http://www.indomedia.com/bpost/102005/18/opini/opini1.htm
Pemindahan Ibukota Ke Banjarbaru: Sustainabilitas Pembangunan Oleh : Drs Ismed Setia Bakti MPHR Pemindahan ibukota Propinsi Kalsel dari Banjarmasin ke Banjabaru, merupakan salah satu program kerja Gubernur Rudy Ariffin dan wakilnya Rosehan. Program ini merupakan sebuah rencana dan langkah besar, sehingga diperlukan perhitungan yang cermat, analisis berbagai dampak sosial, ekonomi, lingkungan, politik. Bahkan efek yang akan ditimbulkannya terhadap kepemimpinan daerah. Ketika isu pemindahan ibukota propinsi ini mulai mencuat ke permukaan, berbagai tanggapan mulai dilontarkan, baik dari masyarakat umum maupun pihak lain melalui media massa. Berbagai pemikiran yang pro dan kontra pun bermunculan. Ini adalah sebuah reaksi yang pasti akan ditemui, bahkan semua itu diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan bagi pimpinan. Diperlukan, karena mereka yang pro akan mengurai argumentasi dari sisi positif. Sementara yang kontra akan menjelaskan dengan berbagai argumentasi yang bersifat negatif atau efek yang kurang menguntungkan. Semakin banyak argumentasi --positif maupun negatif-- maka semakin kaya perbendaharaan pimpinan untuk bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, semakin meningkatkan akurasi perhitungan yang diperlukan untuk pemindahan ibukota ini. Pertimbangan paling umum dilontarkan adalah aspek ekonomi yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur. Seperti membangun fasilitas perkantoran, berapa biaya yang harus dikeluarkan pemda. Sementara fasilitas yang sama sudah dimiliki di Kota Banjarmasin. Maka, memberi kesan terjadi disefisiensi dalam pembiayaan pembangunan. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan dewasa ini. Persoalan pengalihan subsidi BBM kepada rakyat miskin telah menjadi isu sentral secara nasional, tampaknya cukup ampuh membebani langkah rencana pemindahan ibukota propinsi saat ini. Sepertinya benar, kita hanya menggunakan rumus matematika ekonomi pembangunan sederhana seperti itu. Walaupun mengatasi masalah kemiskinan merupakan isu yang mencuat tajam dan perlu penanganan serius dari semua pihak, namun ini bukan berarti seluruh dana pembangunan diarahkan semata untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam manajemen pembangunan daerah, pemerintah tidak mungkin hanya terfokus pada satu permasalahan. Kemiskinan hanya salah satu dari berbagai permasalahan sosial yang harus ditangani pemerintah. Perlu diingat, masih banyak lagi permasalahan sosial yang harus menjadi perhatian dan memerlukan penanganan serius, dalam rangka membangun daerah secara utuh. Selain, membangun sektor lainnya seperti bidang ekonomi, agama, pendidikan, hukum, seni budaya, dan lingkungan hidup. Dapat disimpukan, dalam membangun daerah kita tidak mungkin terfokus hanya pada satu masalah. Dalam membangun daerah agar menjadi lebih maju, unggul dan memiliki daya saing, harus menganut prinsip pembangunan berkesinambungan (sustainable development). Begitu pula rencana pemindahan ibukota Kalsel ke Banjarbaru: Apakah memenuhi prinsip pembangunan yang berkesinambungan. Untuk mengetahui semua ini, kita harus memancang pemikiran kita jauh ke depan. Pemindahan ibukota harus dilihat secara futuristik dan berfikir prospektif, sehingga apa pun bentuk biaya yang akan ditimbulkan pada masa sekarang yaitu pada saat proses pemindahan ibukota propinsi ini merupakan investasi daerah. Bukan biaya yang bersifat penanggulangan, apalagi dilihat sebagai biaya konsumtif. Mengapa merupakan biaya investasi, karena pengeluaran yang dilakukan bernilai ekonomis (economic value) dan akan memberikan hasil berlipat ganda (multiflier efect) di masa akan datang (future added value). Banjarmasin Overload Pusat perkotaan umumnya memiliki karakteristik, ditunjukkan dengan tingginya tingkat kepadatan penduduk yang bermukim. Bahkan tingkat kepadatan penduduk di perkotaan, cenderung melampaui ambang batas toleransi atau overload. Begitu juga yang terjadi di pusat Kota Banjarmasin sebagai ibukota propinsi dengan luas wilayah terkecil dari kabupaten/kota di Kalsel yakni hanya 72,67 kilometer persegi. Di lain pihak, jumlah penduduknya tertinggi yang menempatkan Banjarmasin menjadi wilayah terpadat hingga mencapai 7.417,92 jiwa per kilometer persegi (BPS, 2002). Sementara rata-rata tingkat kepadatan di kabupaten/kota lainnya hanya antara 77,26 - 112,29 jiwa per kilometer persegi. Hampir 66 kali lipat tingkat kepadatan di Banjarmasin, dibandingkan rata-rata kepadatan penduduk kabupaten/kota lain di Kalsel. Ini angka perbandingan yang cukup fantastis. Keterbatasan ruang (space) ini mempunyai implikasi ke berbagai aspek kehidupan dan pembangunan yang dilakukan. Dampak Lingkungan Manusia sebagai makhluk hidup selalu berinteraksi dengan lingkungannya, yang dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan ekologi. Seperti terjadinya penggunaan lahan untuk permukiman penduduk, tingkat polusi yang tinggi, bentuk pencemaran lingkungan lainnya seperti sampah yang sulit diatasi. Di Banjarmasin, penggunaan tanah lebih didominasi untuk permukiman penduduk (settlement) yaitu seluas 3.434 hektare, dan untuk sawah (rice field) hanya 1.368 hektare (BPS, 2002). Ini menunjukkan kondisi terbalik, di mana penggunaan tanah untuk persawahan di kabupaten/kota lainnya lebih besar daripada untuk permukiman. Dapat disimpulkan, tanah di Kota Banjarmasin lebih banyak digunakan untuk kawasan permukiman daripada untuk lahan yang bersifat memproduksi makanan pokok masyarakat. Akibatnya, menempatkan Banjarmasin pada urutan terendah hasil produksi padi, yaitu hanya 5.915 ton per tahun. Berbanding terbalik dengan jumlah penduduknya yang menduduki rangking tertinggi dan terpadat. Ini merupakan perimbangan yang kurang menguntungkan, jika kita kembali kepada Teori Malthus. Teori ini menghendaki, produksi makanan harus lebih besar dibandingkan jumlah dan pertumbuhan penduduk. Suatu saat, Banjarmasin tidak memiliki lagi lahan pertanian. Sebab, perkembangan yang pesat terjadi pada pembukaan dan penggunaan lahan untuk kawasan permukiman penduduk. Apalagi Banjarmasin merupakan pusat kota, sehingga menjadi daerah yang terbuka luas untuk terjadinya migrasi. Tanah semakin terbatas, menimbulkan biaya tinggi untuk mendapatkannya. Ini berdampak kepada biaya investasi yang tinggi untuk membangun kawasan produktif yang strategis. Kawasan permukiman yang kumuh dan berdesakan, dapat menjadi ancaman kesehatan yang cukup serius, karena kurang layaknya lingkungan dan sanitasi, merupakan wahana berkembangbiaknya penyakit dengan penularan yang sangat cepat (sporadis) sebagai akibat lemahnya daya tahan tubuh. Efek yang jarang diperhitungkan yaitu meningkatnya biaya pembangunan kesehatan yang harus dikeluarkan pemerintah dalam rangka penanggulangannya. Dampak lingkungan lainnya adalah polusi. Tingkat polusi bergerak naik seiring makin sesaknya penduduk (crowded) di suatu area permukiman. Polusi dari asap buangan kendaraan bermotor yang jumlahnya saat ini semakin meningkat tajam di Kota Banjarmasin. Ini ditandai dengan makin tingginya frekwensi kemacetan (traffic jam) yang terjadi di jalan-jalan utama, membuat Banjarmasin tidak lancar lagi untuk dilalui. Pengaruh lainnya pada disefisiensi waktu yang harus tersita dalam perjalanan. Penanganan sampah yang tidak pernah habis, juga merupakan sumber polusi yang membahayakan kesehatan masyarakat, di samping dapat mengurangi keindahan wajah kota. Tingkat polusi di kota Banjarmasin ini akan terus meningkat di masa yang akan datang. Apa pun bentuknya, efek polusi pasti tidak baik bagi kehidupan manusia. Seperti kendaraan bermotor yang menggunakan bensin dan solar, akan mengeluarkan gas CO, nitrogen oxyda, belerang dioxida dan partikel lainnya sebagai sisa pembakaran. Bila mencapai kwantum tertentu, unsur ini dapat menjadi racun bagi manusia. Misalnya gas CO (karbonmonoksida), merupakan racun bagi fungsi darah. Begitu pula CO2, hanya dengan kadar tiga persen dapat menimbulkan penyakit sistem pernapasan. Mungkin saja ini sudah terjadi, karena infeksi saluran pernafasan merupakan penyakit paling banyak diderita warga Banjarmasin. Namun paling tidak dalam jangka panjang kondisi lingkungan seperti ini akan berpengaruh secara signifikan baik kepada kesehatan, maupun sikap dan perilaku masyarakat. Dampak Sosial Keterbatasan ruang, saling dempet, himpit, rebut, kesemerawutan adalah sebagai akibat kelebihan beban (overload), kelebihan beban berbanding searah dengan tekanan (pressure) yang akan ditimbulkannya. Semakin besar kelebihan beban, maka semakin tinggi tingkat tekanan. Tekanan berhubungan langsung dengan ketahanan (defense). Keseimbangan antara tekanan dan ketahanan dapat menimbulkan kekuatan (survival). Ini baik, sifatnya akselarasi dalam pembangunan. Namun jika tekanan melampaui batas ambang toleransi, dapat menimbulkan frustasi yang diwujudkan dalam bentuk berbagai macam kerawanan sosial. Seperti mudahnya terjadi konflik, meningkatnya angka kriminalitas, tindakan anarkis. Semua itu dikarenakan terbatasnya ketersediaan berbagai sumberdaya (resources availability) yang berbanding terbalik dengan jumlah pengguna