Surat Kembang Kemuning:





ACARA TEMU SASTRA TENTANG ANDRE MALRAUX DAN E. du PERRON DI SORBONNE, PARIS 

15 Nopember 2005. 



2



Menurut rencana, Temu Sastra ini akan dibuka pada jam 16.00, oleh Kees Snoek 
dari Universitas Paris IV yang akan memperkenalkan secara singkat apa siapa 
André Malraux dan du Perron dengan makalah berjudul "Malraux dan du Perron 
Antara Eropa dan Asia [Malraux et du Perron Entre l'Europe et l'Asie].



Kees Snoek yang juga turut ambil bagian aktif dalam "Hari Sastra Indonesia di 
Paris" dua tahun silam, adalah seorang pengajar pada Universitas Sorbonne Paris 
IV di Departemen Kajian Tentang Belanda terfokus pada soal "Du Perron dan 
Pengadilan Kolonial di Indonesia". Ia pernah mengajar bahasa, sastra dan 
kebudayaan Belanda antara lain di Jakarta dan di Auckland, Selandia Baru. Sejak 
2004, ia menjuadi dosen yang tergabung pada Studi Negeri Belanda di Universitas 
Sorbonne Paris IV. Ia telah menerbitkan buku-buku tentang kebudayaan Belanda, 
tentang kritik Multatuli di Indonesia dan tentang pengarang Belanda Eddy du 
Perron [1899-1940].Kees Snoek-lah yang telah menulis biografi lengkap E. du 
Perron berjudul "E. du Perron. Het leven van een smalle mens" [La vie d'un 
homme étroit], terbit dalam bulan Maret 2005.



Kecuali itu Kees Snoek juga telah menterjemahkan sanjak dan cerita-cerita buah 
tangan Sitor Situmorang dan Rendra. Kumpulan puisi yang ia terjemahkan dan 
terbit di Jakarta dalam edisi dua bahasa pada tahun 2004 berjudul "Lembah 
Kekal" [Eeuwige vallei].



Guna melengkapi apa yang disampaikan oleh Kees Snoek, Pierre Coureux 
mempertunjukkan dokumen-dokumen koleksi pribadi Alain du Perron dan Ramon de 
Herrera, putera pelukis Pedro Creixam yang hidup sezaman dengan André Malraux 
dan Eddy du Perron. 



Pierre Coureux adalah petugas pemerintah Perancis dalam kerjasama kebudayaan 
dengan luar negeri yang didirikan sejak 10 tahun lalu. Coureux jugalah yang 
kemudian menjadi pendiri organisasi "Amitiés internationales André Malraux", 
sedangkan rasa ingin tahunya yang besar mendorongnya giat dalam penyelenggaraan 
seminar, colloques, pameran-pameran bekerjasama dengan para profesionalis 
berbagai bidang seperti museum, lembaga ini dan itu. Bersama-sama dengan 
Universitas Henri Godard, pada bulan Mart 2004, Coureux mendirikan sebuah 
majalah bernama "Pésence d'André Malraux" ["Kehadiran André Malraux"],di mana 
ia menjadi penanggujawab masalah aktualitas Malrusian [malrucienne].



Melanjutkan beberan Coureux maka Aziz Bennis, juga dari "Association des 
Amitiés International André Malraux" menyampaikan makalahnya berjudul: "Malraux 
dan Indo Cina Yang Terbelenggu" [Malraux et l'Indochine Enchaînée], disusul 
oleh Henri Godard dengan makalah: "Les amitiés de Malraux" ["Rasa persahabatan 
Malraux"] dilanjutkan oleh pembicara ketika yaitu Philippe Noble dengan kertas 
kerja berjudul:"Malraux dan du Perron, para cendikiawan dan Sisi Kiri" 
["Malraux et du Perron, les intellectuels et la rive gauche"].



Apa-siapakah ketiga pembicara lainnya yang berhasil diajak kerjasama oleh 
"Pasar Malam"ini?



Aziz Bennis adalah seorang doktor sastra modern lulusan Universitas Sorbonne 
Baru [l'Université de la Sorbonne Nouvelle yang juga disebut Paris III.



Pada tahun 2001, Presses Univrsitaire du Septentrion, Aziz Bennis telah 
menerbitkan karyanya tentang André Malraux berjudul:"André Malraux. Histoire 
d'un parcours entre deux tentations croisées: le réalism journalistiques et le 
monde imaginaire du mythomane".



Bennis sekarang sedang menyiapkan buku terdiri dari dua jilid tentang 
perjalanan Malraux di Indo Cina dan jilid lainnya tentang langlangbuananya di 
di Yaman dalam usaha memahami rahasia utama Ratu Saba. Sebagai seorang pengajar 
di bidang dokumentasi, Bennis dengan tekun pula melakukan penelitian 
perpustakaan guna memahami estetika reportase literer buah tangan Andre Malraux.



Reportase literer memang cukup banyak ditulis oleh Malraux sejajar dengan 
banyaknya negeri-negeri yang telah ia kelanai pada masa mudanya. Bentuk ini 
misalnya  bisa disimak pada karyanya "La Tentation de l'Occident" atau pada 
"Miroir des Limbes. La Corde et les souris" atau pada "Antimémoires"nya dan 
bukunya tentang Kamboja, serta yang lain-lain...lagi.



Kisah perjalanan yang ditulis secara literer di negeri Malraux ini agaknya 
telah merupakan genre sastra tersendiri.Aku tidak tahu dengan baik, sejauh mana 
genre reportase literer ini berkembang di Indonesia sekarang. Hanya jika 
mengamati tulisan-tulisan yang disiarkan di internet, aku dapatkan, sekali pun 
masih dalam bentuk awal sekali, Sigit Susanto mulai nampak memberikan perhatian 
ke genre sastra ini.Apalagi Sigit memang mempunyai syarat yang padan guna 
melakukan perjalanan demi perjalanan. Barang tentu agar reportase literer tidak 
berhenti di permukaan masalah seperti kesan seorang wisatawan, dari penulis 
dituntut pengenalan persiapan akan negeri atau tempat yang akan 
didatangi.Sehubungan dengan hal ini, aku teringat akan penting-mutlaknya 
dokumentasi dan perpustakaan seperti yang dicanangkan oleh Patrice de Beer dari 
Harian Le Monde, Paris, ketika aku mengunjunginya di kantor harian.



Sedangkan Henri Godard yang merupakan pembicara berikutnya sesudah Aziz Bennis, 
adalah profesor emeritus di bidang sastra pada Universitas Paris IV. Dialah 
yang menjadi editor karya-karya Malraux yang diterbitkan dalam serie luks 
Pléide. Kecuali sebagai editor, ia pun telah menerbitkan esainya melalui 
penerbit Gallimard, Paris,[2001], berjudul "L'expérience existentielle de 
l'art".



Mengenai Malraux dan karya-karya artistiknya, Godard mengatakan bahwa bagi 
"Malraux karya-karya artistik berhubungan dengan pertanyaan dan pertanyaan itu 
tidak pernah tidak jawab dalam artian dituatkan dengan eksistensi kita". 



Pembicara terakhir adalah Philippe Noble, seorang eseis dan penterjemah 
karya-karya sastra, penanggungjawab jaringan pendidikan tinggi antara Negeri 
Belanda dan Perancis.Setelah meninggalkan pos akademi sebagai "Maître de 
conférence"  [semacam atau setingkat kepala jurusan[?]] bahasa Belanda di 
Universitas Paris IV, sejak 1993 bekerja di Kementerian Luar Negeri Belanda. Di 
samping itu ia juga memimpin Maison Descartes [Descartes House, sebuah lembaga 
Perancis di Amsterdam].Namun pekerjaan yang paling dicintainya tetap melakukan 
penterjemahan karya-karya sastra.Di bidang ini ia telah memimpin tim 
penterjemah karya-karya Eddy du Perron secara gemilang, tapi ia pun 
menterjemahkan juga karya-karya Multatului,Etty Hillesum, Anne Franks, Cees 
Nooteboom, Harry Mulisch, dan lain-lain, dan lain-lain lagi...



Demikianlah tokoh-tokoh yang akan memberikan makalah pada Temu Sastra tanggal 
15 Nopember mendatang. Tokoh-tokoh yang memang langsung terlibat dalam dunia 
sastra, baik sebagai akademisi, atau penulis ataukah penterjemah sastra seperti 
Philippe Noble. Sedangkan François Raillon, Indonesianis, penterjemah resmi 
bahasa Indonesia negara Perancis sekaligus peneliti pada CNRS [lembaga ilmu 
pengetahuan Perancis], ahli dunia Melayu dan penulis buku-buku seperti 
"Indonésie,la réinvention d'un archipel", "Indonésie 2004: LeChevalieer caché 
et la fin d'un monde",  bertindak sebagai moderator Temu Sastra ini.



Yang menarik perhatianku adalah kemampuan pimpinan utama "Pasar Malam" mengajak 
kerjasama tokoh-tokoh ini guna memperkenalkan Indonesia dan mengembangkan 
persahabatan antara Perancis dan Indonesia, kedua kejelian mengangkat masalah 
hingga menggaung jauh, serta produktivitas para sastrawan dan akademisi. Mereka 
bukanlah seperti "batang pisang yang berbuah hanya sekali", jika boleh meminjam 
istilah Sartono Kartodidjo dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.



Paris, Oktober 2005.

----------------

JJ. Kusni

 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/V8WM1C/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke