Rupanya ada sudut pandang yang beda antara kita. Saya merujuk kepada 
mufassir AlQur'an, sedang mbak Tylla merujuk kpd mufassir Hadist...:-
)

--- In [email protected], tylla subiyantoro 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
> Tylla :
> Mungkin untuk lebih jelasnya,. mbak bisa baca bukunya kamla bhasin 
yang berjudul mengugat patriarki,dari situ maksud saya mungkin 
dapat 'tertangkap' dengan lebih clear.
> 
> atu coba mungkin bisa u download aja , kalao ngak salah ada deh. 
judulnya resurgent pathriarchy.

Lina:
Soal sistem patriarkist ini, saya setuju ada yang mesti diluruskan 
juga. Tapi biar sesuai judul, saya tidak membahas soal ini.
Terimakasih buat referensinya.
> 
> Fatima Mernissi ? silahkan buka di link ini
> 
> http://fatima-mernissi.biography.ms/
 
> saya nggak tau sih, setelah melihat biografi ini, Mernissi 
kompeten apa nngak, berhak apa nggak menafsirkan hadist buat mbak, 
saya sendiri walaupun muslim, nggak banyak ngerti soal standard 
orang kompeten untuk jadi penafsir.

Lina:
Makasih buat referensinya. Tapi saya kok tidak bisa lihat/baca 
biografinya Fatima Mernisi ya? Disebelah mana ya, mbak?

> tapi saya sih nggak pernah percaya sama konsep 'patron-client' 
yang terbangun berdasarkan 'standard kecakapan' personal yang 
ditetapkan secara baku, as long as bisa diterima akal, relevan sama 
realitas, dan bisa dibuktikan secara ilmiah, buat saya itu cukup 
untuk memandang sesorang kompeten atau tidak 
kompeten..hehehehe...tapi itu saya lho..

Lina: Namanya Hadist yang dikutak-katik, seorang muffassir Hadist 
harus faham pula AlQur'an. Sejauh apa Fatima Mernisi faham AlQur'an? 
Pernah belajar dimana dia tentang AlQur'an? Pernah belajar bahasa 
Arab kah? Andai saja Fatima Mernisi itu seorang yang peminum khamar, 
berpakaian mengumbar aurat..lalu dia mencoba mengutak-ngutik hadist? 
meski dia seorang muslimah meski dia pandai dan bersekolah di Barat, 
gimana dong? 

Saya percaya kok Mbak Tylla muslimah. Dalam menimba ilmu sebagai 
muslimah ada baiknya semua dikembalikan kepada wahyu atau kitab suci.
Akal, realitas, bukti secara ilmiah (filsafat positivisme?)belumlah 
cukup untuk bisa dijadikan suatu yang cukup bagi wanita muslimah 
dalam mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat. 

Simak artikel bagus dari eyang HMNA dibawah ini yang menyatukan soal 
Akal/Wahyu-Iman/ilmu tentang filsafat positivisme:

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
009. Qissah Nabi Nuh AS dan Epos Gilgamesy

Seperti telah dikemukakan dalam seri 003 bahwa ilmu pengetahuan yang 
dipelajari di sekolah-sekolah umum dibangun di atas landasan 
filsafat positivisme. Artinya ilmu pengetahuan itu tidaklah polos 
melainkan sudah dijerumuskan berpihak kepada yang atheis, tidak 
percaya akan Tuhan, yang agnostik, acuh tak acuh tentang Tuhan, dan 
yang deist, tidak percaya akan wahyu walaupun percaya akan adanya 
Tuhan. Ilmu pengetahuan yang demikian itu hanya mempunyai dua
sumber yaitu alam dan sejarah.

Para pakar yang atheist, agnotik dan deist dalam menganalisa 
pergelutan pandangan, benak dan alam pikiran manusia, tentu saja 
hanya memakai pendekatan historis. Sayangnya para pakar yang 
beragama Islam turut pula terperangkap ke dalam jaring filsafat 
positivisme, sebab kalau tidak demikian hasil analisa mereka itu 
akan dicap tidak ilmiyah: melanggar rambu-rambu dan tatacara 
keilmuan. Demikianlah para pakar dari ketiga golongan itu yang
tergabung dalam filsafat positivisme bersama-sama dengan para pakar 
yang beragama Islam yang ikut terseret secara sadar ataupun tidak 
sadar menempatkan semua agama sebagai komponen atau bagian dari 
kebudayaan. Maka mereka itu dalam mencari hubungan antara agama 
dengan agama, antara agama dengan dongeng-dongeng hasil imajinasi 
dan sastra bangsa-bangsa dahulu kala, akan memakai pendekatan 
historis itulah.

Ilmu pengetahuan harus dibina atas landasan Tawhid. Dengan demikian 
sumber ilmu pengetahuan itu adalah wahyu, alam dan sejarah. Wahyu 
berwujud Ayat Qawliyah, alam dan sejarah disebut Ayat Kawniyah. Para 
pakar orang-orang Islam akan terpelihara aqidahnya dalam berilmu. 
Mereka akan memilah-milah agama, mana agama yang bersumber dari 
wahyu yang disebut agama wahyu, mana agama yang akarnya dari 
kebudayaan yang disebut dengan agama kebudayaan, mana agama wahyu 
yang mendapatkan polusi dari kebudayaan, dan mana agama kebudayaan 
yang mendapat imbas dari agama wahyu. Pendekatan yang dipakai
dalam berilmu adalah kombinasi antara pendekatan non-historis yaitu
bersumber dari Ayat Qawliyah dengan pendekatan historis yang 
bersumber dari Ayat Kawniyah.

***

Epos Gilgamesy adalah sebuah epos yang didapatkan dalam perpustakaan 
di Niniveh, milik seorang raja Assyria yang bernama Assurbanipal 
(669 - 626 seb.M.). Epos itu bertuliskan tulisan paku di atas tanah 
liat dalam bahasa Akkadia. Di dalam Epos Gilgamesy itu diceritakan 
pengalaman Utnapisytim yang mirip dengan pengalaman Nabi Nuh AS, 
seperti yang dikisahkan dalam Tawrah (Pentateuch, The Books of 
Moses) dan Al Quran. Yaitu tentang bagaimana Utnapisytim diberitahu 
oleh dewa-dewa tentang akan datangnya banjir. Tentang bagaimana dewa-
dewa menyuruh Utnapisytim membuat perahu untuk menyelamatkan 
keluarga dan binatang ternaknya. Tentang burung merpati yang 
dilepaskan dan tentang mendaratnya perahu Utnapisytim di sebuah 
gunung ketika air bah telah surut.

Dengan metode pendekatan historis para pakar yang atheist, agnostik, 
dan deist akan menjelaskan dengan sederhana tentang kontak budaya 
bangsa Assyria, Sumaria yang berkebudayaan tulisan paku dengan 
bangsa Mesir Kuno yang berkebudayaan tulisan ideogram yang disebut 
hieroglyph. Kontak budaya itu terjadi terutama oleh karena Mesir 
Kuno takluk atau menjadi bagian dari Kerajaan Assyria. Bahkan 
walaupun Mesir Kuno memakai tulisan hieroglyph, juga mempergunakan 
tulisan paku. Bahwa kebudayaan Mesir Kuno juga mempergunakan
tulisan paku ini dapat dilihat dari penggalian arkheologis di situs
Tell-el-Amarna pada tahun 1894 . Di situ didapatkan alwah (keping-
keping atau tablet) tanah liat bertuliskan tulisan paku yang dikenal 
dalam sejarah sebagai Alwah Tell-el-Amarna, atau Dokumen Amarna. 
Sesungguhnya penemu awal dari alwah bertulisan paku itu bukanlah 
seorang pakar arkeologi, bukan pula oleh pakar sejarah, melainkan 
seorang perempuan petani Mesir. Di situs itu didapatkan sekitar 300 
alwah Dokumen Amarna, yaitu sejumlah arsip surat-menyurat
diplomatik antara Fir'aun dengan kerajaan-kerajaan Asyiria, 
Babylonia, Anatolia, Palestina dan Syria. Patut dicatat, yang tak 
kurang menariknya pula seperti Epos Gilgamesy, ialah di antara 
Dokumen Amarna itu terdapat Nyanyi Pujian Fir'aun Akhenaton yang 
mirip-mirip dengan Mazmur 104:24-27 dari Nabi Daud AS.
Insya Allah hal ini akan dibahas dalam kesempatan yang lain.

Dari kontak budaya tersebut para pakar yang atheist, yang agnostik 
dan yang deist berkesimpulan bahwa penulis Pentateuch yang hidup 
lebih kemudian dari Epos Gilgamesy, mendengar epos tersebut dari 
cerita-cerita rakyat lalu dituliskannya dan menjadi bagian dari 
Pentateuch. Demikian pula penulis Al Quran mendengar cerita air bah 
itu dari para pendeta Yahudi, lalu dimasukkannya pula dalam Al 
Quran, demikian menurut kesimpulan para atheist, agnostik dan
deist itu.

***

Akan tetapi jika ilmu pengetahuan itu sudah di-Islamkan, artinya Ilmu
Pengetahuan itu berlandaskan Tawhid, maka dalam hal Qissah Nabi Nuh 
AS dan Epos Gilgamesy ini cara pendekatannya ada dua.

Pertama, metode pendekatan kombinasi non-historis dan historis
dipergunakan dalam menganalisis proses penulisan Epos Gilgamesy 
bertulisan paku di atas tanah liat itu. Cerita air bah diteruskan 
dari mulut ke mulut mulai dari keluarga Nabi Nuh AS yang ikut 
berlayar bersama Nabi Nuh AS di atas perahu. Demikianlah secara 
turun-temurun dari ayah ke anak, ke cucu, ke cicit dan seterusnya 
hingga pada zaman Kerajaan Assyria. Orang Akkadia yang 
dilatarbelakangi oleh agama polytheist, penyembah dewa-dewa 
menuliskan cerita yang turun-temurun itu di atas tanah liat dengan 
tulisan paku. Karena dilatarbelakangi dengan budaya menyembah dewa-
dewa itulah, maka Allah Yang memberitahu akan datangnya banjir 
berubah menjadi dewa-dewa yang memberitahu akan datangnya banjir.(*)

Kedua, pendekatan non-historis dipakai mengenai adanya cerita air 
bah itu dalam Tawrah dan Al Quran. Nabi Musa AS mengetahui cerita 
air bah itu bukan dari cerita turun-temurun melainkan langsung 
mendapatkan informasi dari Sumber Informasi, yaitu Allah SWT dengan 
perantaraan wahyu. Demikian pula Nabi Muhammad SAW mengetahui 
peristiwa air bah itu bukan dari pendeta Yahudi melainkan dari 
Sumber Yang Satu, yaitu Allah SWA melalui wahyu.
Nahnu Naqushshu 'alayka Ahsana lQashashi bima- Awhayna- ilayka Ha-dza
lQura-na wa in Kunta min qablihi lamina lGha-filiyna (S.Yusuf,3).
Kuceritakan kepadamu (hai Muhammad) qissah-qissah yang terbaik dengan
mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya sebelumnya (engkau
mendapatkan wahyu itu) engkau belum mengetahuinya (12:3).

Demikianlah dari penyajian di atas itu makin jelaslah bahwa ilmu 
pengetahuan itu tidak mungkin otonom, tidak mungkin polos, tidak 
mungkin tidak memihak, tidak mungkin tanpa nilai. Sebab yang 
dimaksud selama ini dengan otonom, tanpa nilai, adalah pemihakan 
kepada para atheist, agnostik dan deist yang bergabung dalam 
filsafat positivisme. Artinya pernyataan yang membiuskan para
pakar yang beragama Islam tentang polosnya ilmu pengetahuan itu 
adalah pernyataan yang palsu.

Coba bayangkan, betapa parah akibatnya jika seorang pakar Muslim 
yang taat asas pada pernyataan otonomi ilmu pengetahuan itu lalu 
hanya mengadakan pendekatan historis saja terhadap Epos Gilgamesy, 
memasukkan agama ke dalam disiplin ilmu-ilmu kebudayaan, berarti ia 
mengingkari wahyu, yang berarti pula menolak AlQuran itu sebagai 
kumpulan wahyu yang akhirnya berarti mengingkari kenabian RasuluLlah 
SAW, maka murtadlah ia demi taat asas kepada ilmu pengetahuan yang 
berlandaskan filsafat positivisme itu. Na'uwdzu bi Lla-hi min 
dzalik. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassr, 15 Desember 1991
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
-------------------------------

Selamat menimba ilmu. Selamat memperjuangkan feminisme, asal jangan 
yang kebabalasan ya?

wassalam,







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke