Mas Ari, sekedar hasil pengamatan. Disini saya sudah lihat orang Turki berdatangan kemari (juga ke Jerman dipertengahan tahun 60an). Generasi pertama masih sangat ketat dalam berperilaku agama. Jilbab tanpa kecuali. Kini ditahun 2000an awal, sudah bermunculan generasi ketiga, yang sudah berusia 20an sampai 30an.
Banyak diantara wanita remaja Muslim (Turki, Bosnia, Kosovo, Persia, Marokko) yang tak lagi mengenakan jilbab. Mereka memakai jeans dan baju yang sama terbukanya (atau tertutupnya) dengan rekan rekan mereka Non Muslim. Rambut mereka sama tergerai diangin senja (atau angin pagi). Di pantai, mereka berenang tak terbedakan dengan teman teman yang lain. Gantian, mas, beberapa wanita bule yang nikah dengan orang Turki atau Tunisia, dll, memakai jilbab lebih ketat dari yang lahir dinegara Muslim, atau berasal dari keluarga Muslim. Salam danardono --- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbak trulysoul, > > 1. teman teman di milis wm, lagi rame ngebicarain masalah pelarangan jilbab > di luar negeri --> eropa, dan diskusi lebih mendalam lagi tentang motivasi > pembuatan peraturan dan konteks sosial masyarakat muslim afrika di eropa. > menunggu komentar anda ? > > 2. diskusi dimilis wanita-muslimah itu menurut saya cukup asik dan cukup > banyak sharing berbagai pandangan, sehingga kita gak cuman bisa ngomong ini > biadab, itubiadab tanpa berusaha mendalami masalahnya lebih jauh. Btw, baca > diskusinya mulai dari bawah yak .. kalau mau yang lengkap sih ya monggo > ikutan di milis wanita-muslimah he he he ......... > > > salam, > Ari Condro > > ----- Original Message ----- > From: "Herni Sri Nurbayanti" <[EMAIL PROTECTED]> > > Makasih, mas ayeye :-) Saya lebih menerima penjelasan di bawah ini, > hehehe. Saat ini orang memang mulai mempertanyakan multikulturalisme > di eropa. Belanda sendiri mengklaim dirinya multikultural tapi toh > perbedaan perlakuan antar etnis, ras, dll masih ada. > > Memang kita tidak bisa menggeneralisasi, bahwa perbedaan itu muncul > tidak saja antar kelompok tapi juga dalam suatu kelompok ttt. Karena > awal masalahnya diskusi ini soal perempuan berjilbab di negara eropa, > kita tidak bisa melihatnya dari sudut gender saja. Karena gender pada > kenyataannya berinteraksi juga dng relasi kekuasaan yg lain sehingga > ras, suku, agama, kelas/status sosial, dll juga ada didalamnya. Sama > halnya dng komunitas muslim yg berbeda-beda, komunitas 'masyarakat > eropa' pun berbeda2 mungkin menurut rasnya, kelas/status sosialnya, > dll. Ini yg menambah rumit permasalahan sehingga tidak bisa main > analisa pukul rata :-) > > 'Trend' skrg kan munculnya aliansi antar berbagai macam gerakan sosial > dan umumnya selalu dipaketkan dng gerakan perjuangan HAM :-) > > wassalam, > herni > > > --- In [email protected], "ayeye1" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya pengen ikut nimbrung sedikit, Mbak Herni :-) > > Dalam masrakyat Eropa tentu ada masalah dengan HAM seperti rasisme dan > terjadi tindakan kriminal dan kejahatan. Sebagian masrakyat memandang > para imigran seperti penalu yang menghabiskan uang negara dan > pandangan itu sering bersifat memukul-rata tanpa melihat situasi > masing-masing anggota masrakyat, kecuali penampilan fisik luar. Kalau > saya pribadi mengassumsikan bahwa mayoritas dari mereka yang melihat > semua imigran dengan kaca mata negatif berdasarkan sterotype itu > cenderung bukan termasuk kontributor pajak yang besar. Kemudian emosi > tersebut juga suka dieksploitasi oleh individu politikus serta partei > politik tertentu. > > Seharusnya kita bisa berharap bahwa di masrakyat Eropa, rasisme justru > sudah boleh dikatakan menghilang, karena bentuk masrakyat pada > umumnya, bahkan sampai ke sebagian kampung-kampung, sudah bersifat > heterogen (campuran). Sedangkan sifat heterogenitas seharusnya > menyebabkan agar para anggota Eropa sudah saling lebih mengenal dan > lebih hidup bersama (bukan hanya berdampingan) serta lebih toleran - > seharusnya, tetapi belum menjadi kenyataan secara keseluruhan-. > > Tetapi saya juga bisa melihat sisi lain dengan lebih menjadi optimis, > yaitu sebagian rasisme akan bersifat temporer dan kemudian hilang > setelah proses asimilasi dan integrasi antara pendatang dan penduduk > selsesai. Contohnya, tahun awal 80an banyak warga dari Sri Lanka > datang ke Eropa dan diberikan izin tinggal sementara karena keadaan > politis di Sri Lanka pada waktu itu. Semulainya banyak masrakyat > setempat memprotes keberadaan para pendatang dari Sri Lanka, hingga > kata "Tamil" digunakan sebagai kata jelek dan banyak lelucon pula yang > lahir di saat itu dengan tujuan melecehkan para pendatang dari Sri > Lanka. Ternyata para pendatang baru bukan termasuk orang yang malas > atau penalu (seperti sering digambarkan pada waktu itu), tetapi mereka > mulai bekerja dan berasimilasi dengan baik, meskipun dengan tetap > memelihara kebudayaan mereka. Suatu saat waktu pemerintah di salah > satu negara Eropa ingin mengusir sebagian penduduk asal Sri Lanka > karena masalah perizinan, malahan masrakyat lain turun ke jalan sambil > memprotes, terutma dari kalangan pengusaha. Akhirnya pemerintah harus > mengalah dan membatalkan pengusiran. Sekarang boleh dikatakan tidak > ada pendapat negatip lagi yang moncol tentang masrakyat Eropa yang > dulu datang dari Sri Lanka. > > Harapan saya dengan nanti mudah-mudahan bergabungnya Turki dengan Uni > Eropa, masrakyat Eropa akan menjadi lebih akomodatif terhadap sesama > warga yang beragama Islam dan itu kemudian akan memberi signal yang > kuat terhadap ekstrimisme dan fasime, baik yang bertumbuh atas rasisme > dan/atau ideologi agama. > > Salam, > ayeye > > === > > Terimakasih mbak Ni. Membaca uraiannya mbak seolah-olah saya jadi > merasa di Eropa - di ghetto-ghetto itu. Inilah yang dari dulu saya > tunggu-tunggu, bagaimana kita bercerita tentang keadaan sosial- > psikologis disekeliling kita dan menginformasikannya kepada temen- > temen di belahan bumi lain. > > Pantesan selama ini kesannya Pak Dana sama orang Arab gimana > gitu...sampe dulu kan pernah mau diruwat sama temen-temen disini > hahaha...Udah saya pancing-pancing, karena pingin tahu bagaimana > demography sosial Muslim disana, tapi Pak Dana suka hemat > cerita..hehehe... > > Sejujurnya baru setahun dua tahun belakangan ini saya mulai 'ngeh' > dengan kondisi masyarakat Muslim di Eropa. Apalagi selama ini > pandangan saya dibayangi dengan imigran Muslim di Amerika yang > secara pukul rata lebih sukses, bahkan kadang diperhitungkan secara > politis (termasuk Black Muslim). > > Kok saya jadi membandingkan ghetto Muslim Eropa dengan ghetto Black > people di Amerika? Eksesnya, yang satu diasosiasikan dengan rasial > agama, yang satu lagi dengan rasial kulit. Dan jadi > mengasosiasikannya dengan Yahudi Eropa jaman dulu. > > Tentu saja setiap negara-bangsa punya persoalan lokalitas masing- > masing. Karena itu hipotesa saya yang berikut patut dipertanyakan > apakah relevan dan valid: "Dengan latar belakang sosio-demografi > masing-masing, patut dipertanyakan apakah garis besar kebijakan > negara Eropa efektif dalam mengelola imigran, dengan tolak ukur > Amerika yang relatif lebih sukses?" Ini adalah pertanyaan hipotetis > yang meminta jawaban yang komprehensif. > > Pak Dana memang mensimplifikasikan permasalahan dengan langsung saja > membenturkan soal sekuler, hukum negara sekular yang berlaku dengan > dinamika masyarakat terkini di ERopa. Karena blio bilang: patuhilah > hukum tanpa kompromi. Iyalah, aku pikir nggak ada yang membantah > ini. Tapi kan kita lagi ngomongin kebijakan publik seperti jilbab. > Apa salahnya kalau ada gerakan inisiatif Pemerintah dan > NGO 'mempromosikan' jilbab sebagai wilayah pribadi. Biarkan > perempuan-perempuan itu memutuskan untuk dirinya sendiri setelah > mendapat pencerahan, ketimbang diatur sana-sini oleh komunitasnya > sendiri, eh...malah oleh negara pula. Kita mengakui simbolisme salah > kaprah dari jilbab itu, namun kita harus mengambil resiko susah > payah untuk meruntuhkan simbolisme itu dengan kebijakan yang > persuasif dan rasional. Kurang dari pada ini, adalah sama saja > dengan memerangi simbolisme itu dengan kebijakan emosional > yang 'stupid'. Dan akibatnya menjurus ke arah EGP, diskriminasi > bahkan clash of civilisation. > > Kemudian Pak Ary mengangkat soal EGP (ketidakpedulian) setiap kita > dalam soal kemiskinan orang lain, Iyah emang. We are the best > people, we are not guilty (or maybe feeling guilty if we are > Germans), but we don't want to spend our money, we dont wanna have > dirty hands, we dont wanna share our gentility (if we are British > and Parisian) and we don't want to take risks! > > That's EGP all about. Dan jelas EGP itu nggak rasional, karena > kemiskinan orang lain adalah persoalan kita semua. Ketika kita lahir > ke dunia, kita nangis karena udah ngeliat resiko ke depan. Hadis > yang bilang bahwa berkah Allah nggak datang pada kita selama > tetangga kita itu nggak makan, kan maksudnya ini, bukannya literal > ngasih makan tetangga kita itu setiap hari. > > Persoalan kemiskinan yang makin jadi struktural dan sikap EGP > menguatirkan. Jadi mengarah ke clash civilisation terhadap Islam. > DAlam hal ini jadi mengental stigma terhadap ajaran Islam itu > sendiri, justru yang diyakini oleh Muslim. Walah, pantesan Jusfiq > jadi koyo ngono. Kelamaan di Eropa dia. Lihatlah dampak dari stigma- > stigma itu. Yang moderat jadi merasa termarjinalkan, yang miskin > jadi marah, yang fundamentalis ngebom, orang lain jadi melihat Islam > tambah mengenaskan. > > Saya nggak bicara soal bagaimana ajaran Islam itu, yang masih > diyakini secara harafiah dan fiqh oriented, yaitu fiqh dari 1400 > tahun lalu. Saya bukan bicara soal ini. Tapi saya bicara soal > stigma pada suatu keyakinan yang dipercayai jutaan orang. > > Mempercayai dan mengikuti suatu stigma adalah suatu bentuk EGP dan > nggak rasional. Karena stigma memarjinalkan orang lain dari > lingkaran persoalan kita sendiri dan mereka, yang merupakan > persoalan bersama. > > Saya percaya bahwa kebanyakan netter disini relatif bebas dari > stigma. Tapi jangan lupa untuk mensharing pengetahuan kita pada > keluarga dan temen-temen lain. > > Salam > Mia > > > === > > Pak Dana, > > Jerman mungkin lebih bingung lagi kalau dibandingkan > dengan negara tetangganya karena masih trauma zaman > Nazi, dan banyak orang Jerman takut untuk mengkritik > orang asing dengan terbuka - jangan2 nanti dibilang > rasis atau neonazi, yang anti-orang asing (Ausländer). > Ideologi multiculturalism (yang dipraktekkan sebagai: > makanan, musik dan tari2an orang asing itu bagus dan > dinikmati, tetapi apa yang terjadi di balik pintu > rumah tetangga orang Turki, itu bukan urusan kami, > biar si pasha itu memukul istrinya dan memaksa anak > perempuannya yang masih remaja untuk menikah dengan > sepupunya, kami tidak ingin tahu /EGP) terlalu lama > dianut tanpa kesadaran kritis terhadap realitas budaya > lain yang bukan hanya terdiri dari musik dan makanan, > tetapi sering juga dari norma-norma sosial yang > sebenarnya tidak bisa diterima lagi pada zaman > sekarang di Eropa. Tapi lama sekali sepertinya tabu > untuk mengkritik situasi dalam ghetto orang Turki. > > Masalah2 itu baru diangkat menjadi topik wacana publik > setelah terjadi pembunuhan van Gogh di Belanda tahun > yang lalu. Sekarang justru banyak perempuan keturunan > Turki yang paling vocal dalam mengkritik kenaifan > orang Jerman dalam menghadapi keberadaan budaya asing, > mereka menuduh orang Jerman sengaja tidak mau tahu > kekerasan terhadap perempuan dalam banyak keluarga > Turki. > Baru sekarang beberapa buku otobiografi oleh perempuan > Turki yang menjadi korban kekerasan yang dilegitimasi > dengan "adat" dan "agama" bisa terbit. Kata mereka, > mereka sudah menulis buku ttg nasib mereka pada tahun > 90an, tetapi waktu itu tak ada satu penerbit pun yang > berani untuk menerbitkannya, alasannya takut nanti > penerbit mendapat stigma sebagai penerbit rasis, dan > after all, masalah intern komunitas Turki itu tidak > interesting buat pembaca Jerman. > > Nah baru sekarang masyarakat Jerman menghadapi masalah > "Parallelgesellschaft" (masyarakat paralel, artinya di > dalam negara ini terdapat "negara" lagi, a society > within a society with its own rules, invisible to and > unreachable by the state and the wider community), dan > belum jelas bagaimana sikapnya orang Jerman yang baru > sadar atas realitas itu. Yang jelas, masyarakat/negara > Jerman harus mengambil sikap yang tegas, seperti kata > Pak Dana, untuk menentukan di mana batasnya. Supaya > jelas. Soalnya, di mana batasnya untuk beragama? > Sekarang masalahnya jilbab, besok mungkin masalahnya > burqa atau niqab. Kalau jilbab boleh, kenapa burqa > tidak boleh? Dan kalau ada orang suku Indian dari > Amazonas datang, mau sekolah di Jerman, tapi tetap > telanjang seperti di rimba sana, abis itu budaya dan > agamanya, kalau yang Islam boleh pakai burqa dengan > alasan kebebasan beragama, kenapa dia tidak boleh > telanjang masuk sekolah atau universitas? nah jadi > bingung kan... memang harus ada batasnya yang jelas. > Tapi kayaknya orang Jerman belum berani menunjukkan > sikap yang jelas... masih bingung antara romantisme > multiculturalisme, ketakutan dianggap rasis dan > neonazi, dan masalah2 dalam ghetto orang Turki. > > Ironisnya, perempuan aktivis keturunan Turki itulah > yang paling keras menuntut penegakan norma sekularisme > dan ideal2 zaman enlightenment (Aufklärung bhs > Jermannya, kalau Verklärung itu artinya > idealisasi...). Orang Jerman sendiri mungkin sudah > terlalu manja ya, semua sudah taken for granted... > > btw... bulan lalu saya membaca buku "Maps for Lost > Lovers", karangan Nadeem Aslam ttg kehidupan orang > Pakistan di Inggris... Kalau ada yang ingin tahu > dilema dan masalah antarbudaya dalam salah satu > komunitas imigran di Inggris, buku ini bagus. Kutipan > covernya: > "In an unnamed town Jugnu and his lover Chanda have > disappeared. Rumours abound in the close-knit > Pakistani community, and then on a snow-covered > January morning Chanda's brothers are arrested for > murder. Telling the story of the next twelve months, > Maps for Lost Lovers opens the heart of a family at > the crossroads of culture, community, nationality and > religion, and expresses their pain in a language that > is arrestingly poetic." > > salam, > ni londo > > > > --- Dana Pamilih <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > --------------------------------- > DP: > Yang saya lihat problema ini berasal dari negara2 > Barat yg mengkompromikan prinsip nation-state mereka. > Suatu prinsip yg susah payah ditegakkan di jaman > Enlightenment (Verklarung bhs Jermannya?) > sekarang ini dibiarkan larut akibat pertimbangan2 HAM > dan kemanusiaan moderen. > > Eropah Barat dibingungkan oleh situasi yg mengulang > abad pertengahan di mana kesukuan berdasarkan agama > (religious tribalism) yg menentukan bukan lagi hukum > negara yg sekuler. Hukum negara tidak lagi berada di > atas hukum agama utk kasus tertentu, yaitu karena > penganut agama itu diperbolehkan menolak mengakui > hukum negara walaupun menjadi warganegaranya. Jelas > mana mungkin rule of law itu tegak kalau ada yg bisa > memilih utk tdk mengakui hukum itu sendiri. > > Ini mungkin terlalu menggampangkan situasi tetapi saya > pikir sudah saatnya negara2 Eropa itu tegas: kalau > mau jadi warganegara kami Anda harus mengikuti hukum > kami. Titik. Tanpa kompromi. > > > === > > masalahnya kadang2 jilbab justru jadi sangat > penting sebagai simbol. Di Perancis misalnya, di > daerah2 yang banyak penduduk imigran Muslim dari > Afrika Utara, semakin sering terjadi gang rape. Anak2 > muda itu membenarkan gang rape itu dengan alasan: "si > cewek itu tidak pakai jilbab, jadi dia salah sendiri > kalau diperkosa. Coba kalau pakai jilbab, jadi > perempuan "baik", pasti tidak terjadi. Tapi karena dia > tidak pakai jilbab, ya jangan heran kalau dia dianggap > lonthe dan diperkosa. Wajar saja kok." > > Awal tahun ini di Berlin terjadi pembunuhan seorang > perempuan keturunan Turki, dibunuh di jalan pas dia > tunggu di halte bis, oleh adiknya sendiri (laki2). > Alasannya: kakak perempuannya sudah mempermalukan > kehormatan keluarganya karena dia hidup "seperti orang > Jerman" dan "melepaskan jilbabnya". Jadi dia pantas > untuk dibunuh oleh saudara laki2nya. Honor killing > namanya. Yang membuat masyarakat Jerman tambah shock > waktu itu karena beberapa anak muda keturunan Turki > pas diwawancarai oleh tv malah menyetujui pembunuhan > itu, karena ya... si perempuan salah sendiri... > melepaskan jilbabnya, berarti tidak punya harga diri > lagi, berarti dia juga jadi seperti perempuan Jerman = > pelacur = pantas dan memang harus dibunuh untuk > membela kehormatan nama baik keluarganya. > > Nah dalam dinamika sosial seperti itu, arti jilbab > beda sekali dengan misalnya arti jilbab di Indonesia. > Saya punya banyak teman orang Indonesia yang > berjilbab, dan tak satupun dari mereka itu tertindas > atau kurang emansipasi. Tapi jilbab mereka itu bukan > jilbab komunitas orang Turki di Jerman. Makna simbolis > jilbab di Indonesia beda dengan makna simbolis jilbab > di komunitas tradisional Turki, misalnya. > > salam, > ni londo > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

