http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/12/8/o2.htm
Pemerintahan SBY-Kalla kental dengan paradigma bagi-bagi kekuasaan (power sharing) di lingkungan sendiri. Sebuah paradigma yang mengandaikan setiap irama kebijakan pemerintah harus mengikuti setting politik yang dimainkan parpol-parpol kelas priyayi, parpol-parpol yang memiliki ikatan emosional lebih tinggi dengan pemerintah. Mengapa harus Golkar Oleh Rahbini Sebagaimana diprediksikan sejak awal, Golkar akan menjadi partai paling diuntungkan dalam reshuffle kabinet yang diumumkan di Istana Yogyakarta, Senin (5/12) malam. Ada tiga dari enam menteri yang dirombak dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang merupakan kader militan Golkar. Masing-masing adalah Aburizal Bakrie yang digeser dari kursi Menko Perekonomian ke Menko Kesra, Fahmi Idris yang mendapat jatah pos Menteri Perindustrian, dan pendatang baru Paskah Suzetta yang ditempatkan di pos Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Hal yang patut dipertanyakan dari hasil reshuffle tersebut adalah, mengapa harus Golkar yang diuntungkan? Pertanyaan ini wajar diajukan, mengingat untuk mendapatkan kursi kementerian memang amat sulit, sesulit mencari emas hilang tertimbun tanah, sementara Golkar teramat pandai mencari lubang. Di samping, karena pertimbangan paling fundamental, yaitu menatap masa depan kinerja kabinet itu sendiri. Pertama, dengan masuknya dua kader Golkar tersebut mengindikasikan bahwa pemerintahan SBY-Kalla kental dengan paradigma bagi-bagi kekuasaan (power sharing) di lingkungan sendiri. Sebuah paradigma yang mengandaikan setiap irama kebijakan pemerintah harus mengikuti setting politik yang dimainkan parpol-parpol kelas priyayi, parpol-parpol yang memiliki ikatan emosional lebih tinggi dengan pemerintah. Memakai paradigma semacam itu akan melahirkan banyak dampak politik yang amat membahayakan, di antaranya adalah situasi buruk dalam segala lini akan tetap pada kondisi status quo. Problematika (sosial ekonomi maupun politik, hukum, pendidikan dan sebagainya) yang sedang dihadapi akan tetap berjalan di atas rel yang timpang, tidak akan pernah menemukan problem solving, jalan keluar. Sebab, yang ditunjuk sebagai play maker di lapangan tetap saja orang-orang yang tidak memiliki profesionalitas dan komitmen baik terhadap negara, melainkan orang-orang yang berwatak project oriented. Aburizal Bakrie, misalnya, rakyat tidak asing lagi dengan model kinerjanya yang amat lamban. Bakrie adalah salah satu kader Golkar yang memiliki jaringan luas dan dedikasi bisnis yang tinggi. Akan tetapi performance-nya yang cenderung elitis dan kurang merakyat akan menyebabkan tugasnya sebagai Menko Kesra jadi tersendat-sendat. Ia tidak memiliki komitmen untuk ikut memperbaiki keadaan sebagaimana terbukti saat ia menjabat sebagai Menko Perekonomian. Sebaliknya, ia justru kerap mengambil keuntungan di saat kondisi bangsa sedang sekarat. Kedua, kemenangan Golkar akan semakin memperkuat pola politik sektarian di negara kita. Di samping juga akan menciptakan stratifikasi sosial dengan parpol-parpol yang ada. Kesuksesan Golkar menghipnotis pemerintah di atas, jelas akan menciptakan "kecemburuan politik" dari parpol-parpol lain. Parpol-parpol yang terkurangi jatahnya akan merasa diinperiorisasi. Terutama Partai Demokrat (PD) yang pernah berjasa membesarkan SBY dipastikan akan merasa "dikulit-kacangkan". Ketiga, terkait dengan adanya adegium "politik adalah seni ketidakpastian", menguatnya posisi Golkar di atas sesungguhnya akan semakin membahayakan posisi Presiden sendiri. Sebab, dengan demikian Wapres Jusuf Kalla yang merupakan komandan utama Golkar akan semakin leluasa men-setting kebijakan Presiden, harus disesuaikan dengan kebijakan yang lebih pas menurut Golkar. Akibatnya, kebijakan pemerintah menjadi tidak murni lagi berdasarkan tuntutan rakyat, melainkan berdasarkan aspirasi Golkar. Di sinilah kemudian watak-watak pemerintahan ala Orde Baru akan muncul kembali. Suatu bentuk pemerintahan di mana irama lagu hak yang menyangkut kebebasan individu rakyat untuk bersuara, the freedom of the people, akan kembali terdengar begitu parau, bahkan tidak bisa didendangkan. Belum Istikharah Saya tidak tahu pasti, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah melakukan "istikharah" politik sebelum memutuskan reshuffle kabinet atau tidak. Yang pasti, hasil reshuffle di atas sungguh sangat mengecewakan. Ada aroma ketergesa-gesaan di dalamnya. Apakah karena memang sudah ada tekanan politik dari Golkar (dalam hal ini Wapres Jusuf Kalla) atau tidak, itu pun tidak dapat kita tebak dengan sekenanya. Akan tetapi, berdasarkan cuaca politik pra-reshuffle kemungkinan-kemungkinan di atas sebenarnya sudah menjadi polemik di masyarakat. Artinya, dalam memegang jabatan sebagai seorang presiden sejak awal pemerintahannya, SBY sesungguhnya memang sudah banyak kehilangan peran dibanding Jusuf Kalla. Lalu bagaimana dengan masa depan pemerintahan selanjutnya? Sekali lagi, politik adalah seni ketidakpastian. Bisa jadi SBY memiliki track record politik sendiri untuk memperbaiki keadaan dengan memperbanyak personel kabinet dari kalangan Golkar. Namun, mengingat Golkar bukanlah partai kacangan, memiliki selera kekuasaan yang lebih bergairah dibanding partai-partai lainnya, sebagus apa pun track record SBY akan tetap terasa hambar. Seperti batu membentur ban, langkah-langkahnya akan terus terpental jika dinilai tidak sevisi dengan Golkar. Saya berasusmsi, SBY tampaknya termakan isu bahwa keberlangsungan suatu pemerintahan sangat ditentukan oleh besarnya dukungan dari partai kelas priyayi seperti Golkar. Padahal, pola semacam itu hanya berlaku di era "gajah makan semut". Sekarang adalah era "semut makan gajah", di mana segalanya ditentukan oleh keberpihakan rakyat pada satu sosok saja. Ketika sosok presiden pantas dalam hal performance, mampu mempraksiskan harapan-harapan rakyat, dipastikan posisi pemerintah akan aman-aman saja. Peranan parpol memang sangat urgen, namun sebatas bagian instrumen komunikasi dengan rakyat, itu pun sangat terbatas pada basis parpol bersangkutan. Sungguh pun demikian, apalah daya nasi telanjur jadi bubur. Reshuffle kabinet telah selesai dilakukan, dan Golkar sudah tunggang-langgang berjalan membawa sejuta rasa gembira. Satu-satunya hal yang perlu kita pikirkan kembali adalah bagaimana agar pemerintah dengan formasi kabinetnya yang baru ke depan bisa berjalan sesuai harapan. Yang patut diperhatikan Presiden nanti adalah bagaimana bisa menumbuhkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Namun sebelumnya, tugas paling pokok adalah mengasah komitmen afektif dan komitmen formal para pelayan rakyat di atas. Membangun kesadaran emosional bahwa masuk dalam jajaran kabinet bukan untuk menambah masalah baru, melainkan karena memang ada ketertarikan dari dalam untuk ikut menyelesaikan persoalan yang ada. Sadar diri bahwa sumpah kesetiaan pada bangsa dan negara saat dilantik merupakan kekuatan moral yang harus dipertahankan melalui tidakan-tindakan praksis. Penulis, peneliti pada The Institute of Rausanfikr Studies (IRieS) dan mahasiwa Program Pascasarjana UNY. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today! http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

