http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2005101623431349
RAMADAN Senin, 17 Oktober 2005 RENUNGAN: Agama tidak Pernah Mati Komaruddin Hidayat, Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta AGAMA itu wujudnya abstrak. Namun, pengaruh keberadaannya sangat riil dan nyata. Bahkan orang bisa bertikai karena agama, sejak dari soal definisi, fungsi, asal-usul dan kebenaran sebuah agama. Di antara mereka yang membenci agama, bahkan ada yang menyusun teori filsafat yang sistematis yang tujuannya untuk menghancurkan dan mengubur agama. Ada pula yang ingin membunuh agama dengan alat kekuasaan politik. Misalnya rezim Uni Soviet yang kini telah bubar, Partai Komunis China, hingga rezim Korea Utara, yang kita kenal sebagai rezim yang sangat memusuhi agama. Bahkan, jauh sebelum mereka, kita menemukan Fir'aun yang memusuhi dan mengejar-ngejar ingin membunuh Nabi Musa, ataupun Namrud yang membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim. Pendeknya, di samping memiliki pengikut setia, agama selalu memiliki musuh-musuh berupa ideologi dan filsafat yang selalu ingin menafikan keberadaan agama. Kalau saja dihitung, sesungguhnya pemimpin dan pemikir dunia yang mengingkari Tuhan dan antiagama, jumlahnya tergolong minoritas. Tapi pengaruhnya tetap hidup, bahkan cukup besar. Hal ini bisa jadi karena kekuatan gagasannya yang tersebar melalui buku-buku, atau karena kekuasaan politik yang dimiliki. Sebut saja di antara mereka adalah Karl Marx, Engels, Lenin, Nietzche, Sartre, Sigmund Freud, Michael Baqunin, August Comte, Charless Darwin, Bertrand Russel, dan beberapa nama lain yang pemikirannya masuk ke ruang kuliah di kampus. Yang menarik diperhatikan, ternyata para rezim dan beberapa ideologi antiagama itu menemukan jalan buntu, malah mengalami kegagalan karena amunisi mereka semakin lama semakin menipis, sementara agama tetap hidup di muka bumi. Mereka 'kalah' menghadapi kekuatan dan kekukuhan agama. Pengertian agama di sini adalah ajaran yang bersumber dari Tuhan yang kemudian terabadikan dalam kitab suci. Setiap kali kita berbicara masalah agama, setiap kali pula persoalan dan perdebatan akan muncul. Secara umum elemen pokok agama adalah adanya keimanan pada Tuhan, ada pendirinya, kitab suci, doktrin ajaran, dan serangkaian bentuk ritual keagamaan, serta konsep keselamatan setelah kematian. Dengan batasan tersebut maka agama selalu mengasumsikan makna plural, yaitu agama-agama (religions) karena banyak agama yang memiliki elemen di atas. Pertanyaan yang sering muncul dan menimbulkan perdebatan abadi adalah, dari sekian banyak agama, mana yang paling benar dan mana yang sesat? Para sarjana ilmu sosial, misalnya antropologi dan psikologi, misalnya, memiliki argumen dan keyakinan yang tidak selalu sejalan ketika membahas definisi agama dan asal-usulnya. Dalam pandangan mereka manusia dan masyarakat selalu mendambakan dan selalu mencari Tuhan, Dia Yang Maha Absolut, terlepas apakah mereka merasa berhasil ataukah tidak dalam pencariannya. Agama adalah dicari, sedangkan para teolog melihat agama adalah anugerah dan doktrin Tuhan yang diwahyukan. Kini kita berada dalam dunia yang terbuka sehingga perjumpaan, dialog dan benturan antara kekuatan proagama dan antiagama juga kian terbuka. Dunia terasa semakin hiruk-pikuk dengan adanya jaringan lintas agama, budaya, dan bangsa, termasuk wacana keagamaan. Beredar ribuan lembar tulisan yang berisi kritik dan permusuhan terhadap agama, yang menyatakan bahwa agama tidak lagi relevan dan tidak diperlukan oleh masyarakat modern. Mereka yang sinis terhadap agama berpandangan bahwa agama hanyalah sebuah khayalan dari orang-orang yang frustrasi dan kalah bersaing dalam perjuangan politik dan ekonomi. Agama adalah jalan pelarian dari kelelahan. Agama adalah penghibur berupa proyeksi harapan dan bayangan surga di masa depan agar hidup tetap survive. Lebih jauh lagi dikatakan, agama akhirnya jadi sumber masalah sosial, bukannya bagian dari solusi. Sekalipun beberapa kritik itu mengandung kebenaran, ternyata provokasi mereka untuk mengubur agama tidak berhasil. Agama tetap hidup, tidak mati. Sepanjang sejarah, manusia memerlukan agama, sebagai penuntun dan pedoman hidup. Dari sudut pandang psikologi-tasawuf, dorongan kita untuk beragama tidak mungkin mati karena setiap kita menerima roh Ilahi yang senantiasa merindukan Tuhannya, sedangkan roh tidak mengenal kehancuran dan kematian karena ruh bersifat immateri dan abadi. Berkaitan dengan pluralitas agama, Alquran secara eksplisit berulang kali mengungkapkan bahwa keanekaragaman flora, fauna dan bangsa, bahasa serta agama merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Ditegaskan dalam Alquran, tak ada paksaan dalam beragama karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu nyata bagi mereka yang hati dan pikirannya terbuka. Bahkan terhadap orang-orang kafir yang membangkang, Allah mengajarkan kepada Rasulullah, "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku." Namun begitu, ingatlah bahwa apa pun pilihan iman dan amal seseorang, nantinya Aku (Allah) akan membuat perhitungan dan pengadilan. Bagi generasi anak-anak kita sekarang, realitas dan wajah kehidupan akan terasa semakin warna-warni, yang ada kalanya tampak indah dan ada kalanya membingungkan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman agama yang benar serta keteladanan dari orang tua dalam mengamalkannya. Beragama tidak cukup hanya mengusung simbol-simbol lahiriah serta ritus jasmaniah. Hakikat tauhid dan kesalehan harus dimulai dan berakar kuat di dalam hati dan penalaran sehat, lalu diikuti dengan pengamalan dan penampilan lahir. Kita berdoa, semoga puasa Ramadan akan menambah bobot keimanan dan pengetahuan yang benar tentang Islam secara lebih substansial, bukan sekadar formal dan seremonial. Terdapat isyarat kuat bahwa agama semakin bangkit dan menguat dalam panggung dunia, tetapi paham dan perilaku keberagamaan yang bagaimanakah yang paling mendekati kehendak Allah dan fitrah manusia, itulah yang harus selalu kita cari di dalam proses--madrasah pengendalian diri--tahun ini.**** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

