Mereka menenun hidup. Bukan untuk kaya raya, tenun itu diberikan. Selalu,
mewarnai penderitaan demi penderitaan, menggumpal seperti batu di kegelapan.
Siapa ? Yang mengurusi, perempuan-perempuan berani mencoret kain dengan merah
kematian, karena negara telah mengabaikan. Yang bercocok tanam, siapa yang
hendak mengurusi kesengsaraan ? Kawan, kalau surat ini sampai ke hadapanmu,
maafkanlah, jika kematian orang-orang itu, bukan karena hanya seperti itu yang
bisa dipilih.
Kematian, di tanah-tanah bebatuan ini, karena rakyat sudah diabaikan. Tidak ada
yang memikirkan kemiskinan. Bahkan, seorang presiden yang dianggap berbudi
pekerti, juga murah senyum. Untuk yang satu ini, mereka membutuhkan harga-harga
makanan jadi murah. Untuk yang satu ini, pidato politik hanya omong kosong.
Tahun berganti gelap. Hari demi hari lidah dijulurkan, sebab air malas jatuh
dari langit. Mengapa ? Kota ini sudah dijauhkan dari keputusan-keputusan yang
memihak hati dan harapan rakyat. Ludah memerah. Kinang, bukan lipstick yang
dibeli dari plaza senayan. Tangan tertelungkup, tubuh dirundukan di altar
gereja. Yang tersisa,memang, hanya doa. Tidak untuk siapa-siapa. Pasalnya,
kemiskinan lebih memastikan doa diterima.
Dari pantai sampai pegunungan dekat Lewa, burung-burung mati tertembak nasib.
Seorang bocah, memutuskan jiwa untuk menolak bersatu dengan para penipu.
Sementara, sekolah-sekolah kosong ditinggalkan para guru. Pendidikan, tiada
berpihak pada anak-anak miskin di sepanjang jalan dari Waingapu ke Waikabubak.
Kenapa ? Apakah republik telah tutup buku ?
Siaran radio Republik dari Ende, terdengar sayup dibawa angin laut. Angin lepas
dari rerumputan luas, memberi kabar kuda-kuda sedang sakit terserang
penyakit. Dan itu juga, bukan milik kami. Wahai mama yang bernyanyi tentang
hujan yang tak pernah jatuh ke tanah, jangan kau selalu bersedih. Tenun-tenun
dilipat-lipat. Turis turis tak lagi datang, karena pesawat dari Jakarta dan
Bali kehabisan bensin. Bersabarlah.
Bertahun-tahun, kemiskinan menjadi lagu tua. Anak-anak lahir dan dewasa, kita
lalu melupakannya. Orang-orang datang dan pergi, melupakan, dan kami kembali
melata dalam kemiskinan yang kemarin juga. Ikan asin sudah dimasukan kotak.
Pasar, segera tutup. Republik akan tetap menjauh. Presiden dan artis akan tetap
tersenyum di televisi. Penyakit kulit dan wabah malaria, dipalu ke pintu-pintu
rumah yang sudah sepi menjelang tidur mendengkur. Apakah kita masih di republik
Indonesia ? Seorang laki-laki tegap terbatuk-batuk dari kegelapan. Jangan
banyak bicara, hardiknya. Kita sudah sepakat menyetujui persatuan. Itu harga
mati ! Termasuk di dalamnya, rakyat mati karena kemiskinan.
---------------------------------
Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/