Jumat 14 Februari, menjelang Shubuh Hari itu adalah hari kesepuluh kami berada di Tanah Suci, berihram dan melafazkan niat umrah haji di Bandara King Abdul Azis yang kami jadikan miqat dan melaksanakan hari itu juga bagian pertama dari ritual haji tersebut , lalu bertahallul, atau hari keenam sejak kami berihram di pemondokan, melafazkan niat haji, berangkat untuk berwukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, mabit dan melempar tiga jumrah di Mina.
Dan pagi ini kami akan menjalani fase terakhir: Tawaf Ifadah dan Sa’i Haji, lalu bertahallul qubra. Secara fisik tugas kami melaksanakan seluruh ritual haji akan segara selesai. Dalam sepuluh hari itu sudah banyak yang kami lakukan dan kami alami baik secara bersama maupan secara individual. Sebagian tidak jelas, apakah itu mimpi, apakah itu riyata. Tidak jarang kegiatan tersebut kami lakukan dengan berurai air mata. Secara fisik saya tidak sesegar hari pertama kali saya datang. Asma yang datang menyerang secara tidak diduga,. Tetapi dengan pertolongan dan kasih sayang Allah SWT, sejauh ini hal itu tidak menghalangi saya melaksanakan ritual-ritual yang harus dilakukan sebaik apa yang dilakukan jemaah lainnya. Namun secara fisik sakit itu tetap menguras stamina dari tubuh saya yang hanya terbuat dari daging, darah dan tulang ini. Hari itu langkah saya agak goyah, muka saya agak pucat, namun secara spritual saya tidak kurang suatu apapun. Ada perasaan yang tidak sepenuhnya saya mengerti dan dapat diuraikan terhadap bangunan suci Masjidil Haram dengan Ka’bah kubus kosong terbuat dari batu yang terletak di tengahnya, perasaan cinta yang aneh. Akan tetapi, seperti dikemukakan intelektual Iran Dr. Ali Shariati, bangunan-bangunan tersebut hanyalah “penunjuk jalan”, sebagai “benchmark”. “Dan Allah adalah tujuan perjalanan” (Al Qur’an, S 24:42). Pagi itu sebelum Shubuh kami bersama Pak Ustadz sudah berada di pelataran tawaf, menjalani fase terakhir, melakukan Tawaf Ifadah dan Sa’i Haji. Hari itu kami tidak lagi memakai pakaian ihram, tetapi secara prinsip kami masih berihram. Sebentar lagi secara fisik status ihram tersebut akan berakhir. Secara fisik saya tidak sesegar di hari pertama kali kami datang dan melaksanakan tawaf umrah haji. Pagi itu langkah saya agak goyah dan wajah saya agak pucat. Karena itu pada saat tawaf saya mendapat perhatian dan keprihatinan yang agak berlebihan dari isteri saya Kur dan rekan-rekan sesama jemaah. Khaidir, lelaki asal Maninjau yang santun itu bertawaf di sebelah kiri saya dan sebentar-bentar menoleh kepada saya. “Ente jangan melihat ke luar, tetapi ke dalam (maksudnya ke arah Ka’bah)”, tegur Pak Ustadz. Kur bertawaf dengan tangan yang satu memegang kencang-kencang baju seorang jemaah dan tangannya yang lain memegang tangan saya dan sebentar-sebentar mengawasi saya. “Ibu kok keder banget sih!” tegur Pak Ustadz melihat cara Kur bertawaf yang agak “aneh” tersebut . Dengan perlahan saya tarik tangan Kur, dan kami kembali bertawaf sembari berpegangan tangan. Setelah tawaf beberapa putaran, kami mendengar Azan Subuh. Kami berhenti tawaf dan membentuk saf dengan ruang yang sangat sempit sehingga waktu sujud kami harus melakukannya dengan menyurukkan kepala kami di sela-sela jemaah satu dengan jemaah yang lain yang ada di depan kami. Selesai shalat kami meneruskan tawaf kembali sembari berpegangan tangan sampai selesai. Ternyata, sekalipun awalnya langkah saya agak goyah, saya dapat berjalan dan mengakhiri tawaf yang selama tujuh putaran itu dengan tegak dan tegar. Ketika berkumpul kembali dengan rombongan dan siap-siap untuk bersa’i, Pak Ustadz bertanya kepada seorang jemaah yang terlihat masih segar bugar: ”Sudah tawaf belum?” “Belum ‘stad” jawabnya anteng. Saya lihat Pak Ustadz terkejut dan bertanya: “Lho, kok belum?” “Kan belum ada instruksi” jawabnya lagi. Saya dengar Pak Ustadz beristigfar lalu mengajak jemaah tersebut membaurkan diri kepada jemaah yang sedang bertawaf. Begitulah kondisinya, beberapa jemaah sangat tergantung kepada Ustadz Pembimbing. Sesutu hal yang sangat tidak semestinya. Setelah beristihat sejenak, kami melanjutkannya dengan Sa’i , yang juga dapat kami laksanakan dengan lancar dan mengakhirinya dengan lengkap di Marwah. Dan tibalah saatnya untuk bertahallul qubra, mengakhiri secara lahiriah semua rukun dan wajib haji sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang ditandai dengan pemotongan rambut. Tibalah saatnya, kalau kami suka untuk menambah “Haji” dan “Hajah” di depan nama kami. Tetapi jelas, bukan itu tujuan kami menempuh jarak ribuan kilometer meninggalkan keluarga dan pekerjaan berhari-hari. Dengan bertahallul qubra, maka gugurlah semual larangan ihram, yaitu: mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai pakaian biasa, membunuh binatang buruan (semuanya gugur setelah bertahallual awal) dan melakukan hubungan suami-isteri. Karena tidak melihat seorangpun jemaah dari kafilah kami, saya mendekati seorang jemaah haji Indonesia yang juga baru selelsai bersa’i, minta tolong dia memotongkan rambut saya sedikit---sebelum menemukan tukang cukur---lalu dia pun minta tolong saya memotong rambutnya. Lalu saya memotong pula rambut Kur sedikit. Kami tidak sadar bahwa kami masih berada di salah satu bagian Masjid. Seorang petugas menghampiri dan menegur kami dengan gusar dan menyuruh saya untuk memunguti rambut yang berserakan di lantai, yang segera saya kerjakan dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu kami keluar, bermaksud mencari tukang cukur “amatir”, yang konon banyak di sekitar Marwah untuk mencukur habis rambut saya seperti yang saya niatkan dari semula. Tetapi yang saya temukan adalah sejumlah kios-kios cukur orang India. Kami lalu menuju ke sana. Ada cerita-cerita lucu berkanaan dengan tukang-tukang cukur “amatir” ini. Karena salah komunikasi, tidak jarang maksud hati hendak cukur pendek, eh sang tukang cukur langsung mulai main babat habis. Mau diteruskan awak tak suka, mau dihentikan ditengah jalan, masak mau jadi haji “punk?”. Tetapi ada juga haji “punk terpaksa”. Soalnya sedang asyik bercukur, tiba-tiba pak tukang cukur membenahi peralatannya, termasuk kursi lipat yang sedang digunakan ‘klien’-nya, lalu kabur. Rupanya dia melihat ada Askar mendekat, karena kegiatan tukang cukur PKL tersebut adalah kegiatan “illegal”. Tinggallah wak haji kita terbengong-bengong dengan kepala gundul sebelah.. Di kios cukur India tersebut kami bertemu dengan Mas Andi yang juga berniat mencukur habis rambutnya. Tarif cukur di Kios Cukur India itu 5 riyal untuk cukur pendek dan 10 riyal untuk cukur habis. Tarif yang tidak murah. Tetapi karana saat itu “demand” lebih besar daripada “supply” suka-tak suka, konsumen harus rela membayar tarif yang ditetapkan penjual. Selesai bercukur Mas Andi sengaja mengantar kami pulang ke pemondokan. Ketika itu kami belum tahu tempat menunggu “Angkot” yang ke arah pemondokankami di Hafair, sehingga kami pulang dengan berjalan kaki. Mula-mula ikut bersama kami Pak Tutu dan isterinya Bu Komara. Tetapi di tengah jalan Pak Tutu dan isteri memisahkan diri karena ingin membeli sesuatu. Selesai mengantar kami, Mas Andi kembali ke Masjidil Haram untuk menjemput isterinya Mbak Dewi yang masih berada di Masjid untuk bersalat Dhuha. Mas Andi, laki-laki asal Soppeng yang tampan itu terlihat sangat serasi dengan Mbak Dewi isterinya yang berdarah Jawa-Sunda itu. Serasi dalam rupa, serasi dalam ketaatan dan kerajinan beribadah dan serasi dalam kesantunan terhadap sesama jemaah. Siang itu saya Jumatan dengan Pak Tukiman dan Mas Juliansyah di Masjid yang terletak sekitar 150 meter dari pemondokan kami. Petangnya terdapat kesibukan di pemondokan. Jemaah dari Kloter Awal bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Besok, setelah melakukan Tawaf Wada, tawaf perpisahan, mereka akan masuk “madinatul hujjaj”, asrama embarkasi haji di Jeddah dan lusa akan terbang kembali ke Indonesia. Sedangkan kafilah kami sebagai jemaah kloter terakhir, dijadwalkan baru akan kembali ke tanah air tanggal 15 Maret, artinya 28 hari lagi sejak hari itu. Sebanyak 9 hari di antaranya akan digunakan untuk berziarah dan melakukan Arbain, shalat wajib 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi di Madinah al-Munawarah, saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua jemaah, termasuk kami tentunya. Di Masjid Nabawi pula terdapat makam Al-Mustafa Muhammad Rasullulah Sang Junjungan, Salallahu ‘Alaihi Wassalam…. [13] Berziarah Ke Tempat-Tempat Bersejarah, Menarik tetapi Membuat Kesehatan Kembali Merosot Sabtu 15 Februari Sesuai pemberitahuan dari pimpinan Kafilah kemarin petang, jam 7 pagi itu kami berkumpul di Marwah seusai melakukan shalat Shubuh dan shalat dhuha di Masjidil Haram untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Masjidil Haram. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan ziarah untuk mengisi waktu luang di Mekah sebelum kami berangkat untuk berziarah ke Madinah guna melakukan Arbain di Masjid Nabawi yang dijadwalkan pada tanggal 4 Maret, artinya 17 hari lagi. Menjelang keberangkatan ke Madinah, kami akan melakukan Tawaf Wada1, karena dari Madinah kami akan langsung ke Jeddah dan kembali ke tanah air. Pada hari Selasa 18 Februari kami akan berziarah ke beberapa tempat di sekitar Mekah, seperti Jabbal Tsur, Wadi Fatimah dan Hudaibiyah. Kepada para jemaah yang ingin melakukan Umrah Sunnah, dipersilakan membawa pakaian ihram dengan bermiqat di Hudaibiyah. Pagi itu matahari sudah mulai tinggi dan menggigit. Dengan dipandu Ustadz Pembimbing kami berjalan dengan berbaris, mula-mula ke rumah kelahiran Nabi yang hanya dapat kami lihat dari luar, karena jemaah sama sekali tidak diperbolehkan masuk kehalamannya. Begitu melihat rumah kelahiran Nabi tersebut saya tidak dapat menahan tangis saya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kaki Jabbal Nur di mana terletak Gua Hira, tempat Muhammad al-Amien banyak melakukan perenungan dan tempat pertama kali beliau menerima wahyu pertama kali, seperti yang terekam dalam Surrah Al-‘Alaq, yang ayat pertamanya diawali dengan kata-kata Iqra’! (Bacalah). Sewaktu mengikuti bimbingan manasik haji, semangat saya sangat menggebu-gebu untuk naik ke gua yang sangat bersejarah tersebut. Namun setelah melihat kondisi lapangan yang sebenarnya---hatta sekalipun saya tidak dalam keadaan kurang sehat seperti waktu itu--- nyali saya pasti ciut melihat tinggi dan terjalnya jalan ke gua yang sangat bersejarah tersebut. Lalu terbayang oleh saya, betapa beratnya jalan yang harus dilewati perempuan yang sangat utama, ummul mukminin Chadijah r.a. setiap mengantar makanan dan minuman kepada suaminya tercinta di tempat tersebut. Sehabis melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i Haji Shubuh kemarin, kesehatan saya belum banyak membaik. Sesak napas karena Asma memang sudah mulai berkurang,. Tetapi selera makan yang hilang sejak di Mina belum membaik. Sekarang muncul gejala yang kadang-kadang muncul sewaktu masih di tanah air, yaitu sensitivitas yang berlebihan dari bagian tertentu di pangkal kerongkongan saya terhadap air dan cairan yang merangsang, sehingga setiap minum terbatuk-batuk berkepanjangan, yang tidak jarang menyebabkan makanan yang sudah saya telan keluar kembali. Kafilah kami melanjutkan ziarah ke pekuburan Ma’la tempat dimakamkannya jemaah haji yang wafat di Mekah. Di sana juga beistirahat dengan tenang jasad ummul mukminin Chadijah r.a.. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Jin, tempat di mana sejumlah jin menemui Rasulullah SAW dan berikrar masuk Islam. Berjalan kaki di bawah terik matahari yang mulai naik, menyebabkan langkah saya semakin berat. Karena itu pada saat acara “berkeliling” Pasar Seng, tempat sebagian besar jemaah haji Indonesia menghabiskan riyal dan dollar cadangan yang mereka bawa dari tanah air untuk membeli oleh-oleh, kami segera memisahkan dan masuk ke warung baso Mang Udin yang terkenal itu untuk sarapan. Makan dengan sop sayur dengan sambal cabe segar, yang konon didapat dari awak pesawat Garuda, menerbitkan selera saya. Tetapi karena setiap kali kuah sop menyentuh pangkal kerongkongan saya, saya langsung batuk-batuk yang diikuti oleh sesak napas dan rasa sakit di dada, saya terpaksa menghentikan makan saya. Apalagi setelah saya melihat sepasang suami isteri yang masih muda dan membawa anaknya yang semeja dengan kami pindah ke meja lain. Melihat kondisi saya, makan Kur ikut-ikutan tidak benar lalu cepat-cepat menyelesaikan makannya dan mebayar makanan yang kami makan di kasir. Karena waktu itu kami tetap belum tahu tempat menunggu “angkot” yang ke arah pemondokan kami, kami mencoba menawar taksi. Sopirnya minta 30 riyal. Karena kami rasa terlalu mahal, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja pelan-pelan. Di tempat-tempat tertentu saya berhenti untuk beristirahat dan minum air Zam-Zam yang selalu saya bawa di dalam termos, yang saya lakukan dengan susah payah. Setiba di pemondokan saya langsung beristirahat dan semua shalat wajib juga saya lalukan di pemondokan saja. Minggu 16 Februari Hari itu saya berkonsultasi dengan dokter Ifa yang menyarankan saya untuk banyak beristirahat dan mengembalikan kepada saya inhaler yang saya minta untuk dipegang olehnya ketika hendak berangkat ke Arafah. Suster Enny memberi saya satu strip tablet Bisolvon. Kur yang mendampingi saya ke dokter Ifa mengatakan apakah kami bisa menempati salah satu kamar kosong di lantai tujuh yang ditinggalkan jemaah kloter yang sudah kembali ke tanah air. agar ia lebih mudah merawat saya dan saya tidak mengganggu teman-tema sekamar. Saya tahu, teman-teman sekamar sering mematikan AC agar saya tidak kedinginanan walaupun mereka harus kepanasan. Pak Ketua Kloter yang kebetulan ada di sana menanyakan siapa ketua kelompok kami, Kur menyebut nama Ustadz Pembimbing kami. Senin 17 Februari Beristirahat penuh selama satu hari menyebabkan saya merasa siap untuk mnegikuti ziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekah yang dilakukan dengan menggunakan Bus. Tetapi “magnit” terbesar bagi saya hari itu adalah: Hudaibiyah. Hudaibiyah adalah tempat di mana Rasulullah SAW menandatangani perjanjian yang terkenal dengan “Perjanjian Hudaibiyah” dengan para petinggi Kafir Quraish, di mana Rasulullah SAW banyak memberikan konsesi padahal secara politik dan militer, kaum Muslimin waktu itu sudah mulai kuat. Kalau dipelajari dengan seksama, Nabi sebenarnya mengajarkan kepada pengikutnya: strategi. Perjanjian Hudaibiyah adalah bagian dari strategi Nabi yang cemerlang untuk menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah beberapa tahunan kemudian (!). Strategi atau siasah, yang saya pikir sangat jarang tampak dalam perjuangan ummat dea ini. Lihat saja, Amrozy dkk tersangka kriminal pelaku “Bom Bali” dibela oleh Tim Pembela yang menamakan dirinya “Tim Pembela Muslim”, hanya karena para tersangka berasal dari lingkungan pesantern. Tentu saja para tersangka boleh, bahkan wajib memperoleh bantuan hukum, dan asas praduga tak bersalah harus dihormati. Tetapi mengapa Tim Pembela perlu menamakan dirinya “Tim Pembela Muslim”? Bagaimana kalau para terdakwa terbukti bersalah? Apakah membunuh orang yang tidak bersalah diperbolehkan dalam Islam, sekalipun yang terbunuh itu orang-orang non-muslim? Padahal jangan membunuh orang yang tidak bersalah, non-muslim atau bukan, di dalam perperangan sekalipun, merusak tanaman saja dilarang oleh Nabi SAW. Hasilnya agama yang sejuk, damai dan mencerahkan ini sering tampak dari luar seakan-akan “dungu” dan “menakutkan”. Di atas bus saya bertemu dengan Suster Enny, yang bersama dengan dokter Ifa dan seorang paramedis lainnya juga ikut dalam tur ziarah tersebut, yang menyarankan saya untuk tidak turun-turun dari bus kalau tidak perlu sekali. Ketika dia menanyakan apakah saya akan berumrah saat itu dan saya bilang tidak, Suster Enny menjawab: “Bagus, itu kan cuma sunnah!” Pemandu kami dalam ziarah ini adalah---sebut saja---Ustadz “Z” adalah petugas penghubung Kafilah kami yang bermukim di Saudi. Ustadz “Z” adalah seorang yang berkata menyusun kaimatnya dengan baik sehingga enak kedengarannya. Ustadz “Z” mengemukakan ada hadis yang menyatakan bahwa barang siapa yang melakukan umrah dengan bermiqat dari Hudaibiyah sama dengan mengislamkan 2000 orang kafir. Waah, ujar saya dalam hati, nyesel juga tidak bisa berumrah hari itu. Tempat bersejarah terpenting petama yang kami kunjungi adalah Jabbal Tsur (kami hanya sampai kaki bukit saja) di mana di lerengnya yang curam itu terletak Gua Tsur tempat Rasullulah dan Abu Bakar Siddiq r.a. besembunyi buat sementara dari kejaran para pemuda Kafir Quraish saat beliau akan Hijrah dari Mekah ke Madinah yang sewaktu itu masih bernama Yastrib. Seperti tercatat dalam biografi-biografi beliau, pada suatu malam sejumlah pemuda Kafir Quraish ditugasi untuk membunuh Nabi. Nabi yang mengetahui hal itu dari Malikat Jibril memutuskan untuk berhijrah malam itu juga dengan sahabatnya Abu Bakar, menyuruh sepupunya Ali bin Abu Thalib r.a. untuk tidur ditempat tidurnya, keluar rumah, lalu membaca Surrah Yasin dan melemparkan pasir kepada para pengepungnya, sehingga mereka tertidur. Merasa kecolongan ketika terbangun, mereka mengejar Nabi sampai ke mulut gua Tsur tanpa mengetahui bahwa Nabi dan sahabatnya berada di sana. Yang membuat saya sangat kagum ialah bagaimana Asma binti Abubakar yang bisa dengan selamat mengantar makanan dan kemudian kuda yang digunakan Nabi dan ayahnya untuk meneruskan perjalanan ke Madinah. Ingat hijrah, ingat lagi saya terhadap “strategi”. Bukankah hijrah Nabi dan para sahabatnya ketika itu sebuah strategi? Mundur dulu untuk menang. Tapi apalah awak ini. Dari sana kami ke Wadi Fatima di mana kami semua turun untuk beristirahan dan makan siang. Menurut Ustadz “Z” di sana dulu ada kolam tempat Fatimah Az-Zahra binti Muhammad pernah berenang dan kehilangan gelangnya. Masih menurut Ustadz “Z”, kolam itu akhirnya ditutup oleh orang-orang “Wahabi” karena para Askar menemukan sejumlah jemaah haji perempuan dari Indonesia berenang tanpa busana di sana. Para askar kemudian mengejar-ngejar para jemaah yang tanpa busana tersebut. (Kemudian terpikir oleh saya apakah cerita Ustadz “Z” dongeng, realitas atau campuran keduanya. Sebab kalau para askar yang tentunya kuat-kuat dan kekar tersebut mengejar jemaah haji perempuan, mereka pasti akan dapat melakukannya dengan cepat dan mudah. Sang Ustadz tidak melanjutkan ceritanya apa yang terjadi dengan para jemaah haji perempuan yang tanpa busana itu setelah tertangkap oleh para askar. Juga tidak ada yang bertanya mengenai hal itu. Juga tidak ada yang menanyakan apakah Ustadz “Z melihat sendiri peristiwa tersebut atau hanya mendengarnya dari orang lain) Dari sana kami meneruskan perjalanan ke Hudaibiyah. Saya sangat terkejut melihat kondisi Masjid tempat bermiqat yang kecil, sepi, kurang terawat, kurang bersih, termasuk WC-nya. Bahkan air untuk berwudhukpun mengalir kecil sekali. Lho, kok? Saya ingat hadis bermiqat di Hudaibiyah yang ‘dikutip’ Ustadz “Z” sebelumnya, lalu menarik napas panjang. Ah Ustazd, “nyomot” di mana itu hadis? Dalam perjalanan pulang seorang jemaah membaca talbiah dengan suara keras dan monoton dengan menggunakan megafon yang sama sekali tidak menimbulkan perasaan nyaman bagi saya. Apalagi corongnya kebetulan pas tertuju ke arah saya Saya kembali ke pemondokan dalam keadaan letih dan sesekali batuk-batuk. Rekan-rekan jemaah yang sudah berihram langsung berangkat ke Masjidil Haram untuk berumrah. Tetapi tidak jadi menyesal bahwa hari itu saya tidak bisa berumrah sunnah dengan bermiqat dari Hudaibiyah! 1) Tawaf Wada hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang sehat dan perempuan yang tidak sedang dalam keadaan haid. Setelah melakukan tawaf wada, jemaah tidak diperbolehkan lagi berada di Masjidil Haram---terkecuali pada saat hendak meningalkan Masjid bertepatan dengan jatuhnya waktu shalat wajib---dan harus segera meninggalkan Kota Mekah. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving. http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