dan pemakai, menimbulkan berbagai cara kompetisi untuk mendapatkannya. Berbagai cara ditempuh hanya untuk bertahan hidup. Menjamurnya Pedagang Kaki Lima hampir di setiap sudut kota, menggelar dagangan tanpa mengindahkan perda. Bahkan lebih banyak penjual, daripada pembeli. Kondisi ini membuat kewalahan petugas penertiban. Betapa sulit menegakkan hukum dan peraturan, ketika bertabrakan dengan kelangsungan hidup orang banyak yang sama-sama ingin hidup. Akibatnya rawan konflik, lebih fatal lagi dapat melukai hati rakyat. Kerawanan sosial lainnya adalah sebagai akibat terjadinya ketidakseimbangan antara keterbatasan dan kemampuan kompetensi, akhirnya menimbulkan frustasi dan distorsi pada norma kehidupan di masyarakat. Hal ini ditandai dengan tingginya angka pengguna narkoba di Kalsel, sehingga menempatkan daerah ini pada rangking empat terparah secara nasional. Kerawanan sosial ini bersifat menghambat lajunya pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Permasalahan yang ditimbulkan dari kerawanan sosial ini, akan menyita waktu dan pikiran pemimpin daerah yang seyogyanya lebih diarahkan atau difokuskan pada sektor pembangunan yang bersifat nilai tambah untuk kemajuan daerah. Tidakkah semua itu menjadi penghambat dan proses perlambatan (retardation) tumbuh kembangnya pembangunan di Banjarmasin. Hakikat Pembangunan Ekonomi Banyak kesalahan yang kita temui, ketika berbicara tentang pembangunan ekonomi suatu daerah. Perumusannya didasarkan pada pertimbangan yang bersifat ekonomi saja. Padahal dalam melaksanakan pembangunan ekonomi harus ditelaah dari berbagai sudut, karena banyak sekali faktor yang saling mempengaruhi dan merupakan jalinan dari masalah sosial, lingkungan hidup, politik, hukum, administrasi. Bahkan masalah kependudukan dan kesehatan masyarakat yang semuanya saling mempengaruhi, berkaitan, mendukung satu sama lain. Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses yang menyebabkan pendapatan perkapita masyarakat atau penduduk di suatu daerah meningkat dalam jangka panjang. Pertambahan penduduk yang mengakibatkan over population dalam suatu area, berpengaruh negatif terhadap pembangunan sosial ekonomi. Karena, terlalu besar jumlah penduduk yang harus dijamin kebutuhan hidup primer dan skundernya sehingga investasi modal sukar diadakan, sebagian besar biaya pembangunan dihabiskan untuk kebutuhan pangan, sandang, rumah, pelayanan kesehatan dan pendidikan itu sendiri. Efek lainnya adalah pengangguran tidak kentara, mewarnai wajah kota yang padat penduduk sebagai akibat terjadinya berbagai kompetisi untuk memperebutkan lahan yang sempit dan terbatas. Jumlah pengangguran akan berkontribusi negatif terhadap pembangunan ekonomi, karena menjadi komponen pengurang dari pendapatan rata-rata penduduk. Pembangunan ekonomi merupakan proses yang menyebabkan pendapatan per kapita masyarakat meningkat, maka upaya ini diarahkan dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat itu sendiri (capacity building) agar menjadi lebih produktif. Agar lebih produktif, mereka harus memiliki berbagai kemampuan yang umumnya didapat melalui sektor pendidikan dan latihan. Pendidikan yang berhasil ditentukan lagi oleh banyak faktor seperti tersedinya fasilitas, tingkat kesejahteraan guru dan dosen, sampai pengaruh asupan gizi yang diperlukan yang berkaitan erat dengan tingkat pendapatan keluarga (family income). Semua ini terus membentuk sebuah rangkaian yang saling berhubungan dan berputar dengan cepat serta melelahkan (vicious circles). Gizi rendah berakibat pada rendahnya performance dalam proses transformasi ilmu pengetahuan, drop out sekolah, kualitas kelulusan, produktivitas rendah, penawaran tenaga kerja lebih tinggi daripada permintaan, mendorong bekerja dengan tingkat upah yang rendah. Ini mempengaruhi pendapatan dan kemampuan pemenuhan gizi yang memadai. Akhirnya secara rata-rata mempengaruhi tingkat pendapatan per kapita dan pembangunan ekonomi di daerah secara umum. Pemindahan ibukota ke Banjarbaru menjadi sebuah langkah pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development). Tidak hanya memecahkan satu permasalahan, namun merupakan solusi dari berbagai akar permasalahan yang tentu akan menciptakan percepatan (akselarasi) dalam pencapaian tujuan dari pembangunan yang dilaksanakan. Bukankah bumi Allah itu luas, dan Tuhan menjanjikan penghidupan yang lebih baik bagi orang yang melakukan hijrah. * Staf Humas Pemprop Kalsel, tinggal di Banjarmasin [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org! http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

