Jumat 14 Februari, menjelang Shubuh

Hari itu adalah hari kesepuluh kami berada di Tanah Suci, berihram dan 
melafazkan niat umrah haji di Bandara King Abdul Azis yang kami jadikan 
miqat dan melaksanakan hari itu juga bagian pertama dari ritual haji 
tersebut , lalu bertahallul, atau hari keenam sejak kami berihram di 
pemondokan, melafazkan niat haji, berangkat untuk berwukuf di Arafah, 
mabit di Muzdalifah, mabit dan melempar tiga jumrah di Mina.

Dan pagi ini kami akan menjalani fase terakhir: Tawaf Ifadah dan Sa’i 
Haji, lalu bertahallul qubra. Secara fisik tugas kami melaksanakan 
seluruh ritual haji akan segara selesai.

Dalam sepuluh hari itu sudah banyak yang kami lakukan dan kami alami 
baik secara bersama maupan secara individual. Sebagian tidak jelas, 
apakah itu mimpi, apakah itu riyata. Tidak jarang kegiatan tersebut kami 
lakukan dengan berurai air mata.

Secara fisik saya tidak sesegar hari pertama kali saya datang. Asma yang 
datang menyerang secara tidak diduga,. Tetapi dengan pertolongan dan 
kasih sayang Allah SWT, sejauh ini hal itu tidak menghalangi saya 
melaksanakan ritual-ritual yang harus dilakukan sebaik apa yang 
dilakukan jemaah lainnya. Namun secara fisik sakit itu tetap menguras 
stamina dari tubuh saya yang hanya terbuat dari daging, darah dan tulang 
ini.

Hari itu langkah saya agak goyah, muka saya agak pucat, namun secara 
spritual saya tidak kurang suatu apapun. Ada perasaan yang tidak 
sepenuhnya saya mengerti dan dapat diuraikan terhadap bangunan suci 
Masjidil Haram dengan Ka’bah kubus kosong terbuat dari batu yang 
terletak di tengahnya, perasaan cinta yang aneh. Akan tetapi, seperti 
dikemukakan intelektual Iran Dr. Ali Shariati, bangunan-bangunan 
tersebut hanyalah “penunjuk jalan”, sebagai “benchmark”.

“Dan Allah adalah tujuan perjalanan” (Al Qur’an, S 24:42).

Pagi itu sebelum Shubuh kami bersama Pak Ustadz sudah berada di 
pelataran tawaf, menjalani fase terakhir, melakukan Tawaf Ifadah dan 
Sa’i Haji. Hari itu kami tidak lagi memakai pakaian ihram, tetapi secara 
prinsip kami masih berihram. Sebentar lagi secara fisik status ihram 
tersebut akan berakhir.

Secara fisik saya tidak sesegar di hari pertama kali kami datang dan 
melaksanakan tawaf umrah haji. Pagi itu langkah saya agak goyah dan 
wajah saya agak pucat. Karena itu pada saat tawaf saya mendapat 
perhatian dan keprihatinan yang agak berlebihan dari isteri saya Kur dan 
rekan-rekan sesama jemaah.

Khaidir, lelaki asal Maninjau yang santun itu bertawaf di sebelah kiri 
saya dan sebentar-bentar menoleh kepada saya. “Ente jangan melihat ke 
luar, tetapi ke dalam (maksudnya ke arah Ka’bah)”, tegur Pak Ustadz.

Kur bertawaf dengan tangan yang satu memegang kencang-kencang baju 
seorang jemaah dan tangannya yang lain memegang tangan saya dan 
sebentar-sebentar mengawasi saya.

“Ibu kok keder banget sih!” tegur Pak Ustadz melihat cara Kur bertawaf 
yang agak “aneh” tersebut .

Dengan perlahan saya tarik tangan Kur, dan kami kembali bertawaf sembari 
berpegangan tangan.

Setelah tawaf beberapa putaran, kami mendengar Azan Subuh. Kami berhenti 
tawaf dan membentuk saf dengan ruang yang sangat sempit sehingga waktu 
sujud kami harus melakukannya dengan menyurukkan kepala kami di 
sela-sela jemaah satu dengan jemaah yang lain yang ada di depan kami.

Selesai shalat kami meneruskan tawaf kembali sembari berpegangan tangan 
sampai selesai.

Ternyata, sekalipun awalnya langkah saya agak goyah, saya dapat berjalan 
dan mengakhiri tawaf yang selama tujuh putaran itu dengan tegak dan tegar.

Ketika berkumpul kembali dengan rombongan dan siap-siap untuk bersa’i, 
Pak Ustadz bertanya kepada seorang jemaah yang terlihat masih segar 
bugar: ”Sudah tawaf belum?”

“Belum ‘stad” jawabnya anteng. Saya lihat Pak Ustadz terkejut dan 
bertanya: “Lho, kok belum?”

“Kan belum ada instruksi” jawabnya lagi. Saya dengar Pak Ustadz 
beristigfar lalu mengajak jemaah tersebut membaurkan diri kepada jemaah 
yang sedang bertawaf.

Begitulah kondisinya, beberapa jemaah sangat tergantung kepada Ustadz 
Pembimbing. Sesutu hal yang sangat tidak semestinya.

Setelah beristihat sejenak, kami melanjutkannya dengan Sa’i , yang juga 
dapat kami laksanakan dengan lancar dan mengakhirinya dengan lengkap di 
Marwah.

Dan tibalah saatnya untuk bertahallul qubra, mengakhiri secara lahiriah 
semua rukun dan wajib haji sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, 
yang ditandai dengan pemotongan rambut.

Tibalah saatnya, kalau kami suka untuk menambah “Haji” dan “Hajah” di 
depan nama kami. Tetapi jelas, bukan itu tujuan kami menempuh jarak 
ribuan kilometer meninggalkan keluarga dan pekerjaan berhari-hari.

Dengan bertahallul qubra, maka gugurlah semual larangan ihram, yaitu: 
mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai pakaian 
biasa, membunuh binatang buruan (semuanya gugur setelah bertahallual 
awal) dan melakukan hubungan suami-isteri.

Karena tidak melihat seorangpun jemaah dari kafilah kami, saya mendekati 
seorang jemaah haji Indonesia yang juga baru selelsai bersa’i, minta 
tolong dia memotongkan rambut saya sedikit---sebelum menemukan tukang 
cukur---lalu dia pun minta tolong saya memotong rambutnya. Lalu saya 
memotong pula rambut Kur sedikit. Kami tidak sadar bahwa kami masih 
berada di salah satu bagian Masjid. Seorang petugas menghampiri dan 
menegur kami dengan gusar dan menyuruh saya untuk memunguti rambut yang 
berserakan di lantai, yang segera saya kerjakan dan membuangnya ke 
tempat sampah.

Setelah itu kami keluar, bermaksud mencari tukang cukur “amatir”, yang 
konon banyak di sekitar Marwah untuk mencukur habis rambut saya seperti 
yang saya niatkan dari semula. Tetapi yang saya temukan adalah sejumlah 
kios-kios cukur orang India. Kami lalu menuju ke sana.

Ada cerita-cerita lucu berkanaan dengan tukang-tukang cukur “amatir” 
ini. Karena salah komunikasi, tidak jarang maksud hati hendak cukur 
pendek, eh sang tukang cukur langsung mulai main babat habis. Mau 
diteruskan awak tak suka, mau dihentikan ditengah jalan, masak mau jadi 
haji “punk?”. Tetapi ada juga haji “punk terpaksa”. Soalnya sedang asyik 
bercukur, tiba-tiba pak tukang cukur membenahi peralatannya, termasuk 
kursi lipat yang sedang digunakan ‘klien’-nya, lalu kabur. Rupanya dia 
melihat ada Askar mendekat, karena kegiatan tukang cukur PKL tersebut 
adalah kegiatan “illegal”. Tinggallah wak haji kita terbengong-bengong 
dengan kepala gundul sebelah..

Di kios cukur India tersebut kami bertemu dengan Mas Andi yang juga 
berniat mencukur habis rambutnya. Tarif cukur di Kios Cukur India itu 5 
riyal untuk cukur pendek dan 10 riyal untuk cukur habis. Tarif yang 
tidak murah. Tetapi karana saat itu “demand” lebih besar daripada 
“supply” suka-tak suka, konsumen harus rela membayar tarif yang 
ditetapkan penjual.

Selesai bercukur Mas Andi sengaja mengantar kami pulang ke pemondokan. 
Ketika itu kami belum tahu tempat menunggu “Angkot” yang ke arah 
pemondokankami di Hafair, sehingga kami pulang dengan berjalan kaki. 
Mula-mula ikut bersama kami Pak Tutu dan isterinya Bu Komara. Tetapi di 
tengah jalan Pak Tutu dan isteri memisahkan diri karena ingin membeli 
sesuatu. Selesai mengantar kami, Mas Andi kembali ke Masjidil Haram 
untuk menjemput isterinya Mbak Dewi yang masih berada di Masjid untuk 
bersalat Dhuha.

Mas Andi, laki-laki asal Soppeng yang tampan itu terlihat sangat serasi 
dengan Mbak Dewi isterinya yang berdarah Jawa-Sunda itu. Serasi dalam 
rupa, serasi dalam ketaatan dan kerajinan beribadah dan serasi dalam 
kesantunan terhadap sesama jemaah.

Siang itu saya Jumatan dengan Pak Tukiman dan Mas Juliansyah di Masjid 
yang terletak sekitar 150 meter dari pemondokan kami.

Petangnya terdapat kesibukan di pemondokan. Jemaah dari Kloter Awal 
bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Besok, setelah melakukan Tawaf 
Wada, tawaf perpisahan, mereka akan masuk “madinatul hujjaj”, asrama 
embarkasi haji di Jeddah dan lusa akan terbang kembali ke Indonesia.

Sedangkan kafilah kami sebagai jemaah kloter terakhir, dijadwalkan baru 
akan kembali ke tanah air tanggal 15 Maret, artinya 28 hari lagi sejak 
hari itu. Sebanyak 9 hari di antaranya akan digunakan untuk berziarah 
dan melakukan Arbain, shalat wajib 40 waktu berturut-turut di Masjid 
Nabawi di Madinah al-Munawarah, saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh 
semua jemaah, termasuk kami tentunya.

Di Masjid Nabawi pula terdapat makam Al-Mustafa Muhammad Rasullulah Sang 
Junjungan, Salallahu ‘Alaihi Wassalam….





[13] Berziarah Ke Tempat-Tempat Bersejarah, Menarik tetapi Membuat 
Kesehatan Kembali Merosot

Sabtu 15 Februari

Sesuai pemberitahuan dari pimpinan Kafilah kemarin petang, jam 7 pagi 
itu kami berkumpul di Marwah seusai melakukan shalat Shubuh dan shalat 
dhuha di Masjidil Haram untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat 
bersejarah di sekitar Masjidil Haram. Kegiatan tersebut merupakan salah 
satu kegiatan ziarah untuk mengisi waktu luang di Mekah sebelum kami 
berangkat untuk berziarah ke Madinah guna melakukan Arbain di Masjid 
Nabawi yang dijadwalkan pada tanggal 4 Maret, artinya 17 hari lagi. 
Menjelang keberangkatan ke Madinah, kami akan melakukan Tawaf Wada1, 
karena dari Madinah kami akan langsung ke Jeddah dan kembali ke tanah 
air. Pada hari Selasa 18 Februari kami akan berziarah ke beberapa tempat 
di sekitar Mekah, seperti Jabbal Tsur, Wadi Fatimah dan Hudaibiyah. 
Kepada para jemaah yang ingin melakukan Umrah Sunnah, dipersilakan 
membawa pakaian ihram dengan bermiqat di Hudaibiyah.

Pagi itu matahari sudah mulai tinggi dan menggigit. Dengan dipandu 
Ustadz Pembimbing kami berjalan dengan berbaris, mula-mula ke rumah 
kelahiran Nabi yang hanya dapat kami lihat dari luar, karena jemaah sama 
sekali tidak diperbolehkan masuk kehalamannya. Begitu melihat rumah 
kelahiran Nabi tersebut saya tidak dapat menahan tangis saya.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kaki Jabbal Nur di mana terletak Gua 
Hira, tempat Muhammad al-Amien banyak melakukan perenungan dan tempat 
pertama kali beliau menerima wahyu pertama kali, seperti yang terekam 
dalam Surrah Al-‘Alaq, yang ayat pertamanya diawali dengan kata-kata 
Iqra’! (Bacalah).

Sewaktu mengikuti bimbingan manasik haji, semangat saya sangat 
menggebu-gebu untuk naik ke gua yang sangat bersejarah tersebut. Namun 
setelah melihat kondisi lapangan yang sebenarnya---hatta sekalipun saya 
tidak dalam keadaan kurang sehat seperti waktu itu--- nyali saya pasti 
ciut melihat tinggi dan terjalnya jalan ke gua yang sangat bersejarah 
tersebut. Lalu terbayang oleh saya, betapa beratnya jalan yang harus 
dilewati perempuan yang sangat utama, ummul mukminin Chadijah r.a. 
setiap mengantar makanan dan minuman kepada suaminya tercinta di tempat 
tersebut.

Sehabis melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i Haji Shubuh kemarin, 
kesehatan saya belum banyak membaik. Sesak napas karena Asma memang 
sudah mulai berkurang,. Tetapi selera makan yang hilang sejak di Mina 
belum membaik. Sekarang muncul gejala yang kadang-kadang muncul sewaktu 
masih di tanah air, yaitu sensitivitas yang berlebihan dari bagian 
tertentu di pangkal kerongkongan saya terhadap air dan cairan yang 
merangsang, sehingga setiap minum terbatuk-batuk berkepanjangan, yang 
tidak jarang menyebabkan makanan yang sudah saya telan keluar kembali.

Kafilah kami melanjutkan ziarah ke pekuburan Ma’la tempat dimakamkannya 
jemaah haji yang wafat di Mekah. Di sana juga beistirahat dengan tenang 
jasad ummul mukminin Chadijah r.a.. Dari sana kami melanjutkan 
perjalanan ke Masjid Jin, tempat di mana sejumlah jin menemui Rasulullah 
SAW dan berikrar masuk Islam. Berjalan kaki di bawah terik matahari yang 
mulai naik, menyebabkan langkah saya semakin berat. Karena itu pada saat 
acara “berkeliling” Pasar Seng, tempat sebagian besar jemaah haji 
Indonesia menghabiskan riyal dan dollar cadangan yang mereka bawa dari 
tanah air untuk membeli oleh-oleh, kami segera memisahkan dan masuk ke 
warung baso Mang Udin yang terkenal itu untuk sarapan. Makan dengan sop 
sayur dengan sambal cabe segar, yang konon didapat dari awak pesawat 
Garuda, menerbitkan selera saya. Tetapi karena setiap kali kuah sop 
menyentuh pangkal kerongkongan saya, saya langsung batuk-batuk yang 
diikuti oleh sesak napas dan rasa sakit di dada, saya terpaksa 
menghentikan makan saya. Apalagi setelah saya melihat sepasang suami 
isteri yang masih muda dan membawa anaknya yang semeja dengan kami 
pindah ke meja lain.

Melihat kondisi saya, makan Kur ikut-ikutan tidak benar lalu cepat-cepat 
menyelesaikan makannya dan mebayar makanan yang kami makan di kasir.

Karena waktu itu kami tetap belum tahu tempat menunggu “angkot” yang ke 
arah pemondokan kami, kami mencoba menawar taksi. Sopirnya minta 30 
riyal. Karena kami rasa terlalu mahal, kami memutuskan untuk berjalan 
kaki saja pelan-pelan. Di tempat-tempat tertentu saya berhenti untuk 
beristirahat dan minum air Zam-Zam yang selalu saya bawa di dalam 
termos, yang saya lakukan dengan susah payah.

Setiba di pemondokan saya langsung beristirahat dan semua shalat wajib 
juga saya lalukan di pemondokan saja.

Minggu 16 Februari

Hari itu saya berkonsultasi dengan dokter Ifa yang menyarankan saya 
untuk banyak beristirahat dan mengembalikan kepada saya inhaler yang 
saya minta untuk dipegang olehnya ketika hendak berangkat ke Arafah. 
Suster Enny memberi saya satu strip tablet Bisolvon. Kur yang 
mendampingi saya ke dokter Ifa mengatakan apakah kami bisa menempati 
salah satu kamar kosong di lantai tujuh yang ditinggalkan jemaah kloter 
yang sudah kembali ke tanah air. agar ia lebih mudah merawat saya dan 
saya tidak mengganggu teman-tema sekamar. Saya tahu, teman-teman sekamar 
sering mematikan AC agar saya tidak kedinginanan walaupun mereka harus 
kepanasan. Pak Ketua Kloter yang kebetulan ada di sana menanyakan siapa 
ketua kelompok kami, Kur menyebut nama Ustadz Pembimbing kami.

Senin 17 Februari

Beristirahat penuh selama satu hari menyebabkan saya merasa siap untuk 
mnegikuti ziarah ke tempat-tempat bersejarah di sekitar Mekah yang 
dilakukan dengan menggunakan Bus. Tetapi “magnit” terbesar bagi saya 
hari itu adalah: Hudaibiyah.

Hudaibiyah adalah tempat di mana Rasulullah SAW menandatangani 
perjanjian yang terkenal dengan “Perjanjian Hudaibiyah” dengan para 
petinggi Kafir Quraish, di mana Rasulullah SAW banyak memberikan konsesi 
padahal secara politik dan militer, kaum Muslimin waktu itu sudah mulai 
kuat. Kalau dipelajari dengan seksama, Nabi sebenarnya mengajarkan 
kepada pengikutnya: strategi. Perjanjian Hudaibiyah adalah bagian dari 
strategi Nabi yang cemerlang untuk menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan 
darah beberapa tahunan kemudian (!).

Strategi atau siasah, yang saya pikir sangat jarang tampak dalam 
perjuangan ummat dea ini. Lihat saja, Amrozy dkk tersangka kriminal 
pelaku “Bom Bali” dibela oleh Tim Pembela yang menamakan dirinya “Tim 
Pembela Muslim”, hanya karena para tersangka berasal dari lingkungan 
pesantern. Tentu saja para tersangka boleh, bahkan wajib memperoleh 
bantuan hukum, dan asas praduga tak bersalah harus dihormati. Tetapi 
mengapa Tim Pembela perlu menamakan dirinya “Tim Pembela Muslim”? 
Bagaimana kalau para terdakwa terbukti bersalah? Apakah membunuh orang 
yang tidak bersalah diperbolehkan dalam Islam, sekalipun yang terbunuh 
itu orang-orang non-muslim? Padahal jangan membunuh orang yang tidak 
bersalah, non-muslim atau bukan, di dalam perperangan sekalipun, merusak 
tanaman saja dilarang oleh Nabi SAW. Hasilnya agama yang sejuk, damai 
dan mencerahkan ini sering tampak dari luar seakan-akan “dungu” dan 
“menakutkan”.

Di atas bus saya bertemu dengan Suster Enny, yang bersama dengan dokter 
Ifa dan seorang paramedis lainnya juga ikut dalam tur ziarah tersebut, 
yang menyarankan saya untuk tidak turun-turun dari bus kalau tidak perlu 
sekali. Ketika dia menanyakan apakah saya akan berumrah saat itu dan 
saya bilang tidak, Suster Enny menjawab: “Bagus, itu kan cuma sunnah!”

Pemandu kami dalam ziarah ini adalah---sebut saja---Ustadz “Z” adalah 
petugas penghubung Kafilah kami yang bermukim di Saudi. Ustadz “Z” 
adalah seorang yang berkata menyusun kaimatnya dengan baik sehingga enak 
kedengarannya. Ustadz “Z” mengemukakan ada hadis yang menyatakan bahwa 
barang siapa yang melakukan umrah dengan bermiqat dari Hudaibiyah sama 
dengan mengislamkan 2000 orang kafir. Waah, ujar saya dalam hati, nyesel 
juga tidak bisa berumrah hari itu.

Tempat bersejarah terpenting petama yang kami kunjungi adalah Jabbal 
Tsur (kami hanya sampai kaki bukit saja) di mana di lerengnya yang curam 
itu terletak Gua Tsur tempat Rasullulah dan Abu Bakar Siddiq r.a. 
besembunyi buat sementara dari kejaran para pemuda Kafir Quraish saat 
beliau akan Hijrah dari Mekah ke Madinah yang sewaktu itu masih bernama 
Yastrib. Seperti tercatat dalam biografi-biografi beliau, pada suatu 
malam sejumlah pemuda Kafir Quraish ditugasi untuk membunuh Nabi. Nabi 
yang mengetahui hal itu dari Malikat Jibril memutuskan untuk berhijrah 
malam itu juga dengan sahabatnya Abu Bakar, menyuruh sepupunya Ali bin 
Abu Thalib r.a. untuk tidur ditempat tidurnya, keluar rumah, lalu 
membaca Surrah Yasin dan melemparkan pasir kepada para pengepungnya, 
sehingga mereka tertidur. Merasa kecolongan ketika terbangun, mereka 
mengejar Nabi sampai ke mulut gua Tsur tanpa mengetahui bahwa Nabi dan 
sahabatnya berada di sana. Yang membuat saya sangat kagum ialah 
bagaimana Asma binti Abubakar yang bisa dengan selamat mengantar makanan 
dan kemudian kuda yang digunakan Nabi dan ayahnya untuk meneruskan 
perjalanan ke Madinah.

Ingat hijrah, ingat lagi saya terhadap “strategi”. Bukankah hijrah Nabi 
dan para sahabatnya ketika itu sebuah strategi? Mundur dulu untuk menang.

Tapi apalah awak ini.

Dari sana kami ke Wadi Fatima di mana kami semua turun untuk 
beristirahan dan makan siang. Menurut Ustadz “Z” di sana dulu ada kolam 
tempat Fatimah Az-Zahra binti Muhammad pernah berenang dan kehilangan 
gelangnya. Masih menurut Ustadz “Z”, kolam itu akhirnya ditutup oleh 
orang-orang “Wahabi” karena para Askar menemukan sejumlah jemaah haji 
perempuan dari Indonesia berenang tanpa busana di sana. Para askar 
kemudian mengejar-ngejar para jemaah yang tanpa busana tersebut.

(Kemudian terpikir oleh saya apakah cerita Ustadz “Z” dongeng, realitas 
atau campuran keduanya. Sebab kalau para askar yang tentunya kuat-kuat 
dan kekar tersebut mengejar jemaah haji perempuan, mereka pasti akan 
dapat melakukannya dengan cepat dan mudah. Sang Ustadz tidak melanjutkan 
ceritanya apa yang terjadi dengan para jemaah haji perempuan yang tanpa 
busana itu setelah tertangkap oleh para askar. Juga tidak ada yang 
bertanya mengenai hal itu. Juga tidak ada yang menanyakan apakah Ustadz 
“Z melihat sendiri peristiwa tersebut atau hanya mendengarnya dari orang 
lain)

Dari sana kami meneruskan perjalanan ke Hudaibiyah. Saya sangat terkejut 
melihat kondisi Masjid tempat bermiqat yang kecil, sepi, kurang terawat, 
kurang bersih, termasuk WC-nya. Bahkan air untuk berwudhukpun mengalir 
kecil sekali. Lho, kok?

Saya ingat hadis bermiqat di Hudaibiyah yang ‘dikutip’ Ustadz “Z” 
sebelumnya, lalu menarik napas panjang. Ah Ustazd, “nyomot” di mana itu 
hadis?

Dalam perjalanan pulang seorang jemaah membaca talbiah dengan suara 
keras dan monoton dengan menggunakan megafon yang sama sekali tidak 
menimbulkan perasaan nyaman bagi saya. Apalagi corongnya kebetulan pas 
tertuju ke arah saya

Saya kembali ke pemondokan dalam keadaan letih dan sesekali batuk-batuk. 
Rekan-rekan jemaah yang sudah berihram langsung berangkat ke Masjidil 
Haram untuk berumrah. Tetapi tidak jadi menyesal bahwa hari itu saya 
tidak bisa berumrah sunnah dengan bermiqat dari Hudaibiyah!

1) Tawaf Wada hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang sehat dan perempuan 
yang tidak sedang dalam keadaan haid. Setelah melakukan tawaf wada, 
jemaah tidak diperbolehkan lagi berada di Masjidil Haram---terkecuali 
pada saat hendak meningalkan Masjid bertepatan dengan jatuhnya waktu 
shalat wajib---dan harus segera meninggalkan Kota Mekah.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help Sudanese refugees rebuild their lives through GlobalGiving.
http://us.click.yahoo.com/BrzMLB/EbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke