantian, karena kasurnya
> kebasahan," kata Idup.
> 
> Pasangan suami istri itu lalu menanyakan dana
> kompensasi BBM. "Katanya ada
> bantuan dari pemerintah buat orang miskin. Kok
> sampai sekarang kami nggak
> kebagian. Boro-boro dapat duit, didata saja nggak.
> Bagaimana nih Pak
> Walikota, kok yang miskin makin tambah miskin aja,"
> kata Selih lirih. (Has)
> 
> 
> Sumber: warkot
> Penulis: Nik
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]


                
__________________________________ 
Start your day with Yahoo! - Make it your home page! 
http://www.yahoo.com/r/hs


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke