http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/18/Ekonomi/eko01.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY Nelayan Bali Minta Pemerintah Selamatkan Sektor Perikanan Pasokan Ikan Tuna untuk Ekspor Akan Berkurang Pembaruan/Fuska Sani Evani ENGGAN MELAUT -Nelayan di Pantai Depok, Kabupaten Bantul, DIY, enggan melaut dan menyandarkan perahunya, akibat tingginya ongkos untuk BBM yang harus dikeluarkan. Sebelum kenaikan BBM, mereka mengeluarkan Rp 60.000 untuk membeli premium dan solar, saat ini membengkak menjadi Rp 200.000. Nelayan berharap ada subsidi dari pemerintah. Foto diambil Minggu (16/10). DENPASAR - Para nelayan di Bali meminta pemerintah bertindak cepat untuk menyelamatkan sektor perikanan yang menjadi andalan mata pencaharian masyarakat dan penyumbang devisa. Pasalnya, masalah birokrasi (perizinan) dan pungutan liar yang menyulitkan operasional penangkapan ikan belum teratasi, kini dampak kenaikan harga BBM dirasakan semakin membebani nelayan. Saat ini pasca kenaikan harga BBM, 1 Oktober lalu sebagian besar kapal nelayan di Benoa, Denpasar tidak lagi dioperasikan, bukan hanya karena sulit mendapatkan solar tetapi juga para nelayan tidak sanggup membeli solar yang harganya Rp 6.000 per liter. Demikian yang mengemuka dalam diskusi nelayan dengan sejumlah pejabat Departemen Kelautan dan Perikanan di Benoa, Denpasar, Bali, Senin (17/10). Menurut pengakuan para nelayan saat ini dengan harga solar Rp 6.000 per liter seperti yang ditetapkan Pertamina untuk sektor industri, biaya operasional penangkapan ikan naik hingga 70 persen. Jika semula biaya untuk pembelian BBM hanya sekitar Rp 300 juta kini dengan harga BBM yang harus dibeli Rp 6.000 per liter, biaya operasional dalam sekali jalan bisa mencapai lebih dari Rp 900 juta. "Sekarang untuk BBM saja sudah 70 persen dari total biaya operasional, dulu hanya sekitar 20 persen. Perikanan ini dianggap sebagai industri hingga diharuskan membeli solar dengan harga industri. Memang sebagian nelayan ada yang membeli solar sesuai harga subsidi Rp 4.300 per liter. Kami berharap tidak ada perbedaan harga, tetap Rp 4.300 per liter, meskipun harga itu pun sudah cukup berat," kata Agus Siswaputra, anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI). Dia membeberkan perikanan tangkap, khususnya penangkapan tuna dengan pancing panjang (longline) yang kebanyakan menggunakan kapal berbobot 60 GT ke atas oleh Pertamina digolongkan dalam kategori industri yang harus membeli BBM sesuai harga pasar. Padahal hasil penangkapan tuna longline yang pelabuhan dan pengemasannya dipusatkan di Benoa itu, hanya sekitar 20 persen yang diekspor. Sisanya untuk dipasarkan di dalam negeri. Dengan biaya operasional yang tinggi, sementara harga ekspor tuna tidak mengalami kenaikan, dikhawatirkan usaha penangkapan tuna longline di Benoa akan banyak yang gulung tikar, katanya. Harus Dibantu Ketua Umum ATLI, Simorangkir menambahkan, pemerintah seharusnya membantu menyelamatkan usaha penangkapan tuna longline di Benoa. "Paling tidak memberi jaminan agar nelayan mudah mendapatkan BBM. Sebelum harga BBM naik, nelayan di Bali susah membeli BBM karena jatahnya dibatasi. Sekarang di Benoa dari sekitar 700 kapal yang ada tinggal separuhnya yang beroperasi," katanya. Dijelaskan kapal yang beroperasi di Benoa terdiri dari kapal berbobot 30 GT ke bawah, dan 60 GT ke atas. Kapal 30 GT ke bawah diperbolehkan membeli solar dengan harga subsidi Rp 4.300 per liter, namun pembelian solar dibatasi hanya 8 ton untuk sekali pembelian (jalan). Sedangkan kapal 60 GT ke atas diharuskan membeli solar dengan harga industri, Rp 6.000 per liter. "Beban biaya BBM sangat tidak sebanding dengan hasil tangkapan, apalagi sampai sekarang harga ekspor tuna tetap lima dolar Amerika Serikat per kg, itupun hanya sebagian kecil yang diekspor. Kalau harga di dalam negeri sangat rendah sekitar Rp 25.000 per kg," katanya. Jika banyak kapal yang tidak beroperasi, menurut Simorangkir, pasokan tuna untuk ekspor akan berkurang, dan ini akan berdampak lebih luas karena bisa terjadi pemutusan hubungan usaha dengan para importir. Secara otomatis itu juga akan mengurangi pemasukan devisa dari ekspor tuna. Tidak hanya itu, tambahnya, saat ini para pemilik usaha penangkapan tuna longline juga berencana mengurangi jumlah tenaga kerja. Sebab, bila ekspor tuna dihentikan secara langsung berbagai kegiatan operasional di Pelabuhan Benoa juga akan banyak yang terhenti. Selain berupaya mengatasi kesulitan mendapatkan BBM, ATLI tengah bernegosiasi dengan sejumlah negara importir tuna, terutama Jepang dan Amerika Serikat agar bersedia membeli dengan harga di atas US$ 7 per kg. Namun, sejauh ini kenaikan harga ekspor itu sangat sulit. Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, Made L Nurdjana mengatakan, pihaknya kini sedang berupaya melobi Pertamina agar memberi keringanan kepada para nelayan untuk tetap dapat membeli solar dengan harga subsidi. (H-13) -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 18/10/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now. http://us.click.yahoo.com/T8WM1C/KbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

