** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** ** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** ** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com ** http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/15/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Perkeretaapian Indonesia Makin Terpuruk MASYARAKAT tampaknya masih harus lebih bersabar untuk dapat melihat kondisi perkeretaapian di Indonesia menjadi lebih baik. Walaupun demikian, perkeretaapian yang sebelumnya merupakan kegiatan yang secara tradisional selalu diselenggarakan negara, telah diisyaratkan swasta akan diberi kesempatan untuk mengelolanya secara bertahap. Tetapi untuk dapat direalisasikan masih perlu waktu. Hampir pasti swasta dimungkinkan ikut mengelola kereta api (KA). Hal itu tercermin dari penyiapan revisi UU No 13/1992 tentang Perkeretaapian, yang saat ini sudah selesai pembahasan antardepartemen, dan hanya tinggal menunggu amanat presiden. Selanjutnya diserahkan ke DPR untuk dibahas bersama pemerintah. Ada satu harapan besar terhadap pelaksanaan revisi tersebut. Harapan agar dengan revisi ini terwujud satu kerangka yang komprehensif dalam pengelolaan KA, khususnya dari segi aturan, sehingga implementasinya dapat lebih baik. Pada ujungnya, masyarakat dapat menikmati pelayanan KA yang lebih manusiawi. Keinginan tersebut cukup beralasan karena selama ini kondisi KA masih memprihatinkan. Tentu untuk dapat memperbaiki KA dibutuhkan ketegasan dan kepatuhan terhadap aturan. Dibutuhkan sikap yang konsisten dari pejabat yang menangani masalah perkeretaapian, khususnya pimpinan di Departemen Perhubungan (Dephub). Hal yang tidak kalah pentingnya adalah keharusan untuk sedapat mungkin dihindari peluang terjadinya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam pengelolaan KA. Namun, dua hal tersebut tampaknya masih agak jauh. Seperti diungkapkan Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII) Jeffrie Geovanie, berkaitan dengan pengangkatan Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan (Dephub), Soemino Eko Saputro menjadi Komisaris Utama (Komut) PT KA, merupakan satu kesalahan. Bagaimana bisa, antara regulator dan operator KA dicampuradukkan. Jeffrie justru mempertanyakan apakah para menteri terkait, khususnya Menteri Perhubungan (Menhub) Hatta Rajasa tidak memahami logika dan kepantasan. Langkah ini merupakan kemunduran besar pemerintah. Di era reformasi yang seharusnya menuju ke pola dan langkah baru yang lebih sehat dan transparan, tetapi justru di sektor KA kembali ke pola lama. ''Ini merupakan satu blunder. Apalagi sekarang sedang direvisi UU tentang Perkeretaapian yang di dalamnya dimungkinkan sektor swasta masuk di usaha kereta. Kalau Pak Soemino yang menjadi Dirjen Perkeretaapian menjadi Komut PT KA, dapat dipastikan, tidak akan ada swasta yang mau masuk,'' katanya. Dapat dipastikan, akan terjadi persaingan tidak sehat. Bagaimana bisa swasta harus bersaing dengan PT KA, yang Komutnya bertindak sebagai regulator. Sangat dimungkinkan, aturan yang dibuat Dirjen Perkeretaapian sedikit banyak akan menguntungkan PT KA. Senada dengan Jeffrie, Direktur Eksekutif Indonesian Railway Watch (IRW), Taufik Hidayat mengingatkan, kalau orang yang bertugas sebagai regulator di KA menjabat Komut di PT KA, sungguh meluluhlantakkan framework institusional yang seharusnya dibangun dan ditegakkan pemerintah. Inkonsistensi Taufik mempertanyakan inkonsistensi yang dilakukan Menhub. Bagaimana bisa Menhub mengizinkan Dirjen Perkeretaapian menjadi Komut PT KA. Padahal Menhub sebelumnya selalu mengatakan tidak akan mengizinkan pejabat Dephub merangkap sebagai komisaris di BUMN. ''Bahkan sangat sering Menhub mengkritik Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan yang ketika itu merangkap sebagai Komut PT KA. Timbul tanda tanya di benak saya, apa hidden agenda Menhub,'' katanya. Selama 2005, tambahnya, Dephub tidak berhasil melaksanakan perannya. Tidak berhasil menurunkan tingkat kecelakaan KA yang berkategori sangat fatal, yaitu tabrakan antara KA dan KA. Data menunjukkan, tabrakan antara KA dan KA sepanjang 2004 mencapai tujuh kali. Sementara pada 2005 (hingga Agustus) menjadi sembilan kali. Ini menunjukkan, kualitas pelayanan publik dalam bentuk keselamatan penumpang KA tidak bertambah baik. Tidak lahir program-program dan konsep menyeluruh dalam rangka penyelamatan perkeretaapian dari kondisi keterpurukan, termasuk program peningkatan keselamatan operasional KA. Tidak lahir kebijakan yang melindungi kepentingan publik atas pelayanan yang diberikan oleh operator kepada pengguna jasa KA. Kalaupun lahir kebijakan, sifatnya hanya reaktif terhadap situasi yang telah terjadi dan tidak dilakukan evaluasi terhadap efektivitasnya. Misalnya, Taufik memberi contoh, kebijakan tentang pembuatan pintu perlintasan KA yang melibatkan pemerintah daerah setempat, hingga saat ini tidak jelas realisasinya. Bahkan tim yang dibentuk untuk membenahi perlintasan KA yang melibatkan unsur-unsur Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum, Kepolisian, industri, LSM, dan lembaga pengkajian, tidak jelas kelanjutannya. ''Tidak ada perubahan yang bersifat mendasar dan signifikan dalam pengelolaan di lingkungan organisasi perkeretaapian Dephub. Penanganan permasalahan perkeretaapian masih business as usual, padahal kondisi perkeretaapian yang sudah sangat merosot menuntut perhatian utama dan segera,'' katanya. Salah satu misi perkeretaapian Indonesia adalah menjadi tulang punggung angkutan barang dan pelopor terciptanya angkutan terpadu. Pencapaian misi tersebut, khususnya langkah-langkah menuju angkutan KA sebagai tulang punggung angkutan barang, masih jauh dan belum tersentuh sama sekali. Hingga saat ini, pangsa pasar angkutan KA barang hanya 0,63 persen dari seluruh pangsa angkutan barang di Indonesia. Melihat data itu, rasanya untuk memiliki KA yang menjadi tulang punggung angkutan barang masih menjadi mimpi. Apalagi itu masih ditambah dengan framework institusional yang luluh lantak akibat campur aduknya antara operator dan regulator. Tampaknya KA kita kondisinya makin terpuruk saja. Semoga UU tentang Perkeretaapian yang sedang direvisi nanti dapat membawa secercah harapan bagi bangkitnya KA menjadi tulang punggung angkutan barang di Tanah Air. Pembaruan/Marcellus Widiarto Last modified: 15/10/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/ ** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List ** ** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: ** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ ** ** Website resmi http://www.ppi-india.org ** ** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

