http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/05/opini/2237730.htm


Berakhirnya Demokrasi di Era Reformasi 

Heru Nugroho



Meski pilkada langsung di sebagian besar wilayah telah berlalu, sejumlah 
masalah terkait kelangsungan demokrasi di Tanah Air perlu dikedepankan.

Fakta menunjukkan, warga yang tidak menggunakan hak pilihnya rata-rata 30 
persen (KCM, 21/6/05), bahkan di beberapa wilayah mencapai 50 persen lebih 
(Kompas, 20/9/05). Kebanyakan golput adalah kaum miskin yang beranggapan, 
pemilu tidak mengubah nasibnya akibat aspirasi kaum miskin tidak pernah 
tertuang menjadi kebijakan publik. Karena kaum miskin tidak memiliki akses 
bicara di panggung politik, mereka mewujudkan kekecewaannya dengan menjadi 
golput. Itulah bahasa artikulasi kaum subaltern dalam menyampaikan 
ketidaksetujuan politiknya.

Bahasa perlawanan "subaltern"

Dalam artikel Can the Subaltern Speak?, seorang post-kolonialis Gayatri Spivak 
(1985) menegaskan, kaum subaltern adalah mereka yang selalu dalam posisi 
direpresentasikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti politisi, 
birokrat, ilmuwan sosial, dan aktivis kemasyarakatan. Mereka tidak pernah bisa 
merepresentasikan dirinya karena kurang memiliki akses bicara di arena publik. 
Kaum subaltern adalah kelompok yang selama ini selalu dalam posisi tidak 
berdaya (disempowered), tidak pernah bisa berbicara di media publik 
(disenfranchised), dan bersifat marjinal. Golongan ini dapat meliputi kelompok 
pekerja, petani, perempuan, difabel, rakyat, wong cilik.

Karena tidak bisa merepresentasikan diri, pemerintah sering menjadi pihak yang 
merepresentasikan kaum subaltern. Contohnya, kebijakan menaikkan harga BBM dan 
pemberian kompensasi Rp 100.000/KK/bulan. Pemerintah menganggap kompensasi itu 
akan banyak menolong kaum miskin. Bahkan, Wapres pernah menyatakan, dengan 
kompensasi itu rakyat masih untung Rp 50.000, tanpa memberi ruang memadai bagi 
kaum miskin untuk berbicara. Faktanya, rakyat miskin kian menderita akibat 
naiknya harga-harga kebutuhan.

Para akademisi dan aktivis sosial juga sering merepresentasikan kondisi dan 
aspirasi rakyat miskin dengan cara membela kepentingan mereka.

Bagi kaum miskin, yang kini dirasakan adalah hidup kian susah. Meski politisi, 
ilmuwan sosial dan aktivis selalu menyatakan, demokrasi perlu ditegakkan 
sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan bangsa (termasuk kemiskinan), 
hidup tetap susah, pendidikan kian mahal, pelayanan kesehatan tidak terjangkau, 
dan lainnya. Sementara pihak-pihak yang merepresentasikan rakyat terus 
berbicara di ruang publik, kesejahteraan rakyat tak ada perubahan berarti. 
Maka, logis jika rakyat miskin menjadi distrust terhadap demokratisasi dan 
melakukan pembangkangan politik.

Memproteksi demokrasi

Jika demokratisasi di era reformasi hanya menghasilkan korupsi yang kian 
transparan, disparitas sosial yang menajam, politik uang, harga BBM membubung, 
kesejahteraan rakyat kian buruk, maka pertanyaan kaum subaltern adalah untuk 
apa berdemokrasi? Siapa yang diuntungkan oleh proses demokrasi? Rakyat miskin 
yang selalu direpresentasikan atau mereka yang selalu merepresentasikan?

Mungkin pilihan kaum subaltern agar kebijakan publik lebih berpihak kepada 
mereka adalah dengan cara mengganggu jalannya demokratisasi yang sedang 
bergulir, seperti menjadi golput, enggan membayar pajak, memacetkan kredit 
pembangunan, dan melawan penggusuran.

Situasi seperti ini jika tak segera diatasi akan menciptakan fenomena demokrasi 
beku (frozen democracy), proses yang seolah menuju bentuk demokrasi, tetapi tak 
pernah sampai pada titik nyata karena hanya berputar-putar di sekitar proses. 
Dalam sejarah pergerakan politik dunia, demokrasi tidak pernah bisa tegak 
sendiri, selalu diproteksi pihak yang sedang berkuasa. Karena inti demokrasi 
adalah kebebasan, partisipasi, dan kompetisi, maka proteksi terhadap demokrasi 
dengan cara pemerintah mewujudkan insan-insan yang punya SDM untuk mampu 
berdemokrasi. Caranya, membuat kebijakan yang memudahkan rakyat mengakses 
pendidikan, kesehatan, dan perumahan agar tercipta SDM yang siap bersaing. Jika 
pemerintah tak memproteksi demokrasi, pembangkangan kaum subaltern dapat 
menjadi peringatan, demokrasi bisa berakhir di era reformasi.

Heru Nugroho Dosen Fisipol UGM; Sedang Mengadakan Penelitian di 
Ruhr-Universitaet Bochum, Jerman


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke