Adakah orang Freedom maupun LPEM UI yang membaca berita ini?

At 10:40 PM 10/12/2005 +0200, you wrote:
><http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/11/nas07.htm>http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/11/nas07.htm
>
>Pilu Nelayan akibat Kenaikan Harga BBM (1)
>Frustrasi, Pilih Bakar Diri
>
>       BERSAMA KAKEK: Fatmawati, bocah berusia 3 tahun 5 bulan terlihat 
> memelas. Dia ditemani kakeknya di rumah bambu milik orang tuanya di Desa 
> Kedungmalang RT 3 RW 1, Kecamatan Kedung, Jepara. Ibu bocah itu meninggal 
> dengan cara membakar diri awal September lalu, gara-gara kondisi ekonomi 
> keluarga yang semakin memburuk akibat kelangkaan dan kenaikan harga BBM. 
> (57m) SM/Muhammadun Sanomae
>
>Langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), perlahan 
>namun pasti ''membunuh'' jutaan nelayan di berbagai daerah. Defisit 
>penghasilan dibanding dengan biaya operasional yang tinggi, menjadi 
>jeritan utama mereka. Bahkan di Jepara, kenaikan harga BBM telah membawa 
>petaka bagi keluarga nelayan. Salah satu anggota keluarga nekat membakar 
>diri karena rasa frustrasi yang akut. Berikut laporan wartawan Suara 
>Merdeka yang diturunkan mulai hari ini.
>
>SPONTAN Sumulyadi (65) tidak kuasa menahan air mata saat menceritakan 
>kisah menantunya yang meninggal dunia pertengahan September 2005 lalu. 
>Siti Aisyah (27) warga RT 3 RW 1 Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, 
>Kabupaten Jepara meninggal dunia setelah membakar diri, awal September lalu.
>
>Sementara itu, sekujur tubuh Zubaidi (31), suami Aisyah, ikut terbakar 
>ketika berusaha menyelamatkan istrinya. Hingga Senin (10/10), Zubaidi 
>dirawat di rumah saudara di Dukuh Babalan, Desa Kalirejo, Kecamatan 
>Undaan, Kabupaten Kudus.
>
>Sumulyadi tidak bisa menjelaskan secara rinci kejadian nahas yang menimpa 
>keluarganya itu. Najib (14), cucu Sumulyadi menceritakan kejadian yang 
>tidak banyak tercium publik, selain di desa itu. Sebab, kejadian itu baru 
>mencuat saat ratusan nelayan Desa Kedungmalang melakukan aksi unjuk rasa 
>menentang kenaikan harga BBM di gedung DPRD Jepara, Jumat (7/10) lalu.
>
>Kepada Suara Merdeka, Najib bertutur bahwa awal September lalu terjadi 
>kelangkaan minyak tanah luar biasa di sekitar kawasan desa yang sebagian 
>besar penduduknya bekerja sebagai nelayan. Sebagaimana istri nelayan yang 
>lain, siang itu Aisyah ''ditugaskan'' suaminya (Zubaidi) antre minyak 
>tanah untuk kebutuhan melaut esok hari. Karena langka, dia tidak 
>memperoleh minyak tanah setetes pun dari pedagang pangkalan maupun eceran.
>
>Petang hari, Zubaidi baru saja pulang melaut dengan menggunakan perahu 
>sopek kecil miliknya. ''Saat itu, dia (Zubaidi) tidak memperoleh hasil 
>apa-apa, kecuali rugi,'' kata Najib. Tidak ada tetangga yang tahu kejadian 
>itu karena semua berangkat pengajian. Entah apa isi dialog antara Zubaidi 
>dan istri. Pasangan itu bertengkar atas kesulitan yang terjadi. Menurut 
>Najib mengutip penuturan Zubaidi, saat itu Aisayah yang pikirannya sudah 
>"sumpek", menyiram tubuhnya dengan minyak tanah sisa kompor masak. Wanita 
>itu langsung membakar diri, sedangkan suami berusaha memadamkan kobaran 
>api yang membakar pakaian istrinya. Namun apa mau dikata, pasangan itu 
>sama-sama terbakar.
>
>Warga pun langsung membawa Aisyah yang sekujur tubuhnya terbakar, ke Rumah 
>Sakit Islam Kudus. Karena parah, wanita itu dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi 
>Semarang. Namun setelah dua pekan menjalani perawatan, Aisyah meninggal 
>dunia. Ia meninggalkan putrinya, Fatmawati yang masih 3 tahun 5 bulan.
>
>Sementara itu, Zubaidi yang beberapa hari juga dirawat di Rumah Sakit 
>Islam (RSI) Kudus -karena tidak punya uang untuk pengobatan-, dipindah ke 
>rumah saudaranya di Dukuh Babalan Kecamatan Undaan Kudus. Saat ini, dia 
>memulihkan diri sambil memperoleh perawatan dari tenaga kesehatan desa.
>
>Saat ini, Fatmawati tinggal bersama kakeknya, Sumulyadi di Desa 
>Kedungmalang. Lelaki tua itu menempati sebuah rumah bambu yang 
>bersebelahan dengan rumah bambu milik Zubaidi. Sangat memprihatinkan 
>kondisi rumah Zubaidi. Selain sempit, rumah itu hanya berlantaikan tanah 
>dan berdinding bambu. Keluarga itu hanya memiliki perabot dua kursi 
>plastik, satu meja tua, dan sebuah dipan kayu tak beralas. Pintu rumah itu 
>pun hanya jeruji bagai penjara tetapi terbuat dari bambu.
>
>''Perahu dan mesin milik Zubaidi sudah terjual. Uangnya habis untuk biaya 
>perawatan di rumah sakit. Bahkan, 18 hari perawatan di Desa Babalan belum 
>terbayar,'' tutur Sumulyadi yang terus tersedu-sedu. Perahu dan mesin itu 
>dijual Rp 5,6 juta. Padahal perawatan menghabiskan dana Rp 7.600.000. 
>Sumulyadi terpaksa menjual kayu-kayu seadanya untuk menutup biaya 
>pengobatan. ''Saat dirawat di RSI Kudus, anak dan menantu, termasuk 
>keluarga kami yang menunggui diberi makan orang lain,'' tuturnya terbata-bata.
>
>Sumulyadi yang tidak punya apa-apa lagi itu semakin menangis karena tidak 
>terdaftar sebagai penerima sumbangan langsung tunai (SLT) program 
>kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM. ''Saya itu tidak punya apa-apa. 
>Pekerjaan tidak punya. Dulu pernah menyewa tambak, tetapi sekarang tidak 
>kuat bayar sewa. Padahal anak saya sakit dan tak bisa melaut,'' katanya.
>
>Sumulyadi berkisah seperti itu disaksikan puluhan nelayan dan istri di 
>Desa Kedungmalang. Bagi mereka, itu merupakan curahan hati paling 
>memilukan di antara sekian banyak keluhan para nelayan setempat.
>
>Sehari Makan, Sehari Tidak
>
>Simaklah seperti apa yang dituturkan Retinah, warga Desa Kedungmalang. 
>Karena suami mengalami defisit saat melaut, keluarga rela sehari makan, 
>sehari tidak. ''Kami kuat-kuatkan menghadapi kondisi sulit ini, meski 
>terkadang kami harus menangis saat malam hari,'' katanya.
>
>Ia lantas menunjukkan puluhan anak perempuan dan para istri nelayan yang 
>tidak lagi mengenakan anting, gelang, cincin atau perhiasan lain.
>
>Sebagian besar penduduk Kecamatan Kedung memang bekerja sebagai nelayan. 
>Sebagaimana temperamen masyarakat pesisir yang lain, mereka tidak 
>segan-segan berteriak dan bertindak berani untuk sekadar melawan nasib.
>
>Lihatlah gelombang protes nelayan Desa Karangaji yang menyandera mobil 
>tangki Pertamina, disusul tiga hari kemudian unjuk rasa ratusan nelayan 
>Desa Kedungmalang ke DPRD, sebagai puncak kegundahan mereka. ''Langkah 
>pemerintah menaikkan harga BBM benar-benar membunuh kami secara perlahan. 
>Ekonomi kami jadi terhenti, kondisi psikis kami juga sudah sangat lelah. 
>Kami hidup di tengah-tengah keluarga yang butuh makan dan anak-anak yang 
>butuh sekolah. Kami heran masih banyak pejabat yang tertawa sementara 
>masyarakatnya tak berdaya,''tutur Abdul Wahid, nelayan dari RT 4 RW 1 Desa 
>Kedungmalang. Dia mengungkapkan, ribuan nelayan berhenti melaut karena 
>kondisi terakhir sangat menyulitkan. (Muhammadun Sanomae-41m)
>
>++++
><http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/12/nas06.htm>http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/12/nas06.htm
>
>Pilu Nelayan akibat Kenaikan Harga BBM (2)
>Pukulan Telak di Musim Paceklik
>
>       NELAYAN MENGANGGUR: Sejumlah nelayan di Pantai Pasir Kebumen tak 
> dapat melaut akibat melambungnya harga solar. Mereka lebih banyak 
> menganggur dan menepikan perahu-perahunya di pantai. Selain tingginya 
> harga BBM, mereka juga takut melaut karena gelombang besar pada musim 
> timur. (57v) - SM/Komper Wardopo
>
>BAGI para nelayan di Pantai Selatan Kebumen, kenaikan harga BBM ibarat 
>pukulan beruntun yang kian menyengsarakan. Sebab, sekitar lima bulan masa 
>paceklik belum berakhir, kini harus menghadapi tingginya harga bensin.
>
>Berbeda dengan nelayan tetangganya di Cilacap atau pantura, para nelayan 
>Kebumen adalah nelayan tradisional. Karena keterbatasan perahu dan alat 
>tangkap, mereka hanya berani melaut setengah hari atau istilah mentereng 
>kelautan disebut one day fishing
>
>Dari tiga lokasi tempat pelelangan ikan (TPI) di Pantai Pedalen Desa 
>Argopeni, Pantai Karangduwur, dan Pantai Pasir, semuanya di Kecamatan 
>Ayah, Kebumen umumnya nelayan masih memakai perahu kecil jenis fiber glass 
>yang hanya mampu dinaiki dua sampai tiga nelayan.
>
>Pukulan telak pertama, dirasakan para nelayan sejak Juli lalu. Sebab, saat 
>itu memasuki angin musim timur. Angin di Samudera Indonesia sangat besar, 
>berkorelasi dengan gelombang pasang yang ganas dan angin laut tak 
>bersahabat tadi. Banyak perahu rusak akibat kecelakaan. Ribuan nelayan 
>praktis menganggur selama berbulan-bulan.
>
>Bahkan, belum lama ini belasan perahu yang sandar beserta jaringnya di 
>Pantai Karangduwur dan Pasir, rusak parah. Menurut Kepala Dinas 
>Peternakan, Perikanan, dan Kelautan (Peperla) Kebumen hal itu akibat 
>hantaman badai dan kerugian nelayan diperkirakan sampai Rp 140 juta.
>
>Hantaman berikutnya, semestinya pada awal Oktober ini sudah mulai memasuki 
>masa panen semua jenis ikan. Baik ikan tengiri, bawal, cucut, layur, udang 
>jerbung maupun lobster sampai ubur-ubur. N
>
>amun karena musim kemarau yang pendek, sedangkan hujan sering turun, 
>ikan-ikan beserta ubur-ubur itu pun seperti menghilang.
>
>Belum juga masa paceklik usai, sejak awal Oktober ini harga bensin 
>tiba-tiba naik 100% lebih. Harap maklum, nelayan pantai Ayah itu, sekitar 
>44 kilometer barat daya Kebumen, rata-rata masih memakai mesin tempel 15 
>PK dengan bahan bakar bensin campur. Jika harga eceran resmi bensin Rp 
>4.500/liter, di tangan nelayan sudah mencapai Rp 5.000/liter.
>
>''Padahal, kami memakai bensin campur, jadi harga satu liter bahan bakar 
>sudah Rp 6.000,'' keluh Siswanto (54), nelayan Desa Pasir, Kecamatan Ayah. 
>Ia yang hari itu menerjunkan sebuah perahu dengan modal Rp 215.000. 
>Perhitungannya, bekal bahan bakar untuk 40 liter, ditambah uang makan Rp 
>10.000.
>
>Berhubung masih masa pacelik, hasil tangkapan dia setelah dijual di TPI, 
>hanya tinggal sisa uang Rp 19.000 bersih. ''Tolong sampaikan Pak SBY, anak 
>saya tiga SLTA semua. Bagaimana bisa menutup makan dan ongkos sekolah? 
>''ucap Siswanto sambil leyeh-leyeh di perahunya.
>
>Bejo (25), buruh nelayan yang memiliki dua anak itu jauh lebih mengenaskan 
>nasibnya. Berhubung tak punya modal dan risiko melaut sangat tinggi, sejak 
>beberapa bulan ini ia harus ganti profesi. Pekerjaan apa saja dia lakoni, 
>asal bisa mendapat uang.
>
>''Saya mau jadi buruh cangkul atau buruh apa saja. Yang penting bisa untuk 
>makan,'' tandas Bejo disertai anak perempuannya berumur sekitar delapan 
>tahun. Dia setiap hari tetap ke pantai, namun hanya ngobrol sambil 
>menunggu ada orang menawari pekerjaan serabutan.
>
>Slamet, buruh menarik atau menepikan perahu beserta beberapa temannya dari 
>Desa Banjarharjo Kecamatan Ayah pun, bernasib serupa. Sejak ratusan kapal 
>di Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Pantai Pasir tak bisa melaut, praktis dia 
>jadi sering menganggur.
>
>Sehari paling menepikan dua sampai tiga kapal. Hasil tangkapan ikan pun 
>relatif kecil hanya lima sampai 10 kilogram. Adapun posisi mereka adalah 
>buruh terbawah, sebagai tukang mengangkut perahu dan ikan dari tepi laut 
>ke bibir pantai dan TPI.
>
>Ketika ditanya soal kompensasi BBM, warga nelayan miskin itu umumnya tak 
>tahu menahu. Padahal, sejak hari itu (Selasa,11/10), warga miskin di 
>Kebumen yang lain telah berbondong-bondong menerima bantuan langsung tunai 
>Rp 300.000 untuk tiga bulan.
>
>Tak heran wajah-wajah hitam, kasar dan frustasi, terlihat dari para 
>nelayan Kebumen. Bahkan, saat ditemui di kapal yang bersandar ataupun di 
>lokasi pelelangan, para nelayan enggan diajak bicara. Apalagi jika 
>diungkit soal tingginya harga BBM, mereka menjawab ketus dan sekenanya.
>
>Kepala PPI Pasir Darsono mengakui, sejak masa paceklik akibat angin musim 
>timur, para nelayan yang melaut turun drastis. Biasanya, di PPI Pasir 
>setiap hari ada ratusan nelayan dan kapal dapat melaut. Kini, sehari 
>maksimal hanya sepuluh perahu. Itu pun hasil tangkapan mereka sangat kecil.
>
>Jumlah nelayan di PPI Pasir sesuai data 715 orang. Jumlah juragan 261 
>orang dan pandega atau nelayan sekitar 454 orang. Sementara itu, jumlah 
>kapal motor ada 315, gantaran sekitar 306 buah.
>
>Kondisi hampir serupa terjadi di TPI Pantai Karangduwur yang dihuni 
>sekitar 80 nelayan, serta TPI Pantai Pedalen Argopeni, yang dihuni sekitar 
>300 nelayan. Umumnya para nelayan saat musim angin timur ini kesulitan 
>masuk ke laut karena gelombang besar, sedangkan kapal mereka amat kecil.
>
>Padahal, meski masa paceklik, sekarang harga ikan laut Kebumen relatif 
>stabil. Darsono menyebutkan, harga ikan tengiri Rp 22.500 per kilogram, 
>dari semula Rp 18.000. Ikan bawal berkisar Rp 40.000/kilogram, cucut Rp 
>9.000/kilogram dan layur paling murah laku Rp 6.000/kilogram.
>
>Kepala Dinas Peperla Kebumen dokter hewan Jatmoko menyatakan, ada kekhasan 
>nelayan tradisional Kebumen. Sebab, selain menekuni sebagai nelayan, 
>sebagian dari mereka sambilan sebagai peternak, petani tadah hujan, dan 
>pembuat gula merah.
>
>Karena itu, sebagian keluarga nelayan tersebut selama ini telah diberi 
>bantuan ternak sapi. Di kala paceklik, para nelayan ada yang beralih 
>menjadi peternak dan mencari pakan ke hutan. Hasilnya memang tak bisa 
>diambil sekejap. Namun, dalam beberapa tahun, ternaknya bisa dijual dengan 
>hasil lumayan.
>
>Mengenai bantuan kompensasi BBM bagi nelayan, Jatmiko mengakui, sampai 
>saat ini para nelayan Kebumen belum menerima. Pihaknya telah mengusulkan 
>agar para nelayan juga mendapat bantuan kompensasi BBM. Apalagi harga BBM 
>melonjak tajam.
>
>Bagi nelayan miskin dan buruh nelayan, semestinya juga layak mendapat 
>kartu kompensasi BBM. Sayangnya, ratusan nelayan di Pantai Pasir Kecamatan 
>Ayah, saat ditanya rata-rata menjawab belum ada yang menerima kartu untuk 
>mengambil bantuan uang tunai itu.
>
>Ke Pegadaian
>
>Tak terkecuali ribuan nelayan Cilacap juga menjerit. Mereka menjerit 
>karena kesulitan mendapatkan bensin atau solar. Untuk mendapat bahan 
>bakar, mereka harus antre berjam-jam. Sebab, pengambilan BBM untuk 
>kalangan nelayan dilakukan secara bergiliran.
>
>Saat itu, para nelayan tidak mungkin membeli BBM di SPBU karena ada 
>larangan membeli bensin atau solar dengan jerigen. Larangan tersebut 
>dikeluarkan Pertamina. Para pengawas SPBU tidak berani melayani pembelian 
>dengan jerigen karena takut mendapatkan sanksi dari Pertamina.
>
>Penderitaan nelayan ternyata tidak berhenti sampai di sini. Begitu 
>pemerintah per 1 Oktober 2005 menaikan harga BBM, nelayan pun tidak bisa 
>berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menangis menghadapi kenyataan bahwa 
>hidup ini ternyata semakin susah.
>
>Menurut Rosikin, kenaikan harga BBM cukup mencekik kehidupan nelayan. 
>Sebab, kenaikan harga BBM selalu berimbas pada kenaikan harga sembako. Itu 
>berarti, biaya perbekalan yang harus dikeluarkan nelayan setiap akan 
>berangkat melaut menjadi membengkak 200 %.
>
>Tokoh nelayan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) Simon Domingus 
>mengatakan, keterpurukan nelayan akibat kenaikan harga BBM semakin 
>diperparah dengan adanya peraturan pemerintah yang melarang kapal ikan 
>dengan bobot mati di atas 30 gross ton (GT) menggunakan minyak solar.
>
>Itu berarti kapal tersebut harus menggunakan solar untuk industri. Padahal 
>pemerintah juga telah menaikan harga BBM industri.
>
>Ketua KUD Mino Saroyo Rosikin SSos mengatakan, nelayan selalu berada pada 
>posisi terjepit. Terutama pada saat menjelang Lebaran nanti, di mana 
>kebutuhan semakin meningkat dan harga-harga barang kebutuhan semakin mahal.
>
>Untuk mencukupi kebutuhan untuk Lebaran, para nelayan biasanya akan 
>beramai-ramai datang ke kantor Pegadaian untuk menggadaikan barang 
>berharga atau perabotan yang masih bisa digadaikan. Seperti TV, kulkas, 
>perhiasan dan perabotan lainnya. (Komper Wardopo,Agus Sukaryanto-14v)
>
>++++
>
><http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/13/nas06.htm>http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/13/nas06.htm
>
>
>
>       Pilu Nelayan akibat Kenaikan Harga BBM (3-Habis)
>       Hanya Dua-Tiga Perahu yang Melaut
>
>             SM/Eko Priyono MEMILIH LIBUR: Banyak nelayan Pantai 
> Jatimalang, Purwodadi, Purworejo memilih libur sejak kenaikan harga BBM. 
> Beberapa nelayan Jatimalang melaut untuk melayani pembelian ikan para 
> wisatawan. (30j)
>
>       KELUHAN bensin mahal juga dirasakan para nelayan Pantai Jatimalang, 
> Purwodadi, Purworejo. Akibatnya, rata-rata setiap hari hanya dua sampai 
> tiga perahu yang masih mau melaut.
>
>       Kondisi seperti itu, menurut para nelayan setempat, sekadar untuk 
> memberikan layanan bagi wisatawan di pantai tersebut. Biasanya pengunjung 
> pantai membeli ikan dari nelayan dan minta dibakarkan sekalian. Lalu ikan 
> bakar itu dinikmati di warung yang tersedia di pantai.
>
>       Nelayan Karib (35) menyatakan, di pantai itu ada sekitar 60 nelayan 
> dengan 20 perahu mesin. Sebelum kenaikan harga BBM, dalam setiap hari 
> rata-rata delapan sampai sepuluh perahu yang melaut. Tetapi sejak harga 
> bensin naik kini setiap hari rata-rata hanya dua sampai tiga perahu yang 
> mencari ikan.
>
>       Itu pun lingkupnya hanya di pinggir pantai, dengan pertimbangan 
> untuk menghemat bahan bakar. ''Dulu sebelum harga bensin naik, nelayan 
> sini mencari ikan sampai Congot dan Keburuhan. Tetapi sekarang hanya di 
> sekitar sini,'' tuturnya.
>
>       Menurut Karib, sebetulnya saat ini sudah datang musim ikan. Jenis 
> ikan seperti tengiri, mamo, hiu martil, serta hiu cucut mulai banyak. 
> Tetapi akibat keterbatasan dana akhirnya hanya sebagian nelayan yang 
> tetap melaut.
>
>       Dia pun masih sering mencari ikan dengan pertimbangan daripada 
> wisatawan di pantai itu kecele.
>
>       Sebab, biasanya pengunjung di pantai itu membeli ikan hasil 
> tangkapan nelayan. ''Daripada pengunjungnya kecewa karena tidak ada ikan, 
> saya tetap melaut,'' kata nelayan yang juga membuka warung makan itu, 
> Rabu kemarin.
>
>       Berbeda dari pendapat beberapa nelayan lain. Sebagian besar nelayan 
> di pantai itu memilih beristirahat di rumah lantaran bensin mahal. 
> ''Bensin mahal ya lebih baik menganggur. Sebab, kalau tetap kerja, 
> hasilnya pas-pasan saja,'' tutur Wardi.
>
>       Dia menyebutkan, nelayan membeli bensin eceran dari Desa Gesing 
> atau Nampurejo, keduanya juga wilayah Kecamatan Purwodadi. Harga bensin 
> eceran di sana Rp 5.000 per liter. Seingat dia, semula dengan modal Rp 
> 50.000 sudah bisa melaut sampai ke pantai desa lain, tetapi saat ini 
> sudah tidak memungkinkan.
>
>       ''Dulu dengan modal bensin Rp 50.000 bisa sampai Pantai Keburuhan 
> dan Congot. Sekarang bensin mahal, uang sebesar itu dapat bensin tidak 
> seberapa, belum termasuk untuk membeli oli,'' ujar Kasman.
>
>       Padahal, untuk menangkap ikan berharga jual mahal seperti bawal dan 
> udang lopster tidak cukup di pinggiran laut. Biasanya kalau musim ikan 
> bawal, dalam setiap melaut sebuah kapal dapat meraup hasil sampai Rp 6 
> juta. Itu karena harga jualnya yang kelas A bisa laku Rp 60.000/kg, kelas 
> B Rp 45.000, dan kelas C Rp 25.000/kg.
>
>       Lebih menguntungkan lagi kalau nelayan mendapat udang lopster. 
> Harga setiap kilogram udang lopster mutiara Rp 125.000/kg, sedangkan 
> super biasa harga jualnya Rp 100.000/kg. Dengan catatan udang berukuran 
> besar tersebut masih hidup dan utuh.
>
>       Sementara itu, suasana di Pantai Keburuhan, Kecamatan Ngombol, 
> tampak sepi. Sebanyak 13 perahu di pantai itu tampak di daratan. 
> Diperoleh keterangan, nelayan di pantai itu sudah beberapa bulan terakhir 
> ini tidak melaut. Selain masa paceklik, juga karena tidak berani melawan 
> ombak yang besar.
>
>       Melihat keganasan ombak, nelayan di pantai selatan Purworejo memang 
> harus memiliki nyali yang besar. Sebab, risiko hantaman ombak yang 
> menyebabkan perahu terguling relatif sering, meski cara melaut mereka 
> sudah melalui strategi.
>
>       Sebagai gambaran, untuk menurunkan perahu ke laut lepas para 
> nelayan setempat harus menunggu sampai ombaknya mereda. Selama menunggu 
> ombak mereda, mesin kapal sudah dihidupkan. Ketika ombak mengecil, perahu 
> harus cepat-cepat didorong ke laut dengan dibantu mesin.
>
>       Kalau pada saat star seperti itu datang ombak, dipastikan perahu 
> bakal terempas. Tak ayal para nelayan juga akan terlempar. ''Nelayan 
> mriki sampun biasa kados ngoten niku (Nelayan di sini sudah terbiasa atas 
> kejadian seperti itu),'' tutur seorang nelayan Pantai Jatimalang.
>
>       Kesedihan juga dirasakan nelayan Pekalongan.
>
>       Solichin (40) bersama rekan-rekan nelayan yang lain hanya duduk 
> mengobrol sepanjang hari.
>
>       ''Kami tidak berani ke rumah, karena malu terhadap keluarga. Kami 
> tidak memiliki uang untuk menghidupi anak dan istri,'' kata Solichin.
>
>       Kini dia tidak lagi melaut. Sebab, tidak punya modal. Sekali melaut 
> harus menyediakan Rp 600.000. Sebagian besar perbekalan itu untuk membeli 
> solar selama 2-3 hari.
>
>       Sebelum ada kenaikan harga solar, dia hanya cukup bermodalkan Rp 
> 300.000. Ketika itu hasil lelang ikan tangkapan bisa mencapai Rp 450.000, 
> sehingga masih sisa Rp 150.000 untuk tiga nelayan dalam satu kapal.
>
>       Kini hal itu tidak mungkin lagi. Dengan cara apa pun, kalau harga 
> solar Rp 4.300 per liter, nelayan jelas akan mati kelaparan.
>
>       Menurut dia, kalaupun pemerintah kini membantu keluarga miskin Rp 
> 100.000, termasuk nelayan miskin, bantuan itu tetap tidak bisa memenuhi 
> kebutuhan keluarganya. Padahal, yang namanya nelayan, sepanjang masa 
> hidupnya hanya bisa bekerja di laut. Mereka tidak memiliki pekerjaan 
> selain nelayan. Karena itu, kenaikan harga BBM jelas akan menciptakan 
> pengangguran yang jumlahnya ribuan orang di Pekalongan.
>
>       Pemilik kapal juga mengalami pukulan berat. ''Kenaikan BBM ini 
> merupakan pukulan terberat dan menjadi gong terakhir yang bisa 
> memusnahkan kegiatan perikanan di Pekalongan,'' kata H Ani Martopo, 
> pemilik kapal Bina Muda Pekalongan.
>
>       Sebab, lanjut dia, sejak kenaikan BBM 1 Oktober dan kebijaksanaan 
> kapal di atas 30 gross tone wajib menggunakan solar industri yang 
> harganya Rp 6.000, jelas-jelas tidak memungkinkan kegiatan perikanan di 
> Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan bisa berlangsung.
>
>       Sebab, dengan harga Rp 4.300 per liter saja, kapal-kapal tidak mau 
> melaut karena rugi. Apalagi dibebani harga solar Rp 6.000 (harga 
> industri). Karena itu, jangan heran jika kapal perikanan akan dibiarkan 
> merana di pelabuhan atau di kolam miliknya.(Eko Priyono,Trias Purwadi-14t)
>
>
>
>[Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>***************************************************************************
>Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia 
>yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
><http://www.ppi-india.org>http://www.ppi-india.org
>***************************************************************************
>__________________________________________________________________________
>Mohon Perhatian:
>
>1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
>2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
>3. Reading only, <http://dear.to/ppi>http://dear.to/ppi
>4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
>5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
>6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>
>SPONSORED LINKS
><http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Cultural+diversity&w1=Cultural+diversity&w2=Indonesian+languages&w3=Indonesian+language+learn&w4=Indonesian+language+course&c=4&s=113&.sig=bpnervYnfVCKlLU9pShRMA>Cultural
> 
>diversity 
><http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Indonesian+languages&w1=Cultural+diversity&w2=Indonesian+languages&w3=Indonesian+language+learn&w4=Indonesian+language+course&c=4&s=113&.sig=TtUwgQ4eDX32d_iWfw_5IA>Indonesian
> 
>languages 
><http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Indonesian+language+learn&w1=Cultural+diversity&w2=Indonesian+languages&w3=Indonesian+language+learn&w4=Indonesian+language+course&c=4&s=113&.sig=aHZycL4IPyDh-uYtxutUFw>Indonesian
> 
>language learn
><http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Indonesian+language+course&w1=Cultural+diversity&w2=Indonesian+languages&w3=Indonesian+language+learn&w4=Indonesian+language+course&c=4&s=113&.sig=Ci7w_zwf5GqLUcl8Zl285g>Indonesian
> 
>language course
>
>
>----------
>YAHOO! GROUPS LINKS
>    *  Visit your group "<http://groups.yahoo.com/group/ppiindia>ppiindia" 
> on the web.
>    *
>    *  To unsubscribe from this group, send an email to:
>    * 
> <mailto:[EMAIL PROTECTED]>[EMAIL PROTECTED] 
>
>    *
>    *  Your use of Yahoo! Groups is subject to the 
> <http://docs.yahoo.com/info/terms/>Yahoo! Terms of Service.
>
>
>
>----------


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke