Selasa 18 Februari

Pagi itu Kur dapat pemberitahuan dari Pak Ketua Kafilah bahwa kami dan 
suami-istri Yogaswara dapat kamar terpisah di lantai satu di dekat Aula 
dan Mushola. Pak Yogas, pensiunan Kepala Cabang sebuah Bank BUMN di 
Jakarta yang menderita batuk---penyakit khas mayoritas jemaah 
haji---yang tidak sembuh-sembuh. Kebetulan Pak Yogas dan isterinya Bu 
Atin berasal dari Kuningan, jadi satu kampung dengan Kur, sehingga kami 
cepat akrab dengan mereka.

Memang ada beberapa masalah. Misalnya saya tidak begitu tahan kalau AC 
yang letaknya bertentangan dengan tempat tidur saya disetel terlalu 
dingin. Tetapi ini bisa diatasi, yaitu kalau terlalu dingin, saya tidur 
dengan menyelimuti badan saya dengan karpet yang baru dibeli Kur di 
Pasar Seng untuk ruang shalat di rumah kami.

Kondisi saya sekalipun agak sedikit membaik, secara umum tidak banyak 
banyak berubah, kehilangan nafsu makan dan susah minum air, padahal 
banyak makan dan minum merupakan prakondisi agar kesehatan saya segera 
pulih.

Rabu 19 Februari

Merasa agak enakan saya dengan Kur pagi itu shalat Shubuh di Masjidil 
Haram. Kur yang sebelumnya beberapa kali shalat di Masjidil Haram dengan 
teman-temannya sekamar, sudah tahu tempat menunggu “angkot” yang ke arah 
pemondokan kami, sehingga kami tidak perlu berjalan kaki lagi ketika 
hendak pulang.

Kemudian Pak Yogas dan Bu Atin keluar agak lama, sehingga memungkinkan 
kami untuk melakukan sesuatu yang dilarang ketika berihram, khususnya 
sebelum bertahallul qubra, tetapi saat itu kembali sudah merupakan 
ibadah. Ya, sesuai dengan sabda Rasullulah, melakukan hubungan intim 
antara suami dan isteri adalah ibadah.

Alangkah indah dan manusiawinya Ajaran Islam.

Sore harinya saya mendengar dari Kur bahwa abangnya Mbak Lily, dosen FT 
USAKTI yang tadinya sekamar dengan Kur, adalah Koordinator dokter-dokter 
kloter haji Indonesia. Mengetahui dari Mbak Lily bahwa ada jemaah haji 
kafilah kami yang kondisinya agak payah, termasuk saya, dia meminta 
dokter Ifa agar mengirim kami ke RS Internasional yang dikelola 
Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Di sana para pasien diberi susu 
“khusus” sehingga dalam dua tiga hari kondisi pasien sudah fit kembali. 
Saya sendiri sebenarnya agak enggan untuk dirawat di RS karena merasa 
kesehatan saya tidak terlalu gawat. Apalagi Kur sudah bisa mendampingi 
saya setiap saat.

Kamis 20 Februari

Pagi itu Kur menelepon ke rumah memberi tahu bahwa saya akan dirawat di 
Rumah Sakit, yang kemudian diterima anak-anak, keluarga dan handai 
taulan dengan perasaan prihatin.

Sekitar jam 11 pagi kami, saya, Pak Imam yang menderita batuk-batuk 
disertai dengan suhu badan yang sering turun-naik dan seorang jemaah 
lagi yang juga suhu tubuhnya sering turun naik, yang saya tidak ingat 
namanya, bersiap-siap di lobby. Sesuai dengan ketentuan, dokter Ifa 
pertama-tama merujuk kami ke RS yang dikelola Pemerintah Indonesia di 
Mekah1.

Mula-mula banyak yang akan ikut mengantar ke Rumah Sakit. Tetapi karena 
tempat di ambulans yang sudah ditelepon dokter Ifa terbatas, akhirnya 
diputuskan bahwa yang akan mengantar hanya dokter Ifa, Ketua Kloter, Pak 
Ikhsan seorang pejabat Depag yang juga merupakan salah seorang pimpinan 
Kloter, isteri Pak Imam dan Kur. Dokter Ifa kemudian menelepon kembali 
dan minta kami untuk menyiapkan uang 20 riyal seorang untuk Pak Sopir 
ambulans. Selama menunggu itu, Dewi isterinya Andi duduk di sebelah saya 
sembari memegang tangan saya dan minta saya selalu membaca selawat.

Tunggu panya tunggu ambulans tak kunjung muncul, akhirnya diputuskan 
untuk menyewa “angkot” saja. Mengingat kesukaran yang mungkin timbul 
ketika hendak pulang, saya melarang Kur untuk ikut mengantar. Pak Ikhsan 
membantu membawa handbag saya yang membuat saya terharu melihat dia 
melakukanya dengan wajah ikhlas.

Walaupun sudah diberi alamat yang jelas, ternyata Pak Sopir angkot tidak 
mudah untuk menemukan Rumah Sakit tersebut. Kami melaju melwati Masjidil 
Haram bertanya kepada beberapa orang yang tetap tidak bisa menjelaskan 
kepada Pak Sopir di mana letak Rumah Sakit itu. Pak Sopir mulai terlihat 
kurang senang. Akhirnya kami bertemu dengan seorang laki-laki Arab yang 
terlihat berwibawa dan berbicara dengan agak keras kepada Pak Sopir. 
Setelah itu Pak Sopir balik arah dan alamaaak……, Rumah Sakit itu 
terletak di Wisma Indonesia yang berada di pinggir jalan yang kami 
lewati setiap kami pergi dan pulang dari Masjidil Haram.

Kami diminta menunggu di ruang tunggu dokter merangkap ruang tunggu 
apotik yang sukar dikatakan bersih dan terawat baik. Di ruang itu 
terdapat sebuah TV yang menayangkan acara yang disiarkan Indosiar yang 
rupanya bisa ditangkap di sana dengan menggunakan parabola, lengkap 
dengan iklan-iklan seronoknya. Petugas perempuan apotik bergantian 
keluar ke ruang tunggu menonton TV. Dari ruang tunggu tersebut saya saya 
melihat ruang perawatan di RS tersebut yang mengingatkan saya kepada 
keadaan di ruang perawatan di RS Fatmawati ketika wabah demam berdarah 
melanda Jakarta lima tahun silam. Bu Imam, seperti yang saya dengar dari 
Kur, menggambarkan kondisi ruang perawatan di RS tersebut seperti “ruang 
perawatan di RSCM bagi para pasien yang tidak mampu membayar”.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, kami dipanggil masuk ke ruang 
pemeriksaan. Dokter yang tampaknya sudah senior tersebut memeriksa kami 
dengan wajah tanpa ekspresi dan tanpa bertanya-tanya, dan kemudian 
menulis resep.

Kami kembali menunggu di ruang tunggu menanti obat yang diresepkan oleh 
Pak Dokter. Saya mendapat dua macam tablet dan obat batuk OBH Combi. 
Ketika pulang kami diantar oleh sopir ambulans, yang katanya 
“lupa”menjemput kami ke pemondokan walaupun kami sudah menyiapkan “uang 
lelah” yang dimintanya, yang tentunya sekarang sudah disetor kepadanya. 
Ketika pulang ada jemaah perempuan asal Sumatera Barat yang sudah tua 
dan lemah dan pengantarnya yang ikut, yang tidak urung juga “dipajaki” 
oleh pak sopir ambulans. Tetapi sekalipun sudah dibayar, diminta 
berhenti di dekat pemondokan si Ibu tua Pak Sopir ambulans si Raja Tega 
itu tidak mau. Alasannya, terlalu jauh memutar.

(Kemudian kami ketahui, bahwa pasien hanya akan dirawat kalau dibawa ke 
sana pakai mobil ambulans. Jadi merupakan “blessing in disguise” juga 
Pak Sopir ambulans “lupa” menjemput kami ke pemondokan, sekalipun kami 
sudah menyediakan “uang lelah” yang dia minta)

Dalam perjalanan pulang terlihat wajah Bu Imam sangat geram.

Keesokannya saya dengar dari Kur bahwa Bu Imam akan mengadukan dokter 
Ifa kepada saudaranya yang menjadi seorang pejabat di Depkes. Saya dapat 
memahami kegusaran Bu Imam atas buruknya pelayanan kesehatan bagi jemaah 
haji Indonesia di Tanah Suci, terutama di Mekah. Padahal biaya 
perjalanan haji yang dibayar jemaah haji Indonesia relatif cukup tinggi. 
Tetapi tidak jelas bagi saya, mengapa dokter Ifa yang akan diadukannya. 
Memang dokter Ifa ketika hendak pulang ke pemondokan membawa sejumlah 
obat-obatan dari RS, tetapi obat-obat tersebut , yang saya dengar jumlah 
dan kekengkapannya memang jauh dari memadai, adalah untuk keperluan 
praktik dokter Ifa di pemondokan melayani jemaah kloter kami2

Ketika saya meminum OBH Combi yang diresepkan oleh dokter RS yang cukup 
senior itu, saya malah jadi batuk-batuk dan akhirnya saya berikan kepada 
Kur. Yang saya minum hanya tabletnya. Akhirnya tabetnyapun saya hentikan 
karena setiap saya makan menyebabkan saya mual. Sementara kesehatan saya 
tidak banyak membawa perbaikan.

Kamis 20 Februari

Hari itu kami mengetahui, bahwa Mas Parno yang berhaji bersama isteri 
dan kedua mertuanya juga mendapat kamar tersendiri di sebelah kamar 
kami. Pasalnya Pak Masdoeki, mertua lelakinya yang sudah berusia 71 
tahun, selalu batuk-batuk dan tidak tahan dengan ruang ber AC. 
Sebelumnya Mbak Tati isteri Mas Parno pernah ke kamar kami menanyakan 
apakah masih ada tempat tidur kosong di kamar kami, karena Pak Masdoeki 
dan isteri akan dititipkan di kamar kami. Tetapi tidak jadi, walaupun di 
kemarin kami masih ada tiga tempat tidur kosong. Sewaktu ditanyakan Kur 
kepada Pak Ketua Kafilah, beliau menjelaskankan bahwa pengaturan kamar 
jemaah sepenuhnya ditentukan oleh Maktab.

Jumat 21 Februari

Merasa agak enakan pagi itu saya dan Kur kembali pergi shalat Shubuh ke 
Masjidil Haram. Pulangnya kami naik taksi dengan bayaran dua riyal. Saya 
juga agak heran ketika Pak Sopir bersedia membawa kami dengan bayaran 
satu riyal seorang.

Siangnya Kur mengatakan bahwa dia bertemu Pak Ketua Kafilah yang 
mengetahui bahwa kami pergi shalat Shubuh ke Masjidil Haram, 
mengingatkan agar saya tidak keluar-keluar pemondokan dulu. Nanti malah 
bisa-bisa keinginan Pak Darwin untuk melaksanakan Arbain di Masjid 
Nabawi bisa buyar, beliau menjelaskan.

Ketika tiba waktu Jumatan saya ingin shalat di Masjid yang didekat 
pemondokan kami, tetapi dilarang oleh Kur. Akhirnya saya ganti dengan 
shalat dhuhur saja di kamar.

Ketika turun ke lobby, saya bertemu Bu Imam yang baru keluar dari 
kamarnya. Rupanya Pak Imam dan Bu Imam juga sudah dapat kamar sendiri di 
lobby. Saya lihat wajah Bu Imam berseri-seri, dan tidak terdengar lagi 
akan mengadukan dokter Ifa kepada saudaranya yang pejabat Depkes


1) Saya kemudian memperoleh informasi bahwa RS Internasional yang 
dikelola oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia yang fasilitasnya sangat 
lengkap dan sangat bersih itu hanya menerima pasien yang tidak sanggup 
ditangani RS-RS yang dikelola oleh negara-negara asal jemaah haji. Saya 
sendiri tidak persis tahu apakah kalau dokter Ifa langsung merujuk kami 
RS Internasional, mereka akan mau langsung merawat kami. Ketika Kur 
masih menyatakan keinginannya agar saya dirawat RS Internasional, Pak 
Ketua Kloter hanya menjawab bahwa di RS Internasional tersebut pasien 
tidak boleh ditunggui keluarganya.

2) Setelah kembali ke tanah air saya dengar bahwa pengadaan obat-obatan 
bagi jemaah haji Indonesia dilaksanakan oleh Depag dan bukan oleh Depkes.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/t7dfYD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke