Saya sudah putus asa dengan negeri ini. Dengan
orang-orang pintar yang gemar membodohi rakyat. Dengan
pejabat-pejabat serakah yang tak puas-puasnya menimbun
harta.Dengan ulama yang tidak mendukung rakyat yang
dizalimi. 

Saya menyaksikan terlalu banyak cerita sedih di negeri
ini. Rakyat miskin yang perutnya buncit di Timor
Tengah Utara. Anak-anak Papua yang cantik dengan ingus
yang meleleh di hidungnya dan kulit bercak-bercak
karena penyakit. Nelayan miskin di Pulau Buru yang
meskipun terbelit kemiskinan masih menggantungkan
harapan dan berpikir positif pada pemerintah.

Pemerintah kita telah membunuh rakyat miskin,
membiarkan mereka putus asa dan kebingungan tanpa
mengerti bagaimana menyelesaikan persoalan mereka.
Saya ngeri, ketika rakyat marah, dan kemudian meminta
haknya dengan cara-cara anarkis.



--- Otto Adi Yulianto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Adakah orang Freedom maupun LPEM UI yang membaca
> berita ini?
> 
> At 10:40 PM 10/12/2005 +0200, you wrote:
>
><http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/11/nas07.htm>http://www.suaramerdeka.com/harian/0510/11/nas07.htm
> >
> >Pilu Nelayan akibat Kenaikan Harga BBM (1)
> >Frustrasi, Pilih Bakar Diri
> >
> >       BERSAMA KAKEK: Fatmawati, bocah berusia 3
> tahun 5 bulan terlihat 
> > memelas. Dia ditemani kakeknya di rumah bambu
> milik orang tuanya di Desa 
> > Kedungmalang RT 3 RW 1, Kecamatan Kedung, Jepara.
> Ibu bocah itu meninggal 
> > dengan cara membakar diri awal September lalu,
> gara-gara kondisi ekonomi 
> > keluarga yang semakin memburuk akibat kelangkaan
> dan kenaikan harga BBM. 
> > (57m) SM/Muhammadun Sanomae
> >
> >Langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar
> minyak (BBM), perlahan 
> >namun pasti ''membunuh'' jutaan nelayan di berbagai
> daerah. Defisit 
> >penghasilan dibanding dengan biaya operasional yang
> tinggi, menjadi 
> >jeritan utama mereka. Bahkan di Jepara, kenaikan
> harga BBM telah membawa 
> >petaka bagi keluarga nelayan. Salah satu anggota
> keluarga nekat membakar 
> >diri karena rasa frustrasi yang akut. Berikut
> laporan wartawan Suara 
> >Merdeka yang diturunkan mulai hari ini.
> >
> >SPONTAN Sumulyadi (65) tidak kuasa menahan air mata
> saat menceritakan 
> >kisah menantunya yang meninggal dunia pertengahan
> September 2005 lalu. 
> >Siti Aisyah (27) warga RT 3 RW 1 Desa Kedungmalang,
> Kecamatan Kedung, 
> >Kabupaten Jepara meninggal dunia setelah membakar
> diri, awal September lalu.
> >
> >Sementara itu, sekujur tubuh Zubaidi (31), suami
> Aisyah, ikut terbakar 
> >ketika berusaha menyelamatkan istrinya. Hingga
> Senin (10/10), Zubaidi 
> >dirawat di rumah saudara di Dukuh Babalan, Desa
> Kalirejo, Kecamatan 
> >Undaan, Kabupaten Kudus.
> >
> >Sumulyadi tidak bisa menjelaskan secara rinci
> kejadian nahas yang menimpa 
> >keluarganya itu. Najib (14), cucu Sumulyadi
> menceritakan kejadian yang 
> >tidak banyak tercium publik, selain di desa itu.
> Sebab, kejadian itu baru 
> >mencuat saat ratusan nelayan Desa Kedungmalang
> melakukan aksi unjuk rasa 
> >menentang kenaikan harga BBM di gedung DPRD Jepara,
> Jumat (7/10) lalu.
> >
> >Kepada Suara Merdeka, Najib bertutur bahwa awal
> September lalu terjadi 
> >kelangkaan minyak tanah luar biasa di sekitar
> kawasan desa yang sebagian 
> >besar penduduknya bekerja sebagai nelayan.
> Sebagaimana istri nelayan yang 
> >lain, siang itu Aisyah ''ditugaskan'' suaminya
> (Zubaidi) antre minyak 
> >tanah untuk kebutuhan melaut esok hari. Karena
> langka, dia tidak 
> >memperoleh minyak tanah setetes pun dari pedagang
> pangkalan maupun eceran.
> >
> >Petang hari, Zubaidi baru saja pulang melaut dengan
> menggunakan perahu 
> >sopek kecil miliknya. ''Saat itu, dia (Zubaidi)
> tidak memperoleh hasil 
> >apa-apa, kecuali rugi,'' kata Najib. Tidak ada
> tetangga yang tahu kejadian 
> >itu karena semua berangkat pengajian. Entah apa isi
> dialog antara Zubaidi 
> >dan istri. Pasangan itu bertengkar atas kesulitan
> yang terjadi. Menurut 
> >Najib mengutip penuturan Zubaidi, saat itu Aisayah
> yang pikirannya sudah 
> >"sumpek", menyiram tubuhnya dengan minyak tanah
> sisa kompor masak. Wanita 
> >itu langsung membakar diri, sedangkan suami
> berusaha memadamkan kobaran 
> >api yang membakar pakaian istrinya. Namun apa mau
> dikata, pasangan itu 
> >sama-sama terbakar.
> >
> >Warga pun langsung membawa Aisyah yang sekujur
> tubuhnya terbakar, ke Rumah 
> >Sakit Islam Kudus. Karena parah, wanita itu dirujuk
> ke Rumah Sakit Kariadi 
> >Semarang. Namun setelah dua pekan menjalani
> perawatan, Aisyah meninggal 
> >dunia. Ia meninggalkan putrinya, Fatmawati yang
> masih 3 tahun 5 bulan.
> >
> >Sementara itu, Zubaidi yang beberapa hari juga
> dirawat di Rumah Sakit 
> >Islam (RSI) Kudus -karena tidak punya uang untuk
> pengobatan-, dipindah ke 
> >rumah saudaranya di Dukuh Babalan Kecamatan Undaan
> Kudus. Saat ini, dia 
> >memulihkan diri sambil memperoleh perawatan dari
> tenaga kesehatan desa.
> >
> >Saat ini, Fatmawati tinggal bersama kakeknya,
> Sumulyadi di Desa 
> >Kedungmalang. Lelaki tua itu menempati sebuah rumah
> bambu yang 
> >bersebelahan dengan rumah bambu milik Zubaidi.
> Sangat memprihatinkan 
> >kondisi rumah Zubaidi. Selain sempit, rumah itu
> hanya berlantaikan tanah 
> >dan berdinding bambu. Keluarga itu hanya memiliki
> perabot dua kursi 
> >plastik, satu meja tua, dan sebuah dipan kayu tak
> beralas. Pintu rumah itu 
> >pun hanya jeruji bagai penjara tetapi terbuat dari
> bambu.
> >
> >''Perahu dan mesin milik Zubaidi sudah terjual.
> Uangnya habis untuk biaya 
> >perawatan di rumah sakit. Bahkan, 18 hari perawatan
> di Desa Babalan belum 
> >terbayar,'' tutur Sumulyadi yang terus
> tersedu-sedu. Perahu dan mesin itu 
> >dijual Rp 5,6 juta. Padahal perawatan menghabiskan
> dana Rp 7.600.000. 
> >Sumulyadi terpaksa menjual kayu-kayu seadanya untuk
> menutup biaya 
> >pengobatan. ''Saat dirawat di RSI Kudus, anak dan
> menantu, termasuk 
> >keluarga kami yang menunggui diberi makan orang
> lain,'' tuturnya terbata-bata.
> >
> >Sumulyadi yang tidak punya apa-apa lagi itu semakin
> menangis karena tidak 
> >terdaftar sebagai penerima sumbangan langsung tunai
> (SLT) program 
> >kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM. ''Saya
> itu tidak punya apa-apa. 
> >Pekerjaan tidak punya. Dulu pernah menyewa tambak,
> tetapi sekarang tidak 
> >kuat bayar sewa. Padahal anak saya sakit dan tak
> bisa melaut,'' katanya.
> >
> >Sumulyadi berkisah seperti itu disaksikan puluhan
> nelayan dan istri di 
> >Desa Kedungmalang. Bagi mereka, itu merupakan
> curahan hati paling 
> >memilukan di antara sekian banyak keluhan para
> nelayan setempat.
> >
> >Sehari Makan, Sehari Tidak
> >
> >Simaklah seperti apa yang dituturkan Retinah, warga
> Desa Kedungmalang. 
> >Karena suami mengalami defisit saat melaut,
> keluarga rela sehari makan, 
> >sehari tidak. ''Kami kuat-kuatkan menghadapi
> kondisi sulit ini, meski 
> >terkadang kami harus menangis saat malam hari,''
> katanya.
> >
> >Ia lantas menunjukkan puluhan anak perempuan dan
> para istri nelayan yang 
> >tidak lagi mengenakan anting, gelang, cincin atau
> perhiasan lain.
> >
> >Sebagian besar penduduk Kecamatan Kedung memang
> bekerja sebagai nelayan. 
> >Sebagaimana temperamen masyarakat pesisir yang
> lain, mereka tidak 
> >segan-segan berteriak dan bertindak berani untuk
> sekadar melawan nasib.
> >
> >Lihatlah gelombang protes nelayan Desa Karangaji
> yang menyandera mobil 
> >tangki Pertamina, disusul tiga hari kemudian unjuk
> rasa ratusan nelayan 
> >Desa Kedungmalang ke DPRD, sebagai puncak
> kegundahan mereka. ''Langkah 
> >pemerintah menaikkan harga BBM benar-benar membunuh
> kami secara perlahan. 
> >Ekonomi kami jadi terhenti, kondisi psikis kami
> juga sudah sangat lelah. 
> >Kami hidup di tengah-tengah keluarga yang butuh
> makan dan anak-anak yang 
> >butuh sekolah. Kami heran masih banyak pejabat yang
> tertawa sementara 
> >masyarakatnya tak berdaya,''tutur Abdul Wahid,
> nelayan dari RT 4 RW 1 Desa 
> 
=== message truncated ===



        
                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke