** Mailing List Nasional Indonesia http://www.ppi-india.org ** 
** Situs milis nasional: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ** 
** Info Beasiswa Indonesia http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
Karena kenaikan harga BBM yang gila-gilaan, di satu
sisi pemerintah mendapat tambahan uang sekitar Rp 162
trilyun dari penjualan BBM di dalam negeri, di sisi
lain rakyat harus mengeluarkan uang lebih karena biaya
hidup melonjak drastis.

Di satu sisi anggaran pemerintah, gaji pejabat,
pegawai perusahaan minyak dan pegawai negeri naik, di
sisi lain karyawan swasta semakin menderita karena
selain gaji mereka tidak naik (UMR tetap), mereka
terancam PHK karena perusahaan mengalami kesulitan
karena biaya operasional bertambah. Menaker Fahmi
Idris memperkirakan ada 1 juta orang terancam PHK
(beberapa waktu lalu di Detik.com saya baca sudah 70
ribu orang kena PHK)

Gaji buruh yang cuma sekitar Rp 1 juta sekarang habis
dalam waktu setengah bulan. Sisanya terpaksa ngutang.

Ini seperti ilustrasi Thomas Hobbes "homo homini
lupus" ("man is a wolf to every other man"). Manusia
adalah serigala bagi manusia lainnya.

"l'exploitation de l'homme par l'homme" begitu kata
Clement Duval. Pemerasan oleh manusia terhadap manusia
lainnya.

Dengan tambahan pemaksaan NPWP terhadap karyawan yang
bergaji di atas Rp 1,2 juta per bulan dengan ancaman
sitaan rekening bank dan penjara lewat RUU pajak baru,
menurut saya kita tengah menuju penjajahan terhadap
rakyat oleh bangsanya sendiri.

Menyedihkan, tapi begitulah yang saya rasakan.

Lebaran Terburuk, Ngga Bisa Mudik

RATUSAN ribu buruh pabrik di Tangerang dan Bekasi
diperkirakan gagal berlebaran di kampung halaman
karena jepitan ekonomi. "Lebaran tahun ini terburuk
bagi ratusan ribu buruh di Tangerang.  Mereka tidak
berani pulang kampung karena tingginya biaya hidup dan
ongkos kendaraan,"  ujar Ngadinah, salah seorang tokoh
buruh Tangerang.
Dalam perbincangan dengan Warta Kota Rabu (26/10),
kebanyakan buruh mengandalkan tunjangan hari raya
(THR) dan gaji terakhir untuk mudik. Namun kali ini
THR dan gaji terakhir hanya cukup digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Hampir seluruh buruh pabrik tak pernah punya
tabungan. Itu sebabnya mereka tak punya uang lebih
untuk berlebaran di kampung halaman. THR dan gaji
sekadar untuk membiayai kebutuhan hidup yang makin
mahal," papar Ngadinah yang juga pengurus Gabungan
Serikat Buruh Independen (GSBI) Wilayah Banten. 
Berdasarkan data GSBI, jumlah buruh di Kabupaten
Tangerang mencapai 307.292 orang dan di Kota Tangerang
200.000 orang. "Kami perkirakan lebih dari setengahnya
tidak bisa mudik. Kebanyakan yang tidak bisa mudik
adalah buruh yang telah berkeluarga dan memiliki anak.
Buruh lajang bisa saja tak mudik karena harus berhemat
atau bersikap hati-hati membelanjakan uangnya di masa
sulit seperti ini," kata Ngadinah.
Pernyataan Ngadinah dibenarkan Hermansyah, buruh
pabrik PT Panarub Industri di Karawaci. Hermansyah
yang sudah lima tahun bekerja di pabarik sepatu itu
mengurungkan niat mudik bersama istri dan putri
balitanya ke Lampung agar bisa survive. 
"Gaji pokok saya Rp 700.000 dan pasti habis untuk
kebutuhan sehari-hari termasuk membayar kontrakan Rp
250.000. Saya pun masih harus berutang untuk keperluan
lain," ujar Hermansyah. Padahal, Hermasnyah terima THR
sebesar Rp 1.080.000. "Tahun depan tak ada THR lagi,
kami mau hidup darimana kalau harus mudik," katanya
dengan mengurut dada.
Nurman Nur, buruh bagian packing PT Duta Abadi
Primatara, juga tak bisa mudik karena tak ada fulus.
Nurman yang bekerja di pabrik yang memproduksi
springbed merk Florence itu terimta THR Rp 900.000.
"Gaji saya Rp 1 juta sudah habis di pertengahan bulan.
Jadi THR pun tak mungkin untuk mudik kecuali untuk
menyambung hidup," katanya.
Di Bekasi, situasinya setali tiga uang. Irwan (26)
yang bekerja di PT Samsung di Cikarang berkali-kali
harus bersyukur kepada istrinya yang tengah hamil.
Pasangan muda ini merasakan belitan ekonomi. Tapi
Irwan merasa didukung oleh istrinya, Ny Rini, yang
sabar dan bisa mengatur duit dengan bijak. "Untungnya
istri saya sabar dan bisa mengatur rumah tangga," kata
pria yang sudah tiga tahun bekerja di Samsung ini.
Sudah tiga kali ini Irwan menerima bonus THR. Besarnya
Rp 900.000 atau setara dengan satu kali gaji. THR kali
ini hanya bisa dipakai untuk menutup lobang dan
belanja seperlunya saja. Tahun lalu, Irwan masih
sanggup belanja sediit mewah dengan THR. Tapi kali ini
THR itu tak memiliki power lagi. "Pokoknya beli-beli
dibatasi. THR tahun ini ngepas banget," kata Irwan
lirih.
Tahun depan, Irwan membayangkan kebutuhan besar ketika
sang istri harus melahirkan si buah hati. Irwan merasa
beruntung tidak harus mudik dengan biaya besar seperti
rekan-rekannya. Sebab, orangtua dan mertua merupakan
warga Bekasi asli.
Nasib Irwan juga lebih baik dibandingkan Nurdiyatun
(23) yang bekerja di PT Empero di Bantar Gebang,
Bekasi. Sudah tiga tahun ini ia tidak menerima THR.
"Dari tahun 2003, semua buruh kontrak di sini tidak
dapat THR lagi. Alasannya, status kami cuma kontrak,
bukan buruh tetap," ujar gadis asal Solo yang ngekos
di Jalan Raya Bantar Gebang Km 6.
Dari 500 buruh Empero, 400 orang (80 persen) merupakan
buruh kontrak. Padahal, Nurdiyatun sudah empat tahun
bekerja dan pernah menikmati THR empat tahun lalu. Nur
bergaji Rp 710.00. Padahal, setiap bulan ia harus
mengeluarkan biaya hidup, teramasuk  sewa kos senilai
Rp 800.000. Itu berarti Nur nombok Rp 90.000 tiap
bulan.
Putri pasangan Ranto Mulyono dan Ny Mulyani ini dengan
terbuka mau merinci kebutuhannya. Sewa kos Rp 150.000,
makan Rp 450.000, dan untuk biaya lain- lain seperti
kosmetik sampai Rp 200.000. Nur harus diback-up oleh
kakaknya di Depok agar bisa tetap hidup. "Ya beginilah
Mas...nasib seorang buruh pabrik, nggak bisa apa-apa,
inginnya sih gaji dinaikin atau dapat THR tiap
tahunnya," ujarnya lirih.
Nurdiyatun, Irwan, Nurman, dan Hermansyah, hanyalah
contoh kaum buruh yang kini dibelit kesulitan akibat
kenaikan harga BBM yang gila-gilaan. Tapi Ngadinah
yang aktif memperjuangkan nasib buruh, masih banyak
lagi buruh harian atau mingguan yang bernasib lebih
buruk. "Lebih banyak lagi buruh harian yang tak
menerima THR.  Jadi, pulang kampung kini jadi barang
mewah. Jangankan mudik, sekadar bisa makan saja sudah
sulit," kata Ngadinah. (Halusati A Simarangkir/Dedy)

http://www.kompas.com/metro/news/0510/28/085149.htm

Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]


        
                
__________________________________ 
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005 
http://mail.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** Situs Milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.org **
** Beasiswa Indonesia, http://informasi-beasiswa.blogspot.com **

Kirim email ke