http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/05/opi01.html




Peradaban Baru ala Terorisme? 
Oleh
Stevanus Subagijo

Terorisme bak "daging tumbuh" yang minta diakui sebagai anak kandung peradaban 
manusia. Peradaban manusia universal mengatakan terorisme sebagai kebiadaban, 
karena tidak sejalan dengan karakter utamanya yang mencintai kehidupan. 
Terorisme bisa saja berdalih iapun mencintai kehidupan yang kelak lebih 
menjanjikan, meski untuk itu harus mati lebih dahulu. 

Benar kata Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa perang terhadap terorisme adalah 
perang ideologi. Ideologi tentang apa? Tentang cara hidup dunia-akhirat yang 
paling mutakhir, paling suci, paling benar. Pokoknya surga banget yang sangat 
dipercayai para teroris. Dan kalau sudah "paling", tidak dimungkinkan lagi ada 
kritik. 
Jejak terorisme telah jauh dari sekadar tindakan kriminal. Jika kejahatan 
selama ini kemunculannya dipicu oleh modus tertentu dan merupakan kasus per 
kasus yang berdiri sendiri, paling luas dalam bentuk pembunuhan massal karena 
politik, perang suku, pembunuhan berantai atau mafia, terorisme makin tidak 
jelas alasannya. 

Tak heran terorisme diyakini sebagai bangkitnya unreasonable man-woman. Tidak 
ada lagi tujuan semata-mata hanya membunuh warga Barat, karena warga Indonesia 
juga menjadi korban. Herannya yang melakukan saudara sekulit sawo matang, 
bahkan bom di Amman Yordania menewaskan banyak penduduk Muslim.


Surga Ciptaan Sendiri 
Terorisme telah mendefinisikan dirinya pada tiga pilar sebagai penopang 
terciptanya peradaban baru melalui hiper-iman. Bagi teroris diyakini peradaban 
baru itu bersumber dari Tuhan, meski kita juga bisa mengatakan mereka terobsesi 
dengan "tuhan-tuhan" yang diciptakan sendiri, yang dengan demikian mudah untuk 
membuat surga yang baru pula.

Pilar penopang peradaban baru ala terorisme yang pertama ialah keyakinan bahwa 
mereka di jalan Tuhan, yang sebetulnya dari kacamata nilai-nilai agama yang 
luhur mereka mengidap kelainan iman. Karena lingkupnya keyakinan, terorisme 
sangat mudah membonceng agama yang juga bertumpu pada soal keyakinan. Kelainan 
iman ini tidak hanya bisa bertentangan dengan penafsiran iman atas agama yang 
luhur, tetapi juga dengan peradaban kemanusiaan universal. 

Terorisme telah keluar jauh dari ekstrem agama seperti fanatisme sempit atau 
fundamentalisme yang masih berakar pada nilai-nilai eksklusivisme agama seperti 
truth claim yang sah. Ia bukan sempalan agama, tetapi upaya menafsirkan ulang 
agama dengan caranya sendiri.

Salah satu ciri utamanya ialah klaim supranatural tentang Tuhan, akhirat, surga 
dan tindakan-tindakannya yang selalu disebut sebagai perintah Tuhan. Seperti 
dalam penemuan VCD teroris belum lama ini, dalam benak teroris yang tewas 
karena bom bunuh diri, mungkin saja ketika VCD itu dilihat banyak orang, ia 
sudah berada di surga. 

Surga yang mana? Tentu surga yang ia ciptakan sendiri. Tidak ada objektivitas 
rasional di sini selain subjektivitas hiper-iman yang akut. Jika teroris bisa 
membaca pikiran dan rencana Tuhan, bahwa Tuhan menyetujui tindakan bom bunuh 
diri dan menjanjikan masuk surga, teroris menjadi lebih maha dan lebih tahu 
dari Tuhan karena bisa membaca pikiranNya. Jelas ini tidak masuk akal. 
Bisa jadi mereka terobsesi dengan Tuhan sehingga tanpa disadari mereka terjebak 
menciptakan "tuhan-tuhan" baru untuk melakukan terorisme dengan janji surga 
yang bisa jadi hanya "surga-surgaan". 


Hitler dan Yahudi
Pilar penopang peradaban baru ala terorisme yang kedua ialah eksklusivisme 
kelompok. Dalam teori sosial, kelompok yang tersisih baik secara materi, 
intelektual, kekuasaan, peradaban dsb cenderung kurang percaya diri. Untuk 
meningkatkan rasa percaya diri mereka membentuk kelompok eksklusif. Itulah yang 
terjadi pada Hitler dengan ras Arianya yang minder dengan kaum Yahudi "bangsa 
pilihan Tuhan". 

Apalagi global village tak terelakkan, membuat runtuhnya batas-batas suatu 
isme, ditambah lagi maraknya dunia maya world wide web menjadi tanah subur 
terorisme yang berbentuk jaringan lintas negara. Ia bisa semakin besar dan 
sulit diberantas karena berdiri di atas pondasi keyakinan dan pikiran baru yang 
tidak bisa dihancurkan dengan nuklir sekalipun. 

Meski tidak mempunyai wilayah teritorial, ia bisa berfungsi "negara dalam 
negara" dengan merekrut "calon rakyatnya", mengindoktrinasi, melatih, 
mempersenjatai dan meneror dengan bom bunuh diri. 
Pilar peradaban baru ala terorisme yang ketiga ialah orientasi penghancuran 
sebuah bangsa. Jika kejahatan hanya terbatas pada calon korban tertentu, 
terorisme terang-terangan untuk membenci dan membunuh sebuah bangsa. Jika 
ukurannya jumlah manusia yang sangat besar, jelas terorisme menentang hak hidup 
kemanusiaan universal. 

Jika kejahatan senada pernah dilakukan Hitler dengan membasmi kaum Yahudi, itu 
sama saja Hitler menantang seluruh hak hidup umat manusia. Sungguh di luar 
logika normal seorang teroris membenci sebuah negara atau kaum. Cara berpikir 
gebyah uyah, pukul rata atas kebijakan sebuah bangsa atau kaum harus ditimpakan 
kepada semua yang sekaum dan sebangsa, sangat tidak masuk akal. 

Tapi jika yang tidak masuk akal bisa dihiper-yakini, jelas dari sudut pandang 
peradaban manusia universal, terorisme mengesampingkan akal budi. Dunia dan 
peradaban seperti apakah yang kelak diciptakan terorisme jika proses 
penciptaannya tanpa kemanusiaan, iman yang luhur dan akal yang baik? Menyitir 
Gamaliel Eljan, the satanic world ? 

Penulis adalah peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta
 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/f4eSOB/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke