http://www.gatra.com/artikel.php?id=90402


Perwakilan RI Bancakan Keringat Pahlawan

BAU apek ini mulai merebak, akhir Oktober lalu. Ketika itu, Pusat Pelaporan dan 
Analisis Keuangan mencium adanya transfer dana dalam jumlah tidak wajar dari 
seorang pegawai berstatus pegawai negeri sipil (PNS) di Konsulat Jenderal 
(Konjen) RI di Penang, Malaysia. Dengan berbekal laporan itu, Inspektur 
Jenderal Departemen Luar Negeri (Deplu), Slamet Santoso Mustafa, beserta 
timnya, terbang ke Penang untuk melakukan pemeriksaan.

Ternyata laporan itu cukup akurat. Ada aliran dana dari Penang ke Jakarta dalam 
jumlah cukup mencurigakan. ''Untuk ukuran PNS, meski bekerja di luar negeri, 
jumlah itu tidak masuk akal," kata Slamet saat ditemui Gatra, Kamis pekan lalu.

Setelah dilakukan pemeriksaan, terungkap bahwa uang itu hasil pendapatan negara 
bukan pajak yang tak disetorkan. Ditemukan penyelewengan sebesar Rp 13,8 
milyar. Dana tersebut berasal dari bagian imigrasi. Menteri Luar Negeri Hassan 
Wirajuda lantas juga memerintahkan inspektur jenderal memeriksa seluruh 
perwakilan Indonesia yang berada di negeri jiran itu. Rupanya, permainan tak 
cuma terjadi di Penang, juga di Kuala Lumpur.

Peredaran uang panas di kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kuala Lumpur 
jumlahnya pun mencengangkan. Irjen Deplu menemukan bukti penyelewengan sebesar 
Rp 27,8 milyar di intansi yang berada di Jalan Tun Razak Nomor 233, Kuala 
Lumpur, ini. "Saya yang pernah dinas di luar negeri pun sampai nggak percaya," 
tutur Slamet, yang telah dilantik menjadi Duta Besar untuk Spanyol, November 
lalu.

Modus yang dilakukan oknum perwakilan RI itu sama. Mereka menarik pungutan 
berlebihan terhadap warga Indonesia yang ingin memperleh pelayanan 
keimigrasian. Tentu, korbannya sebagian besar adalah tenaga kerja Indonesia 
(TKI). ''Padahal, sudah ada PP (peraturan pemerintah) mengenai biaya pengurusan 
itu," kata Slamet.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda sendiri, tutur Slamet, telah memerintahkan 
agar segala macam pungutan yang tak jelas juntrungannya itu dihapus, akhir 
Januari 2005. Tapi surat keputusan (SK) kepala perwakilan yang diperbarui 
setelah ultimatum Menteri Luar Negeri itu beredar malah dibuat tak jelas. Dalam 
surat itu tak dirinci mengenai jasa-jasa keimigrasian yang dipungut biaya. 
''Terlihat sumir, hingga ada celah-celah yang bisa dipermainkan dalam SK 
tersebut," katanya.

Atase imigrasi KBRI Kuala Lumpur dan staf teknis imigrasi Konjen Penang harus 
menanggung akibatnya. Kedua orang yang berasal dari Departemen Hukum dan HAM 
(Dephuk HAM) ini tidak bisa memperpanjang masa tugasnya setelah mendapat kawat 
panggilan untuk kembali ke Indonesia. ''Ini hasil koordinasi Deplu dan Dephuk 
HAM,'' ujar Sekjen Deplu, Sudjadnan Parnohadiningrat.

Kepala perwakilan yang diberi tanggung jawab menyusun SK pugutan ikut menjadi 
sorotan. Duta Besar RI di Kuala Lumpur, Rusdihardjo, dikabarkan ikut kecipratan 
uang pungutan yang sebagian besar disumbang dari TKI, sang pahlawan devisa itu. 
Slamet menolak menyebut angka yang masuk ke kantong pribadi Rusdi. Namun, apa 
iya Rusdihardjo menerima uang haram itu? "Ya, kalau itu firm," Slamet 
menegaskan. Tak hanya Rusdi, Bendahara KBRI pun terbukti ikut "bancakan" hasil 
keringat TKI itu.

Rusdihardjo, yang dihubungi Gatra lewat sambungan internasional, menyangkal hal 
tersebut. "Nggak, nggak ada itu," kata mantan Kapolri ini. Menurut Rusdi, uang 
itu larinya ke orang-orang yang berurusan dengan keimigrasian. Pengelolaan uang 
itu menjadi tanggung jawab bagian imigrasi. "Yang mungut dia, yang mengumpulkan 
dia, yang eksekusi juga dia, kok," katanya. Sebagian, menurut Rusdi, disetorkan 
ke kas negara. Sedangkan yang tidak disetorkan, Rusdi mengaku tak tahu-menahu.

Pemeriksaan oleh Deplu belum sepenuhnya rampung. Sekiranya hasil pemeriksaan 
menyebutkan bahwa duta besar harus bertanggung jawab, Rusdi menyatakan siap 
menghadapinya. ''Tapi, jangan lupa juga, saya sudah berusaha membangun dan 
memperbaiki kantor KBRI ini," kata Rusdi, yang mulai menjadi duta besar pada 
awal 2004.

Menjadi pejabat di kantor perwakilan RI, diakui Slamet, sebenarnya mendapat 
penghasilan cukup layak. Seperti dikatakan seorang duta besar RI di sebuah 
negara Pasifik kepada Gatra, sebenarnya mereka telah menikmati banyak 
kelebihan, keberuntungan, dan hak istimewa yang tak dimiliki bagian terbesar 
rakyat kita yang miskin ini. "Seharusnya mereka bersyukur, nggak perlu 
rakus...," katanya.

Bernadetta Febriana
[Nasional, Gatra Nomor 4 Beredar Senin, 5 Desember 2005] 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke