--- Jilal Mardhani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pidato Kebudayaan
> 22 November 2005
> Graha Bhakti Budaya - Taman Ismail Marzuki, Jakarta
>
> PENGKHIANATAN KAUM INTELEKTUAL INDONESIA:
> PERSPEKTIF KEBUDAYAAN
>
> Oleh. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif
>
>
> Pendahuluan
> Tidak selalu mudah memasukkan seorang intelektual ke
> dalam kategori pengkhianat ataupun pahlawan. Sistem
nilai dan
> kondisi politiko-kultural dalam sebuah masyarakat
perlu
> dipertimbangkan untuk menilai posisi seseorang dalam
konteks
> sejarah tertentu. Pada umumnya pengkhianatan
intelektual itu
> terjadi manakala bersinggungan dengan kekuasaan.
> Sekiranya filosuf Martin Heidegger (1889-1976) tidak
segera
> mengundurkan diri sebagai rektor Universitas
Freiburg pada
> 1934, padahal dia baru saja diangkat pada 1933,
barangkali cap > sebagai pengkhianat mungkin dapat
dibenarkan. Bukankah filosuf > ini semula dengan penuh
semangat mendukung rejim Nazi di bawah > kepemimpinan
Adolf Hitler? Akibat dukungan ini, Heidegger
> masih dilarang mengajar selama beberapa tahun pasca
PD
> (Perang Dunia) II, gara-gara keterlibatannya dalam
> politik, sekalipun hanya sebentar.1
> Tetapi sebagai seorang filosuf yang jelas
intelektual,
> sikap mendukung sebuah rejim fasistik ekspansif yang
dikutuk
> seluruh dunia beradab sampai hari ini, memang patut
> dipertanyakan.
> Kasus lain yang lebih ringan berkaitan dengan
masalah
> kebudayaan politik Indonesia, adalah sikap HB
Jassin, Wiratmo > Sukito, dan Trisno Sumardjo yang
mohon bimbingan dan petunjuk > kepada Presiden
Soekarno dalam upaya mereka untuk
> menyempurnakan pengembangan kebudayaan nasional atas
dasar
> filosofi Pancasila dengan haluan Manipol-Usdek,2
merupakan
> sebuah pengkhianatan intelektual atau keterpaksaan
> manusiawi pada saat pendukung Manifes Kebudayaan
sedang
> diganyang habis-habisan oleh Lekra (Lembaga
Kebudayaan
> Rakyat), di mana Pramudya Ananta Toer sebagai salah
> seorang tokoh utamanya? Jika orang memakai kacamata
> hitam putih, atau penganut idealisme mutlak, bisa
saja sikap
> ketiga tokoh ini adalah sebuah pelacuran. Tetapi
dunia
> bukanlah hitam-putih, sehingga sebuah tingkat
kearifan
> tertentu sangat diperlukan sebelum orang memberikan
> penilaian yang konklusif terhadap sebuah fenomenon
> manusia.
> Dengan sedikit pendahuluan ini, saya ingin mencoba
> menelusuri jejak-jejak kebudayaan politik Indonesia
kontempoter
> untuk melihat sampai di mana dan apa akibatnya jika
> pengkhianatan kaum intelektual itu benar-benar
terjadi.
>
> Intelektual modern Indonesia: antara pengkhianat dan
> pahlawan (I)
> Terlebih dulu saya akan memberikan batasan yang
> longgar kepada sosok siapa yang dapat dikategorikan
sebagai
> kaum intelektual. Definisi yang kaku dan ketat tidak
perlu,
> sebab hanyalah akan mempersempit ruang analisis
kita. Benda
> misalnya menghubungkan kaum intelektual itu tidak
> saja kepada para pendeta yang pandai menulis, kepada
> kelompok terpelajar Perancis pada saat karyanya La
Trahison
> des Clercs diterbitkan pada 1927 untuk membedakannya
dengan
> golongan awam.3
> Dalam kamus Bahasa Perancis, perkataan Clercs memang
tidak
> saja mengandung makna rohaniawan, tetapi juga
berarti orang
> terpelajar (learned man) atau sarjana (scholar) pada
> umumnya.4
> Yang dimaksudkan Benda dengan kaum intelektual tentu
> bukan golongan terpelajar biasa, sebab nama-nama
besar seperti
> Descrates, Vico, Spinoza, Renan, Hegel, Goethe,
Nietzsche, dan > banyak yang lain dalam sejarah modern
Eropa disebut dalam
> halaman-halaman karya La Trahison di atas. Untuk
Indonesia,
> kita dapat pula memasukkan sebagian besar tokoh
pergerakan
> nasional sejak permulaan abad ke-20 sampai
proklamasi 1945 ke
> dalam golongan intelektual-aktivis, karena kondisi
> masyarakat terjajah telah "memaksa" mereka tampil
sebagai
> aktivis, demi kemerdekaan bangsa. Rata-rata mereka
menguasai
> beberapa bahasa asing, sehingga akses untuk
literatur dunia
> sangat memungkinkan untuk tampil sebagai kaum
intelektual yang > berbobot dengan wawasan yang sangat
luas.
> Dalam pada itu patut pula dicatat dari Benda adalah
> penekanannya tentang moral seorang pemimpin yang
harus menyatu > dalam diri seorang intelektual, bukan
hanya mengandalkan ilmu
> pengetahuan.5 Dari sisi ini terasa ada nilai
universal yang
> harus diakui dan dipedomani bersama.
> Dengan kaca mata moral inilah kita dapat mengatakan
> apakah seorang intelektual berkhianat, tertipu,
terpaksa, naif,
> atau tidak faham medan pergumulan sehingga salah
mengambil
> langkah, misalnya. Kemudian atribut lain yang perlu
> ditambahkan bagi seorang intelektual, disamping
terpelajar,
> dia harus mempunyai kepekaan dan komitmen terhadap
> masalah-masalah besar yang menyangkut manusia dan
> kemanusiaan, tanpa diskriminasi.
> Dalam ungkapan lain, hati nuraninya harus hidup,
peka, dan
> berfungsi prima. Sekalipun dia misalnya seorang
> warga suatu negara, wawasan kemanusiaannya haruslah
mondial,
> tidak dibatasi oleh dinding-dinding politik sebuah
bangsa dan > negara tertentu. Dengan demikian seorang
intelektual sejati
> dalam perspektif ini tidak mungkin menganut faham
"right or
> wrong is my country."
> Dalam masalah ini memang bisa terjadi benturan
dengan kaum
> nasionalis yang menjadikan nasionalisme sebagai
sebuah ideologi
> negara-bangsa, bahkan sebagai agama: hidup mati
untuk tanah
> air. Dalam masalah ini terdapat perbedaan yang
mendasar antara > H.A. Salim dengan Soekarno pada
tahun 1920-an. Soekarno pernah > menulis: "Maka tidak
lebih dari wajibmu apabila kamu
> memperhambakan, memperbudakkan dirimu kepada Ibu
Indonesia,
> menjadi putra yang mengikhlaskan setiamu kepadanya."
> Bagi Salim kalimat semacam ini sudah melampaui
batas, sebab ". > Atas nama tanah air, bangsa Perancis
dengan gembira
> melanjutkan Lodewijk XIV, penganiaya dan pengisap
darah rakyat > itu, menyerang, merusak, membinasakan
negeri orang dan rakyat > bangsa orang, sesamanya
manusia."6 Salim menekankan bahwa
> "Cinta kepada tanah air, agama, karena Allah Ta'ala
dan
> menuruti perintah Allah belaka."7
> Dengan bingkai ini, menurut Salim, nasionalisme
dapat dikawal > oleh prinsip-prinsip moral
transendental agar tidak menjadi
> berhala dan imperialistik. Untuk sejarah modern
Indonesia,
> saya ingin mengusulkan Hatta sebagai puncak
intelektual-
> aktivis yang tetap menjaga martabat dan kualitas
moralnya
> sampai ke liang lahat. Tokoh-tokoh lain seperti
Salim,
> Soekirman, Natsir, Tan Malaka, Sjahrir, Wilopo,
Kasimo,
> Mononutu, Roem, Soedjatmoko, Herman Johanes, Palar,
dan
> sederet nama lain yang menyusul sesudahnya.
> Sepengetahuan saya, Hatta hanyalah dinilai cacat
oleh kaum
> komunis Indonesia, sebab alat nilai mereka
semata-mata
> kacamata politik kekuasaan. Hatta dianggap tokoh
penghalang
> terbesar bagi pencapaian tujuan politik mereka di
Indonesia.
> Pertanyaan yang cukup rumit kemudian adalah:
bagaimana bung
> Karno, Ali Sastroamidjojo, Leimena, Idham Chalid,
Subandrio,
> dan para pemberi legitimasi terhadap sistem DT
(Demokrasi
> Terpimpin 1959-1966) yang membunuh kebebasan
manusia, sesuatu > yang mutlak bagi kaum intelektual?
Bukan saja telah
> membunuh kebebasan manusia, tetapi telah menyeret
Indonesia
> menjadi sebuah negara terkucil dan tidak bebas lagi
dalam
> menentukan arah politik luar negerinya.Bagaimana
pula D.N.
> Aidit, Lukman, dan Njoto yang mengagungkan negara
asing karena > seideologi? Poros Jakarta-Beijing yang
sangat populer pada era > itu, apakah bukan sebuah
pengkhianatan terhadap doktrin
> politik luar negeri bebas-aktif Indonesia?
> Kalau di kalangan budayawan dan seniman seperti
Pramoedya
> Ananta Toer, Sitor Situmorang, dan sekompi nama
lain, siapa
> mereka bila diukur dalam bingkai moral kemanusiaan?
Apakah
> dari segi moral, menjadikan sastra sebagai
tunggangan politik > dapat dibenarkan? Kemudian mereka
juga tega menyaksikan nyawa > manusia yang belum tentu
bersalah akan binasa dalam tragedi 1 > Oktober yang
didahului oleh isu kudeta DD (Dewan Djenderal)?
> Tindakan pre-emptive strike, di mata Aidit, perlu
dilakukan,
> demi menyelamatkan revolusi yang tak kunjung selesai
dengan
> membunuh lebih dulu para jenderal Angkatan Darat.
Penelitian
> terakhir yang lebih detail berangkali akan semakin
> menyingkapkan tabir misteri tragedi berdarah itu.
Karya Victor > M. Fic sangat rinci menggambarkan peran
PKI di bawah
> pimpinan Aidit dalam tragedi berdarah itu. Fic
menggunakan dua > istilah untuk Aidit sebagai
progenitor (otak utama, nenek
> motang) dan the ruthless promoter (pelopor > yang
kejam) dari > kudeta komunis yang gagal itu. Adapun
kemudian Orde Baru
> menzalimi mereka dengan anak cucunya adalah perkara
lain yang > tidak boleh mengaburkan fakta di lapangan,
sekalipun hasil
> penelitian Fic masih perlu dikaji ulang.
> Untuk Bung Karno khususnya, saya tidak bisa
mengatakan bahwa
> dia sebagai intelektual-aktivis telah mengkhianati
negara yang
> didirikannya dengan susah payah. Betapa pun banyak
kritik yang
> dialamatkan kepadanya, kesalahan politiknya masih
jauh lebih
> kecil dibandingkan dengan jasanya yang luar biasa
terhadap
> Indonesia. Konsep nation and character building
berasal dari
> teori dan karyanya. Ada pun tuduhan tentang perannya
dalam
> tragedi 1 Oktober 1965 yang membunuh beberapa
jenderal dan
> perwira A.D., perlu diteliti secara cermat dan
objektif
> berdasarkan dokumen-dokumen yang tersedia.
> Ini penting sekali, agar masyarakat tidak terus
berada dalam
> tanda tanya tentang masalah krusial itu. Sekiranya
Bung Karno
> memang sudah tahu sebelumnya bahwa akan terjadi
pembunuhan
> itu, dan ia tidak berupaya mencegahnya karena
termakan isu DD,
> maka dari sisi moral kita sangat-sangat
menyayangkan. Sebagai > manusia biasa, demi
mempertahankan kekuasaan, Bung Karno
> bukanlah bebas dari kesalahan yang ternyata
berakibat sangat
> fatal bagi bangsa ini secara keseluruhan.
> Dalam buku peringatan 100 tahun Bung Karno, saya
menulis
> tentang sikap yang terbaik dalam menilai pemimpin
yang sudah
> wafat: Bagaimana sikap kita yang terbaik dalam
menilai para
> pemimpin yang telah tiada?
> Menurut hemat saya, sikap yang terbaik adalah
menghargai
> kebaikan dan jasa-jasa mereka dan kemudian menilai
secara
> objektif kelemahan dan kekurangan mereka untuk
dijadikan
> cermin. Betapa pun hebatnya seorang pemimpin,
pikiran dan
> gagasannya pasti terikat dengan ruang dan waktu.
Oleh sebab
> itu, kita wajib mengembangkan sikap kritis tetapi
tulus
> terhadap pikiran, ide, dan doktrin siapapun,
termasuk mereka
> yang kita kagumi. Hanya dengan cara inilah sebuah
bangsa dapat
> meraih tingkat kedewasaan spritual dan intelektual.
Kultus
> individu yang kadang-kadang masih muncul juga ke
permukaan
> sejarah modern Indonesia adalah pertanda
ketidakpercayaan
> diri. Dari sudut pandangan agama, kultus individu
pastilah
> menjurus kepada perbuatan syirik yang dimurkai
Allah.9
> Tetapi beberapa jam sebelum pembantaian pimpinan AD
> itu terjadi, sekitar jam 23:00 tanggal 30 September
1965 di
> depan Musyawarah Teknik di Senayan, Bung Karno
melalui
> perlambang cerita Mahabarata dalam perwayangan
berkata:
> Ini cerita Mahabarata. Ada pertentangan yang hebat
> antara dua negara, negara Hastina dan negara milik
Pandawa. Dus
> negara-negara ini konflik hebat. Tetapi orang-orang
di Hastina,
> atau lebih tegas lagi pemimpin-pemimpin di Hastina,
panglima-
> panglima di Hastina itu sebetulnya masih keluarga
daripada
> pemimpin-pemimpin dan panglima-panglima di Pandawa.
Jadi masih > saudara satu sama lain. Arjuna yang harus
mempertahankan
> negara Pandawa, yang harus terus bertempur dengan
orang-orang > Hastina, Arjuna berat dia punya hati.
Karena dia melihat di
> barisan tentara Hastina itu banyak ipar-iparnya
sendiri.
> Ipar-ipar, oleh karena Arjuna itu isterinya banyak
> lo. Banyak ipar-iparnya sendiri, banyak ia punya
> keponakan-keponakan sendiri, banyak ia punya om-om
sendiri,
> banyak ia punya tante-tante sendiri. Lo, memang di
sana pun
> ada wanita yang berjuang.
> Saudara! Bahkan guru dia adalah di sana itu, guru
peperangan, > yaitu Durna, ada di sana. Arjuna lemas,
lemas, lemas.
> Bagaimana aku harus membunuh saudaraku sendiri,
bagaimana aku > harus membunuh kawan lamaku sendiri,
bagaimana aku harus
> membunuh guruku sendiri, bagaimana aku harus
membunuh
> sekandung sendiri? Karena Suryaputra itu sebetulnya,
ya keluar
> sama-sama dari satu ibu. Bagaimana aku harus
membunuh iparku
> sendiri? Arjuna lemas.
> Kresna memberi ingat kepadanya. Arjuna, engkau ini
ksatria.
> Apa tugas ksatria? Tugas ksatria adalah berjuang.
Tugas
> ksatria adalah bertempur, kalau perlu. Tugas ksatria
adalah
> menyelamatkan, mempertahankan tanah airnya. Ini
adalah tugas
> kesatria. Ya benar, di sana engkau punya saudara
sendiri,
> engkau punya ipar sendiri, engkau punya om sendiri,
engkau
> punya tante sendiri, engkau punya guru sendiri di
sana, tetapi
> jangan lupa tugasmu sebagai kesatria. Kerjakan
engkau punya
> kewajiban sebagai kesatria. Karmane, fadikaraste,
mapalesyu,
> kadatyana. Kerjakan engkau punya kewajiban, tanpa
menghitung
> hitung untuk atau rugi. Kewajibanmu, kerjakan! 10
> Dahsyat bukan! Terkesan akan terjadi sesuatu yang
luar biasa di
> Indonesia, sesuatu yang sudah diisyaratkan Subandrio
jauh
> sebelumnya, seperti yang akan saya kutip sebentar
lagi.
> Kemudian nama-nama Ali Satroamodjojo, Leimena, Idham
> Chalid, Soebandrio, dan lain-lain, pada masa DT
hanyalah dalam > posisi pengiring belaka dalam gerak
kompetisi manipolis yang
> menguasai panggung politik Indonesia di era itu.
Saya belum
> punya bukti bahwa tiga nama pertama sudah tahu bahwa
akan
> berlaku pembunuhan keji pada 1 Oktober itu.
> Soebandrio boleh jadi sudah tahu sebelumnya bahwa
peristiwa
> berdarah itu akan berlaku berdasarkan laporan harian
Duta
> Masyarakat, sembilan bulan sebelum tragedi: "Wakil
PM/Menlu
> Dr. Subandrio mengatakan bahwa dalam tahun 1965 ini
mungkin
> akan terjadi, di mana kawan-kawan seperjuangan akan
menjadi
> lawan, apa yang sekarang revolusioner akan menjadi
kontra
> revolusi dan reaksioner. Kita mungkin akan terpaksa
berpisah
> dengan sahabat-sahabat pribadi dan 'comrades in
arms'.
> Menghadapi kemungkinan ini, kita sebagai manusia
sudah barang > tentu merasa sedih. Akan tetapi sebagai
abdi revolusi kita
> tidak bisa berbuat lain, hal ini terpaksa kita
lakukan
> demi keselamatan revolusi kita."11
> Isyarat Soebandrio ini cukup jelas akan ke mana mata
> pedang revolusi itu diarahkan, mirip dengan cerita
Mahabarata > di atas. Sayang sekali itu tidak
dicermati secara sungguh-
> sungguh oleh aparat kita pada waktu itu, sampai
meledaklah
> tragedi kemanusiaan yang dahsyat itu.
> Akan halnya Ali sebagai salah seorang tokoh PI
> (Perhimpunan Indonesia) di negeri Belanda tahun
1920-an
> bersama Hatta, Sjahrir, Mononutu, dan lain-lain,
memang
> mengherankan mengapa dia sampai terseret dalam arus
> manipolis yang panas dan brutal itu. Dia seorang
> intelektual-aktivis dengan segudang pengalaman
politik:
> menteri, duta besar, perdana menteri sampai dua
kali, tokoh
> Konferensi Asia-Afrika, dan diplomat ulung.
> Sayang sekali dalam otobiografinya Tonggak-tonggak
> di Perjalananku yang terbit pada 1974,12 karier
politiknya
> yang krusial pada era DT tidak disertakan, sehingga
kita tidak > tahu persis mengapa dia sampai "hanyut"
dalam gelombang yang
> telah membunuh demokrasi itu. Apakah Ali menganggap
era itu
> bukan bagian dari tonggak-tonggak perjalanannya
seperti judul
> karyanya itu? Masih terlalu banyak sisi gelap yang
> harus diungkapkan dalam sejarah kontemporer
Indonesia.
> Ketika sampai kepada komunisme, saya mungkin tidak
> selalu stabil karena sudah memahami benar betapa
licik dan
> kejamnya mereka dalam mencapai tujuan politiknya.
Apalagi
> kemudian mereka mendapat payung pelindung dari Bung
Karno.
> Tetapi yang saya gagal memahami adalah kesetiaan
mereka
> yang tanpa batas kepada yang serba asing, seperti
> terwakili oleh puisi Virga Belan di bawah ini:
>
> PENERBANGAN MALAM KE LENINGRAD
>
> Dari Sochi ke daerah utara
> Tidak terbentang segara
> Hanya langit jingga
> Dan udara malam raya.
>
> Dan kabut tersapu di hadapan
> Dan tinggallah buih di lautan
> Bumi Soviet ialah pada terluas punya dunia
> Dan akulah sang musafir dalam kelana.
>
> Seorang di sampingku berkata: Leningrad
> Dan Kujawab: Cukup kukenal, kamerad!
> Ke sana!
> Ke pusat api yang pernah menjulang dalam sejarah!
> Ke sana!
> Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!
>
> Ke Leningrad!
>
> Ya, ke Leningrad!
>
> Kota revolusi daerah utara!
>
> Juli 62.13
>
> Lagi dari penyair Tobaga:
>
> TAFAKUR KEPADA LENIN
>
> Kudatangi Smolni, Gorki, Kremlin
> Titik-titik pada garis hidup Lenin
> Tiba-tiba kurasakan panas nafasnya
> Kutangkap kerlap matanya
> Kudengar getar ujarnya
> -- Kata-kata tak perlu lagi
> Antara mereka yang seklas dan seideologi
> Lenin tegak berdegup hidup
> Cemerlang pandangnya yang tak pernah redup
> Telunjuknya menunjuk arah sejarah
> Ke mana fajar segar indah memerah
> Di mana manusia adalah manusia
> Pemilik dan penguasa dunia
>
> Lima windu ang lalu Lenin wafat
> Ia manusia, bukan malaikat
> Manusia biasa, sekaligus mahaluarbiasa
> Karena jiwanya radar penangkap getar rasa massa
> Teleskop-radio raksasa yang kepekaannya terhalus
> Menampung dan memantulkan kembali terus-menerus
> Tiap pancaran kearifan rakyat
> Tiap degup pukulan jantung proletariat
>
> Jasadnya terbaring di lapangan merah
> Sukmanya hidup di tiap butir sel merah
> Para pejuang revolusioner semua benua
> Kar'na komunisme tak pernah menjadi tua
>
> Moskow, 21.1.196414
>
> Menulis puisi romantik macam ini adalah hak bebas
> seorang penyair untuk menggubahnya, tetapi
pendekatan yang a-
> historis terhadap komunisme adalah malapetaka yang
sulit
> dimaafkan. Berapa puluh juta rakyat yang harus mati
di kamp-
> kamp maut Siberia, mengapa tidak dipertimbangkan?
> Berapa ribu pula rakyat non-komunis yang dibantai di
> Madiun dan sekitarnya pada tahun 1948, mengapa coba
digelapkan?
> Ini bukan saja pengkhianatan politik. Tetapi
pengkhianatan
> terhadap kemanusiaan. Akibat dari ketidakjujuran
pendukung
> komunisme sekalipun bernaung di bawah slogan "ingin
mengusir
> kemiskinan dari muka bumi," tetapi yang kemudian
berlaku
> adalah "kemiskinanlah yang akhirnya mengusir
komunisme dari
> muka bumi." Para penyair tampaknya telah dicuci
otaknya oleh
> partai, sehingga yang gelap dikatakan terang.
> Adapun sisa-sisa komunisme yang masih bertahan di
Cina,
> Vietnam, Kuba, saya rasa hanya tinggal menanti waktu
untuk
> digiring ke tiang gantungan sejarah, akibat
kelakukannya yang > anti manusia, sekalipun
kapitalisme juga bukan alternatif bagi > sebuah dunia
yang adil dan ramah. Pada tahap sekarang setelah >
tirani komunisme bertumbangan di berbagai pojok bumi,
> kapitalisme ternyata bukanlah pilihan yang tepat
bagi umat
> manusia karena wataknya yang tidak hirau dengan
keadilan dan
> perdamaian dunia.
> Di tangan Bush, kapitalisme bahkan telah berubah
menjadi
> neo-imperialisme yang sangat ekspansif. Benarlah
kritik
> pengarang Perancis Todd tentang Amerika sekarang: ".
the
> United States itself, which was once a protector and
is now
> predator."15
> Dengan catatan ini, terserahlah kepada saudara untuk
> menempatkan PKI berikut para seniman dan intelektual
yang
> mendukungnya di Indonesia sebagai pahlawan atau
pengkhianat.
> Ini berbeda sama sekali dengan seorang Tan Malaka,
tokoh
> Komintern, sewaktu diisyaratkan untuk membungkuk
kepada
> Stalin, karena memang telah ditanamkan dasar
perbudakan
> politik di lingkungan kekuasaannya, dia akhirnya ke
luar dari
> badan internasional itu seperti yang dikatakan
Hatta: "Ia [Tan > Malaka] tidak mempunyai tulang
punggung yang mudah
> membungkuk,"16 apalagi membungkuk kepada patung
Lenin, bukan?
> Saya sangat menghargai prinsip kebebasan manusia,
termasuk
> kebebasan untuk tidak ber-Tuhan, tetapi saya tidak
akan pernah > rela menyaksikan seorang intelektual
menjadi budak politik
> atau ideologi sebuah negara atau partai. Seorang
Pramoedya
> sampai setua ini tetap saja menilai PKI tidak salah:
"Kalau
> militer beranggapan PKI bersalah di mana letaknya?
Peristiwa G-> 30-S/PKI 'kan proyek penumpasan
komunisme yang dipimpin oleh
> Amerika, namun secara taktik strategi dijalankan
Inggris."17
> Namun saya sangat menghargai keterusterangan
Pramoedya untuk
> bergabung dengan Lekra, sebagaimana terbaca dalam
kutipan
> berikut: "Saya meninggalkan liberalisme itu setelah
bergaul
> dengan seniman-seniman Lekra, sekalipun prosesnya
memakan
> waktu yang lama, tidak kurang dari tujuh tahun."18
>
> Intelektual modern Indonesia: antara pengkhianat dan
> pahlawan (II)
> Bila kita memasuki periode paska Demokrasi Terpimpin
sejak
> 1966 sampai sekarang - biasa disebut sebagai era
Demokrasi
> Pancasila dan era Reformasi - masih tepatkah kita
menggunakan > istilah pengkhianatan intelektual untuk
mereka yang bergabung > dengan sistem-sitem yang baru
ini? Kita sudah mengenal
> Demokrasi Liberal (1950-1957) dimana kebebasan
intelektual
> sangat terjamin. Kemudian digantikan oleh Demokrasi
> Terpimpin (1959-1966), di mana yang bebas hanya
seorang, yaitu > Pemimpin Besar Revolusi dan politik
adalah panglima. Setelah
> sistem ini tumbang, bermulalah sistem Demokrasi
Pancasila
> (1966-1998), dimana pembangunan ekonomi yang menjadi
panglima, > sekalipun tidak dikatakan demikian. Pada
periode panjang ini, > di tahun-tahun awal hampir
seluruh kekuatan anti-
> otoritarianisme, termasuk kekuatan intelektual
berada di
> belakang, dan bahkan menyertai sistem Orde Baru itu.
Terlalu
> besar harapan kita itu bahwa nasib bangsa ini akan
semakin
> membaik di tangan pimpinan aliansi militer-teknokrat
plus
> ekonom alumni Amerika.
> Inflasi yang pada 1967 telah mencapai 650% dengan
pendapatan
> per kepala sekitar $70, secara berangsur dapat
ditekan. Modal > luar negeri diundang masuk secara
bebas untuk menolong
> Indonesia yang sedang terkapar. Sampai kira-kira
awal 1980-an, > sekalipun kebebasan dibelenggu,
kehidupan rakyat umum relatif > tidak sengsara, jika
dibandingkan dengan periode sebelumnya
> yang sangat menderita. Pertumbuhan ekonomi bergerak
sampai
> 7%. Tetapi memang setelah kongsi Nasution-Soeharto
> pecah sejak 1968, perlawanan terhadap rejim mulai
terasa,
> tetapi lemah sekali. Nasution sendiri bahkan
dikarantina
> secara diam-diam selama lebih dari dua dasa warsa,
padahal di > awal Orde Baru Nasution-lah yang
mempromosikan Soeharto untuk > menggantikan Soekarno.
Karena kondisi ekonomi relatif terus
> membaik, pasungan politik terhadap mereka yang ingin
kebebasan
> tidak terlalu dihiraukan. Inilah salah satu alasan
mengapa
> Orde Baru bertahan lama sekali.
> Sekiranya angin limbubu krisis moneter tidak
terjadi, siapa
> tahu Orde Baru yang represif itu masih bertahan
sampai
> sekarang. Yang risau dengan pemasungan ekspresi
> hanyalah kaum intelektual yang berhati nurani,
sedangkan rakyat
> umumnya tidak terlalu banyak tuntutan. Bukankah
amnesia (mudah > lupa) sudah merupakan bagian dari
sikap kultur kita sejak lama?
> Tetapi dengan masuknya keluarga istana ke dalam
dunia bisnis
> pada 1980-an, proses pembusukan bangsa telah semakin
terasa,
> tetapi tentara tidak bergeming dalam membela rejim
yang
> ternyata sangat korup itu, karena mereka memang
bagian yang
> menyatu dengan sistem itu. Seorang
wartawan-intelektual
> Mochtar Lubis mungkin adalah di antara yang paling
idealis dan > berterus terang kepada bangsa, baik pada
periode DT ataupun
> periode Orde Baru. Risikonya adalah dia menjadi
langganan
> penjara bertahun-tahun atau korannya diberangus di
bawah
> kedua rejim itu. Jadi dari segi kekbebasan, baik DT
maupun
> Orde Baru tidak banyak bedanya. Keduanya anti
kebebasan,
> keduanya sama mengembangkan sistem politik semi
feodal atas
> nama Pancasila. Nilai luhur Pancasila telah
dikhianati.
> Selain Mochtar Lubis, Rosihan Anwar dan W.S. Rendra
> juga patut dicatat sebagai sastrawan-intelektual
yang tetap
> konsisten dalam perlawanannya untuk menentang
kekuatan
> penindas kebebasan manusia dengan caranya
masing-masing.
> Karena tidak terjadi tragedi berdarah yang terlalu
> menggemparkan selama Orde Baru dan era Reformasi
dibandingkan > dengan G-30-S/PKI di akhir DT, untuk
menentukan siapa
> pengkhianat atau pahlawan saya mengalami kesulitan.
Mungkin
> formulasinya kita buat saja begini: Siapa saja yang
telah
> berkubang dalam dosa dan dusta yang menyebabkan
bangsa ini
> menjadi rusak dan terpuruk sampai batas yang sangat
jauh,
> sesungguhnya adalah pengkhianat dalam arti yang
umum. Sudah
> tentu kualitas kerusakan yang ditimbulkannya tidak
sama antara > seseorang dengan yang lain. Tidak peduli
pejabat, intelektual, > ulama, pemimpin agama, pelaku
bisnis yang main kongkalikong,
> pada hakekatnya adalah pengkhianat terhadap
cita-cita
> proklamasi menurut kadarnya masing-masing.
> Begitu juga mereka yang sengaja atau tidak sengaja
telah
> menjual kedaulatan bangsa kepada pihak asing, tetapi
yang
> sulit ditangkap oleh radar rakyat banyak, berada
dalam
> kategori pengkhianat itu. Tentu yang paling
bertanggung jawab
> terhadap terjadinya proses pembusukan bangsa dan
negara ini
> adalah pemimpin formal, karena di tangan merekalah
kekuasaan
> tertinggi itu berada.
> Bagi saya, masalah Indonesia sejak kita merdeka
sebenarnya
> adalah masalah kepemimpinan yang tidak atau kurang
bertanggung > jawab untuk mengisi kemerdekaan, atau
bangsa ini terlalu luas
> dan besar untuk dipimpin oleh anaknya sendiri?
Rakyat Indonesia
> umumnya cukup patuh bila pemimpinnya dapat
diteladani.
> Keteladanan inilah yang semakin sunyi dari waktu ke
waktu.
> Jika kita memang tidak mampu mengurus negara yang
elok ini,
> saya pernah mengusulkan agar tidak malu-malu
meminjam tenaga
> bangsa lain untuk membantu kita, termasuk untuk
dijadikan
> presiden. Jelas, usul semacam ini gila, tetapi
kadang-kadang
> saya rasanya telah kehabisan kosa-kata untuk
bertutur,
> sebab "yang lumpuh adalah akal sehat; yang lumpuh
adalah hati > nurani."
> Di atas dikatakan Pancasila telah dijadikan payung
pembenar
> terhadap politik salah tingkah selama sistem
otoritarian
> diberlakukan di Indonesia. Kebobrokan dan
kewenang-wenangan
> penguasa juga berlindung di bawah Pancasila yang
ditafsirkan
> secara mutlak. Penataran P4 selama sekian tahun pada
masa Orde > Baru adalah metode sistematis untuk
melumpuhkan tafsiran ini
> yang mungkin lebih benar, jujur, dan konstruktif
tentang
> Pancasila.
> Kutipan panjang dari rumusan Daniel Dhakidae di
bawah ini
> sedikit banyak akan lebih menjelaskan situasi yang
kita maksud.
> Tafsiran mutlak terhadap Pancasila bukan untuk
menemukan
> kebenaran akan tetapi untuk mencapai 'monopoli
kebenaran dan > karena itu kekuasaan. Sekali mencapai
status sebagai
> pemegang 'monopoli kebenaran' maka Pancasila harus
ditempatkan > sebagai suatu makhluk sendiri yang tidak
terlibat dalam bentuk > apapun di dalam proses sosial
dan politik dan ekonomi
> masyarakat ini sehingga Pancasila di sini menjadi
der absolute
> Geirst [ruh mutlak] dalam pengertian Hegelian. Dalam
> dunia nyata semuanya lebih mencerminkan ironi bagi
dirinya.
> Makin bengis makin Pancasilais, makin diktatorial
makin
> Pancasilais. Pancasila menjadi diskursus politik di
dalam
> praktek mejadi raison d'etat tempat negara
mengekspresikan
> kekuasaan tempat seorang mengutuk orang lain lagi,
kelompok
> menggagahi kelompok lain. Pancasila dengan demikian
sinonim
> dengan 'kebenaran' yang tidak lain dari sejatining
becik yang > dipakai untuk mencapai kasampurnaning
atau sebaliknya
> kasampurnaning hurip ketika menjadi sejatining becik
dan
> Pancasila menjadi agama negara. Dengan itu pula
Pancasila
> mengangkangi agama-agama.19
> Di beberapa forum saya sering mengatakan tentang
> tragedi Pancasila. Dalam kata Pancasila dimuliakan,
jika bukan
> diberhalakan, tetapi dalam laku ia dikhianati.
Inilah yang
> berlaku selama lebih 60 tahun kita merdeka. Kalau
pada periode > yang lalu demokrasi pun diberi nama
Demokrasi Pancasila,
> tetapi berakhir dengan malapetaka ekonomi yang
teramat parah. > Sila ke-5 berupa "keadilan sosial
bagi seluruh rakyat
> Indonesia," tidak semakin mendekat, malah semakin
menjauh.
> Dari sisi kebudayaan, rasanya bangsa ini telah
berada di jalan
> buntu (cultural impasse), sementara sebagian
politisi dan
> anggota DPR kita sibuk mencari proyek pada berbagai
> departemen, di samping merangkap sebagai calo.
Sungguh malang > nasib bangsa ini. Dia dibunuh secara
pelan-pelan oleh
> anak-anaknya sendiri. Oleh sebab itu perlu terobosan
> radikal. Bagaimana bentuknya, saya belum bisa
merumuskan. Saya > berharap para budayawan,
intelektual, sejarawan, tokoh agama, > mau duduk
bersama dalam upaya menembus jalan buntu ini.
> Tampaknya pendapat yang ingin mendesain kembali
Indonesia
> perlu dipertimbangkan.
> Kalau kondisi buruk ini masih saja berlanjut di era
Reformasi > ini, maka kita tidak perlu lagi mencari
siapa pengkhianat
> sebenarnya. Lebih baik kita akui bahwa kita semua
pengkhianat, > tidak terkecuali kaum intelektual.
> Dalam Pemilu 2004 beberapa intelektual kita, bahkan
ada yang
> menyandang gelar Ph.D, tertarik pula untuk terjun ke
politik
> praktis, mungkin dengan tujuan mulia, tetapi buah
yang diraih > adalah partai 0%. Tentu itu bukan
pengkhianatan, hanya
> libido politik yang memang merangsang.
>
> Penutup
> Akhirnya saya harus mohon maaf atas segala
kelancangan yang
> telah membidik beberapa sasaran yang mungkin tidak
tepat.
> Boleh jadi yang dibidik itu sesungguhnya pahlawan,
tetapi saya > telah menempatkannya pada posisi yang
lain. Sekali lagi saya
> mohon maaf. Masa lampau dapat dan memang harus kita
maafkan,
> demi keutuhan dan persaudaraan sebangsa, sekali pun
tidak bisa > dihapus dari memori kolektif kita.***
>
> Jakarta, 22 Nopember 2005
>
>
> Catatan Akhir
> 1 Ian P. Mc Greal (ed.), Great Thinkers of
> the Western World.
> New York: Harper Collins, 1992, hlm.519.
> 2 D.S. Muyanto dan Taufiq Ismail, Prahara
> Budaya: Kilas Balik
> Ofensif Lekra/PKI DKK. Bandung: Mizan, 1995,
> hlm,368. Naskah Manifes
> Kebudayaan adalah pernyataan para seniman dan
> cendekiawan : Drs, H.B.
> Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo Sukito, Zaini,
> Bokor Hutasuhut,
> Goenawan Mohamad, A.Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe
> Hok Djin, D.S.
> Muljanto, Ras Siregar, Hartojo Andangdjaja, Sjahwil,
> Djufri Tanissan,
> Binsar Sitompul, Drs. Taufiq A.G. Ismail, Gerson
> Poyk, M. Saribi Afn,
> Poernawan Tjondronagoro, Dra. Boen S. Oemarjati,
> pada tanggal 17 Agustus
> 1963 di Jakarta. Isi Naskah: Kami para seniman dan
> cedekiawan Indonesia
> dengan ini mengumumkan sebuah Manifes Kebudayaan,
> yang menyatakan
> pendirian, cita-cita dan politik Kebudayaan Nasional
> kami. Bagi kami
> kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan
> kondisi hidup manusia.
> Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudayaan
> di atas sektor
> kebudayaan yang lain. Setiap sektor berjuang
> bersama-sama untuk
> kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya. Dalam
> melaksanakan Kebudayaan
> Nasional, kami berusaha menciptakan dengan
> kesungguhan yang
> sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk
> mempertahankan martabat diri
> kami sebagai Bangsa Indonesia di tengah masyarakat
> bangsa-bangsa.
> Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami (Lih.
> Prahara, hlm. 160).
> Kemudian atas kehendak PKI dan pengikutnya termasuk
> LKN (Lembaga
> Kebudayaan Nasional) yang bernaung di bawah PNI,
> Manifes Kebudayaan
> (mereka menyebutnya Manikebu), dilarang oleh
> Presiden Soekarno dalam
> pernyataannya tertanggal 8 Mei 1964 karena dianggap
> menyaingi Manipol.
> (Ibid, hlm. 355).
> 3 Lihat pengantar Wiratmo Sukito terhadap
> karya Julien Benda,
> Pengkhianatan Kaum Cendekiawan, terj. Winarsih P.
> Arifin. Jakarta:
> Gramedia Pustaka Utama, 1999, hlm xii-xiii.
> 4 J.E. Mansion (ed.), French and English
> Dictionary. New York:
> Charles Scribners' Sons. 1977. hlm. 31.
> 5 Benda, op. cit., hlm. 131.
> 6 Agus Salim, "Cinta Bangsa dan Tanah Air
> (Nasionalisme dan
> Patriotisme)" dalam Hazil Tanzil (ed.), Seratus
> Tahun Haji Agus Salim.
> Jakarta: Sinar Harapan, 1984, hlm. 346-347. Artikel
> Salim ini dimuat
> pertama kali dalam harian Fadjar Asia, 20 Juli 1928.
> 7 Ibid., hlm. 349
> 8 Victor Mirolav Fic, Anatomy of the
> Jakarta Coup: October 1,
> 1965. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005, hlm
> 271.
> 9 Ahmad Syafii Maarif, "Soekarno
> (1901-1970): Antara Kebesaran
> dan Kekurangannya" dalam Imam Toto K. Rahardjo dan
> Herdianto WK (ed.)
> Bung Karno, Bapakku, Guruku, Sahabatku, Pemimpinku:
> Kenangan 100 Tahun
> Bung Karno, Jakarta: Grasindo, 2001, hlm. 143.
> 10 Soekarno, Revolusi Belum Selesai: Kumpulan
> Pidato Presiden
> Soekarno, 30 September 1965, Pelengkap Nawaksara.
> Jogjakarta: Ombak,
> 2005, hlm. 13-14
> 11 Duta Masyarakat, 5 Januari 1965, hlm. 1.
> 12 Ali Sasroamidjojo, Tonggak-tonggak di
> Perjalananku. Jakarta:
> Kinta, 1974, tebal 586 halaman.
> 13 Muljanto dan Ismail, op. cit., hlm. 228,
> dikutip dari Harian
> Rakyat, Minggu, 1 Desember 1963.
> 14 Ibid., hlm. 237, dikutip dari Harian
> Rakyat, Minggu, 25 April
> 1965.
> 15 Emmanuel Todd, After the Empire: the
> Breakdown of the American
> Order, terj. C. Jon Delogu. London: Constable and
> Robinson, 2004. hlm.
> 191
> 16 Mohammad Hatta, Memoir, Jakarta: Yayasan
> Hatta, 2002, hlm. 137.
> 17 Pramoedya Ananta Toer, "Soekarno Itu Tak
> Ada Cacatnya" dalam
> Rahardjo dan Herdianto (ed.), op. cit., hlm. 753.
> 18 Mujanto dan Ismail, op.cit., hlm. 185.
> 19 Daniel Dhakidae, Cendikiawan dan Kekuasaan
> Dalam Negara Orde
> Baru, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003, hlm.
> 752-753
>
> -----------------------
> Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, dikenal sebagai
> intelektual Muslim moderat, lahir di Sumpurkudus,
Sumatera
> Barat, 31 Mei 1935. Mengenyam pendidikan di FKIP
Universitas
> Surakarta (1964), FKIS IKIP Yogyakarta (1968).
Meraih M.A.
> dalam ilmu sejarah di Ohio University, Amerika
> Serikat (1980), kemudian meraih Ph.D. dalam bidang
> pemikiran Islam dari University of Chicago, Amerika
Serikat
> (1982). Mengajar di beberapa perguruan tinggi,
antara lain
> IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan
Universitas
> Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menyampaikan
makalah
> dalam berbagai forum nasional dan internasional.
> Menulis beberapa buku, antara lain: Gerakan Komunis
di
> Vietnam, Mengapa Vietnam Jatuh
> Seluruhnya ke Tangan Komunis?, Percik-percik
> Pemikiran Iqbal, Dinamika
> Islam: Potret Perkembangan Islam di Indonesia, Duta
> Islam untuk Dunia
> Modern, Islam Kenapa Tidak !, Orientalis dan
> Humanisme, Islam dan
> Masalah Kenegaraan. Mantan Ketua PP Muhammadiyah.
> Kini, penasehat PP
> Muhammadiyah.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/cRr2eB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/